Giring-Giring Perak episode Parang Pariaman(bagian 3)


Parang Pariaman (bagian 3)pasukan berkuda inggris
HARI alangkah panasnya. Dalam terik yang membakar itu, dua puluh pasukan yang menunggang kuda bergerak di bawah pohon kelapa. Mereka adalah pasukan berkuda tentara Inggeris. Dengan pedang di pinggang, dan senjata api panjang tergantung di sisi pelana, pasukan berseragam baju merah, celana putih dan bertopi tinggi berjambul ini kelihatan seperti sesuatu yang asing di tengah kesederhanaan penduduk Pariaman.

Penduduk menatap mereka dengan diam. Menatap tentara penjajah itu dengan tatapan yang mengandung misteri. Kedua puluh pasukan berkuda itu berjalan menyusur tepi pantai arah ke selatan. Di depan sekali, seorang perwira yang masih muda berpangkat letnan berjalan sendirian. Enam depa di belakangnya, barulah pasukannya yang dua puluh itu menyusul dalam barisan dua-dua.

Tak begitu lama berkuda, mereka sampai di tempat yang dituju. Sebuah Perguruan.
Perguruan itu cukup besar. Dikelilingi oleh pagar yang terbuat dari kayu setinggi dua meter. Untuk masuk ke dalam ada dua pintu. Pintu pertama arah ke Timur, arah ke matahari terbit. Tepatnya arah ke darat. Sedangkan pintu satu lagi menghadap arah ke pantai.
Di pintu arah ke pantai inilah kini kedua puluh serdadu berkuda itu tegak. Setiap orang tahu, bahwa perguruan yang dipagar dengan kayu setinggi dua meter itu adalah perguruan silat terbesar yang ada di Minangkabau saat itu. Itulah perguruan Silat Sunua. Yang melahirkan Silat Jantan dan Silat Betina.

Di sini pulalah tempat asalnya Silat Ulu Ambek. Yaitu silat “paripurna” bagi yang telah masak dalam ilmu lahir dan bathin. Perguruan silat ini berada di bawah perguruan Islam yang dipimpin oleh murid-murid almarhum Syekh Burhanuddin. Syekh ini membuka perguruan Islam di Ulakan pada abad 17. Dan karena penyebaran Islam saat itu amat sulit, maka diperlukan mempelajari ilmu bela diri, maka Syekh itu mendirikan perguruan silat di Sunua.

Saat peristiwa itu terjadi, Syekh itu sudah lama meninggal. Yang memimpin adalah muridnya yang bernama Anduang Ijuak. Dia seorang penganut Tarikat yang tersohor. Berilmu tinggi dan amat disegani lawan dan kawan.
Kedatangan pasukan berkuda itu disambut oleh enam orang murid Anduang Ijuak. Keenam mereka, semua lelaki yang bertubuh biasa-biasa saja, tegak dengan berpeluk tangan di depan gerbang perguruan. Menatap dengan tenang pada pasukan berkuda yang kelihatannya mewah itu. Tatapan mereka biasa-biasa saja. Tak tergambar sama sekali bahwa mereka adalah orang jajahan. Atau tepatnya tak tergambar sedikitpun bahwa mereka takut menghadapi pasukan berkuda Inggeris itu.

Namun demikian, pimpinan pasukan Inggeris itu, si Letnan yang barangkali usianya belum cukup 23 tahun, memajukan kudanya ke depan. Lima depa dari pintu gerbang di mana murid-murid perguruan Sunua itu tegak, dia menghentikan kudanya.
“Selamat siang….” Letnan itu membuka pembicaraan. Tak ada yang menyahuti ucapannya.
“Bolehkah kami masuk menemui pimpinan kalian?” Masih tak satupun yang menyahuti. Ke 20 anggota pasukan letnan itu menatap dengan diam. Meski mereka agak tersinggung karena ucapan komandan mereka tak disahuti, tapi sewaktu akan berangkat dari Loji tadi mereka telah diberi peringatan.

Kapten Calaghan yang menjadi komandan mereka untuk Loji ( pos ) Pariaman dan Tiku memesankan benar agar mereka tak berlaku kasar pada murid-murid perguruan itu. Mereka dilarang untuk memancing kekeruhan. Dan peringatan itu diberikan karena jumlah mereka di Pariaman dan tiku hanya seratus orang. Ya, hanya seratus orang.

Jumlah itu memang besar. Tapi kalau rakyat sempat membentuk kekuatan dengan jumlah dua atau tiga ratus, maka itu akan memayahkan Inggeris.
Sementara itu, perasaan Letnan muda itu juga jadi tak sedap ketika tak seorangpun di antara yang berenam itu menyahuti ucapannya.

“Apakah tak seorangpun di antara tuan-tuan yang mengerti apa yang saya ucapkan?” katanya mulai meninggi.
“Tak seorangpun yang akan menyahuti tuan, selagi tuan bicara di atas punggung kuda itu”. salah seorang murid perguruan Sunua itu menjawab dengan nada datar.
Si letnan menatapnya. Lelaki yang menjawab itu bertubuh biasa-biasa saja. Rambutnya panjang dan diikat di belakang. Dijalin dua. Mode rambut yang saat itu sangat lazim bagi setiap lelaki.

“Saya harus turun?” Letnan itu balik bertanya.
“Tidak harus. Tuan bisa tetap di atas punggung kuda tuan dan silahkan berangkat dari sini….”, murid perguruan itu menjawab lagi.
Wajah Letnan itu jadi merah padam. Dia menoleh pada anak buahnya. Dan kedua puluh anak buahnya memang telah waspada.
“Hati-hati bicara. Tuan bisa saya seret ke Loji dan saya penjarakan di sana….” desis letnan itu tajam.

Betapapun dia diperingatkan oleh komandannya di Loji tadi untuk bersabar, namun menghadapi murid-murid Perguruan Silat ini Letnan yang masih muda itu tak dapat menahan emosi. Sebagai seorang perwira dia cukup ditakuti dalam pasukannya. Dan, kini, pribumi yang jelas berada di bawah jajahan Inggeris berlaku kurang sopan padanya. Bukankah itu keterlaluan?
Murid perguruan silat Sunua itu tak menyahut. Ekspresi dan sinar mata mereka tetap seperti tadi. Tak merasa gentar dan tidak pula ada kesombongan. Yang mereka ucapkan adalah kebenaran semata.

Mereka tahu dengan pasti, bahwa yang berada di hadapan mereka ini adalah pasukan berkuda kerajaan Inggeris. Pasukan dari suatu bangsa yang merajai lautan. Yang memiliki negeri jajahan paling luas di permukaan bumi. Mereka tahu hal itu dengan pasti. Namun itu bukan berarti mereka harus terbungkuk-bungkuk untuk menghormat dan harus merasa rendah diri. Betapapun jua, negeri ini adalah negeri tumpah darah mereka.
Sebenarnya, penduduk Pariaman ini telah beberapa kali berperang dengan Inggeris, Belanda dan Portugis. Namun karena kurangnya persatuan, mereka selalu dikalahkan.


3 responses to “Giring-Giring Perak episode Parang Pariaman(bagian 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: