Dalam Neraka Vietnam -bagian-564-565


Dalam Neraka Vietnam -bagian-564-565durian vietnam
Dari Paman Han Doi siang itu si Bungsu dapat penjelasan lebih jelas dan rinci
tentang adanya tawanan Amerika yang tempat penyekapannya amat di
rahasiakan Vietkong di sekitar desa kecil ini.Duc Thio bercerita setelah
ponakannya menuturkan bahwa si Bungsu datang kemari untuk membebaskan
seorang perawat Amerika,yang tertangkap ketika perang berkecamuk.

Saat Duc Thio bercerita,Han Doi bersandar ke dinding yang ada celahnya.Setiap
sebentar dia mengintip lewat celah itu,kalau-kalau ada orang yang
mendekat.Dia tak hanya mengintip lewat celah dinding,tetapi tiap sebentar
juga mengintip lewat celah lantai.Memastikan bahwa tak ada siapa-siapa yang
menyelinap kekolong rumah untuk mendengarkan pembicaraan pamannya
dengan si Bungsu.

“Mereka disekap,dalam goa-goa batu yang berada di bukit yang terjal di
sebelaj utara sana…”ujar Duc Thio.
“Maaf,disana pula Thi Binh dulu disekap?”tanya si Bungsu mengenai anak
gadis Duc Thio.
“Tidak di goa itu.Vietkong mendirikan kamp dibawah bukit terjal
itu.Anakku,dan beberapa wanita lainnya yang mereka sekap untuk melayani
nafsu mereka,juga ditempatkan di balik bukit yang dijaga sekitar sepuluh
sampai dua belas tentara…..”ujar Duc Thio sambil berhenti sejenak.Setelah
menghela nafas panjang,dia melanjutkan ceritanya.

“Tentara yang ingin memuaskan hasratnya datang bergiliran ke kamp wanita-
wanita tersebut.Jadi,Thi Binh maupun wanita-wanita yang lain tak tahu di
mana letak kamp tersebut.Hanya orang-orang yang terlatih mendaki yang bisa
mencapai goa tempat tentara Amerika itu disekap.Namun selain bahaya di
tembaki Vietkong,hampir setiap jengkal bukit itu ditanam ranjau.Yanh tahu
jalan naiknya,hanya beberapa Komandan pasukan…”
“Berapa tentara Vietkong disana…?”

“Tidak ada yang tahu.Mereka datang kesini setahun yang lalu.Pagi harinya
penduduk di kumpulkan.Lalu di giring ke lembah sekitar setangah kilometer
dari sini.Malam harinya,kami hanya mendengar suara deru truk-truk yang yang
datang.Hampir sepanjang malam.Hampir sepanjang malam itulah kami juga tak
boleh meninggalkan tempat berkumpul di lembah sana.Subuh-subuh truk-truk
itu berangkat,baru siangnya kami dikembalikan ke desa….”

“Penduduk disini bebas pergi kemana saja?”
“Yang masuk kesini ya,sedangkan yang keluar tak boleh sama sekali,kecuali
untuk ke ladang atau kebun dekat-dekat desa..”
“Bagaimana penduduk mencukupi kebutuhannya?”
“Sekali dua minggu ada tentara ada Bin Hoa yang membawa keperluan hidup
sehari-sehari.Mereka melakukan barter hasil pertanian dan
perkebunan.dengan kebutuhan sehari-hari penduduk,sedangkan alat-alat
pertanian mereka bagikan dengan cuma-cuma.Sedang…”

Cerita Duc Thio terputus ketika dari kamar sebelah terdengar erangan
halus.Lelaki separoh baya itu segera berdiri.Bergegas kekamar sebelah dimana
anak gadis nya terbaring.
“Ayah,saya lapar….”rintih gadis itu perlahan.
Duc Thio untuk sesaat terpana.Seperti tak percaya anaknya bicara.Sudah
empat hari ini anaknya tak sadarkan diri.Kini tiba-tiba anaknya membuka mata
dan mengatakan lapar.
“Ayah masakkan bubur untukmu,nak….”ujarnya terbata-bata.
Airmata lelaki itu berlinang.Menjelang menuju dapur dia membelokkan
langkah keruang tengah menatap si Bungsu.

“Terimakasih…Terimakasih anda telah mengobati anak saya…”ujar lelaki itu
sembari membungkukkan badan dalam-dalam beberapa kali.
Si Bungsu mengangguk dan tersenyum lembut.Han Doi sendiri berdiri
meninggalkan tempat duduknya,berjalan ketempat anak pamannya itu.Melihat
gadis itu sudah membuka mata dan menatapnya.Wajah gadis itu,yang tadi
pucat pasi,kini sudah berona agak kemerah-merahan.

Duc Thio dengan cepat membesarkan api.Memasukan tepung kedalam panci
kecil,kemudian memberi air.Lalu menjerangnya di tungku.Setelah itu dia
mengambil pisau,seekor ayam yang sudah di kuliti,dan sudah lama di gantung
diatas tungku,dia potong dadanya.Selanjutnya dia sayat-sayat tipis-tipis,lalu
dia masukkan ke panci yang terjerang itu.

Kemudian dia memasukkan bawang prai dan daun seledri,garam halus serta
merica.tak lama kemudian bubur itu menggelegak.Duc Thio mengambil sebuah
mangkuk,menyalin bubur yang harum itu kedalam mangkuk.Setelah itu dia
bergegas kepembaringan anaknya,lau menyuapi anak gadis nya itu sendok
demi sendok.

“Han Doi,masak bubur untuk makan kita siang ini…”ujar Duc Thio sambil tetap
menyuapi anaknya.
Han Doi segera bangkit,dan mengambil sebuah periuk,memasukkan
gandum,memotong-motong ayam,kemudian memasukan rempah,meberi air
dan menjerangnya diatas tungku.Dia mengambil lagi beberapa potong kayu di
samping tungku itu,dan menyorongkannya ke tungku.Setelah itu dia menutup
periuk tersebut dan menoleh pada si Bungsu yang lagi memandang keluar.

Si Bungsu memang tengah menoleh ke luar jendela menatap belantara dan
perbukitan batu terjal.Mendengarkan kicau suara burung dan pekik
siamang,yang sayup-sayup sampai ketelinganya.Tiba-tiba bayangan Situjuh
Ladang Laweh,dikaki Gunung Sago,kampung halamannya nun jauh diseberang
laut sana.

Desa ini tak jauh beda dengan desanya dulu.Di Lingkar hutan dan perbukitan
serta berudara sejuk.Hanya saja,hutan disini sangatlah perawan.Sementara
hutan yang mengelilingi situjuh ladang laweh,sebahagian sudah dijadikan
kebun dan ladang.Dia menarik nafas panjang dan berat.
Tak ada siapun yang menantinya di kampung.Dia tak lagi punya sanak famili
dekat.Semua sudah pupus.Ada yang tewas dalam perang kemerdekaan,ada
pula yang terbunuh dalam pergolakan PRRI.Bagaimana bentuk kampungnya itu
kini?

Dia teringat masa kecilnya dikampung dulu.Ketika bermain judi dengan orang-
orang yang jauh lebih tua darinya.Mereka berjudi dari kampung ke
kampung.Tak ada penjudi besar disekitar Gunung Sago sampai ke Payakumbuh
yang tak ditantangnya.Dia sering kalah,namun lebih sering pula menang.Jika
kalah dan tak punya uang,biasanya dia pergi mencuri kambing,bahkan kerbau
dan sapi.Menjualnya kekampung lain atau ke pasar.Uang nya untuk apalagi
kalau bukan berjudi.

“Hei,kau suka durian…”tiba-tiba lamunannya di putus suara Han Doi.
Dia menoleh.Ya,sejak masuk kampung tadi pagi dia sudah mencium bau
durian.Suara gedebuk di luar,membuatnya kembali menoleh keluar lewat
jendela.Tak jauh dari rumah ini,rupanya ada dua batang pohon durian yang
berbuah lebat.

Si Bungsu baru ingat,sejak duduk di tempatnya tadi,kalau tidak salah tiga atau
empat kali dia mendengar suara gedebak-gedebuk di luar sana.Rupanya itu
adalah suara durian jatuh dari pohonnya.Dia melihat,betapa besarnya buah-
buah durian yang menggantung di dahan itu.Kemudian dia menoleh lagi pada
Han Doi,mengangguk sambil tersenyum.

“Tunggu disini,saya ambilkan kebawah…”ujar Han Doi sambil melangkah ke
pintu.
Pemuda Vietnam itu turun ke halaman.Tak lama kemudian naik lagi membawa
dua buah durian besar.Si Bungsu agak kecewa.Kenapa hanya dua buah?
Baginya,kalau hanya dua,tiga buah sebesar itu,hanya sekedar kumur-kumur.
“Ayo kita makan.Saya tak begitu suka.Tapi sekedar sebuah jadilah…”ujar Han
Doi setelah mengambil parang di dapur,serta mangkuk besar untuk cuci
tangan.

Han Doi membuka salah satu durian yang kulitnya berwarna hijau itu.Ketika
yang sebuah telah terbelah dua,dia membuka yang sebelah lagi.Isi durian itu
seperti warna kunyit.
“Ayo makanlah,jika anda memang suka….”ujar Han Doi sambil mencuci tangan
dan mengambil setengah ulas isi durian itu.
Si Bungsu masih terpana kaget mendengar suara Han Doi.Soalnya,dia tengah
terpana melihat isi durian itu.Sebelum mengambil durian itu,dia menekan
belahan durian itu,membuka ruangannya semua.Dan apa yang dia lihat makin
membuat dia terpana.

Berbeda dengan isi durian di kampung nya,yang setiap ruang biasanya berisi
dua,atau tiga biji.Tapi durian di hadapannya ini,setiap ruangnya,hanya berisi
satu biji.Memanjang dari ujung ke pangkal.Besar isinya hampir sebesar
lengannya.Itulah sebabnya,Han Doi hanya mengambil setengah ulas saja dari
isi durian tersebut.

Dia ambil sebuah,panjang seperti lemang.Di makannya sedikit.Alamak,durian
ini seperti gelamai.Legit dan nikmat sekali.Di makan lagi dan lagi.Dan terakhir
baru dia temukan biji durian tersebut,tak sampai sebesar kelingking.Habis yang
di tangannya dia ambil lagi sebuah,dan sebuah lagi.Lalu dia tersadar.Dia baru
memakan tiga setengah ulas.Namun perutnya sudah terasa sesak.Durian yang
sebuah itu,yang isinya sudah diambil Han Doi setengah ulas.Dan si Bungsu tiga
setengah ulas.Kini tinggal dua ulas lagi.Sementara durian yang satu lagi,masih
ternganga,belum disentuh sedikitpun.

Si Bungsu menjadi kalap.Di raihnya yang seulas lagi.Masak durian dua buah
saja tak terhabiskan.Sedangkan di kampungnya dulu,ketika dia masih kecil
pula,dua tiga buah durian baru sekedar buat cuci mulut.Lima atau tujuh baru
agak puas.

Namun sehabis durian yang satu ulas itu,si Bungsu benar-benar tak bisa
bernapas.Mati den… bisik hatinya dengan bersandar ke dinding.Ini durian
gergasi namanya barangkali,pikirnya sambil sendewa dua kali.Di Kampungnya
tak pernah dia bersua durian seperti ini.Yang seruangnya hanya berisi satu
biji,di semua ruang durian tersebut.

Durian di kampungnya,kalau disebuah ruang ada yang tiga isinya,sudah
hebat.Seringkali di sebuah ruangnya berisi sepuluh sampai,lima belas
isinya.Biji nya beesar-besar,isinya setipis kulit ari.Durian Tumbuang
namanya.Kalau saja durian Vietnam ini di jual di payakumbuh,pasti mahal
sekali harganya.

Dia memejamkan mata nya,membayangkan dirinya jadi saudagar durian.Dari
Vietnam ini dia bawa durian agak lima kapal.Kapal itu tentu harus ke Pekan
baru dulu.Di kota itu dia jual dua kapal,yang tiga kapal itu di bawa truk ke
Payakumbuh.Lamunanya terputus oleh pertanyaan Han Doi.

“Mana yang lebih enak,durian ini.Dengan durian di kampungmu?”
“Apa..?”
“Mana yang lebih enak durian ini dari pada durian di kampungmu..”
“Enak durian dikampungku sedikit..”ujarnya sambil memejamkan matanya dan
kembali menyandarkan kepalanya ke dinding,lalu menyambung perkataannya
tadi dalam hati.Dan durianmu ini enak banyak...

“Ya,saya rasa juga begitu.Soalnya durian yang bagus-bagus itu ada di bukit
sana.Durian yang di kampung ini,jarang orang suka memakannya.Itu sebabnya
mana yang jatuh dibiarkan begitu saja..”ujar Han Doi.
Kalera...”rutuk hati si Bungsu tanpa membuka mata nya yang terpejam.

Pantas dia makan setengah ulas,rupanya durian ini durian yang kurang sedap
dan jarang di makan orang di kampungnya.Yang tak sedap bagi mereka,sudah
juling mataku saking keenakannya.Bagaimana pula bentuk durian yang enak
bagi mereka itu?

Si Bungsu jadi malu sendiri,bila diingatnya.Bahwa dia melahap semua isi
durian yang sebesar lengan itu.padahal dia mengatakan lebih enak durian di
kampungnya dari durian ini.
“Tak enak,tapi kok banyak juga Anda makan,ya?”tiba-tiba di sentakan lagi oleh
pertanyaan Han Doi.

Mata nya terbuka membelalak.Untunglah saat itu Han Doi sedang melangkah
kearah tungku,yang menjerang bubur yang telah menggelegak.Harum bubur itu
menyebar bersama asap tipis yang keluar dari sela-sela tutup periuk.Bubur itu
pasti sangat enak.Baunya saja sudah menunjukan betapa akan sedap
rasanya.Tapi aku takkan memakan bubur itu.Kukatakan saja perut ku kenyang
makan durian.Nanti dia tanya lagi,mana yang enak bubur itu atau bubur di
kampungnya.Lama-lama kutempeleng juga orang ini,si Bungsu menyumpah-
nyumpah dalam hati.

Tapi,kendati mula-mula sudah menolak dengan alasan kenyang,namun begitu
melihat Han Doi dengan lahap dan dengan suara berkecipak melahap bubur
itu,si Bungsu akhirnya menyerah.Dengan mengubur rasa malu dalam-
dalam,dia mengambil mangkuk yang tadi sudah di letakkan didepannya.

Dia isi mangkuknya itu separoh saja,agar tak kelihat rakus.Lalu dia
makan.Wualah..Mak,sedapnya bukan main.Dia sudah berusaha makan pelan-
pelan,agar tak kelihatan congok.Namun dalam beberapa suap,isi mangkuknya
licin tandas.
“Tambahlah,Habiskan saja isi priuk itu.Malam ini kita akan berjalan jauh
bukan?”ujar Han Doi.

Habiskan isi periuk?Itu menghina namanya.”Tambahlah”saja sudah cukup
menghina baginya,yang tadi menolak makan dengan alasan kenyang.Kini
disuruh pula menghabiskan isi periuk itu.Si Bungsu tersinggung luar biasa.Tapi
nikmatnya rasa bubur itu yang sedapnya juga luar biasa,membuat dia terpaksa
menyimpn rasa tersinggungnya dalam kocek baju.

Dia tarik periuk itu ke dekatnya.Lalu dia salin isinya.Hampir melimpah mangkuk
di depannya.Kemudian dia makan dengan lahap.weleh..weleh..weleh!Si Bungsu
akhirnya tersandar ke dinding.Yang tersisa hanya rasa lemah karena hampir
seminggu tak makan apapun.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: