Dalam Neraka Vietnam -bagian-551-552


Dalam Neraka Vietnam -bagian-551-552mitraliur 12,7
“Lemparkan tas itu kelaut…!!”kembali terdengar perintah dari atas kapal.
Le Duan mengambil tas itu dan melemparkannya ke laut.Saat itu sebuat tali di lemparkan ke arah mereka.
“Ikatkan…!!”perintah kapten lewat pengeras suara.

Le Duan yang masih duduk dengan tangan sebelah menyangga tubuh Ami,segera mengambil tali yang sebesar jempol kaki itu.Melepaskan tangannya dari punggung Ami.lalu mengikatkan ujung tali itu di gelang-gelang almunium yang berjejer di pinggir speed boat.Setelah tali itu diikatkan,speed boat mereka di tarik hingga merapat ke kapal.

Saat itu si Bungsu sudah berhasil naik dari buritan kapal patroli tersebut.Mereka sudah memperhitungkan skenario ini dengan matang.Perhatian awak kapal pasti diarah seluruhnya ke speed boat itu,Kesempatan itulah yang di pergunakan si Bungsu untuk muncul ke permukaan air di belakang kapal lalu merayap naik keatas kapal.

Semula dia mempersiapkan dengan tali kenyal,yang ujungny diberi cangkok almunium berlapis karet,tali itu di persipkan jika kapal terlalu tinggi,di lemparkan dari air dan berharap tali itu menyangkut di terali atau tiang di pinggir kapal,atau benda apapun.Karena di bungkus dengan karet yang cukup tebal,cangkoknya pasti tidak akan berbunyi walau mengenai besi di kapal.

Tapi tali cangkok itu tidak jadi di gunakan si bungsu.Buritan kapal jenis buru sergap itu hanya setengah meter dari air.Dengan sekali menjangkaukan tangan dia berhasil mencapai besi melengkung di belakang kapal.

Hanya dua meter dari buritan kapal itu ada sebuah senapan mesin yang di jaga seorang tentara.Tapi saat itu tentara itu sedang mengarahkan senapan itu kearah speed boat sebagaimana senapan mesin 12,7 yanhg ada di depan.Si Bungsu yang sudah naik dan sedang mendekati penjaga itu untuk menghabisinya,tiba-tiba mengundurkan niatnya.Sebuah kapal patroli yang lain tiba-tiba muncul dan mengarahkan lampu sorot yang terang itu kearah kapal yang berhenti.Hampir saja tubuhnya di terkam cahaya lampu itu kalau dia tidak cepat-cepat berlindung di bawah menara rendah dekat senapan mesin itu.

Dari sana dia menggulingkan diri untuk kembali melosohkan dirinya kembali kelaut.Dia berlindung di balik bayang-bayang gelap kapal patroli.Dan saat itu terjadi dialog saling tanya antara kapten kapal dengan kapal yang baru datang.Menurut skenario yang mereka rancang tadi sebelum berangkat,untuk memberikan kesempatan pada si Bungsu dengan Le Duan pura-pura jatuh kelaut karena kehilangan keseimbangan karena memapah Ami,namun le Duan membatalkannya saat-saat terakhir.

Karena dia berpendapat,kalau dia jatuh ke laut sekarang pasti akan memperlama kapal patroli yang baru datang itu dekat kapal yang mereka naiki.Itu berbahaya.Lawan mereka jadi bertambah banyak,namun Ami berpendapat lain.Karena belum terjadi apa-apa dengan kapal yang akan mereka naiki,dia berpikri si Bungsu belum berhasil naik.Dia berbisik pada abangnya untuk menjatuhkan diri kelaut,namun abangnya tetap berpikir sebaliknya.Ketika abang adik ini saling bberbisik berbeda pendapat itulah kapal patroli yang satunya melanjutkan perjalanan.

Ami segera melaksanakan niatnya,berpura-pura kalau dia kehilangan keseimbangan karena perahu karetnya di goyang ombak yang ditimbulkan oleh kapal yang baru berangkat itu.Dengan mendorong abangnya.Untung perhatian sebagian awak kapal itu terbagi dengan kapal yang baru berangkat itu,sehingga pura-pura kehilangan keseimbangan itu tidak diketahui.Mereka hanya melihat kedua lelaki di perahu karet itu tercebur kelaut,sebagian menyumpah,dan malah ada yang tertawa.Tali dilemparkan kearah mereka,dan mereka meraihnya.Dan tali yang mengikat perahu mereka di alihkan mengikatnya ke belakang kapal.

Kapal patroli itu dijalankan dengan perlahan.Saat tubuh Ami dan Le Duan masih bergelantungan dan berusaha untuk naik.Seluruh awak kapal patroli itu berjumlah sebelas orang.Satu oarang masih menjaga senapan mesin dibelakang dan satu di depan dekat senapan mesin 12,7,danj satunya di anjungan sekat juru mudi,menjaga mesin kapal agar tetap hidup.Dari delapan awak yang tadi berkerumun di terali,melihat pelarian yang mereka sergap itu,tiga diantaranya tetap menodongkan senjata ke arah Ami dan Le Duan,yang saat itu sudah mencapai bibir dek kapal.

Lima yang lain kempali pada pos masing-masing.Komandan kapal patroli buru sergap itu adalah tentara berpangkat kapten,segera menuju ruang kemudi.Setelah memberi perintah pada wakilnya yang berpangkat letnan,untuk mengikat kedua pelarian itu.Untuk sementara nampaknya mereka belum mau mengintrogasi apakah ada kapal karet lain yang ikut malam itu menyebrangi laut untuk lari.Kapal meeka segera di pacu kearah selatan.Ami Florence yang pertama kali merangkak di atas dek itu dagu di hajar dengan sebuah tendangan.

Gadis itu tercampak di dek.Nampaknya itu salah satu cara tentara itu penyambut para pelarian yang berhasil mereka tangkap.Kemalangan Ami tak hanya sampai disitu.demikian keras nya tendangan didagunya,membuat kumis palsunya tercampak.Ketika lampu sorot di arahkan padanya,ketiga tentara itu terbelalak melihat lelaki yang tendang itu tidak berkumis lagi.Tentu saja mereka kaget,belum ada kejadian satu kali tendangan bisa mencampakkan kumis orang.Setelah mereka perhatikan,baru mereka sadar kalau pelarian itu adalah lelaki dalam penyamaran.

Wajahnya yang putih dan halus ,dan bulu mata yang terlalu lentik untuk seoarang lelaki,di tambah dadanya yang ber’bukit’.Karena bajunya basah kuyup jatuh kelaut,tidak dapat menyembunyikan bentuk tubuhnya.Salah seorang tentara yang melihat keganjilan itu,mendekat dan tiba-tiba breet! baju Ami tentang dadanya robek besar.

Gadis itu tak berbuat apa-apa,matanya hanya terpejam.Gadis itu bukannya membiarkan apa yang dilakukan tentara itu,tapi memang dia dalam keadaan pingsan.Sebuah tendangan keras tadi telah membuat dia pingsan.

Dalam keadaan begitulah di gerayangi oleh tentara itu.Le Duan yng sudah mencapai bibir dek,melihat bahaya yang mengancam adiknya segera bangkit,namun sebelum dia melangkah jauh sebuah popor menghajar tengkuk nya hingga tersungkur.Dua tentara lagi,yang melihat temannya yang sedang melakukan pekerjaan tangan di tubuh itu juga tak dapat menahan diri.

Dengan mata mendelik dan liur meleleh mereka mendekat.Mungkin,karena saking nafsunya salah seorang terpeleset.Kawannya yang seorang lagi,begitu sampai menunduk menolak kawannya yang sedang asyik meraba sana-sini sampai terjengkang.Tangan nya segela terulur untuk meraba dada Ami yang terbuka lebar itu.

Namun tiba-tiba dia merasa kepalanya seperti dihantam martil yang sangat besar,seolah-olah hantaman itu mencampakkan kepalanya dari lehernya.Terdengar suara berderak.tentara itu tak lagi sempat marah,karena matanya sudah mendelik dan lehernya patah.Dia juga tak sempat tahu kalau temannya,yang tadi terpleset itu dan temannya yang terjengkang tadi karena dia dorong.

Dia tak tahu,kalau kedua temannya yang jatuuh tadi karena dihantam tengkuknya oleh samurai kecil.Bahkan dia tak sempat tahu kalau yang menghantam kepalanya adalah Le Duan.lelaki yang tadi dia hantam dengan popor.Le Duan Memang tidak kenal telak,dia memang cepat menjatuhkan diri pura-pura pingsan agar tak di hajar bertubi-tubi.

Ketika dia terbaring pura-pura pingsan,dia merasakan sebuah tubuh menghimpitnya,dan dia yakin kalau si Bungsu sudah mulai beraksi.Dia segera menyingkirkan tubuh tentara yang terjengkang kearahnya tadi dengan perlahan.Dan saat itu dia lihat tentara yang mengerayangi adiknya terjengkak dan melihat sebuah benda mengkilat diantara pelipisnya.Dia segera bangkit.Dan sebagai orang yang ahli bela diri,kakinya menghajar pelipis tentara yang ketiga saat tangannya mulai turun mau menjamah adiknya.

Dia menoleh kebelakang,dan dia lihat si Bungsu sudah ada disana sambil memberi isyarat dengan menunjuk kearah senjata mesin 12,7 yang ada berada didepan.Sementara dia bertugas untuk meyelesaikan dua tentara yang berada di ruang kemudi.Juru mudi dan Kapten kapal.Le Duan memungut sebuah bedil yang tergeletak di lantai,kemudian mereyap kearah depan.

Si Bungsu merayap sampai pintu ruang kemudi dan memberi isyarat pada Le Duan untuk bertindak setelah dia beri aba-aba.Le Duan yang yakin kalau tentara yang lain sudah dibereskan si Bungsu,mengangguk.Kemudian menanti,dia tahu kalau anak muda dari Indonesia itu sedang menunggu waktu yang tepat untuk bertindak.

Kapten kapal itu masih sedang bicara di radio.Mungkin dengan kapal patroli yang lain,atau dengan markas besar mereka di darat sana.Kalau dia serang sekarang pasti kapal-kapal patroli yang lain akan di beritahu dan akan memburu kapal ini,itu yang tak diinginkan si Bungsu.

Untung pembicaraan itu tak terlalu lama,dia mematikan radio dan mematikan hubungan.Kemudian d bicara dengan juru mudi.Saat itu si Bungsu bersiul kecil,siulan itu didengar Le Duan.Tanpa menoleh le duan bangkit dan berjalan kebelakang menuju penjaga senjata mitraliyur 12,7.
“Hei,kamu…!”ujarnya.

Tentara yang berpangkat kopral itu menoleh,dia terkejut ketika melihat pelarian yang tadi jatuh kelaut itu sedang mengarahkan senapan uzi buatan Rusia yang menjadi senjata standar tentara Vietnam itu ke arahnya.Dia belum sempat berbuat apa-apa ketika kilatan cahaya putih kemerah-merahan.Kemudian tubuhnya tersenntak-sentak ketika tubuhnya di tembus timah panas.
Lalu diam.Yang tak diam adalah kapten kapal dan juru mudi.Mereka melihat peristiwa itu.Mereka melihat pelarian itu menyemburkan timah panas dari senjata uzi buatan Rusia itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: