Ke Dallas Menuntut Balas -bagian- 503-504


Ke Dallas Menuntut Balas -bagian- 503-504
rumah gadang
Ketika mobil yang membawa dia sampai di jalan raya,si Bungsu melihat sebuah mobil mengikutinya.Dia mengenali mobil itu adalah mobil Elang Merah.Dia yakin,didalam nya tidak hanya Elang Merah,tetapi juga Pipa Panjang.Diam-diam dia amat berterimakasih pada Yoshua.Indian itu amat memperhatikan keselamatannya.Ketika diputuskan si Bungsu akan pergi sendirian ke rumah Mackenzie,dia memberi isyarat pada keponakan dan adiknya yang ada dalam rumah.

Kedua orang tua itu segera arif isyarat itu.Mereka harus mengikuti dan mengawasi si Bungsu.Diam-diam mereka menaiki mobil yang di parkir di belakang dirumah.Kemudian mengambil jalan pintas di belakang yang amat sulit karena memamng tidak ada jalan.Yang ada hanya dataran diantara hutan belukar.Namun mereka telah sering kesana,mereka menanti dijalan raya.Begitu melihat mobil yang ditumpangi si Bungsu lewat,lalu mereka mengikuti dalam jarak yang tidak mencurigakan.

Dalam mobil itu si Bungsu memikirkan apa yang akan diucapkan nanti pada Michiko.Tapi dia juga teringat pertemuan dan perkelahiannya dengan Thomas Mackenzie.Kapten Penerbang yang membawa lari Michiko itu.Teringat pada kata-kata pedas tentang negerinya yang dikatakan”tidak beradab”Ucapan itulah yang membuat dia menghantam lelaki itu.

Berani-beraninya dia menghina tumpah darahnya sebagai negeri tak beradab, negeri biadab,Padahal berapa banyak darah para pahlawan telah dikorbankan untuk membebaskan negeri itu dari penjajah?Kehormatannya sebagai anak bangsa benar-benar tersinggung atas ucapan itu.Apakah dia pikir sikapnya menjual atau memberi senjata pada PRRI,atau barangkali pada para pemberontak di Afrika cukup terhormat?

Kalau dalam pertemuan nanti,lelaki itu masih saja menghina negerinya, bangsanya,maka dia sudah bertekad menghajar habis-habisan.Apa yang harus dia takuti?Dia sendiri dinegeri orang,lebih baik mati terhormat daripada hidup dihina orang.

Rumah itu ternyata cukup jauh letaknya dari pusat kota.terletak didaerah paling selatan dari wilayah country.Perkarangannya amat luas,demikian luasnya sehingga dari jalan,rumah itu kelihatan hanya sebagai titik putih.Rumah itu sendiri alangkah besarnya dan mewah.Ketika turun dari mobil dia merasa sunyi yang mencekam.Namun firasatnya mengatakan bahwa Elang Merah dan Pipa panjang pasti berada di sekitarnya.

Kedua Indian itu,entah dengan cara bagaimana,namun pasti,bisa menyelusup kerumah itu.dia menoleh kejalan raya.Tak ada sebuah mobilpun kelihatan.Rumah ini punya jalan sendiri yang terpisah dengan jalan raya.namun si Bungsu dapat merasakan kehadiran kedua Indian itu disekitarnya.Sebuah suara mirip suara burung dipepohonan terdengar lembut.

Sekitar rumah itu memang dipenuhi pepohonan.salah satu dari tanda itu dapat diketahui si Bungsu isyarat dari Elang Merah atau Pipa Panjang.Hatinya jadi tentram.Dia mengikuti salah seorang dari penjemputnya masuk keruang depan.Disitu,diruang tengah,yang dicat serba putih itu,dia tertegun.rumah depan itu jelas ditata secara ruangan rumah-rumah jepang.!

Dia segera teringat Michiko.Ya,ini pasti lah yang menata ruangan itu adalah Michiko.”Ya,Michiko menghendaki ruangan itu diatur begini…”tiba-tiba saja sebuah suara terdengar.Si Bungsu menoleh darimana suara itu terdengar.Disana berdiri Thomas Mackenzie!Lelaki itu masih memar mukanya bekas dihantam si Bungsu kemarin mereka bertatapan.

SUNYI.

Tiba-tiba lelaki yang bekas penerbang yang gagah itu melangkah panjang kearah si Bungsu.
Setiba dekat si Bungsu dia mengulurkan tangan!si Bungsu tertegun sejenak,namun amat tak sopan untuk tidak menyambut uluran tangan itu. Mereka berjabatan tangan,erat sekali.Seperti dua sahabat yang lama tak bertemu.

“Maafkan atas peristiwa kemaren malam.Saya benar-benar tak menduga,bahwa anda memang kekasih michiko.Saya menduga anda hanya salah seorang yang berasal dari vietnam atau philipina,yang selalu membuat perkara…”ujar Mackenzie ramah.
Si Bungsu hanya diam.Belum dapat mencari kalimat apa yang harus dia ucapkan.

“Mari,saya bawa anda keliling…”Mackenzie membawa si Bungsu berkeliling rumah dua tingkat itu.Tak layak rasanya menyebut rumah itu sebagai “rumah” lebih layak disebut sebagai istana.Ruang tengah juga dihias dengan gaya Jepang yang indah.Disana cahaya matahari masuk lewat dinding kaca sebelah atas.
“Anda akan saya bawa kesebuah ruangan dimana anda pasti mengenalnya dengan baik…”ujar Mackenzie pada tamunya yang masih saja berdiam diri.

Tak lama kemudian mereka sampai diruangan yang dimaksud oleh orang itu.Si Bungsu merasa dirinya dipaku kelantai.Ditengah ruangan itu ada kolam ikan yang indah dan bukit-bukit kecil.dilereng perbukitan,terletak beberapa buah miniatur rumah adat Minangkabau!Lengkap dengan lumbung padi dengan ukuran mini,dan disudut lumbung,lewat sebuah sungai buatan yang selalu mengalirkan air,terdapat sebuah kincir yang senantiasa berputar!

“Ya,ini adalah tiruan tanah Minangkabau.Michiko memintanya.Saya telah mencari kemana-kemana.Lewat seorang teman yang pernah bertugas di Indonesia,saya memperoleh foto dokumentasi tentang negeri anda.Selanjutnya adalah urusan para tukang untuk mewujudkan foto itu kedalam bentuk miniatur ini.Saya mengabulkan hampir semua permintaannya. saya mencintainya.Saya sangat mencintainya,itu harus anda ingat baik-baik. saya menunggu bertahun-tahun baru akhirnya dia menerima lamaran saya…”
Si Bungsu menatap lelaki didepannya.Thomas mackenzie juga menatapnya.

“Saya tahu,kalian saling mengasihi dan akan menikah di Bukittinggi.Namun sesuatu terjadi di Lembah Anai.Hal itu dia ceritakan sendiri.Dia tetap mencintai anda.Hanya keadaanlah yang menyatukan kami sebagai suami istri. Saya beritahukan ini pada anda,hanya semata-mata untuk menghindarkan salah mengerti antara anda dengan dia.Dia gadis yang baik,Tulus dan Ikhlas. dan amat setia pada anda.Namun ada jarak yang amat jauh memisahkan kalian.Saya tidak melarikan dia kesini seperti sangkaan anda.Tidak!Saya bukan tipe lelaki yang demikian.

Dalam puluhan peperangan di puluhan negara di dunia ini.Saya bisa memperoleh wanita yang bagaimanapun cantiknya.Itu hanyalah masalah biologis.Ketika seseorang menitipkan Michiko kepesawat saya,Gadis itu telah luka dalam penyerangan oleh pasukan yang saya tidak ingat lagi.semula saya menolak.Tapi keadaan sangat kritis,kami akan celaka kalau tidak segera berangkat.Tak ada kesempatan lagi menurunkan Michiko yang sudah diikatkan di sabuk heli saya.Kami mendarat disebuah lapangan udara rahasia di singgapura.Gadis itu diobati secara darurat disana.Karena kesulitan berbagai keimigrasian.

Saya akhirnya memutuskan membawa dia menyebrangi laut menuju Amerika ini.Itu semua tanpa jalur resmi.Seperti anda ketahui saya bisa dengan mudah mengaturnya.Maka dengan pesawat Jet khusus,yang biasa kami muati dengan senjata,Michiko saya bawa kemari.Saya obati,dalam proses itu saya jatuh cinta padanya.Cukup lama,tetapi saya menemukan perempuan yang saya impikan selama ini….”
Sepi.

Tak seorangpun bicara setelah itu.Si Bungsu yang duduk didepan Mackenzie, menatap kesamping.Ke kolam buatan yang diatasnya berputar kincir angin mini.Tiba-tiba Mackenzie berdiri.Kembali mengulurkan tangan pada si Bungsu. Si Bungsu bangkit.Nampaknya inilah wujud dari pertemuan itu.Dia tak diminta bertemu dengan Michiko.yang disembunyikan entah dimana.Tapi dia di minta datang hanya sekedar penjelasan bagaimana mereka bisa menikah.
Dia sambut uluran tangan Mackenzie.Dan berniat untuk tak pernah lagi bertemu dengan Michiko.Tidak,pertemuan yang sekali itu cukuplah sudah.namun mackenzie berkata lain.

“Saya hanya memberi penjelasan pengantar.Cerita lengkapnya anda bisa dengar dari Michiko.Tuan,,saya tahu Tuan amat mencintainya dan saya juga tahu dia amat mencintai Anda.Jika dia mau kembali pada tuan,saya dengan senang hati melepaskannya.Demi Tuhan,Saya takkan memaksanya.Dan saya takkan sakit hati.Kini terserah padanya.Saya telah pikirkan itu masak-masak. Dan saya telah sampaikan itu padanya.pertemuan ini dia yang meminta.Saya akan pergi sampai sore atau malam.Sya berharap kalau kembali nanti,persoalan antara anda dengan dia tela selesai dalam artian yang sesungguhnya……”

Kemudian lelaki itu melangkah pergi.Sampai detik itu sejak dia datang dirumah itu setengah jam lalu.tak sebuah bunyi pun yang keluar dari mulutnya.Usahkan kata,apalagi kalimat.Bunyi saja tak sempat atau tak sanggup dia keluarkan.

Mackenzie lenyap diruang depan.Lalu terdengar suara mobilnya menjauh.Dia masih tegak disana,sepi.!ada suara gericik air terjun dari sungai buatan,menerpa daun-daun kincir.Memutar rodanya dan jatuh kekolam buatan yang dipenuhi ikan berwarna-warni.
Kesana dia kembali melabuhkan pandangannya.Mentap air nya kehilir,tak bisa berbalik kehulu.seperti suratan nasib manusia.Apa yang telah terjadi,tak mungkin di hela untuk diperbaiki atau di rubah.

Yang telah terjadi,terjadilah. Yang akan terjadi di masa depan,barangkali bisa direncanakan.Dia masih tegak mematung,ketika firasatnya mengatakan ada orang lain diruangan yang membangkitkan kenangan akan kampung halamannya itu.

Secara naluriah dia menoleh,dan…tubuhnya seperti tak tahan menahan gigilan. di dekat arah perbukitan di dalam taman itu,di jalan setapak dekat dinding,berdiri seorang perempuan dengan pakaian serba putih.Agak pucat,namuun secara keseluruhannya,dia adalah perempuan yang amat cantik.
Michiko!

Perempuan itu menatap nya dengan mata berkaca-kaca.kemudian melanglah seperti melayang.
“Bungsu-san…”
“Michiko-san…”ujar si Bungsu,namun suaranya tak terdengar,hanya bergema didalam hati.
“Bungsu-san…”himbau michiko yang kini telah berlari kearahnya.
“Michiko..kekasihku..”himbau si Bungsu.Namun sedesahpun suaranya tak keluar.

Himbauan itu hanya bergema dalam hatinya yang luka,hatinya yang hiba.Lalu tiba-tiba michiko telah memeluknya.Perlahan,antara ragu-ragu dan rindu yang alangkah tak tertahankannya,tangannya hampir memeluk tubuh michiko.Namun itu tak dia lakukan.Gadis itu menangis,terisak-isak.

“Bungsu-san..Oh,Tuhan kenapa semua ini bisa terjadi…”dan gadis itu menangis.
Si Bungsu merasa jantungnya tertikam.Merasa hatinya disayat-sayat sembilu. Dia lelaki yang telah membunuh tak sedikit manusia.Yang telah banyak mengalami siksa dan cobaan.Namun airmatanya jadi kering,tapi kali ini,matanya basah.Sebasah hatinya yang seakan terluka berlumur darah.
“Bungsu-san,bicaralah.Mengapa kau membisu begini.Engkau menghukumku.Jangan menghukum begitu.Bicaralah..Bunggsu-san…”Michiko memohon diantara tangisnya.

Gadis itu menengadahkan kepala,meraba dengan jarinya yang lentik wajah si Bungsu,dan ketika melihat mata si Bungsu basah,dan air mata lelaki itu tiba-tiba jatuh menimpa pipinya,Michiko benar-benar luluh.Si Bungsu tak sepatahpun mampu bicara.Tak sepatahpun.Padahal banyak sekali yang ingin dia katakan, yang ingin dia tanyakan,sampaikan.Namun sepatahpun terucapkan.
“Jika Istriku sampai keguguran karena peristiwa ini,kau akan menangung akibatnya…”

Ucapan Mackenzie di restoran beberapa hari yang lalu tiba-tiba seperti terngiang di telinganya.Perempuan yang memeluknya ini,bukan lagi kekasihnya. kini dia istri orang lain dan dia lagi hamil!perlahan dia papah perempuan itu duduk dikursi.
Kau bahagia bersama suamimu,Michiko?“itulah pertanyaan pertamanya. Pertanyaan yang tumbuh tatkala dia mengingat pesan Angela ketika akan berangkat tadi.
Bila dia tak bahagia,maka jangan ragu-ragu,bawalah dia pulang ke Indonesia atau kemana saja.Tapi kalau memang dia bahagia bersama lelaki itu,biarkanlah dia menempuh hidup bersama suaminya...”

Ucapan Angela terngiang ditelinganya.Namun Michiko tak menjawab pertanyaan itu.Dia kembali memeluk si Bungsu.Perlahan dan hati-hati sekali,agar gadis itu tak merasa tersinggung,dia lepaskan pelukan itu. Mendudukannya kembali kekursi.menggenggam tangannya,dan menatap matanya.Lalu tiba-tiba dia dapat jalan untuk mengalihkan pembicaraan.

“Rumah Gadang yang kau buat berikut kincir dan Gunung-gunung itu,Indah dan mengingatkan aku pada kampungku..”katanya mencoba tersenyum.
Namun Michiko tak peduli.Dia masih menatap si Bungsu.
“Di ruang depan,kuil dan rumah-rumah mini seperti diJepang,mengingatkan aku ketika naik kereta api menuju Nagoya…”
Michiko masih menatapnya.Dia kehabisan bahan uunutk bicara.Akibatnya sepi.
“Bila kau sampai di Dallas Bungsu-san..?”

Si Bungsu menarik Nafas.Lega karena akhirnya Michiko mau bicara.Tidak hanya menangis dan memeluknya.
“Sudah cukup lama.Aku datang dengan seorang teman…”
“Dari siapa kau ketahui bahwa aku ada dikota ini?”Ku sangka kita tak akan pernah bertemu lagi Bungsu-san..Tak akan pernah lagi.Tempat ini alangkah jauhnya memisahkan kita…”
“Itu sebabnya kau memilih menikah saja dengan mackenzie,bukan?”tanya si Bungsu,tapi didalam hati.Untung saja kalimat itu tak pernah keluar.Yang keluar adalah.

“Saya juga menyangka takkan pernah bersua lagi,Michiko-san…”
“Saat pencegatan di lembah Anai itu aku diselamatkan perwira PRRI yang mengenalmu.Atau paling tidak mengenalmu dari cerita kawan-kawannya.Mereka tahu,ada Gadis Jepang mencarimu,dan aku diselamatkan karena itu Bungsu-san….”
Michiko lalu menceritakan perjalanannya sejak dia terluka dirumah darurat di pinggang Gunung singgalang.Ceritanya persis seperti cerita mackenzie.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: