Dalam kecamuk Perang saudara -bagian- 416


Dalam kecamuk Perang saudara -bagian- 416
gunung singgalang
Apa yang harus di takutkan.Tapi seperti ada perasaan yang mendorongnya untuk tak datang kestasiun itu.Semacam was-was,untuk pertama kalinya sejak keluar dari hotel tadi dia menyadari,bahwa dia tak membawa samurainya! secara reflek pula,tangan nya merapa lengannya.Disana selalu terselip enam buah samurai kecil,tiga di tangan kanan tiga di tangan kiri yang di sisipkan pada sebuah sabuk yang terbuat dari kulit tipis.

Samurai yang bisa diturunkan dengan sedikit gerakan khusus.siap dilemparkan secepat anak panah,Namun kini ternyata semau tak dia bawa.Dia mencoba mengingat kenapa tak satupun senjata-senjata itu dia bawa,apakah dia terlalu terburu-buru?tak ada jawaban yang di peroleh.Akhirnya dia kembali berjalan menuju ke arah Panorama.Sementara pikirannya menerawang,bagai mana kalau keadaan seperti ini artinya ketika dia tanpa senjata sama sekali lalu bertemu dengan michiko.Kemudia gadis itu menyerangnya untuk membalas dendam.

Dia memang menguasai judo dan karate yang pernah diajarkan Kenji,tapi judo dan karate melawan samura!Ah,suatu pekerjaan yang sia-sia betapapun hebatnya seseorang menguasai ilmu judo dan karate namun mneghadapi senjata tajam seperti samurai,apalagi bila samurai itu di pegang orang yang sangat mahir,sama saja dengan bunh diri.
Ah,pikirannya di penuhi terus dengan pertarungan melawan michiko.Apakah dia memang benar-benar takut menghadapi gadis itu.?Apakah gadis itu benar – benar telah demikian hebatnya kini,sehingga dia merasa begitu takut?bukankah dia tak pernah lagi dengan gadis itu sejak peristiwa pamakaman Saburo Matsuyama di kuil shimogamo dahulu?

Namun perasaannya mengatakan,bahwa gadis itu kini memang memilki kepandaian yang jauh lebih tinggi.Sudah bertahun masa berlalu,michiko terus mempersiapkan diri dengan matang.Kalau tidak,takkan berani dia datang sejauh ini.Gadis itu sudah paham siapa lawan yang akan dihadapinya.

Di Panorama.ketika dia tegak memandang ke ngarai yang masih berkabut,ketika matanya memandang jauh ke Gunung Singgalang yang tegak seperti seorang tua menjaga negeri ini dengan perkasanya,sebuah pikiran menyelinap ke hati si bungsu.Dia harus pulang ke Situjuh ladang laweh untuk Ziarah ke makam Ayah dan ibunya.Dia ingin mengatakan,bahwa dendam mereka telah dibalaskan.Dia ingin membakar kemenyan dipusara mereka.Memanjatkan Doa itu niat utama nya.Kini kenapa dia harus menanti michiko?dan kalau saja Gadis itu tidak mau berdamai dan memang benar-benar ingin menuntut balas,dan kalau benar kepandaianya sudah demikian tingginya,hingga tak mampu dia melawannya, itu berarti maut akan menjemputnya sebelum dia sempat Ziarah ke makam ayah,Ibu dan kakaknya,perjalanan jauh selama ini alangkah sia-sia.

Tidak,hal itu tidak boleh terjadi.Dia harus cepat-cepat pulang ke kampungnya. Tak peduli apakah dia akan dicap penakut karena melarikan diri dari michiko, setelah ziarah dia tak perduli,soal dilayani atau tidak tantangan michiko itu soal lain.Pokoknya dia harus ziarah,dengan pikiran demikian lalu dia melangkah lagi kearah hotelnya.Dia akan pulang dengan kereta api pagi ini, Namun ketika kakinya menjejak halaman hotel hatinya berdebar kencang sudah tibakah gadis itu dihotel?Di ruang tamu,pelayan yang tadi mengatakan padanya tentang kehadiran michiko kelihatan tengah menulis di buku tamu.

“Hai,ini dia bapak itu..!”pelayan itu berseru,si Bungsu hampir terlonjak.Darah nya hampir berhenti berdenyut,jantungnya hampir berhenti berdetak.Ternyata gadis itu telah ada dihotel pikirnya,bibirnya tiba-tiba kering.
“Ada apa?”tanyanya setelah sejenak berdiam diri
“Tidak,saya gembira Bapak sehat-sehat saja….”jawab pelayan itu.

Srrr!Darah si Bungsu berdesir kaget,ucapan pelayan itu seperti memnyindirnya.
sehat-sehat saja‘ bukankah itu suatu sindiran langsung,bahwa pelayan itu mengatakan kalau dia takkan ‘sehat-sehat saja’ kalau telah berhadapan dengan michiko?apakah pelayan ini telah tahu maksud kedatangan michiko untuk membalas dendam padanya?
“Dia belum pulang pak,tunggu saja sebentar lagi….”pelayan itu berkata seperti orang berbisik.Si Bungsu menyumpah-nyumpah dalam hatinya.Jelas yang dimaksud pelayan itu adalah michiko.ternyata gadis itu belum pulang kehotel, hatinya sedikit lega,dia melangkah kedalam kamarnya.
“Saya berangkat hari ini…”katanya sambil menerima kunci.
“Siang atau sore pak?..”
“Pagi ini..”
“Pagi ini?”
“YA…”
“Ah,jangan terburu-buru pak….”Tapi si Bungsu mengacuhkannya.

Dia membuka pintu kamar dan melirik ke kamar sebelah,kekamar yang dihuni oleh michiko.Kamar itu masih tertutup dan terkunci,dia mengemasi barang-barangnya lalu membayar sewa hotel.
“Bapak akan kemari lagi,bukan?”tanya pelayan itu.Si Bungsu tidak menjawab,dia menjinjing tas kecil yang berisi pakaian,kemudian berangkat ke stasiun.Di stasiun gebalau orang-orang ramai terdengar seperti lebah,Dia membali karcis.


One response to “Dalam kecamuk Perang saudara -bagian- 416

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: