Giring-Giring Perak Episode Pengintaian Di Bukit Tambun Tulang (1)


Episode Pengintaian Di Bukit Tambun Tulang (1)orang menjual lemang
Datuk Sipasan sebenarnya sudah beberapa hari yang lalu di tugaskan oleh teman-temannya untuk membujuk anak muda itu agar mau membantu mereka.Bahkan ada yang mengusulkan agar diikat jodoh Siti Nilam dengannya, agar dengan demikian anak muda itu mau tak mau ikut berperang dipihak mereka melawan Belanda.Namun Datuk itu tak mau gegabah,dia tak mau menyampaikan hal itu karena dia anggap kurang terhormat cara demikian.

Dan kiranya,tanpa harus dia memintanya dengan bujukan,anak muda itu telah menyatakan kesediaanya,bukankah itu suatu rahmat?dan Datuk ini serta pengikut-pengikutnya,merasa yakin kalau Tuhan yang mereka sembah adalah Tuhan Sekalian Alam yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.

Setelah mereka membaca Al-Fatihah,para lelaki berdatangan menjabat tangan si Giring-Giring Perak.Menurut perjanjian dengan Ulama-ulama Aceh yang balik ke Aceh mencari bala bantuan,mereka akan datang lima purnama lagi.Berarti sisa dari lima purnama itu akan mereka gunakan untuk mencari dan mengumpul kan tenaga sebanyak mungkin,berusaha menarik kaum Pesilat dan pengikut Islam yang ada di tiga Luhak ini agar mau membantu.

Dan hari itu mereka putuskan,bahwa mereka akan kembali kerumah Datuk Sipasan di Silaing.Tiga hari disana,setelah melihat hari baik,mereka lalu pindah menuju Balingka seperti rencana Datuk Sipasan.Mereka menempuh jalan biasa lewat Koto baru,Sungai Buluh,Padang Luar dan berbelok ke Balingka.Dengan menempuh jalan biasa itu,mereka dapat membawa semua perkakas yang di bawa dari pariaman berikut pedati,si Giring-giring perak ikut rombongan itu.

Dalam perjalanan beberapa kali anak buah Pandeka Sangek mencoba untuk menyergap,tetapi melihat di pedati paling depan duduk anak muda berpakaian putih dan bergiring-giring perak itu,stelan perut mereka jadi memilin.Mereka munduer sebelum dihajar dan rombongan itu aman sampai di Balingka.Akan halnya Pandeka Sangek,sejak peristiwa itu seperti lenyap dari negeri silaing dan kebun sikolos.Banyak yang menduga bahwa dia bersemedi dan menghimpun tenaga di Gunung rajo,malah ada yang berseloroh kalau dia kembali menuntut ilmu kepada gurunya.

Tapi satu hal yang pasti adalah mereka sedang menanti kesempatan untuk menuntut balas,sementara perkelahian yang dasyat di rimba silaing itu menyebar dari mulut ke mulut,tersebar dari luhak tanah Datar,sampai ke Luhak Agam dan Lima puluh,nama si giring-giring Perak mereka sebut dengan penuh kekaguman walau pun mereka belum pernah melihat.Tapi bukit Tambun Tulang tetap saja menjadi momok bagi orang yang lewat disana.Dua rombongan orang-orang yang akan kepadang lewat disana,habis kena babat.Jumlah mereka enambelas lelaki dan pesilat semuanya,terakhir dua regu tentara Belanda yang menuju padang juga,yang lewat disana dengan berkuda dan bersenjata lengkap,dua puluh orang mati disembelih anak buah Gampo Bumi. Tiga orang lainnya sempat lolos dan melarikan diri kembali ketanah datar.dan nama Bukit Tambun Tulang kembali menjadi momok,suatu kerajaan hukum rimba yang membuat orang merasa linu tulang belulangnya bila harus lewat disana.

Peristiwa pembunuhan dua regu tentara Belanda itu menyebabkan murkanya Kolonel De Cappelen di Batu Sangkar.Dia memerintahkan kapten Verde di kebun sikolos dekat silaing untuk menyapu penyamun disana.Kapten itu justru memanggil pandeka Sangek,karena dia mendengar kalau Pandeka sangek dan Gampo bumi ada sangkut pautnya.Dia meminta pada Pandeka Sangek untuk membujuk Gampo Bumi untuk menyerah kepadanya,tapi dengan tegas di tolak Pandeka Sangek.

“Saya bukan hanya kenal dengan Gampo Bumi,tapi lebih dari itu..dia adalah adik seperguruan saya..”Katanya pada kapten belanda itu tatkala dia datangke pos markas kapiten tersebut di kebun sikolos.
“Good!Baguss!Kalau begitu,kamu orang harus panggil adik kamu yang ajarnya kurang itu,suruh dia menghadap saya..”
“Itu tk mungkin!”kata Pandeka Sangek tegas.
“Apa sebab?”
”Dia penguasa di Bukit Tambun tulang itu,setiap tindakan yang dia lakukan sepenuhnya tanggung jawab dia.Meski kami seperguruan tapi kami tak boleh mencampuri urusan kami masing-masing.seperti dia tak bisa mencampuri urusan saya di negeri ini..”
“Hmmm..semacam otonomi pemerintahan he..?”
“Begitulah…”
“Bagaimana kalau dia kita undang minum-minum disini…?”
“Itu urusan kapitenlah..”
“Tapi kita ingin Pandeka Sangek sampaikan kita punya undangan..”
“Maaf,banyak kerja saya yang lain..”
“Pandeka tidak menghargai persahabatan kita…”
“Apakah persahabatan yang tuan maksudkan adalah agar saya membujuk adik seperguruan saya kemari,lalu tuan tangkap lalu tuan bunuh,begitu persahabatan yang tuan unginkan?”

Muka Kapiten ini merah padam mendengar pernyataan yang jelas-jelas menantang ini.mereka saling tatap.Pandeka Sangek yang sudah sebulan tidak muncul setelah perkelahian dengan si Giring-Giring Perak itu membalas tatapan kapten belanda ini tanpa berkedip.Dia sudah lama juga merasa muak akan belanda-belanda ini di negerinya,bukanya karena mereka merasa dijajah. Tapi mereka merasa kekuasaannya untuk bermahasirajalela jadi berkurang. Inilah yang membuat mereka merasa tak sedap hati.

Kapten ini bisa saja melampang dan menangkap inlander busuk ini.Tapi dia tahu.Inlander yang seorang ini punya banyak ikutan.terdiri pesilat-pesilat tangguh,sementara mereka hanya dua belas orang saja di kebun sikolos ini. Bisa-bisa mereka disembelih Pandeka ini,dengan berpikir demikian,kapten tersebut terpaksa menahan berangnya.namun tak urung dia menyumpah-nyumpah dalam bahasa nenek moyangnya yang tak diketahui pandeka sangek. Dan kapiten ini menukar siasat,dia menanyakan berapa kekuatan anak buah Gampo Bumi di Bukit Tambun Tulang.

“Saya tak tahu..”jawab Pandeka Sangek.
“Tapi,bukankah di bukit keparat itu kamu orang belajar silat?”
“Bukan Bukit keparat,tapi Bukit Tambun tulang..”
“Persetan dengan Tambun tulang atau tambun Taik,saya ingin tahu berapa kekuatan annak buah si gampo taik itu”Bentak kapiten itu mulai berang.
Pandeka Sangek timbul harga dirinya.Dia tak senang bangsa asing ini membentak dirinya di negerinya pula.Dia tegak,dan dengan sikap menantang lalu bicara:

“Tuan ingin tahu jumlah mereka disana?”
“Ya,berapa jumlah mereka,dan dimana mereka berdiam di rimba itu…”
“Datang sendiri kesana dan tanyakan pada Gampo Bumi!”sehabis berkata begitu pandeka Sangek dan si Pitok melangkah keluar.
“Godverdomm..!!Anjing,kendik,beruk,kentut,kentut kowe!”

Kapten itu memaki dan bercarut bungkang.Tapi di memergunakan bahasa belanda dan karena dia berbahasa belanda,pandeka Sangek tidak tahu kalau dikatai anjing,kendik,beruk,dan kentut.pandeka itu tetap saja melunjur pergi. Masuk kepasar kebun sikolos,di depan orang menjual lemang dia berhenti, memotongnya dengan keris,kemudian memakan sekerat dan membarikan yang sekerat lagi pada si Pitok,dan anak buahnya itu memakan sisanya sambil berjalan.

Pemilik Lemang tak berani meminta uang,karena setiap orang di kebun sikolos itu tahu siapa yang berjalan itu.Pandeka Sangek,yang siap yang menyangek apa-apa yang menghalanginya.
Tak jauh dari tempat orang menjual lemang ia menendang tempaya orang yang berjualan cendol.Tempayan besar itu menghalangi jalannya,tempayan itu pecah,cendolnya terbosai kemana-mana.orang yang kena cendol dan tukang cendol tertekur diam tak bergerak.

“Kalau jualan cendol jangan di tengah jalan,mengerti waang he..?!”
“Ya..om..”
“Apa!siapa yang waang panggil om heh?”dan seiring pertanyaan itu,tangannya bekerja.dia membuat pekerjaan tangan di pipi si tukang jual cendol yang terlanjur memanggil dia dengan Om.
“Ampun pak..ampun pak..awak silap..”
“Siapa bapak waang.pebila saya kawin dengan emak waang makanya waang sebut bapak he..?”dan kembali dia membuat pekerjaan tangan.Pandeka ini memang orang yang rajin membuat pekerjaan tangan bila dia sesekali ke balai.

Penjual cendol itu tak bicara lagi,dia lebih baik diam dari pada mendapat pekerjaan tangan terus menerus dan memang jalan yang aman baginya. Pandeka itu berjalan lagi meninggalkan tempayan cendol yang pecah dan muka penjualnya yang ada sidik jarinya..
**************
terbosai = terserak
tertekur = tertunduk
kendik = babi hutan,celeng


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: