Giring-Giring Perak Episode Kampung Darurat Hutan Silaing


Episode Kampung Darurat Hutan Silainghutan itu sepi
Hutan itu sepi!.Namun tak seorang pun yang berani meninggalkan tempat mereka tegak.Semua makin waspada,sudah beberapa kali nyawa mereka hampir melayang karena hunjaman tombak dari tempat gelap.si giring-Giring Perak mendengarkan denga teliti setiap bunyi dan gerak dalam rimba itu dengan pendengaran nya yang tajam.

Namun tak ada suara mencurigakan.Aneh,kemana orang itu?tiba-tiba terdengar suara:
“Ilmu sanak memang tangguh.Tapi pertarungan belum selesai!Ingatlah suatu hari gelak sanak akan mati di tangan satu dari tiga orang seperguruan Tambun Tulang…”Suara itu jelas suara Pandeka Sangek.Dan dari suaranya jelas dia sudah jauh dari hutan itu,suaranya dikirim dengan tenaga bathin.

Datuk Sipasan menrik napas lega,Siti Nilam menghambur ke arah si Giring-Giring Perak.Dia menghapus bekas darah di mulut anak muda itu dengan ujung selendangnya.Sebagai pesilat dia tahu kalau tangan anak muda itu lumpuh dan harus dirawat.
“Tangan uda cedera…”katanya perlahan.Anak muda itu mengangguk dan mulutnya tersenyum,rombongan Datuk Sipasan mengelilingi anak muda itu.
“Terimakasih.Sekali lagi anda menolong nyawa kami.Sementara belum satupun yang bisa kami perbuat untuk menolong anda..”Datuk Sipasan berkata perlahan.
“Tak usah dipikirkan hal itu datuk,Hari mungkin sudah mau pagi,ada baiknya kita kuburkan teman-teman yang telah meninggal…”
“Ya..ya..saya rasa itulah yang harus kita lakukan…”

Tiga orang diantara mereka kembali kerumah Datuk Sipasan untuk mengmbil cangkul dan Linggis.lalu mereka menggali kuburan,pekerjaan itu mereka hentikan tatkala subuh datang,mereka sembahyang berjamaah dan setelah pagi baru pekerjaan menguburkan itu selesai.
Sementara pihak Pandeka Sangek mereka kuburkan bersama-sama dalam sebual lobang yang panjang.Mereka memang bermusuhan ketika masih hidup tapi setalah meninggal maka kewajiban yang hidup menyelenggarakan.Itulah yang diajarkan Islam yang baru masuk di Minangkabau saat itu,yang pengikutnya masih sedikit.

“Nah,bagaimana Datuk?apakah kita teruskan memintas hutan ini atau kembali kesilaing…”Tan Teno yang terluka karena lembaran senjata rahasia tadi bertanya setelah mereka terduduk kelelahan setelah bekerja sekerat malam itu.
Hujan sudah berhenti,yang perempuan mengumpulkan ranting yang kering dan membuat api unggun tak begitu sulit menyalakan api karena ada sepuluh suluh damar yang masih ada di tinggalkan anak buah pandeka sangek.

Bungkusan-bungkusan yang mereka bawa mengungsi segera mereka buka, sedikit perbekalan yang ada di dalamnya,sebagai bekal untuk melarikan diri selama memintas hutan menjelang sampai ke Balingka mereka keluarkan.
Ada pisang goreng yang telah dingin dan dibagikan,ada nasi bungkus yang dimasak sore itu juga dibagikan.Nasi bungkus dengan sambal lado pakai belacan dan dendeng panggang.Sementara mereka menyuap,kopi yang di jerang siti nilam dan Istri datuk Sipasan juga dihidangkan.

Hutan silaing di mana mereka berada itu menjadi semacam kampung darurat. Anak-anak bermain panjat-panjatan pohon kayu yang rubuh di pukul pandeka sangek.Datuk Sipasan tidak segera menjawab pertanyaan Tan teno,dia mengedarkan pandangan pada rombongannya.Istri lebak tuah yang menjadi korban malam tadi nampak memeluk anaknya yang berumur dua tahun. Anak-anak Rukayah yang kematian ibunya berada dalam pelukan ayahnya yang belum sembuh benar dari luka-luka ketika di bukit tambun tulang.

Pemandangan di hutan itu memilukan hati ,si Giring-giring Perak sudah sejak tadi memperhatikan anak-anak yatim itu.Dia merasa hatinya amat hiba,bagi yang kematian ibu,betapa sepinya hidup mereka,hidup tanpa ibu seperti anak-anak lain,yang sepanjang hari menyanyikan dengan lagu kasih,yang sepanjang hari menyuapkan nasii dan membuaikan dengan dendang sayang.
Bagi yang kematian ayah siapa lagi yang akan mencari nafkah?apalagi dala jaman minangkabau yang keras ini dan hampir-hampir tak beradap seperti ini? Dia merasa hiba melihat nasib anak-anak itu dan karenanya dia menyesali dirinya,kenapa harus terlambat datang malam tadi.

Kenapa dia harus berhenti dulu dikedai kopi Kebun Sikolos untuk makan ketan dan durian,bukankah kalau diterus kesilaing mungkin masih bisa menolong mereka dari kematian.
Namun kematian ditangan Tuhan itu yang di ajarkan Islam,mungkin sudah suratan meraka untuk mati hari ini.Pikiran anak muda itu berperang dan saling jawab.Tapi walau kematian sudah ditakdirkan,tapi melihat nasib anak-anak itu amat mengharukan Dan tiba-tiba dia teringat nasib dia sendiri,mereka masih akan mengenal salah satu dari orang tuanya.Dan kalau pun kedua orang tuanya mati hari ini masih ada orang yang akan menceritakan siapa orang tuanya,dimana kuburnya,apa sebab kematiannya dan diman tumpak kampung halamannya.Mereka lebih mujur dari diriku,bisik hatinya.

Dimana orangtua ku kini,apakah mereka masih hidup?kalau sudah meninggal dimana kuburnya?apa penyebabnya.Dimana kampung halamanku,tanpa sengaja dia menjangkau giring-giring perak di kakinya,memgangnya dan menjentiknya dengan jari perlahan.Terdengar suara berdiring perlahan.Siti Nilam yang dari tadi memperhatikan tingkah anak muda ini dan sepertinya dia bisa dapat membaca apa yang tengah dipikirkan anak muda itu.

Gadis itu teringat pula ayah dan ibunya yang sudah meninggal,tapi aku lebih beruntung dari dia,bisiknya pula.Aku mengenyam kasih sayang mereka,masih mengenal mereka.Sedang dia sampai hari ini tidak tahu asal-usulnya.
Berpikir begini Gadis itu mendekati sambil membawa canting kopi kedekat anak muda itu duduk.Kedatangan nya seperti tak diketahui si Giring-Giring Perak.
Datuk Sipasan memperhatikan kedua anak muda ini dengan sudut matanya,si Giring-Girng duduk agak jauh dari rombongan itu.

“Tambah kopi uda?….” Anak muda itu terkejut,dia menoleh dan melihat Nilam tegak disisnya dengan canting kopi ditangan.
“Hm..Kopi?Ya..ya.Engkau yang memasak kopi ini Nilam mengangguk.Kemudian menuangkan kopi kecangkir yang ada di tangan anak muda itu.
“Engkau juga yang menumbuk kopi ini?”kembali Siti Nilam mengangguk.
“Tapi bukan aku sendiri,kami menumbuk dua hari yang lqalu di rumah Datuk Sipasan..”
“Hmm..Kalian pandai membuat kopi…”
“Terima kasih uda..”
“Hei,apakah kalian akan kembali ke silaing?”
“Itu yang belum di putuskan Datuk…”

Mereka terdiam dan anak muda itu menghirup kopinya,memandangi damar yang masih menyala dan pucat kena cahaya matahari,alangkah berbeda nya dengan malam tadi.Tadi malam damar itu jadi pusat cahaya menerangi rimba ini,tapi sekarang menjadi tak berarti.
Datuk Sipasan batuk-batuk kecil,kemudian berjalan menghampiri anak muda itu.”Ada yang ingin saya tanyakan…”katanya perlahan.Siti Nilam arif dan dia segera kembali ketempat perempuan-perempuan berkumpul.Dia menghormati datuk sipasan seperti ayah nya sendiri.

“Teman-teman bertanya apakah akan melanjutkan perjalanan ini menuju Balingka atau kembali ke silaing.Bagaimana pendapatmu akan hal ini giring-Giring Perak?”.Anak muda itu tidak segera menjawab.Dia melemparkan pandangan kearah perempuan dan anak-anak yang sedang makan,kemudian pada para lelaki yang sedang menghisap daun nipah.Datuk Sipasan menoleh pula pada yang di pandang anak muda itu.

“Bagaimana pendapat Datuk sendiri?”
“Terlalu sulit meneruskan perjalanan.Anak-anak dan lelaki yang luka.akan kembali ke silaing,bukannya mustahil kalau Pandeka Sangek menuntut balas setiap waktu…”
“Apakah ada jalan lain..”
“Kemungkinan lain adalah tetap pindah dari Silaing,mungkin ke agam,Kamang, Pagaruyung.Bergabung dengan teman-teman yang sudah duluan kesana.Tapi kita tidak mengikuti jalan hutan ini,Kita kembali ke silaing dan mengikuti jalan pedati biasa..”
“Kalau memang akan pindah,kemana tujuan datuk..?”
“Barangkali lebih baik ke Balingka…”
“Kenapa kesana..?”
“Dari situ dekat menghubungi teman-teman.Dekat menghubungi pemuka Islam di Kamang seperti tuanku Renceh,Haji Piobang,dan teman-teman yang lain. Kemudian jika kekuatan sudah terkumpul,jalan memintas dari sana cukup dekat untuk menggempur Belanda di Pariaman.Dari sana naik menelusuri pinggang Gunung Singgalang akan sampai ke malalak,turun terus ke sebelahnya akan sampai ke Sungai Limau dan pariaman..”
“Apakah niat untuk kemabali menyerang Belanda itu tetap harus di laksanakan?”Datuk Sipasan memandang si Giring-Giring Perak atas pertanyaan itu.
“Maaf,Maksud saya apakah tidak boleh lebih baik menghindar dari pariaman yang selalu kisruh itu.Hidup dengan tenang di daerah lain yang lebih tenang?”

Datuk Sipasan menghirup napas panjang,menatap pada perempuan dan anak-anak yang duduk di tengah rimba silaing itu,kemudian berkata perlahan.
“Maafkan kalau penjelasan saya berikut ini melukai hatimu,tapi ini hanya sebagai perumpamaan.suatu saat kelak bila engkau bertemu dengan ayah dan ibumu,atau kalau mereka sudah meninggal dan telah kau ketahui kuburannya pastilah kau ingin berziarah tiap tahunnya.dan kelak kau ketahui diaman kampung halamanmu,sejauh-jauh kau merantau pastilah ada taragak untuk pulang.Meski tidak lagi ada sanak famili di kampung itu.meski tidak ada lagi yang mengenalmu disana.
Namun kerinduan pada kampung halaman itu,adalah kerinduan setiap manusia akan negeri asalnya,Kini negeri kami itu diserang bangsa lain.di serang Belanda mereka ingin menguasi negeri,merubah agama kami,mencemarkan gadis dan perempuan kami,kenapa kami tidak berniat membelanya?

Di negeri itu sudah banyak darah tertumpah,semula kami tidak beragama.Ada agama Hindu,tapi sudah ditinggalkan orang.Sebagian besar penduduk disana lebih senang berjudi,minum tuak,main perempuan dan saling bunuh karena harta pusaka.Keadaan seperti itu berlangsung terus sampai sepuluh tahun yang lalu.Saat itu datang pedagang-pedagang dari Aceh dan dari merekalah kami mengenal Islam dan dari Islam kami mengetahui mana yang baik dan yang buruk.

Tak ada yang memaksa kami masuk islam itu,Siapa yang suka boleh masuk,yang tidak melanjutkan kepercayaan masing-masing.Namun enam tahun yang lalu keadaan mulai berubah.Banyak kaum bangsawan atau orang biasa yang tak senang pada Islam.Karena terlalu banyak membatasi dan terlalu banyak mencampuri urusan dunia.Terjadi pertentangan,perkelahian terjadi antara orang islam aceh dengan penduduk pariaman yang tidak islam dan kaum Bangsawan meminta bantuan Belanda yang ada di Pulau Cingkuk.

Jika perkelahian itu hanya antara sesama bangsa melayu.kami takkan sampai menyingkir.Tapi ini sudah ada campur tangan bangsa lain,kami tak bisa berpangku tangan.kami harus berpihak dan kami berpihak kepada Islam,agama kami.tapi kekuatan kami tidak berimbang dengan Belanda dan orang kampung yang berpihak padanya.

Kami sepakat dengan orang Aceh untuk sama-sama menyingkir dari pariaman. Mereka kembali ke aceh,meminta bantuan pada Sultan Iskandar Syah dan kami mencari bantuam ke Luhak nan Tiga di darat ini.Kami tidak bermaksud menguasai negri ini,kami hanya ingin menyelamatkan kampung halaman kami. Di sana banyak anak kemenakan kami yang harus kami selamatkan.Nah,itu semuanya ,kerinduan kami pada kampung halaman bukan hanya sekedar rindu untuk pulang,tetapi berbaur dengan kerinduan itu untuk menegakkan keadilan dan menyaiarkan agama Allah du negeri yang telah ratusan tahun di perbudak jahiliyah itu.Sekali lagi saya berharap engkau tidak tersinggung karena saya menyebut-nyebut tentang asal usul,tentang kerinduan pada kampung.

Saya tidak ingin melukai hatimu,hanya ingin membari penjelasan kenapa kami harus pergi dari sana,kenapa kami harus mencari bantuan dan kenapa kami harus kembali lagi ke kampung .sebenarnya benar seperti yang engkau katakan, lebih baik hidup dengan keluarga di luhak nan tiga ini.Jauh dari kerusuhan, jauh dari huru-hara.Tapi bukankah hidup berkampung menjaga kampung,hidup bernagari menjaga nagari?lagi pula kedamaian itu bisa dimana saja,juga kerusuhan juga bisa ada di mana-mana.Luhak nan tiga misalnya nampak nya juga tak aman.coba lihat di Bukit Tambun Tulang kita bisa saja dihadang penyamun-penyamun,disini juga dihadang Pandeka Sangek.siapa yang mengatakan Belanda yang sudah ratusan tahun disini tidak mendatangkan kesengsaraan kepada penduduk pribumi.?Kerusuhan bisa datang diaman-mana,dari pada dalam kerusuhan di negri orang lebih mati di kampung sindiri,begitulah adat kita minangkabau…”

Datuk Sipasan berhenti,dia khawatir,kalau dia meneruskan juga ucapannya, anak muda ini benar-benar merasa tersinggung.Para lelaki yang lain terdiam mendengar mendengar pembicaraan itu,menatap pada mereka dengan tegang. Si Giring-Giring Perak menunduk diam.
“Maaf,saya benar-benar tak bermaksud melukai hatimu..”
“Tidak,tidak…saya tak tersinggung.Saya memikirkan perkataan datuk itu benar adanya dan saya juga berpikir tugas menghalau belanda dari pariaman bukan saja hanya tugas Datuk dan teman-teman datuk saja.Itu adalah tugas seluruh orang Minangkabau.Dan kalau orang minangkabau merasa kalau itu ancaman maka semua orang yang beragama Islam hendaknya membantu Datuk.aya sendiri kala tiba masanya datuk menyerang pariaman nanti,kalu umur panjang Insya Allah akan membantu,mudah-mudahan ada gunanya…”

Datuk itu tertegak mendengar ucapan ini.
“Apakah saya tidak salah dengar..engkau akan membantu kami mengusir Belanda dari pariaman..?”
“Kenapa Datuk harus sangsi.Minangkabau ini adalah negeri saya,meski kelak saya tidak tahu dimana darah saya tertumpah.namun negeri ini adalah negeri nenek moyang saya,saya akan membantu penduduk yang mendapat kesusahan,jika itu di izinkan Tuhan,bakankah saya juga seorang Muslim?”

“Ya Allah,kabulkanlah doa anak muda ini,kabulkan juga doa kami,agar dia selamat sejahtera,agar dia bertemu dengan orang tuanya,agar dia membantu kami memerangi musuh-musuh MU..”Datuk Sipasan berdoa dan berseru di hutan silaing itu,semua lelakidan perempuan yang ada disana berdiri dan menampungkan tangan ,mengaminkan Doa Datuk itu.Datuk itu memeluk anak muda tersebut dan berpaling ke teman-temannya terdengar suara nya yang serak :
“Kawan-kawan,Tuhan telah menemukan kita dengan anak muda ini,dan Tuhan telah menunjuk dia akan berperang dengan kita kelak di pariaman,mari kita syukuri hal ini dengan membaca Al-Fatihah..”

Semua membaca ayat itu dalam hati,Siti Nilam meneteskan air mata.Beberapa perempuan juga meneteskan air mata,bahkan datuk Sipasan dan lelaki-lelaki dari pariaman itu juga menitikkan air mata syukur terharu.
Si Giring-Giring Perak akan bersama-sama mereka dalam menyerang di pariaman,bayangkan!Seorang anak muda berilmu tinggi,yang mengalahkan Gampo Bumi dan Pandeka Sangek Yang berkuasa di Bukit Tambun Tulang dan Gunung Rajo benar-benar kuasa Tuhan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: