Giring-Giring Perak Episode Pengepungan Tengah Malam


Episode Pengepungan Tengah Malamdalam rimba
Akan hal nya si Giring-Giring Perak,begitu mendengar cerita lelaki besar dalam kedai itu bahwa Datuk Sipasan dalam bahaya,segera berjalan cepat menuju ke
rumah Datuk itu di silaing.Sudah lebih dari sepekan dia pergi meninggalkan rumah Datuk itu.Dia telah mengitari negeri-negeri di sekitar silaing ini untuk mencari ayah dan ibunya.

Namun usahanya tetap tak berhasil,tidak seorangpun yang mendengar tentang ada keluarga yang kehilangan anak.Dalam terpaan angin dingin dan serta gerimis yang menusuk tulang,dia berlari cepat menuju rumah Datuk Sipasan,dia yakin Datuk itu pasti tengah dalam bahaya.

Saat itu di dalam rimba Silaing,Datuk Sipasan dan teman-temannya tengah di kepung oleh anak buah Pandeka Sangek,Anak-anak mereka tempatkan di tengah
lingkaran yang di belakangi mereka.Anak buah Pandeka Sangek bukannya tak tahu,bahwa ke tujuh lelaki yang mereka kepung adalah pengungsi dari pariaman
yang secara “Ajaib” lolos dari penyembelihan di Bukit Tambun Tulang.

Tak ada orang yang bisa selamat melewati bukit itu,apalagi bila dalam rombongan ada perempuan-perempuan cantik seperti yang ikut dalam rombongan
Datuk ini.dan lolosnya rombongan datuk sipasan bukannya tak jadi buah bibir di kalangan penduduk.

Namun tak seorangpun yang berani bertanya bagai mana mereka bisa lolos maut yang bertahta di Bukit Tambun Tulang itu,sebab satu hal sudah
pasti,yaitu:yang berhasil lolos dari sana pasti adalah pesilat-pesilat tangguh.dan hal itu telah terbukti tatkala beberapa hari yang lalu empat orang anak buah
Pandeka Sangek mati pula di rumah datuk itu di silaing .

Akan halnya anak buah Pandeka Sangek,yang memang hadir dalam pengepungan Datuk Sipasan di hutan silaing,belum menampakkan diri,dia masih tegak di
balik pohon,berlindung dalam gelap.Dia adalah kakak seperguan Gampo Bumi yang terlibat perkelahian dengan Datuk Sipasan dan si Giring-Giring Perak itu di
Bukit Tambun Tulang..Begitu rombongan datuk Sipasan lolos bersama anak muda itu,Gampo Bumi mengirim pesan melalui kurir ke kakak seperguruannya itu
di Gunung Rajo.
Isi pesan sederhana saja bunuh semua lelaki yang datang dari pariaman itu,tapi ketika pesan itu di sampaikan ke gunung Rajo,pandeka sangek tak di
tempat.Dia berada di pagaruyung,di rumah bininya yang ke empat belas,itulah Datuk Sipasan aman selama dua pekan menetap di silaiang.

Datuk Sipasan bersiap menanti kepungan yang makin merapat itu.Dia berbisik pada Lebak Tuah di sampingnya,Lebak berbisik pula pada temannya dan bisik
itu di teruskan beranting dalam keadaan waspada penuh.Dan ketika bisik itu sampai ke lelaki yang ke tujuh teman Datuk itu,terdengar pekik menyerang dari
Pandeka Sangek.

Kibasan pedang berkilat di timpa cahaya obor,ke tujuh lelaki dari pariaman itu tidak bergerak sedikit pun,musuh mereka sudah menyerang beberapa jurus.
Namun suatu saat dalam gerakan yang sempurna ke tujuh lelaki itu tiba-tiba maju beberapa langkah.Dan dalam enam hitungan secara mengagumkan sekali
ketujuh lelaki itu telah menangkap masing-masing seorang anak buah Pandeka Sangek.
Ke tujuh lelaki yang mereka tangkap itu kini mereka jadikan tameng,mereka kunci lehernya dari belakang dan di jadikan tameng pagar diri.

“Pandeka Sangek,anak buah mu ini kami jadiakan sandera,kalau kau tak memberi kami jalan mereka akan kami bunuh”Datuk Sipasan mengancam, semua
anak buah Pandeka Sangek jadi terdiam.
Mereka tak menyangka siasat datuk ini,itulah tadi rupanya yang di bisikkan mereka,gerakan mereka benar-benar luar biasa dan kini mereka memang tak bisa
maju menyerang,sebab salah-salah bisa mengenai teman mereka sendiri yang kini tengah di sekap oelh ke tujuh lelaki dari pariaman itu

Namun sebagai jawaban,terdengar tawa bergumam dan suara yang mencemeeh:

“He..he…kau tak kan lolos Datuk.perempuan-perempuan harus menjadi bini kami dan kalian akan jadi cacing atau di lahap binatang buas di rimba ini,kalian
takkan lolos..”
“Tapi kalian juga tidak akan bisa melawan kami,kami akan bunuh teman-teman kalian ini…”
“He..he…nyawa mereka sama tak berharganya seperti nyawa kalian…” dan sehabis berkata begini terdengar desiran perlahan.datuk Sipasan terkejut, suara itu
pastilah suara senjata rahasia dan sebelum dia sempat memberi ingat pada teman-temannya terdengar jeritan-jeritan dan Datuk Sipasa merasakan lelaki yang
dia Katuk sebagai tameng terlonjak dan kemudian terkulai mati..!

Datuk Sipasan terkejut kaget,dia menatap kekiri ke kanan dan memutar kepala kebelakang.dan keenam lelaki yang di katuk teman-temannya juga terkulai
mati.!Dada mereka tertembus oleh senjata rahasiaDatuk Sipasan tertegun,kali ini wajahnya benar-benar pucat.Dia sudah banyak mendengar kekejaman
orang,sudah sering mendengar tingkah penyamun-penyamun yang kejam, tetapi pemimpin yang tega membunuh anak buah nya sendiri baru kali ini dia
temui.

Hampir serentak mereka melepaskan tubuh ketujuh lelaki yang telah menjadi mayat itu,dan kini ketujuh lelaki dari pariaman itu kembali tegak dengan keris di
tangan.dengan membuat lingkaran,dengan anak-anak dan perempuan berada di lingkaran belakang mereka.
“Kejam…benar-benar kejam..”Datuk Sipasan bergumam.sementara matanya mencoba menembus kegelapan malam di rimba itu untuk mencari di mana berada
adanya orang yang bernama Pandeka Sangek itu.
“Tak ada yang kejam Datuk,kami memang tak memerlukan orang-orang bodoh dan demi mendapatkan perempuan-perempuan kalian,mereka harus mati..
Tangkap mereka..!!”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: