Giring-Giring Perak Episode Di Kedai Kopi


Episode Di Kedai Kopikedai kopi
Udara malam yang dingin amat menusuk tulang,terasa makin melinukan tubuh ketika gelegar guruh menurunkan rinai hujan seperti embun.Anak muda itu melangkah ke kedai kopi yang masih buka,dari dalam dia dengar percakapan orang dan suara sendok beradu dengan gelas,di luar terlihat beberapa pedati di istirahat kan.

Semua orang yang ada di kedai kecil itu pada menoleh ke pintu tatkala dia masuk,bukan pakaiannya yang serba putih dan ikat kepalanya yang putih yang menyebabkan orang-orang menoleh ke pintu.Bukan pula karena dia datang di tengah malam buta.

Yang menyebabkan enam orang lelaki yang ada di kedai itu menoleh ke pintu, tapi karena bunyi yang di timbulkan oleh kedatangan nya.Ada suara aneh seperti suara giring-giring berdering setiap langkah orang yang baru datang itu. Dan anak muda yang baru masuk ke kedai itu bukannya tidak tahu,bahwa suara giring-giring yang dia pakai di kakinya yang menyebabkan orang pada menoleh,dia tegak di pintu,menatap orang-orang yang masih memandang nya.

“Maafkan saya,adakah di antara bapak-bapak pernah mendengar seseorang di daerah ini, atau di manapun,yang kehilangan anak yang memakai giring-giring perak di kaki kanan nya?”

Dia menanti,orang yang ada di kedai itu tidak seorang pun yang menyahut. Kebanyakan di antara mereka malah heran dengan pertanyaan itu. lebih banyak yang tak mengerti dari pada yang tidak tahu.Karena tidak ada yang menyahut,anak muda itu bicara lagi dengan suara perlahan :

“Belasan tahun yang lalu,saya di pungut oleh seseorang dari sebuah reruntuhan rumah.Dia tidak tahu apakah orang tua saya masih hidup atau tidak,Dia tidak ingat lagi di mana saya di temukan.Kini saya tengah mencari kampung halaman dan orang tua saya,pernah kah mendengar orang yang kehilangan anak dengan giring-giring perak di kakinya?”Kali ini beberapa orang menggeleng dengan perlahan.

“Tak seoranpun yang tahu,tak seorang pun”Anak muda ini seperti bicara pada dirinya sendiri,ucapannya mirip keluhan dan dia berjalan ke sudut ruangan. Duduk di sebuah kursi yang masih kosong dan orang yang ada di kedai itu berbisik dengan sesamanya.

“Engkau akan minum atau makan anak muda?”orang kedai bertanya.
“Kopi..”
“Di sini ada ketan dan durian,juga ada nasi dengan ikan panggang,kalau engkau lapar bisa minta nasi..”
“Baik,ketan dan durian..”

Orang lepau itu mengambilkan pesanan anak muda itu,sedang lelaki yang ada di kedai itu melanjutkan obrolan mereka atau meneruskan makan atau minum.
Tapi mereka yang ada dalam ruangan kedai kecil itu terhenti lagi makan dan minum ketika pintu di buka dengan keras,barangkali di tendang dari luar,semua menoleh ke pintu.

Dari luar masuk dengan bergantian tiga lelaki dengan janggut berseliweran dan dengan pedang di pinggang,ketiga nya membawa pedang.Mereka tegak sejajar di pintu,menatap setiap yang ada di kedai itu dengan pandangan yang tajam. Pandangan pertama mereka jatuh ke pada anak muda yang berbaju putih itu, tapi anak muda yang bertubuh tinggi semampai dan tak berdegap itu tidak menjadi perhatian mereka,meraka lalu memandang keenam lelaki yang lain.

“Ada di antara kalian anggota rombongan yang baru datang dari pariaman sepekan yang lalu?”Lelaki yang tegak di tengah bertanya dengan suara berat,tak ada yang menyahut.
Bagi keenam lelaki yang ada di kedai tadi,malam ini banyak hal aneh terjadi. Dalam waktu yang tak sampai lima menit yang lalu anak muda berbaju putih itu masuk.Bertanya-tanya kalau ada yang mengetahui orang tua yang kehilangan anak dengan giriik-giring perak.Kemudian kini ketiga lelaki itu pula masuk dan bertanya”Kami bertanya ada dia antara kalian anggota rombongan yang baru datang dari pariaman?”si tinggi yang di tengah itu bertanya.

“Tidak,kami yang berenam ini dari lima kaum akan terus ke koto baru,di perjalan dua hari yang lalu kami memang bertemu dengan rombongan yang mengaku dari pariaman,mereka katanya akan ke pagaruyung”
Yang bertanya tadi menggerutu dan terus masuk dan mencari tempat duduk,yang kosong hanya tempat anak muda yang ber giring-giring perak itu,dan kesana lah rombongan yang menyandang pedang di pinggang itu menuju.

“Geser sana buyung..” yang tinggi besar itu mendorong bahu anak muda itu dengan tangan kirinya dan anak muda itu menggeser tempat duduknya sampai ke ujung bangku.Pakaian mereka yang basah kuyup mereka kirai,tidak peduli apakah mengenai orang lain atau tidak.

“Jahanam,hujan jaahanam,orang pariaman jahanam…!” yang pendek buncit menggerutu sambil duduk.
“Kabarnya mereka berjumlah dua puluh orang..”yang tinggi bicara sambil mencabut pedang dan meletakkannya di atas meja.
“Hei,kopi tiga..!bikin yang pahit.ada ketan dan ikan panggang?”
“Ada.ketan dan panggang..”
“Bawa kesini semua…”Kemudian ketiga lelaki itu menatap kepada keenam orang yang duduk di kedai itu.
“Apakah orang pariaman yang kalian temui itu adalah pesilat-pesilat?”si tinggi besar bertanya dari tempatnya duduk.

Yang tadi mengatakan bertemu dengan orang pariaman itu menggeleng.”Tak tahu lah kami,karena tidak melihat mereka main silat dan tidak pula mengajak mereka berkelahi..”Lima teman nya tertawa karena merasa lucu dengan ucapan temannya.
Namun tawa mereka justru mendatangkan penyakit,Mereka tidak tahu dengan siapa mereka berhadapan .Ketika mereka masih tertawa bergumam lelaki yang tinggi besar yang bertanya tadi bangkit,mendekati keenam lelaki itu dan tiba-tiba plak..puk..pak…!

Dia menampar lelaki dari lima kaum itu,lelaki itu terjenggkang namun dia bangkit dengan segera,tangannya terkatuyang-katuyang seperti orang bersilat, lelaki tinggi besar itu jadi mengkal.Kakinya melayang dan lelaki lima kaum itu ternyata tidak bisa menangkis tendangan tersebut meskipun dia sudah berlagak seperti orang yang pandai silat.

Tendangan itu mendarat menimbulkan suara berdehek dan malangnya tanpa dapat dia tahan kentutnya ikut terbosai dua kali akibat tendangan itu. Kelima teman nya yang tadi sudah siap bersilat jadi kehilangan semangat melihat makan tangan dan kaki si tinggi besar itu mereka tetap duduk diam tanpa melihat si tinggi besar.Bahkan ke teman nya yang terkepepe ke bawah meja itu mereka tidak berani melihat,takut kalau dianggap suatu tantangan pula oleh si tinggi besar itu.

“Lihat-lihat orang yang akan di pergarah kan sanak..”si tinggi besar menyumpah.
“Ya..ya..ya..!”kata salah seorang yang duduk.
“Apa nya yang iya?”
“Ya apa ya?!eh maap..maaf.”
“Apa yang maap!!”
“Ami pak..eh anu,kami minta maaf..”
“Maaf apa!”

“Maaf lahir bathin..!”

Dan sampai di sini si tinggi besar itu tidak bisa lagi menahan tawanya melihat ke lima lelaki dari lima kaum yang tergagap itu.Dia tertawa dan begitu juga dengan kedua temanya yang duduk semeja dengan anak muda berbaju puith itu.Kelima lelaki di meja si gagap itu ikut tertawa,mula-mula perlahan karena takut.tapi melihat si tinggi besar tertawa terbahak-bahak,mereka ikut tertawa terbahak-bahak.

“Apa yang kalian tertawa kan beruk!”Lelaki tinggi besar itu bertanya dengan bentakan,tawa lelaki dari lima kaum itu terhenti pula tiba-tiba.Mereka jadi pucat dan malang yang akan tumbuh mungkin karena terlalu takut si gagap jadi terpancar kentutnya,mula-mula sekali.perlahan tapi agak panjang,karena sangat takutnya kentut besar tak bisa dia tahan.”Pouuuut,prep!”

Tak tanggung berangnya sitinggi besar,di jambak rambut si gagap tapi kentut nya keluar lagi.
Teman-teman sitinggi yang duduk di sudut tak mampu menahan tawa dan geli, mereka sampai-sampai menekan perut karena saking gelinya.Si gagap terpekik- pekik,tapi sitinggi makin berang.
“Ampun pak ampoun..bapak kentut eh..maaf..”
“Beruk,waang beruk,waang katakan saya kentut he!”
“Ya pak,eh bukan pak,..bukan!bapak bukan kentut,tapi kentutlah bapak!”

Malang lelaki gagap ini.makin di tanya makin tak menentu jawabannya,dan akhirnya teman-temanya juga tak bisa menahan gelak,mereka ada yang menelungkup di meja takut kalau kelihatan gelak.ada yang merukuk dalam-dalam.Dan akhirnya lelaki besar itu mencampakkan tubuh si gagap keatas meja, dan kedai itu pun jadi kacau,si gagap bercarut-carut tak menentu,suasana heboh tak terhindarkan heboh karena gelak.

Sitinggi besar akhirnya ikut tergelak ketika dia duduk di dekat teman-temannya.Dia terhenti ketika melihat ke anak muda yang duduk di sisinya,anak muda itu menunduk,menghirup kopinya perlahan,memakan durian dan ketan. Anak muda itu agak kurus,si lelaki besar menepuk punggungnya

“Hei, buyung,waang tak ikut gelak he!”tanyanya,anak muda itu menoleh perlahan kepadanya,kemudian tersenyum tipis dan melanjut kan memakan ketannya,lelaki tinggi itu merasa di anggap enteng.Pada hal sebentar ini telah membikin gacar enam orang lelaki yang ada di lepau itu.karena itu dia menepuka lagi bahu anak muda itu dan berkata:

“Hei buyung!saya bertanya apakah waang tak ikut tertawa!?” tepukan di punggungnya itu menimbulkan bunyi karena sengaja di keraskan.kembali anak kuda itu memutar kepala,kali ini tidak tersenyum tapi menatap dengan matanya yang lembut dan berkata perlahan :
“Apakah pernah mendengar suara giring-giring perak?” pertanyaan itu membuat ketiga lelaki itu tertegun,karena suatu pertanyaan yang mereka anggap tak berkelincitan yang tak ada sangkut pautnya dengan pertanyaan si tinggi.
“Saya bertanya pada waang buyungg,apakah tergelak mendengar suara kentut si gagap itu meletup-letup seperti karaben ulando?”
Anak muda itu seperti tidak mengacuhkan pertanyaan itu malah dia kembali melontarkan pertanyaan:
“Apakah kalian pernah mendengar orang yang kehilangan anak laki-lakinya yang ada giring-giring perak di kakinya?”Ketiga lelaki saling pandang,gilakah anak muda ini atau pekak,lain yang di tanya lain yang di jawab.

Namun lelaki itu tersinggung karena anak muda ini bertanya menyebut mereka “kalian”Bukanya ‘bapak” Dia ingin menampar anak muda ini,tapi anak muda ini kelihatannya lembut.dia yakin sekali tampar tidak hanya kentut saja yang terpancar tapi ciritnya pasti terbudur,mengingat ini lelaki besar itu tertawa sendiri.
“Pernah ada yang kehilangan anak?”anak muda itu bertanya kembali.

“Tidak buyung.belum ada yang kehilangan anak di sini,tapi yang akan kehilangan ayah mungkin sebentar lagi banyak.Di silaing ada beberapa lelaki yang baru datang dari pariaman.Beberapa hari yang lalu mereka telah membunuh teman kami,tapi sebentar lagi mereka juga akan mengalami hal yang sama dan istri-istri mereka kabarnya cantik-cantik ada pula seorang gadis yang jolong mekar,akan kami bawa ke Gunung Rajo untuk jadi teman tidur he..he…”

Si Giring-Girng Perak tertegun mendengar cerita lelaki besar di sisinya ini.kalau begitu,Datuk Sipasan dalam bahaya besar.Tapi dia ingin mendengar sedikit lagi tentang datuk itu.
“Tapi saya dengar,Datuk itu tinggi ilmu silatnya,begitu pula teman-temannya dari pariaman tak mungkin mereka bisa di kalahkan..” sitinggi besar itu melotot pada anak muda ini.Tapi kemudian menggerendeng.

“Tak ada yang bisa melawan pandeka sangek buyung,sudah lama dia tidak turun gunung.Kali ini dia benar yang memimpin.waang tau siapa dia?tak sia-sia dia berguru ke Harimau Tambun Tulang.Kami adalah pengikutnya Dan pandeka sangek tidak sendirian dia datang dengan tiga puluh temannya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: