Giring-Giring Perak Episode Terperangkap


Episode Terperangkapsuluh yang menyala
Dan sampai malam merangkak larut,dia memang tak pernah muncul.Ketika bunyi jangkrik melantunkan suaranya di malam pekat itu,di antara guruh yang mengeram sekali-sekali ke enam lelaki itu kembali naik dan berkumpul di ruang tengah bersama Datuk Sipasan.

Datuk itu sudah baik keadaanya,rumah itu gelap yang hidup hanyan sebuah lampu lilin yang di buat dari sarang lebah.Terletak di tengah ruangan,di keliling lilin kecil yang terletak dalam piring itu duduk dengan diam keenam lelaki tersebut bersama istri dan anak-anaknya.Datuk Sipasan menatap ke lima teman nya,yang seorang tetap di luar melihat kalau-kalau ada yang datang.

“Apakah aman untuk memulai perjalanan?”Datuk itu bertanya,sidi kasim mengangguk,Datuk Sipasan menoleh pada istrinya.
“Sudah di bungkus semua yang perlu di bawa?”perempuan itu mengangguk. Anak-anak mereka pada diam,ada yang tidur di pangkuan kain,ada yang bangun.Namun kanak-kanak itu seperti punya firasat akan bahaya mengancam orang tua mereka.Tak ada di antara mereka yang menangis,tak ada yang gelisah.Bahaya dan perjalanan malam di antara gemuruh guruh atau hujan badai atau pun terik matahari yang membakar nampak nya sudah tak jadi halangan lagi para perantau dari pariaman ini.

“Baiklah,kita berangkat..”itulah ucapan Datuk Sipasan.Kelima lelaki itu bergerak,istri dan anak-anak mereka juga.Dalam cahaya yang samar,datuk Sipasan menghitung tujuh belas orang mereka semua.Lelaki dewasa,para wanita dan anak-anak,jadi delapan belas dengan yang ada di luar.

Sidi Kasim memberi isyarat pada yang ada di luar,yang di luar memberi isyarat dengan siulan kecil.
“Kita lewat pintu belakang,saya yang aan berada di depan sekali.Tak ada suluh atau damar yang boleh di nyalakan,semua barang-barang di pikul oleh laki-laki.Setiap orang harus berpegangan tangan untuk memudahkan perjalanan,setelah jauh ke dalam rimba baru kita menyalakan suluh…”

Sidi kasimlah yang bicara ini,sudah dua hari dia menyiasati jalan untuk melarikan diri bila terpaksa.Sendirian dia telah menyusup kedalam hutan di belakang rumah Datuk Sipasan,dia menemui jalan setapak yang mudah di lalui barangkali setelah subuh mereka bisa mencapai bagian hulu air terjun batang anai.
Lilin dalam rumah di hidupkan dua buah lagi.Di taruh di ruang tengah dan bilik serta dapur.Dengan demikian,kepada yang mengintai di beri kesan di rumah itu masih ada orang.Kemudian sidi kasim mulai turun dari pintu belakang,yang menjaga di depan yaitu lebak tuah meniup saluang.

Suara saluang mengalun lemah,mengiring tujuh belas orang yang di rumah itu turun perlahan dari pintu belakang.Angin malam yang dingin dan basah menerpa mereka ketika berada di luar.Kanak-kanak merapatkan pelukanya ke dada ayah atau ibunya,menyurukan wajah mereka sedalam mungkin kedalam pelukan orang tuanya.

Beberapa saat mereka lalui dengan tegang,melangkah setapak demi setapak dalam kegelapan dengan saling berpegangan tangan.Suara salung lebak tuah terdengar sayup dari kejauhan,dan ketika jarak mereka sudah sampai di tempat di rasa cukup aman,sidi kasim memberi isyarat kepada lebak tuah dengan membunyikan suitan tajam seperti burung hantu.

Tanda itu di bunyikan tiga kali,Suara salung lebak tuah berhenti sebentar kemudian terdengar lagi perlahan.”Kita lanjutkan perjalanan,nanti dia akan menyusul “mereka menapak lagi dalam kegelapan itu,kini mereka telah berada dalam rimba di belakang rumah Datuk sipasan,dan betul juga tak lama kemudian lebak tuah sudah bergabung dengan mereka.

Namun Datuk Sipasan merasa tidak sedap di hatinya.ada sesuatu yang ganjil dalam kegelapan malam itu,terasa ada yang menakutkan terasa melihat bayangan pohon dalam hutan itu.Dia ingin berbisik memanggil sidi kasim yang berada di depannya tatkala tiba-tiba mereka seperti terpakukan saat mendengar suara tawa terbahak-bahak.

“He..he..he..” mereka berhenti.para perempuan seperti kehilangan semangat.
“He..he..he..” suara tawa itu bergema lagi.Dan Datuk Sipasan seperti ingat tawa seperti itu tawa yang pernah di dengar di Bukit Tambun Tulang.!
“Gampo Bumi…!!”Datuk Sipasan berkata lambat,dan suara nya terdengar semua orang.
Hal itu benar-banar membuat mereka kecut,tawa itu memang seperti tawa di bukit tambun tulang.di saat mana mereka hampir saja mata,kalau si Giring-Giring perak tidak datang membantu.

“Perangkap,kita masuk perangkap..”Suara sidi kasim terdengar dari depan,ya tak di pungkiri mereka sekarang masuk dalam perangkap.Lebak Tuah menarik tangan teman-teman nya untuk kembali ke rumah.Namun Datuk Sipasan menahannya.Dan tiba-tiba puluhan suluh damar dinyalakan dalam rimba itu,ke delapan belas orang itu kini di kelilingi oleh suluh,mereka terdiam dan anak-anak mulai menangis.

“He..he..he.. mau kemana kalian heh..??” sebuah suara terdengar dari balik suluh yang menyala,tak ada yang menyahut.
“Kalian akan pergi begitu saja setelah membunuh empat orang anak buahku yang tak berdosa?begitu..?Kalian datang dari pariaman sengaja untuk mengacau di sini hem..”Datuk Sipasan maju selangkah.

“Kami tak bersalah dalam hal ini,siapa yang bicara tadi harap memperlihatkan diri..”seabagi jawabannya terdengar lagi suara tertawa bergumam.Datuk sipasan sekilah saja menghitung ada tiga puluh suluh dan damar yang mengelilingi mereka.kalau satu suluh satu orang,berarti ada tiga puluh orang yang mengelilingi mereka.Tapi dia yakin itu jauh lebih banyak.Suatu pertarungan dalam hutan di situasi begini adalah bunuh diri bagi rombongannya,karena itu dia berusaha mengulur waktu kalau perlu berembuk

“kau katakan tak bersalah setelah membunuh empat orang anak buahku?Hm..enaknya.Tapi mengapa kalian melarikan diri kalau memang mengaku tidak bersalah?”Datuk Sipasan segera menangkap sesuatu dalam ucapan lelaki yang tertawa tersebut.Lelaki sudah dua kali mengatakan “anak buahku”itu berarti lelaki ini pastilah si Pandeka Sangek jadi bukan si gampo Bumi .
Tapi tak ada bedanya,gampo bumi atau pandeka sangek,mereka pastilah menginginkan satu hal:kematiannya dan kehormatan perempuan-perempuan mereka.

“Tangkap mereka semua!”tiba-tiba terdengar suara perintah bergema.Lebih dari dua puluh orang lelaki yang memakai keris dan golok di tangan muncul dari balik suluh,ketujuh dari pariaman itu serentak membuat lingkaran. Menempatkan perempuan dan anak-anak di tengah lingkaran dan mereka semua mencabut keris.Nampaknya mereka tak berniat sedikit pun untuk menyerah begitu saja.


2 responses to “Giring-Giring Perak Episode Terperangkap

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: