Giring-giring Perak Episode Rencana Mengungsi


Episode Rencana Mengungsiberjaga di keliling rumah
Tengah malam ke enam lelaki yang berjaga di keliling rumah itu jadi terkejut melihat rombongan lelaki dengan suluh daun kelapa.Tetapi ketika sudah dekat,mereka segera tahu bahwa itu adalah rombongan Kepala Nagari.Dia tak naik kerumah,tapi pada keenam lelaki yang mengelilingi rumah dia berkata:

“Kami harap Datuk itu di bawa ke pos Kapiten Vender di kabun sikolos,begitu juga istri dan gadis yang bernama Siti Nilam..”Dan tanpa Ba atau Bu kepala nagari bersama tiga lainnya balik kanan.Berjalan meninggalkan rumah itu,keenam lelaki itu berdiri tertegak diam,mereka saling pandang.Kemudian tanpa bicara sepatah kata pun,mereka kembali ke tempat di mana mereka tadi tegak berjaga,tak ada niat sedikitpun niat mereka untuk menyerah kan Datuk itu.Dari pariaman mereka datang kemari untuk mencari bantuan guna menyerang Belanda yang datang menjajah.Mereka sudah berniat untuk sesakit sesenang,kini salah seorang dari mereka mendapat kesulitan,mereka bertekad memikulnya bersama.

Tapi tiga hari berlalu sejaki itu tak seorangpun yang datang ke rumah tersebut.
Hal itu sebenarnya menguntungkan bagi Datuk Sipasan.keadaannya tubuhnya makin lama makin membaik.Menjelang hari keempat dia sudah bisa duduk di tempat tidur.Obat yang di buat dari daun dan akar kayu seperti yang di ajarkan si Giring-Giring Perak itu ternyata sangat mujarab.

“Nilam…panggil sidi dan teman-teman ke atas..”
Nilam melaksanakan permintaan itu.Lima dari yang enam lelaki yang berenam di keliling rumah itu segera naik.Sementara yang seorang tetap berjaga-jaga di bawah.Mereka tegak dalam bilik kecil itu didepan pembaringan Datuk Sipasan.
Tegak dengan diam,dengan tatapan yang teguh Datuk Sipasan menatap mereka satu demi satu bergantian.
“Kalian harus menghindarkan pertikaian dengan penduduk di sini,kita datang mencari bantuan,ingat di pariaman puluhan teman-teman menggantungkan nasibnya dari tugas yang kita pikul untuk menyusun kekuatan.Di sini Islam juga sudah mulai bangkit.Kalau terpaksa tinggalkan negri ini.menyingkir ke Luhak Agam atau sungai jambu dan lima kaum….”

“Tapi yang menyerang Datuk bukan Islam,mereka anak buah Pandeka Sangek…”
“Dari mana kalian tahu?…”
“Begitu cerita yang kami dengar di lepau atau di balai sebelum kami datang kesini…”
“Pandeka Sangek?…Saya seperti pernah mendengar nama itu di pariaman.kalau tidak salah dia adalah utusan Kompeni ke perundingan dengan belanda di pulau cingkuk setahun yang lalu…”
“Kabarnya dia memang ada hubungan dengan Kapiten Vender di kabun sikolos”
“Bagaimana kalu malam ini kita menyingkir semua dari sini?…”Tiba-tiba salah seorang memberi saran.

“Ya saya rasa kalau itu jalan yang baik,sebab penduduk di sini nampaknya takut semua pada Pandeka Sangek.Mereka lebih suka diam dan membiarkan diri dan keluarga mereka di bawah cengkraman penyamun-penyamun itu dari pada bangkit melawan.Karenanya kalau akan melawan juga kita tak bisa mengharapkan bantuan penduduk di sini.Kita hanya tujuh orang,sementara mereka puluhan,apalagi di tambah bantuan dua puluh Kompeni yang bermarkas di kebun sikolos..”
Semuanya terdiam,mereka menanti keputusan Datuk Sipasan.Perempuan-perempuan yang mendengar dari kamar sebelah menanti dengan perasaan tegang.

“Apakah ada jalan lain yang aman untuk melarikan malam ini?”
“Sudah kami selidiki,nampaknya jalan yang aman adalah kembali ke air terjun di mana Siti Nilam di culik.Dari sana kita naik keatas dan memutus ke Balingka.”
“Suatu jalan yang amat berat,apakah sudah ada jalan pedati?”
“Pedati kita tinggalkan,Kita menyelamatkan badan saja…”Datuk Sipasan terdiam lagi,dia menatap teman-teman nya kembali.
“Putusan nya kami serahkan pada Datuk saja,tak usah terburu-buru,malam nanti bisa Datuk sampaikan keputusan datuk kepada kami.Kalau satu orang pergi menyalamatkan diri ,yang lain harus ikut,kalau datuk tinggal disini semua kami juga tinggal.Dari pariaman kita telah sesakit sesenang,begitu dulu,begitu sekarang dan begitu seterusnya…”

Yang bicara ini adalah Sidi kasim,orang yang selama ini menjadi tangan kanan Datuk Sipasan.Yang lain mengangguk,Datuk Sipasan tidak bisa berbuat lain,kecuali menarik nafas dalam.Tiba-tiba dia ingat sesuatu dan memandang sekeliling,lalu bertanya:
“Apakah kalian melihat si Giring-Giring Perak?”pertanyaan ini menyadarkan semua orang,termasuk semua perempuan yang ada di kamar sebelah tentang diri anak muda ini.Mereka saling pandang,Siti Nilam yang ada di sebelah menunduk.Istri Datuk Sipasan menatapnya.Kedua perempuan ini yang hampir di perkosa itu,adalah orang yang pertama mengingat dan mengharapkan kedatangan anak muda ini untuk menolong mereka.

“Tidak ada yang melihat dia di pasar atau kedai kopi?”
Datuk Sipasan kembali bertanya dan yang lain pada menggeleng.Mereka ini tiba-tiba saja mengharapkan kehadiran anak muda itu,kalau dia ada mereka yakin akan terhindar dari pembalasan dendam Pandeka Sangek.Tapi anak muda itu sudah enam hari pergi.Dia memang tidak selamanya pergi meninggalkan mereka,dia hanya mengatakan akan pergi selama dua hari.tapi kini sudah hari keenam tapi dia belum muncul.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: