Giring-Giring Perak Episode – Pandeka Sangek


Episode – Pandeka Sangekmenjaga serangan mendadak
Istri Datuk Sipasan segera arif akan bahaya yang mengancam diri suaminya sejak awal tubuhnya di pangku naik oleh bajingan itu tadi,dia sadar sepenuhnya.Dia dapat merasa sakit atau geli tapi tak dapat melawan karena totokan itu.Dia dapat melihat saat suaminya dengan kedua lelaki itu.

Kini dengan air mata membasahi pipi,dia menyambar kain panjangnya.Dengan melekatkan kain seadanya dia melompat turun,menggendong kedua anaknya lalu membawa naik kerumah.
Setelah meletakkan anak,dia mengurut tengkuk Siti Nilam Dan sebelum gadis ini sadar sepenuhnya dia telah melompat turun.Kemudian bergegas ketepi rimba di belakang rumah.Dari sana dia mengambil dua macam akar kayu,lalu empat macam dedaunan yang dia kenal sebagai ramuan obat

Akar dan daun itu dia remas,dia masih ingat cara pengobatan yang diajarkan oleh si Girng-Giring Perak sebulan yang lalu di air terjun Anai tatkal mereka baru saja selamat dari penyamun Bukit Tambun Tulang.Siti Nilam yang segera dapat bergerak,setelah melekatkan kain nya sekedarnya,langsung menendang kedua tubuh lelaki yang hampir saja menodai mereka itu.Begitu kakinya bergerak kedua tubuh itu terlambung ke bawah.

Dia kemudian memangku anak Datuk Sipasan yang kecil yang sejak tadi menangis.Istri Datuk Sipasan segera menggiling dedaunan dan akar-akar yang baru di ambil,kemudian mengambil persediaan madu lebah yang selalu di bawa.Dia tak sempat menangisi nasib,tak sempat bersedih.Perempuan-perempuan dari pariaman ini telah terbiasa hidup dalam kekerasan.Peperangan antara kaum mereka dengan belanda atau peperangan sesama kaum karena judi,perempuan,harta dan sebagainya,membuat perempuan-perempuan di pariaman menjadi wanita-wanita yang punya rasa tanggung jawab yang besar.

Tidak hanya sekedar melahirkan anak-anak bagi suaminya,tidak pula sekedar menanakkan nasi,membuatkan kopi atau teman tidur saja.Tetapi mereka adalah perempuan yang ikut berjuang bersama suaminya.Keadaan membuat mereka menjadi perempuan-perempuan yang mampu menekan rasa takut dan lemah seperti umumnya di milik oleh kaum perempuan lain.

Ketika dia selesai meramu obat dari dedaunan itu,anaknya telah tertidur dan diletakkan Siti Nilam di pembaringan.Beberapa orang lelaki yang tadi melihat Datuk Sipasan berlari melintasi sawah mereka,pada mendatangi rumah datuk tersebut.Dan mereka penduduk silaing itu pada terkejut melihat keempat lelaki yang tergolek di halaman yang telah menjadi mayat.

Mereka amat kenal pada keempat lelaki itu,yaitu anak buah Pandeka Sangek.Dan mereka juga sangat tahu Pandeka Sangek ini adalah salah satu murid dari Harimau Tambun Tulang,karena nya mereka segera surut kembali ke sawah atau kerumah mereka masing-masing.Meraka tak mau kena getah dari peristiwa mengerikan itu.Sudah sangat sering mereka melihat pembalasan dari anak buah Pandeka Sangek.Pandeka itu sendir sangat jarang turun dari pusat “Pemerintahannya”dia”memerintah” dari puncak Gunung Rajo di balik Bukit Tui.yang sering turun adalah anak buahnya.Penduduk di negeri Sikolos,Silaing,Kampung manggis,Gunung,Tanah Hitam,Bukit Surungan,dan bukit malintang.setiap satu purnama harus membayar Upeti pada Pandeka Sangek,upeti itu berupa uang atau perhiasan Emas untuk beberapa purnama gunanya sebagai uang keamanan.

Bagi yang membayar keamanan nya terjamin,bagi yang tidak membayar ada-ada saja musibah yang datang.sekurang-kurangnya kerbaunya mati kena racun. atau anak gadisnya di perkosa.Bahkan tak jarang kedapatan yang mati di bantai di Bancah Laweh.Tempat ini suatu tempat yang sangat menakutkan bagi penduduk-penduduk kampung sekitarnya.Asal mereka tertangkap dan di bawa kesana oleh kompeni yang pulang hanya nama.

Seorang Kapiten berkedudukan di pasar kabun sikolos.di bawah si kapiten ada satu peleton tentara Kompeni.Nah,ada dua tulang punggung Pandeka Sangek dan anak buahnya yang pertama Harimau Tambun Tulang yang kedua sahabat dekat yang rajin membayar upeti berjumlah bayak pada kompeni.

Untuk itu dia dipercaya memungut pajak dari rakyat,dan cerita matinya empat anak buah Pandeka Sangek di tangan Datuk sipasan,pengungsi yang datang dari pariaman itu,segera menjalar seperti api melahap lalang yang kering.Di mana-mana ,di lepau,di pancuran mandi,sawah,ladang,di sasaran silat.di pos penjagaan kompeni,tempat judi,di temapt orang berandal,bersalung,cerita ini merambat seperti ular belang,yang menjalar sangat mengerikan.Setiap orang kini menanti pambalasan yang akan dilakukan Pandeka Sangek.

Pengikut Datuk Sipasan yang bersama-sama datang dengan nya dari pariaman dalam kafilah pedati yang di cegat di Bukit Tambun Tulang itu juga mendengar cerita itu.Hanya enam orang lelaki yang ada di daerah tersebut,Enam keluarga. yang lain sudah sepekan menmeruskan perjalanan ke luhak Agam dan Pagaruyung. ke enam lelaki tersebut segera datang ke rumah Datuk Sipasan,ketika senja mereka datang itu,mayat-mayat empat lelaki itu sudah di bawa pergi teman-temannya.

Belum ada kejadian apa-apa.tapi mereka yakin tak lama lagi pasti akan datang pembalasan.Kini,semua rombongan dari pariaman yang berjumlah enam itu,mengumpulkan anak istrinya di rumah Datuk Sipasan.Mereka sudah bertekad kalau penduduk nagari ini berpihak ke Pandeka Sangek atau Pandeka Sangek akan mengadakan pembalasan,mereka sudah siap melawan sampai tetes darah terakhir.

Ke enam lelaki itu tegak mengelilingi rumah datuk Sipasan,sementara yang perempuan berada di rumah datuk itu.Mereka tegak sepuluh depa dari rumah itu,menjaga kemungkinan serangan mendadak.
Di atas rumah Datuk Sipasan belum bisa bangkit,bahkan belum sadar.Keris beracun itu sudah di cabut istrinya dari perutnya.Dia sebenarnya ahli bisa bahkan di tubuhnya terkumpul bisa Lipan(sipasan) yang mematikan musuh. Namun menghadapi racun yang terdapat di ujung keris lawannya siang tadi,nampaknya dia tak berdaya.

Ketika dia sadar dan membuka mata,Datuk itu melihat istrinya tegak dengan wajah pucat di sisinya.Lampu damar sudah terpasang dan dia segera mengetahui kalau di rumahnya sekarang di penuhi orang.Dia ingin bangkit,tapi tubuhnya terasa sangat lemah.

“Air…”desahnya.Siti Nilam memberikan labu yang telah di keringkan dan diisi air mentah dari pancuran,Datuk itu minum dengan lahap.
“Saya mendengar rumah ini seakan-akan penuh..”Istrinya mengangguk.
“Siapa..?”
“Istri lebak tuah dan anak-anaknya,istri sidi tuah,istri sidi kasim dan semua teman-teman dari pariaman yang tinggal di nagari ini..”
“Mengapa mereka berkumpul disini…?”
“Yang mati itu adalah anak buah Pandeka Sangek,dan Mereka penguasa nagari ini,kabarnya mereka akan membalas dendam,dan teman-teman semua berada di sekeliling rumah…”Datuk Sipasan menggeleng-geleng.Dia tak ingin teman-teman nya ikut dalam masalah ini,namun dia tak kuasa bangkit.


One response to “Giring-Giring Perak Episode – Pandeka Sangek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: