Giring-Giring Perak Episode Firasat Datuk Sipasan


Episode Firasat Datuk Sipasanmembuka serangan
Datuk Sipasan memasukkan pisang yang dia beli untuk anaknya kedalam kambut.Kemudian menawar paniaram,Dia teringat istrinya.Istrinya sangat menyukai paniaram dan di pasar Tanah Sikolos ini,Paniaram banyak sekali di jual orang.Namun dada nya terasa berdebar kencang,telinganya jadi panas.

“Jadi membeli paniaram engku?”Datuk itu terkejut mendengar pertanyaan yang menjual paniaram itu.
“Ya…eh maaf.tidak jadi…”
Berkata begini,dia lalu bergegas.Aneh,hatinya jadi tak sedap.Dia teringat pada istrinya yang tinggal sendiri di rumah ada apa?sebagai seorang guru silat dan sebagai seorang pemeluk agama islam yang mempercayai Tarikat,dia percaya pada isyarat-isyarat batin,Dia yakin firasatnya tentang istrinya menunjukan ada hal-hal yang menyeramkan yang tengah menimpa istrinya.

Dengan pikiran begini,Datuk berjalan cepat-cepat menuju silaing di mana rumahnya berada.Makin lama perasaannya makin tak sedap.Dan makin lama jalannya makin cepat dan akhirnya dia berlari melompati petak-petak sawah menempuh jalan memintas biar cepat sampai rumahnya.

Orang-orang yang tengah bekerja di sawah jadi terheran-heran melihat lelaki itu berlarian seperti di kejar setan.Tak ada yang menduga,bahwa lelaki itu sebenarnya bukan sedang dikejar setan.melainkan tengah mengejar setan yang sedang melaknati tubuh istrinya!!

Dia seperti mendengar jerit anaknya,jerit istrinya.Kambut yang di bawanya yang berisi pisang,cabe,dan minyak yang dia beli dipasar sikolos tadi,tercampak entah kemana dalam larinya menuju rumah.Ketika atap rumahnya sudah kelihatan,dia terhenti.Sayup-sayup dia mendengar tangis anaknya!Lelaki itu mengerahkan semua kepandaian yang di pelajarinya yaitu kepandaian meringankan tubuh ketika berlari.

Makin dekat makin kencang debar hatinya.makin kencang aliran darahnya.Dalam loncatan yang terakhir dia melihat anaknya tergolek di halaman,melihat gadis kecilnya yang berusia dua tahun duduk bersila ditanah.Berusaha mendiamkan adiknya yang tertelungkup dan menangis pilu. Gadis kecil itu juga ikut manangis,dalam tangisnya terdengar suara kanak-kanaknya yang belum sempurna menyebut huruf berusaha mendiamkan adiknya:

“Diamlah dik,diamlah….sebentar lagi ayah pulang.Ayah akan akan memukul orang yang menyakiti Ibu..diamlah diik…”
Dan saat itu Datuk Sipasan mengakhiri loncatannya di halaman tersebut,selain anaknya dia juga melihat ka9in panjang di halaman itu.
Kain panjang!seingat nya kain itu milik Siti Nilam.Dan selain kain panjang,juga ada perian yang di sekitarnya terserak air.Pastilah gadis itu baru dari tepian mengambil air seperti biasa.Dan air yang masih mengalir dari dalam perian itu, Datuk ini mengetahui peristiwa itu baru saja terjadi,pasti baru saja!Perian itu mungkin belum sampai dua puluh bilangan jari tergeletak dari sana.

Kalau istrinya dan Siti Nilam di bawa lari orang,maka jaraknya pasti belum sampai lima puluh langkah dari rumahnya.Dia memandang berkeliling,tak ada yang mencurigakan,hanya ada dua lelaki yang yang sudah menjadi mayat.
Dan tiba-tiba telinganya menangkap bunyi nafas memburu,menangkap bunyi desah dan dengus nafas dari rumahnya!Sekali loncat dia menerjang pintu rumah yang terletak di anak tangga keempat.Dengan menimbulkan suara bergedubrak keras,pintu terpelanting ke dalam.Menghantam kepala lelaki yang tengah menciumi dada Siti Nilam!

Kedua lelaki tersebut,yang tengah meremasi dan menciumi segenap tubuh kedua perempuan itu jadi terkejut separoh mati.Sepintas,datuk Sipasan melihat betapa tubuh istrinya dan tubuh Siti Nilam sudah ta berkain secabik pun,sementara kedua lelaki itu hanya tinggal celana kotoknya saja!

“Setan!”Datuk Sipasan berteriak di tengah gigilan tubuhnya karena berang.Lelaki yang tadi kepalanya kena hantam daun pintu yang berada di atas tubuh Nilam,tengah berusaha untuk tegak ketika tangan datuk itu bergerak menghantam kepalanya.
Dia menangkis.Tapi tangannya di tangkap Datuk itu,begitu tertangkap,begitu kukunya yang beracun dia tekankan sekuat tenaga.Kemudian dalam suatu sentakan tubuh lelaki itu dia putar dan dia hempaskan ke lantai.Tubuh lelaki itu berkelojotan sebentar,lalu dari mulutnya keluar buih hitam.Tubuhnya berobah pula jadi hitam dan dia mati di serang bisa sipasan yang amat tangguh yang merupakan senjata simpanan Datuk itu.

Tetapi lelaki yang satu lagi menghantam Datuk Sipasan,Tubuh Datuk ini bersijaja kedinding kena hantaman tersebut.Punggungnya terasa linu,dia berbalik segera dan kini berhadapan dengan lelaki yang tadi menggeluti tubuh istrinya.!Lelaki itu memegang keris Datuk Sipasan memajukan kaki selangkah kemudian dia tegak dengan kuda-kuda yang kukuh untuk menghadapi lelaki tersebut.
“Kau yang bernama Datuk Sipasan yang dari pariaman..?”lelaki berkeris itu bertanya.Datuk Sipasan tidak menjawab.Amarahnya membuat dia menjadi muak dan benci separuh mati kepada lelaki yang hampir saja menodai istrinya itu.

Hampir saja kalu dia terlambat datang barang semenit lagi,mungkin istrinya dan Siti nilam sudah di nodai kedua lelaki ini.O,alangkah terkutuknya.Dan mengingat ini Datuk Sipasan membuka serangan.Dia mengirimkan serangan tendangan dengan kaki kanan yang didepan,tendangan ini tendangan pancinganan dalam jurus Rantai Nan Empat.Yaitu jurus yang mengandalkan kombinasi empat tendangan.Satu tendangan sapuan sambil menunduk rendah dengan kaki kiri berputar kebawah menyapu kaki lawan,kemudiaan serangan kedua menghantam pangkal telinga lawan dengan dengan punggung kaki sambil melompat,begitu kaki mencecah tanah lalu berputar dan menghunjamkan tumit ke tubuh lawan.Serangan terakhir ini tidak memilih posisi lawan.

Jika lawan terbaring karena serangan yang terdahulu,maka hentakan kedua kaki ini bisa berbentuk hantaman sambil melompat tinggi dan menghunjamkan ke bawah.Kalau lawan masih tegak,maka hantaman kaki itu menuju dada sambil melayang cepat.
Serangan beruntun dalam bentuk jurus Rantai Nan Empat ini amat di takuti di daerah padang dan pariaman.Suatu ilmu silat yang menjadi andalan pesilat di daerah sungai limau,sungai rotan,sungai geringging dan toboh.suatu daerah yang terpisah di pariaman tetapi mempunyai induk silat satu yaitu silat Rotan Tuo di sungai Rotan.

Lawan Datuk ini nampak cukup berisi.Dia tahu tendangan dengan kaki kanan itu adalah tendangan tipuan.Datuk Sipasan meneruskannya dengan jurus pertama.Dia berputar sambil mencecahkan kaki di tanah,lalu kaki kirinya menyapu kebelakang kearah kaki lawan.Lawan nya cukup kaget melihat serangan yang ligat seperti gasing itu.Namun lelaki itu sempat mundur dua langkah.dia terluput dari serangan namun Datuk Sipasan memburu dengan jurus kedua.Begitu kaki kirinya tak mengenai sasaran sebelum lawan sempat membuka serangan,Datuk itu melompat setinggi kepala kemudian kaki kanannya menendang setengah putaran kearah pangkal telinga lelaki itu.

Lelaki itu terkesiap kaget,dia menunduk,tendangan tersebut mendesing lewat tak sampai dua jari dari atas kepalanya,jurus kedua berakhir.Lelaki itu berniat membuka serangan tapi datuk sipasan yang telah memijak lantai,tiba-tiba menunduk dan berbalik.Lalu kaki kanannya dengan kecepatan kuat dan kilat meluncur seperti peluru ke belakang.Daerah sasarannya adalah kerampang. Ketiga serangan ini benar-benar berbahaya.Jurus ketiga ini adalah cuek beleng yang umum terdapat di dalam dunia persilatan minangkabau.Tapi karena di lakukan oleh seorang Guru silat yang tangguh maka tendangan itu bukan main berbahayanya.

Si lelaki berniat membuka serangan terpaksa surut dua langkah lagi.Hampir saja dia terlambat,kalau serangan itu mengenai kerampangnya,maka dia pasti berada di yaumul akhir.dengan gelandut pecah,kembali lelaki itu luput dari serangan dan kini juru keempat!jurus terakhir!Begitu cuek belakangnya luput dari sasaran,Datuk Sipasan berputar dan melambung tinggi serta menghunjamkan kedua kakinya kearah dada lelaki berkeris dan bercelana kotok itu,inilah jurus terakhir dari jurus Rantai Nan Empat itu!orang yang dilawan itu ternyata luar biasa.

Buktinya dia sanggup lepas dari tiga serangan terdahulu.Sementara di pariaman.orang jarang yang luput dari serangan jurus pertama.Bukan karena jurus itu sulit,tapi karena di lakukan dengan cepat sekali setelah tendangan pancingan.Yang utama dalam serangan ini adalah kecepatan,kedua baru kekuatan,Kenapa kecepatan yang diutamakan?karena keempat tendangan itu mengarah ke tempat yang amat berbahaya.

Meski tanpa kekuatan sekalipun,artinya dengan tenaga biasa saja maka serangan itu sudah cukup mematikan.Kini serangan yang di lakukan Datuk ini dengan segenap kecepatan yang bisa dia lakukan dan serangan ini memang luar biasa berbahayanya.Sehingga lawannya itu meski sudah mundur tiga langkah,namun hunjaman kedua kaki itu masih memburunya.

Dia sudah terkapere ke dinding,terjangan Datuk ini kini sehasta dari dadanya. Tak ada jalan lain selain bergulingan di lantai dan melemparkan keris ke tubuh yang memburunya itu.itulah gerakan yang masih bisa dia lakukan,keris di lemparkan dengan sekuat tenaga dan serentak dengan itu dia menjatuhkan diri kelantai.Datuk Sipasan berusaha mengelakkan keris menghunjam kearahnya itu,namun karena dia dalam posisi melayang,keris itu menancap ke perutnya.Tapi saat yang sama,kedua kakinya mendarat di dada silelaki yang tengah berusaha menggulingkan diri di lantai dalam usaha mengelakan dirinya

Lelaki itu memang sempat berguling tapi tak sempat menggelinding menghindari injakan Datuk Sipasan.Terdengar suara berderak tulang dada remuk dan lelaki itu melolong.Darah menyembur dari mulutnya tatkala kedua tumit Datuk itu menghunjam kedalam dadanya yang remuk,lelaki itu mati!Tetapi sebaliknya jadi datuk itu jatuh berguling.Tubuhnya tiba-tiba jadi lemah,keris yang menanjap di perutnya ternyata telah di sepuh dengan sejenis racun yang berbisa.

Tubuhnya terasa panas,matanya berkunang-kunang dari halamn dia dengar tangis anaknya.Sedepa darinya ,istrinya kelihatan masih menelentang dengan kaki terbuka tanpa pakaian selembarpun.
Di dekat pintu,dalam keadaan yang sama,tergolek tubuh Siti Nilam.

“Sampai ajalku disini..”desis Datuk perlahan.Dia berusaha memusatkan konsentrasi untuk menyalurkan tenaga dalam guna mengusir bisa yang menjalarii darahnya,namun dia tak berhasil.

Perkelahian yang melelahkan ini padahal tak sampai dalam waktu semenit.Memang tak sampai semenit,dia hanya melakukan empat tendangan berantai yang cepat dalam jurus Rantai Nan Empat!alangkah lamanya terasa.

Datuk Sipasan yakin,dia takkan mampu menolong dirinya sendiri.Karena nya dia melangkah ke arah istrinya.Jarak sedepa antara dia dan istrinya dia tempuh lebih dari dua menit,dengan sisa tenaga,dia mengurut belakang telinga istrinya.Ketika istrinya mulai pulih jalan darahnya,Datuk itu tersungkur dengan tubuh berpeluh dan muka mulai menghijau.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: