Giring-Giring Perak Episode – Menetap di Silaing


Episode – Menetap di Silaingrumah Datuk
Rombongan itu bergerak mendaki pendakian Singgalang kariang,merayap perlahan.Kemudian berhenti di sebuah kampung kecil bernama Silaing.Disini rombongan berdiam sepekan.Datuk Sipasan membagi rombongannya menjadi tiga bahagian besar.

Sepertiga yang di pimpin sendiri tetap tinggal di silaing sebagai pos komando,sepertiga lagi di pimpin oleh Penghulu,dia ditugaskan untuk melanjutkan perjalan ke Pagaruyung.Sepertiga lagi yang di pimpin oleh adik Datuk ini,di tugaskan keluhak Agam untuk menemui Tuanku Nan Renceh.

Ketiga bahagian rombongan ini,akan menetap di kampung-kampung yang telah di tetapkan itu sebagai penduduk setempat.Mereka harus mengerjakan pekerjaan apa saja.Bertani,berdagang atau bertukang.
Di samping itu tugas utama mereka tetap mencari bantuan untuk membebaskan pariaman dari Belanda.Dan tugas lain,yang juga amat penting adalah menanyakan pada setiap keluarga,kalau-kalau ada yang kehilangan seorang anak lelaki yang memakai giring-giring perak di kakinya sekitar 20 tahun lalu.

Mereka menetapkan,enam purnama setelah saat itu,semua sudah berkumpul di silaing.membawa segenap bala bantuan yang bisa dikumpulkan untuk menyerang Belanda.Tapi buat setiap berita tentang di temukannya keluarga atau orang yang mengetahui tentang diri si Giring-giring Perak,harus melaporkan setiap saat ke tempat Datuk Sipasan di silaing.Siti Nilam tinggal bersama Datuk Sipasan.
Si Giring-Giring Perak amat terharu atas bantuan Datuk itu untuk menolong mencarikan keluarganya.Dia sendiri berjanji unutuk selalu datang ke rumah Datuk untuk menyakan kalau-kalau ada berita.

***
Suatu hari Datuk sipasan sedang ke pasar,Menjual kayu api yang dia tebang dari belakang rumahnya.Empat orang lelaki mendatangi rumahnya yang baru saja di bangun secara darurat di silaing itu.
Keempat lelaki itu berpakaian Silat.Tampangnya kelihatan kurang bersahabat.Yang dirumah saat itu hanyalah istri Datuk Sipasan bersama dua anaknya yang masih kecil,Siti nilam saat itu sedang mengambil air di pancuran.

Ke empat lelaki itu nampaknya mengetahui kalau di rumah itu tidak ada seorang lelakipun.Tanpa mengucapkan ba atau bu ,mereka langsung masuk kerumah itu.Istri Datuk Sipasan,yang bertubuh tinggi semampai dan cukup cantik,yang tengah menyusukan anaknya di bilik jadi terperanjat tatkala dua orang lelaki tak di kenal masuk biliknya.Dengan menjerit kecil dia menutup buah dadanya dengan tangan.Sementara anaknya tetap tak mau melepaskan ujung teteknya karena haus.

Kedua lelaki itu menjilati dada istri datuk sipasan dengan pandangan dan tatapan yang nyalang.Menatapi pinggulnya yang besar terbungkus dengan kain yang tak menentu letaknya.Kemudian kedua lelaki itu mulai memeriksa rumah tersebut.memeriksa bawah tempat tidur,membalik bantal,memeriksa dapur,kemudian saling berbisik.Kedua lelaki tadi muncul lagi di bilik itu,kembali menjilati dada istri Datuk Sipasan itu yang tersimbah.

Dan istri Datuk ini,yang sudah terbiasa menghadang marabahaya dan mengerti pula serba sedikit ilmu silat,tak bisa menahan berang hatinya.Dia meletakkan anaknya,kemudian membetulkan kain di pinggangnya.Semua tindakannya ini di perhatikan dengan tatapan penuh nafsu oleh kedua lelaki yang masih tegak di pintu biliknya.

“Maaf sanak,siapa sanak sebenarnya.Datang mencari apa,mengapa pula keluar masuk bilik orang tanpa izin…?!”Istri Datuk ini bertanya tegas.Tapi masih berusaha untuk tetap pada batasnya.Karena betapun juga dia mengerti,bahwa mereka orang baru di kampung ini.Sebagai rantau,dia harus banyak bersabar.
Kedua lelaki itu tak menjawab,hanya tertawa bergumam.

“Keluar sanak,ini bilik orang.Saya lihat sanak seorang pesilat,sebagai pesilat saya rasa anda tahu sopan santun!?..”
Bicara istri datuk ini terhenti tatkala yang seorang justru duduk di pembaringan,istri datuk ini tahu gelagat.Bahaya tengah mengancamnya,sebab dia ingin suaminya segera pulang dari menjual kayu.Kenapa suaminya lambat benar pulang?atau dia ingin juga Siti nilam juga hadir juga disini.

Kalau dengan Siti Nilam,dia rasa dia sanggup melawan kedua lelaki ini atau dia juga berdoa dalam situasi ini agar si giring-giring perak muncul.Ya kemana anak muda itu selama tiga hari ini?.Kenapa dia tak muncul-muncul?sebelum istri Datuk Sipasan bisa berbuat apa-apa,tamunya yang kurang ajar yang tegak tersandar di pintu terdengar bersuara.
“Kalian dari mana,akan kemana dan apa maksud serta tujuan…?”suaranya terdengar serak.dan istri Datuk Sipasan segera menangkap bau tuak keluar dari mulut lelaki itu ketika bicara.Dia tambah jeri,kedua lelaki ini nampaknya baru saja minum,tetapi dia berusaha untuk tetap tenang.

“kami dari pariaman…”
“oo..Kiranya kalian datang dari tanah jajahan Minangkabau….”Istri Datuk itu mengerinyitkan kening.
Kata-kata”Pariaman jajahan Minangkabau”sudah cukup lama dia dengar.Di pariaman sendiri pernah dia dengar dari mulut ke mulut.Padahal mereka nyata-nyata berasal dari Luhak Agam atau Luhak Tanah datar.Yang datang ke Pariaman masa peralihan pindah ratusan tahun lalu.Berpindah dari Banuhampu ke Koto Gadang terus ke Balingka ke Malalak kemudian turun ke sebelah Gunung Singgalang.Ke Tiku,ke Sungai Limau,dan Pariaman.Atau yang dari Luhak Tanah Datar,menyeberang Danau Singkarak ke Kayu Tanam terus ke Pasar Usang,Duku dan Padang.

Sedikit sekali yang mengetahui bahwa kata-kata ini sebenarnya”diciptakan”buat pertama kalinya oleh Kolonel de Craft seorang Belanda yang bermarkas di padang.yang inigin mengadu domba anak suku di minangkabau.Sebab tanpa mengadu domba begitu,mereka susah memecah persatuan Minang yang amat kuat dan siasat adu dombanya ini cukup berhasil saat itu.
Memang terjadi pertentangan yang tajam antara orang”Darat” dengan orang “pesisir”.orang darat merasa dirinya adalah orang minang asli.dan menganggap orang pesisir orang “lain”.

Untunglah istiri datuk Sipasan sudah arif tentang hal ini.Dia mendengar ucapan adu domba penjajah.Kini,ketika lelaki di biliknya itu mengucapkan kata itu,ia hanya memandangg dengan diam.kemudian dia berkata;
“Keluarlah dari balik ini…”
“Kami tak bisa di perintah orang ,upik.ini negeri kami.Engkau dan lakimu lah yang datang kemari.Mendirikan rumah di sini tanpa izin kepada kami..”

Kembai istri datuk ini mengerutkan kening.Lelaki-lelaki ini memang ingin mencari seteru.Dia memangku anaknya yang tidur,kemudian berjalan ke pintu. Tapi di pintu lelaki yang tegak bersandar tetap menghadang,tak beranjak setapakpun.Istri datuk hilang sabarnya kemudian menerjang lelaki itu.
Si lelaki dengan tersenyum menangkap kakinya yang menendang itu dan berniat mengelus betisnya.Namun dia salah duga.Istri datuk ini punya “bekal”
yang lumayan.Begitu tangan si lelaki berusaha mencakau kakinya,begitu kakinya dia tarik segera,dan kini kakinya justru menyapu kaki lelaki tersebut.

Perobahan gerak yang begitu cepat,memang diluar perhitungan silelaki di pintu,kakinya kena sapu.Dan meski tubuhnya tak langsung jatuh,tapi keseimbangan tubuhnya jadi lenyap.Saat itu tendangan berikutnya menyusul dan tubuh lelaki itu berguling ke ruang tengah.

Sebelum yang duduk di pembaringan sadar apa yang terjadi,istri datuk itu melompat sambil mamangku anaknya ke ruang tengah.Kemudian dalam sekali loncatan panjang dia sudah berada di halaman.Saat itu Siti Nilam yang datang sambil menyandang perian di bahunya.

Dia terkejut melihat istri Datuk Sipasan itu melompat sambil memangku anak.Rasa terkejutnya bertambah ketika dari dalam rumah muncul empat orang lelaki.
Rumah mereka terletak di pinggir kampung silaing,di belakang rumah hanya ada hutan.rumah penduduk yang terdekat terletak jauh dari situ jadi kalaupun mereka berteriak,maka hal itu takkan banyak menolong teriakan mereka takkan ada mendengar.
Keempat lelaki yang baru turun itu tertegun melihat kehadiran Siti Nilam.Mereka berbisik sesamanya,Siti Nilam masih menyandang perian di bahunya.

“Hemm..Tak kusangka perempuan pariaman cantik-cantik seperti kalian….”
Lelaki yang tadi duduk di pembaringan itu bergumam.Matanya menyambar ke tubuh kedua perempuan itu.
“Sanak ,kami kesini datang mencari dunsanak.Kami tinggal dan mendirikan rumah di sini atas seizin Wali nagari dan kepala suku di silaing ini.Kami tak mengerti apa yang sanak cari di rumah kami..”

Istri Datuk Sipasan berkata tegas.semntara dia masih memangku anaknya yang masih berusia enam bulan.Anaknya yang seorang lagi berumur 2 tahun tegak dekat Siti Nilam diam-diam.Keempat lelaki itu saling bersbisik lagi,kini lelaki yang kena tendang istri Datuk yang maju selangkah.

“Kalian orang baru disini,dan sebagai orang baru kalian harus tahu peraturan.yang berkuasa di nagari kami bukan wali nagari.Yang berkuasa Pandeka Sangek.Dia yang berkuasa di nagari silaing,Gunung Malintang,Kebun sikolos,tanah Hitam,bukik tui sampai keSurungan.Adapun walinagari adalah kepala kampung yang di angkat Pandeka sangek.Kami bersedia untuk tidak menyampaikan kedatangan kalian ini pada pandeka,asal kalianbersedia memenuhi satu syarat…”

Istri Datuk Sipasan sebenarnya tak mengerti kemana tujuan cakap orang ini.Dia tak tahu siapa Pandeka Sangek dan dimana tumpaknya.Tapi yang jelas,kalau benar dia berkuasa dari kampung-kampung yang baru di sebutkan tadi,maka itu berarti Pandeka adalah Penguasa dari sebuah nagari yang luas yang kelak di sebut sebagai Padangpanjang.
Meski tak tahu dan tak mengerti,istri Datuk itu ingin juga mengetahui apa”syarat” yang di kehendaki keempat lelaki itu agar mereka bisa tinggal disana.

“Apa syaratnya…?”
“Ah,masak uniang tak tahu…”
“Kami orang baru disini,tak tahu syarat yang kalian maksudkan…”
“Ah, masak tak tahu.Biasanya kami minta 3 malam berturur-turut,tapi untuk uniang berdua cukup sekali ini saja..”
Istri Datuk itu mengerutkan kening,sementara Siti Nilam diam saja sejak tadi.Tapi dia menangkap bahaya kurang ajar pada cara lelaki itu menatap mereka.

“Berterus teranglah,kalau Uang akan kami beri sekedarnya.kalau ternak kami hanya punya empat ekor kerbau pedati….”
“Kami tak perlu Uang atau kerbau pedati.Kalau uniang setuju sekarang saja,ayo kebilik.Kami ada berempat,uniang tak perlu melayani kami semuanya,cukup seorang melayani dua di antara kami,saya lebih senang sama uniang pasti uniang sudah berpengalaman he..he..”

Tubuh istri datuk manggigil saking berangnya.Sementara Nilam ingin muntah mendengar ucapan kotor,hampir serempak mereka meludah.dan keempat lelaki itu tertawa bergumam,selera mereka benar-benar menjejeh melihat kedua perempuan cantik dari pariaman itu.

Mereka mulai beraksi.pertama mereka mengepung kedua perempuan itu dengan tegak ditempat sudut,di mana kedua perempuan tersebut berada di titik tengah.
Istri Datuk Sipasan tetap saja tegak dengan tenang,sementara Siti Nilam tegak membelakanginya.Dengan demikian masing-masing mereka kini menghadapi dua lelaki.Istri Datuk Sipasan masih tetap menggendong anaknya yang berusia enam bulan.Sementar Siti Nilam masih menyandang perian berisi air,di belakang mereka berdiri anak perempuan datuk sipasan yang berusia dua tahun.

Mereka semua termasuk anak anak yang berusia dua tahun itu menatap keempat lelaki itu dengan berang.Tak terbayang sedikitpun rasa takut di wajah mereka.Bagi kedua perempuan itu menghadapi bahaya bukan hal yang aneh bagi mereka,selama di pariaman mereka sudah terbiasa melawan kekerasan.

Semula dari kekerasan orang Inggris kemudian dari sesama orang minang yang tidak menganut agama Islam.Lalu terakhir mereka terpaksa berperang melawan bangsa Belanda yang datang ke pariaman atas permintaan orang Minang yang benci melihat Islam masuk ke pariaman lewat pedagang-pedagang Aceh.Pertempuran bagi mereka hal yang lumrah.itulah sebabnya kini mereka tak gentar menghadapi keempat lelaki itu.Sebaliknya dengan sikap menantang itu menambah selera keempat lelaki tersebut.

“Hm..memang benar kata orang,perempuan-perempuan Pariaman bukan hanya cantik,tapi juga berdarah panas dan ganas.Ganasnya akan lebih nyata di tempat tidur…he..he..”salah seorang berkata sambil memilin sungut.
“Kami mengira semua penduduk negeri ini lelaki terhormat,karena Luhak Tanah Datar ini adalah Luhak dimana Raja-Raja Minang di lahirkan.Tapi ternyata hari ini ternyata dugaan kami meleset,hari ini kami menemui empat orang jahanam..”Istri datuk Sipasan mendesis.

Keempat lelaki itu tidak tersinggung sedikitpun,mereka mulai berputar. Putaranya makin lama makin merapat dan suatu saat seorang maju menyergap istri Datuk itu.Kedua tangannya masih tetap memegang anaknya,tapi kakinya dia tendangkan menyambut terkaman si lelaki.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: