Si Giring-Giring Perak Episode – Nafsu Birahi Lelo Cindai


Episode – Nafsu Birahi Lelo Cindaigoa di tepi sungai
Si Giring-Giring Perak segera menyeruak belukar kearah di mana dia tadi mendengar suara itu.Rasanya tak jauh dari air terjun.Ketika kakinya sebuah batu layah,di merasakan batu itu basah dan Indera nya yang tajam dapat menangkap,bahwa gadis itu disekap dari atas batu itu.

Dan dari situ dia memandang keliling,di sebelah kiri ada dinding batu setinggi puluhan meter dari air terjun itu .Di sebelah belakangnya adalah rombongan itu bermalam.Dia memandang kedepan,delapan depa di depan,setelah air terjun itu melintasi sebuah sungai kecil ada belukar.Di belukar itu ada pohon besar dan rimbun,dia melompat.Dalam sekali lompatan yang ringan dia sudah berada di salah satu cabang pohon tersebut.

Ada ranting kecil yang patah,dan dia segera tahu dari pohon inilah penyamun-penyamun itu mengintai.Dari tempat ini amat jelas melihat kearah api unggun dan amat mudah mencapai setiap orang yang datang ke air terjun.
“Hmm,ada empat atau tiga orang yang mengintai dari pohon ini…” bisiknya setelah memperhatikan dahan besar kayu itu.Dengan memperhitungkan situasi tempat itu tempat itu,dia segera tahu kearah mana Siti Nilam di bawa lari.

Siti Nilam yang mencecahkan tangan nya ke air yang sejuk,tiba-tiba merasa ada orang di belakangnya.Sebagai Gadis Minang yang belajar silat meski tak begitu sempurna,dia berbalik dan langsung menendang.Tapi orang yang tegak di belakangnya melompat ke samping.Tangan nya langsung menyekap mulut gadis itu.Kemudian tangan yang lain memukul tengkuknya.Terdengar jerit tertahan Siti Nilam.Tapi mulutnya telah ditutup.Ketika dirinya telah jatuh pingsan karena pukulan di tengkuk itu,Lelo Cindai memangku tubuhnya,kemudian membawa lari.

“Lekas lari..!” katanya kepada tiga temannya yang menanti di bawah pohon.Mereka berlari dalam gelap seperti berlari di siang hari.Demikian hapalnya mereka akan tempat itu.Sehingga belukar yang demikian lebatnya tak menghalangi mereka.Mereka menyelusup mendaki tebing yang curam.Naik keatas.Jika orang biasa tak akan menduga bahwa tebing yang curam yang tak berapa jauh di kiri air terjun lembah anai itu ada jalan setapak berupa tangga dari batu-batu alam keatas sana.

“Ke goa di tepi sungai…!”Lelo Cindai berseru sementara tangan nya yang memangku Siti Nilam meremas-remas.Kini mereka berada di Batang Anai bahagian atas air terjun tersebut.
Batang Anai di hulu air terjun itu tak begitu besar.Batu-batu bersemburan,dengan melompati beberapa batu besar,mereka tiba di seberang.
Dan empat lompatan mereka tiba di sebuah mulut goa di tepi sungai itu.

“Kalian tunggu diluar…”perintah Lelo Cindai,dia sendiri melangkah masuk ke goa tersebut.Goa tersebut cukup lapang,diatasnya tumbuh pohon-pohon besar.
Lantainya terbuat dari batu yang rata dan licin.Berbeda dari udara diluar,dalam goa ini udaranya hangat dan bersih.
Lelo menaruh tubuh Nilam perlahan di lantai.Gadis itu belum sadar.Malam yang gelap membuat dia tak melihat apa-apa.Tapi begitu tubuh Nilam terletak,tubuh Lelo ikut berbaring disisi tubuh gadis itu.
Tangannya mulai menggerayang,menyentak kan kain gadis itu,meremas pinggulnya.Mulutnya menjalari wajah Nilam,lehernya,bibirnya,dadanya.dan tangan nya bergerak lagi,merenggutkan baju kurung nilam.Suara kain robek terdengar sampai keluar goa.

Tiba-tiba tangan nya terhenti,gerakanya terhenti,nafasnya juga terasa terhenti.Dia mendengar sesuatu,dekat sekali.Seperti suara giring-giring.
Dia menanti,senyap.Dia mendengarkan sunyi.Tangan nya bergerak lagi tapi suara giring-giring itu terdengar lagi.Kali ini dia tak sempat mendengar banyak.karena begitu dia coba bergerak,rambutnya rasa ada yang menarik.Dia ingin bercarut,ingin menyumpah tapi tubuhnya dia rasa melambung.Sebelum carutnya keluar tubuhnya sudah menerpa dinding goa.

Dia merasa tubuhnya remuk,tubuhnya melosoh di dinding.Menggeletak di lantai goa yang keras,tapi belum mati.Dia ingin membalas.Dia tahu,yang mencelakainya anak muda yang bergiring-giring perak yang mengobrak- abrik mereka di Bukit Tambun tulang siang tadi.

Dia meraba pinggang untuk mencabut keris,dan melembarkan diam-diam ke anak muda itu,namun usahkan keris,celana pun dia tak punya kini.sudah dia tanggalkan tadi sebelum dia menyentakkan pakaian gadis itu.Celakanya dia juga belum sempat menikmati tubuh gadis itu tatkala anak muda itu tiba.dan malangnya anak muda itu menggerak kan tangan,sebuah kerikil sebesar tangan melesat dalam gelap itu.menghantam jidatnya.dan tanpa sempat melolong atau memekik,jidatnya berlobang.nyawanya pun berangkat ke neraka.Dia mati dengan menyumpahi temannya yang berdua yang dia tugaskan menanti di luar.Kenapa dia tidak memberi tahu atau membari kode ke dalam goa bahwa ada orang yang datang?kalaupun ada yang datang,kenapa tidak mereka halangi?

Dia tidak tahu,bahwa kedua temannya juga sudah mati.Kedua lelaki itu tengah duduk diluar pintu goa ketika tiba-tiba saja anak muda itu telah tegak di hadapan mereka.Mereka seperti melihat hantu.Sebab pakaian anak muda itu serba putih.Dan dalam kegelapan yang remang-remang di pinggir batang anai itu dia memang terlihat menakutkan.Mereka melompat tegak,begitu kaki anak muda itu melayang menghantam mereka.Yang satu kena sepak kerampangnya,anunya pecah seketika itu juga.Tubuhnya terangkat dan tercampak serta tersangkut dahan kayu,mati tergantung penyamun ini.Yang satu lagi kena terjang hulu jantungnya.Tubuhnya yang kena terjang terjerangkang ke dalam sungai,kemudian di hanyutkan oleh air yang deras dan jatuh bersama air terjun kebawah sana.Tak jauh dari Datuk Sipasan berkemah dan Siti Nilam mencuci muka.

Siti Nilam belum sadar dan masih di bawah pengaruh totokan,dia terbaring diam.Si Giring-Giring Perak menyentuh belakang telinga gadis itu.Kemudian sebelum si gadis sadar,dia mengumpulkan pakaian dan meletakkan nya di atas tubuhnya,lalu dia melangkah keluar dari goa itu.
Siti Nilam segera sadar sesaat di berada di luar,gadis itu memekik-mekik.Tapi segera terdiam ketika terdengar suara Si Giring-giring perak dari luar goa:
“Tenanglah Nilam,engkau telah selamat berpakaianlah…”Siti Nilam masih menggigil.Tapi dia kenal betul suara anak muda yang menolong mereka siang tadi.Dia benar-benar merasa aman,dia yakin betul kalau belum ternoda.Dengan masih terisak dia melekatkan kainnya sebisanya.kemudian meraba-raba menuju titik yang agak terang dan di luar di atas sebuah batu yang layah,si giring-giring perak itu tegak menantinya.

Siti Nilam yang merasa di selamatkan dari cemar seumur hidup,tak dapat menahan tangisnya.Dia menangis dan tanpa di sadari menjatuhkan diri di pelukan anak muda yang menyelamatkan hidupnya itu.
“Terima kasih Uda…terima kasih engkau telah menyelamatkan diriku dari noda…” ujar nya di antara isak tangis.
Anak muda itu kaget,ketika Nilam memeluknya.Dia membiarkan saja gadis itu memeluk dan menangis di bahunya tanpa bisa berbuat suatu apapun.Dan ketika Nilam puas menangis dia tegak sambil menunduk di depan anak muda itu.

“Mari kita kebawah,menemui rombongan Datuk Sipasan…”ujar si giring-giring perak perlahan.Siti Nilam mengangguk,tapi dia menjadi ngeri melihat batu bersumburan di sungai di dalam hutan Singgalang yang angker itu.Dia tak bergerak ketika si giring-giring perak mulai melangkah.dan anak muda itu segera sadar,kalau gadis itu tak mungkin melangkahi batu-batuan besar itu,dia berbalik lagi ketempat Nilam.

“Mari,kubantu..”katanya.Dan sebelum Siti Nilam sadar bantuan bagaimana yang akan di berikan anak muda itu,dia merasakan tubuhnya di pangku.Kemudian si giring-giring perak mengerahkan tenaga dan ilmu meringankan tubuhnya.Siti Nilam merasakan tubuhnya di bawa melompat dari batu ke batu dalam kecepatan yang laju.Dia melingkarkan tanganya keleher anak muda itu.kemudian memejamkan mata sambil menyurukkkan wajahnya ke dada si giring-giring perak.

Anak muda itu mencium bau harum yang memancar dari tubuh Siti nilam,dadanya berdegup kencang.Dan dia memperkencang larinya untuk segera sampai ke tempat berkumpulnya rombongan Datuk Sipasan.
Dia harus hati-hati tatkala menuruni tebing curam menuju kebawah.Kalau waktu naik tadi dia bisa berlari kencang karena ilmunya yang tinggi dan dia tak membawa beban,tapi kini dia sedang memondong tubuh seorang gadis.Dia harus hati-hati.

Sesuai dengan janjinya pada Datuk Sipasan,sebelum subuh tiba,dia sudah sampai ketempat mereka bermalam.Siti Nilam dia turunkan tak jauh dari tempat orang-orang yang mengungsi dari pariaman itu berkumpul.Dia tak ingin orang-orang itu melihat dia memangku gadis tersebut.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: