Giring-Giring Perak Episode – Malam Mencekam di Batang Anai


Episode – Malam Mencekam di Batang Anaibansi
Lewat tengah malam,Ketika semua rombongan bergelung di kelilingi api unggun  untuk tidur,sementara yang perempuan masuk ke pedati anak muda itu berjalan lambat-lambat menjauhi lingkaran api unggun itu.

Beberapa orang terbangun mendengar giring-giring perak di kakinya ketika melangkah.Suara giring-giring itu melantun lemah.Seperti sebuah dendang rindu dan putus asa seorang anak mencari kedua orang tuanya.
“si giring-giring perak itu pergi”bisik seorang lelaki pada Datuk Sipasan,Datuk itu membuka matanya.
“saya juga mendengar giring-giringnya,Tapi saya rasa dia tidak takkan pergi…” jawab si Datuk perlahan.

“kenapa begitu?”Entahlah,pokoknya saya rasa dia akan menetap bersama kita sampai besok.Dia takkan mau meninggalkan rombongan yang telah dia tolong di kaki bukit ini.Tempat ini masih sangat berbahaya,barangkali penyamun-penyamun itu tengah mengintai kita..”

“Aneh,siang tadi saya sama sekali tidak melihat dia bersilat…”
“maksudmu?…” seorang lain dekat api unggun yang mendengar pembicaraan itu bertanya sambil mengangkat kepala dari batu yang di jadikan sebagai bantal.Nada tanyanya agak berang.
“Maaf bukan saya menyangsikan kepandaiannya.tapi.. saya tak punya kesempatan melihat dia bergerak.Terlalu cepat…”
“Ya,saya sendiri tak tahu bagaimana dia bergerak,haya melesat bayangan putih yang nampak ketika dia menyerang Gampo Bumi dua kali.Dan tombak yang hampir menyudahi nyawa saya,dia hantam dengan ranting kayu..,gerakannya benar-benar cepat.Hei dia memang belum menyebutkan nama Gurunya bukan?…”Ucapan Datuk Sipasan ini membuat beberapa lelaki bangkit dari pembaringan mereka.Pembicaraan ini memang menarik mereka semua.

“Ya,Dia tak pernah bicara tentang siapa gurunya.yang dia katakan hanyalah bahwa gurunya berdiam di Gunung Talang…”
Gunung Talang….seingat saya tak pernah seorang pun guru silat yang tinggal disana.Ataukah saya demikian sempitnya hingga yang saya ketahui hanyalah perguruan-perguruan kecil saja..?”Datuk Sipasan seperti bicara kepada dirinya sendiri.
Suara giring-giring itu sudah senyap,yang terdengar hanyalah suara desah Air Terjun Anai dan bisikan malam bersahutan dengan suara penghuni hutan.

“Hei Datuk,bagaimana kalau kita jodohkan saja sama si Nilam?”seorang lelaki separoh baya bicara.Ucapan nya tidak begitu keras,tapi hampir semua lelaki yang tidur di keliling api unggun itu pada menyumburkan kepala mereka dari bawah selimut.Beberapa orang antaranya malah duduk,Datuk Sipasan masih diam.
“Apa maksudmu?”tanyanya perlahan.
“Ehm..maksud saya..maksud saya mereka nampaknya saling jatuh hati.”
“Dari mana kau tahu?”Seorang lelaki dekat pohon tumbang yang telah duduk dari berbaringnya bertanya.
“Saya melihat mereka saling menatap lama sekali tadi…”
“Ya,saya juga melihat…” kata lelaki lain.”Ya,saya juga!”
“Saya juga…”

“Ketika berkelahi di Bukit Tambun Tulang tadi,dia bertatapan lama dengan kepala penyamun itu.Juga dengan saya,Apakah itu pertanda cinta pula?…”suara Datuk Sipasan masih terdengar perlahan tanpa merobah posisi tidurnya.
Ucapan ini di sambut tertawa bergumam beberapa orang.Tapi lelaki yang bicara tadi menyela lagi:
“Pandangan nya pada Datuk,dan kepala penyamun itu sudah tentu berlainan dengan pandangan nya pada Nilam,jangan di samakan.Dia pastilah anak muda normal Datuk….”

Kembali beberapa orang tertawa mendengar kilah ini.Datuk Sipasan sendiri ikut tersenyum.”Ya,saya juga melihat dia menatap lama sekali pada Nilam..”
“Tidak hanya dia Datuk,Nilam juga membalas tatapannya lama sekali,dan itu bukan hanya sekedar tatapan-tatapan.Tatapannya punya arti..”
“Arti yang dalam…”sambung yang lain.
“Dalam dan bermakna..” sahut yang lain pula.
“Bermakna dan Indah..”yang lain lagi bicara.
Dan mereka jadinya bicara bergalau.Kemudian galau itu terhenti tatkala sayup-sayup terdengar suara bansi.suara bansi di tengah malam!

Bunyi bansi itu lembut mendayu.Mereka saling pandang,kemudian beberapa orang merebahkan badannya kembali.Berberapa orang lagi mengikuti berbaring perlahan.Menari selimut,berkelumun.Namun suara bansi itu tetap mereka dengar.Ada relung hati mereka yang teriris pilu bersama suara bansi yang alangkah menghibanya itu.
“Dia merindukan orang tuanya,Saudaranya,Kakaknya atau siapa saja yang bisa mengenal nya..”seorang berkata di balik selimut sambil menutup wajahnya.
“Suara bansi itu adalah suara hatinya…”

“Alangkah sepinya malam ini.Malam di tengah rimba.Namun dirinya ratusan kali lebih sepi dari kesepian rimba ini.Hidup tanpa mengenal apa-apa,bahkan nama dan dirinya sendiri tak dia kenal.Datuk Sipasan berkata perlahan yang lainnya mendengarkan sementara hati mereka jatuh hiba mendengar suara bansi itu.
“Kalau dia memang punya hati dengan Nilam,saya amat bersyukur.Nilam baru saja kehilangan Ayah,kehilangan Ibu,kini sebatang kara.Kalau mereka di jodohkan Tuhan,saya yakin mereka akan bahagia.Nilam akan mendapat perlindungan dari lelaki yang gagah perkasa.Sementara anak muda itu akan menemukan Ibu,adik dan saudara perempuannya dalam diri Nilam…” Datuk itu berkata perlahan.

Malam pun berangkat larut,tak ada lagi di antara mereka yang bicara.Barangkali semua tertidur karena lelah,Tapi barangkali juga tak seorangpun yang bisa memejamkan mata.
Salah seorang yang tidak bisa memejamkan mata itu adalah Siti Nilam.Dia terbaring dengan gelisah dalam ruang pedatinya.Suara bansi itu amat menggelisahkan hatinya.Dia tak tahu kenapa dia menangis,Dia tak ingin menangis.Tapi air mata menggabak terus di pipinya.

Dia teringat almarhum ibunya,pada ayahnya yang baru saja meninggal siang tadi.Dia kini sebatang kara.Tak ada famili,kemana dia harus pergi?Ikut terus dengan rombongan ini?kemudian mengapa?Sebagai seoarang gadis yang baru saja mekar ,dia tahu cukup banyak lelaki yang jatuh hati padanya.Namun dia tak pernah memikirkan lelaki sekalipun.Tak pernah!
Tapi tatapan anak muda berbaju putih dan bergiring-giring perak itu membuat hatinya berdebar.

Dia berbalik kekiri kekanan,menghapus air mata.Suara bansi tadi sudah lama lenyap.Yang terdengar hanya suara burung hantu dan desahan air terjun.Desah air terjun itu seperti desah hatinya yang sepi.desah hatinya yang tanpa Ayah dan Ibu.Dia menghapus airmata,dia duduk dan berdiri turun ke tanah.Menghirup udara yang alangkah sejuknya dan segarnya.

Dia melangkah,di kananya kelihatan api unggun di mana para lelaki pada berbaring di sekililingnya.Dia melangkah kekiri,dia ingin menceritakan penderitaan hatinya pada orang lain.Pada perempuan lain.Dia menoleh kepedati Rahimah yang ada di belakang pedatinya.Sunyi..Sudah tidurkah dia?Pasti sudah.kesanakah aku?Ah,dia sudah tidur.Kenapa harus ku ikut serta dalam rusuh hatiku?
Dengan pikiran demikian dia melangkah terus.Dia ingin kedekat air manjur.Ingin mendengar resahnya air terjun itu.Barangkali keresahan air terjun itu bisa mengalahkan resah hatinya.Bukahkah dengan mendengar keresahan hati orang lain keresahan kita terasa ringan ?

Tapi kenapa bansi itu tak lagi berbunyi?Ah,lebih baik memang dia tidak berbunyi,tapi aku ingin mendengar bunyinya lagi.pikirnya sambil kakinya tetap melangkah ke air terjun.
Namun gadis itu tidak mengetahui bahwa keinginannya untuk lepas dari kegundahan hatinya itu justru meenyeretnya ke dalam bahaya yang mengerikan.Dugaan Datuk Sipasan memang benar,pimpinan penyamun Bukit Tambun tulang itu memang tak mau menyerah begitu saja.

Belum pernah dalam sejarah hidup mereka melepaskan mangsa tanpa upeti.Apalagi rombongan Datauk ini mendatang kan celaka pada mereka.Untuk itu Gampo Bumi mengirimkan empat anak buahnya yang tangguh-tangguh untuk mengikuti rombongan itu.Dan mereka jadi gembira bahwa rombongan tersebut justru bermalam di air terjun.Tadinya hati mereka jadi kecut melihat anak muda itu tak pernah lepas dari rombongan tersebut.

Mereka menanti di seberang air terjun sana.Menanti saat yang tepat untuk membalaskan sakit hati dan dendam.Nyamuk dan kegelapan malam bukanlah hal yang menakutkan bagi mereka.Bahkan Harimau dan Ular tidak bisa menggetarkan hati mereka,mereka sudah terlalu terbiasa dengan hutan ini.Ini adalah rumah mereka.Mereka mengenal tiap jengkal hutan ini.Karenanya ketika rombongan Datuk itu terlena di serang kantuk,nyamuk dan dingin yang menusuk,mereka enak-enak saja di dahan kayu mengintai.
Suatu saat salah seorang di antara mereka berbisik.

“Sst..lihat itu..”
tiga orang lainnya menoleh.Dan mereka melihat sosok tubuh berjalan ke air terjun.
“Hei,itu perempuan..”
“Sst,jangan ribut.Biarkan dia,ini umpan yang empuk…”
“Hei,bukankah gadis itu yang gagal di lahap Lelo Cindai siang tadi..?”
Lelaki yang bernama Lelo cindai,yang memimpin rombongan kecil itu mempertajam pandangan.Dan jakunnya turun naik.
“Ya..ya!Dialah gadis itu.Amboi,gadis itu jolong mekar.Susunya sekepalan tangan.mengkal dan harum.Aku sempat meremasnya tadi siang.Pinggulnya…amboiii.Ini bahagianku.Dari pada batang pisang,lebih baik merapalam dan kuini.Tak dapat siang lebih nikmat malam ini.ini uda mu..ku beri kau yang nikmat di dunia ini..”Lelo berbisik dan berpantun.

“Jangan terlalu panjang pantunnya lelo.Yang perlu di ingat adalah pantun ini:Diamana tumbuhnya padi,kalau tidak di batang hari,kalau lelo dapat empat kali,jangan lupa kami seorang sekali”.Pantun ini di sambut tawa yang di tahan oleh tiga lainnya.
“Beress!Bukankah selama ini saya selalu memberi giliran kalian?Kalau saya selesai empat kali,kalian saya beri dua kali seorang okey…?”

“Oke sih oke lelo,tapi akankah gadis itu tahan?”
“Jangan khawatir dia tak hanya”tahan”tapi akan melayani kita semua dengan keahliannya”.
“Dengan keahliannya?”
“Ya!”
“Saya rasa dia belum pernah di sentuh di sentuh lelaki lelo..”
“Jahanam.Siang tadi saya sudah menyentuhnya.Apakah saya kau anggap bukan lelaki?”
“Bukan!bukan itu maksud saya lelo.Selain lelo saya rasa dia masih perawan.Barangkali paling tinggi umurnya baru delapan belas…”
“Enam belas!dia pasti enam belas” kata lelo cindai membetulkan

“Ya saya percaya itu.Tapi dia datang.liat dia membasuh mukanya dengan air sedingin ini gila.Apakah dia seorang yang berdarah panas makanya malam sedingin ini mencuci muka?”
“Ya,dia berdarah panas.Itu bagus bukan?Nah siap-siaplah”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: