Giring-Giring Perak Episode 4 Pemuda Misterius bergiring giring


Episode 4 Pemuda Misterius bergiring giringtombak

Semua orang menoleh lagi ke batu itu. Dan semua mereka jadi terkesima. Di batu itu, berdiri kembali anak muda berpakaian putih dan bergiring giring perak tadi!

“Mengapa kalian menyebar bencana di sini?” tanyanya dengan suara berbegu pelan.
Gampo Bumi tak dapat menahan berangnya. Meskipun tadi dia melihat kehebatan anak muda ini, tapi sudah puluhan tahun mereka berkuasa di bukit ini
tanpa ada yang berani mengganggu kedaulatan mereka. Kini ada saja anak bau bawang yang berani menyuruh berhenti dan memerintah yang tidak-tidak.
Bukankah ini suatu yang memalukan dan tak bisa dibiarkan terus?
“Hei beruk! Jangan waang terlalu banyak bicara. Waang sangka waang jagoan dengan mengelakkan tombak-tombak tadi?” Sehabis berkata begini dia menoleh
pada anak buahnya.
“Tangkap monyet itu. Bawa dia ke mari. Saya akan menyunatnya habis-habisan!”

Belum perintahnya habis, empat orang anak buahnya yang bertubuh besar bersenjatakan keris dan golok dengan sorak sorai berlompatan memburu ke atas
batu tersebut.

Tapi begitu mereka sampai di atas, terdengar anak muda itu membentak:
“Mundur!” Aneh, keempat penyamun itu seperti didorong tenaga raksasa. Mereka terpental ke belakang bergulingan.
“Kenapa kalian harus saling bunuh di sini?” kembali pertanyaan itu dia ucapkan. Dan kali ini Gampo Bumi menjawab dengan sengit;
“Ini kerajaan kami buyung. Bukit ini dinamai orang Tambun Tulang. Karena kami menyembelih mereka di sini. Nah, kalau waang masih ingin selamat, cepatlah
tinggalkan tempat ini!”
Gampo Bumi sebenarnya tidak menggertak. Dia ingin anak muda itu pergi cepat. Sebab melihat makan tangan anak muda ini barusan, hatinya jadi ciut juga.
Kalau anak muda ini turun tangan membantu Datuk Sipasan, maka ada harapan mangsa mereka ini bisa lolos.

Tapi anak muda itu tetap tegak di sana. Mukanya yang tenang menatap semua orang. Dan dia melihat beberapa lelaki terkapar mandi darah tak
bergerak.Mati!
‘Teman bapak kah orang-orang yang mati itu?” tanyanya pada Datuk Sipasan yang masih terduduk dengan mulut berdarah.
Datuk Sipasan cepat mengangguk “Kenapa kalian berbunuhan di sini?”
“Mereka merampok kami…”

Sinar tajam membersit dari tatapan anak muda berbaju putih yang terbuat dari satin itu. Kembali matanya menatapi seluruh rombongan. Melihat beberapa
perempuan. Semua mereka juga menatap padanya.
“Perempuan-perempuan itu, apakah juga rombongan bapak?”
Kembali Datuk Sipasan mengangguk.

Dan kini, tatapan mata anak muda itu menyapu Gampo Bumi. Kemudian kembali menatap Datuk Sipasan.
“Akan ke mana bapak bersama seluruh rombongan ini pergi?”
“Kami akan ke luhak Tanah Datar. Mungkin juga ke Luhak Agam…”
“Nah, sekarang berangkatlah selagi hari masih siang…”
Datuk Sipasan menatapnya. Dia ingin tegak, tapi tulang rusuk dan tangannya patah. Kini dia muntah darah, bagaimana dia akan berangkat? Datuk ini

menguatkan hati, dia bangkit, lalu menghadap pada teman-temannya.
“Kuburkan mayat teman-teman. Dan bersiaplah untuk berangkat…”
“Tunggu!”
Yang berseru ini adalah Gampo Bumi. Semua menatapnya. Termasuk juga anak muda itu.
“Hei buyung berbaju putih dan bergiring-giring perak, dengarlah! Ini daerah kekuasaan kami, siapapun yang lewat di sini, harus membayar upeti pada kami.

Jika upeti tidak dibayar, nyawa dan hartanya kami ambil. Begitu dilakukan sejak puluhan tahun yang lalu, turun temurun sampai kini”
“Dan itu hanya boleh sampai hari ini”. Anak muda itu memotong cepat.
“Siapa yang membuat aturan itu?”
“Saya!”

Gampo Bumi meludah. Kemudian tertawa terbahak. Belasan anak buahnya juga ikut tertawa.
“Kalau saya tak sayang pada tubuh waang yang kerempeng itu buyung, maka waang sudah saya buat jadi sup. Bagaimana waang berhayal bisa memerintah
orang-orang di Bukit Tambun Tulang? He, bagaimana? Apakah waang tersapa atau mimpi?”
Anak muda itu tak mengacuhkannya. Dia menghadap dan bicara pada rombongan Datuk Sipasan.

“Kuburkanlah teman-teman bapak. Kemudian berangkatlah!”
“Hei monyet, waang dengar ucapanku atau tidak? Waang harus enyah segera dari sini!” Bentakan Gampo Bumi yang mengguntur itu membuat rombongan
Datuk Sipasan jadi kecut. Namun anak muda itu kini melangkah menuruni batu besar itu. Setiap langkahnya menimbulkan bunyi pada giring-giring perak di
kaki kanannya.

“Sekali lagi kau bicara seperti itu kutanggalkan gigimu…” Anak muda itu bicara perlahan Namun suaranya yang berbegu itu didengar dengan jelas oleh semua
orang.

Bukan main berangnya Gampo Bumi. Seumur hidup, belum pernah ada orang atau setan sekalipun yang berani menghinanya seperti ini. Di depan anak
buahnya pula. O, muka pimpinan penyamun ini jadi merah padam dan membengkak seperti orang mau berak. Giginya berbunyi. Jahannam ini tak boleh
dibiarkan hidup. Jelas dia telah mencorengkan taik dikeningku, bisik hatinya.
Dia membaca ajian yang pernah dia pelajari, kemudian didahului oleh sumpah serapahnya, dia maju membuka serangan sambil menyumpah.
Beruk besar…ku…”

Ucapannya belum habis ketika sebuah bayangan putih berkelebat. Dan saat berikutnya, Gampo Bumi terpekik. Anak muda itu sudah pindah tempat. Tak
seorangpun yang melihat bagaimana dia bergerak. Gampo Bumi menunduk sambil menutup mulutnya dengan tangan kanan. Ketika tangannya dia
renggangkan, di telapak tangannya berkumpul empat buah gigi depannya !”Kepung dan mampuskan beruk itu!” suara dan perintah Gampo Bumi mengguntur. Anak buah nya mengepung anak muda berbaju putih dan  bergiring-giring Perak itu!

Dengan tombak teracung dan pedang siap di tangan, mereka mengurung anak muda itu di tengah. Lingkaran yang mereka buat makin dikecilkan setiap kali
mereka melangkah maju. Anak muda itu masih tetap tegak di tempatnya. Tak bergerak sedikitpun!
“Hei beruk, beri tahu siapa nama waang, siapa guru waang, agar kami bisa mengirim telinga waang pulang atau mengirimkannya ke guru waang yang celaka….”

Ucapan ini terhenti lagi ketika tiba-tiba bayangan putih melesat ke arahnya dengan kecepatan kilat. Saat berikutnya tubuhnya melayang, dan kini dia berada di tengah lingkaran yang dibuat anak buahnya bersama anak muda itu.

Benar-benar merinding bulu tengkuk Gampo Bumi. Dia sedang bicara tadi, jaraknya dengan anak muda itu ada enam depa. Anak muda itu berada di tengah
kepungan anak buahnya. Tahu-tahu dia merasakan tubuhnya diteteng tanpa dapat melawan sedikitpun.

Ketika sama-sama tertegak dalam lingkaran itu. Gampo Bumi mencabut keris di pinggangnya. Selama ini amat jarang dia mencabut keris. Hanya melawan
orang-orang tangguh saja dia mempergunakannya. Tapi kali ini, dengan bulu tengkuk berjingkrat karena ngeri, dia mencabut senjatanya itu. Keris itu berlekuk
lima berwarna merah. Dan tanpa banyak pikir dia menikamkan keris tersebut pada anak muda yang tegak di kirinya.

Anak muda itu mengelak sedikit, saat berikutnya tangannya bergerak, dan terdengar suara berderak dan lolongan Gampo Bumi ketika tangannya di sentuh
oleh jari tangan anak muda itu. Lengannyalah yang berderak itu. Patah! Melihat ini, anak buahnya bukannya jadi takut.
Malah dengan sebuah bentakan mereka mulai berlari mengitari anak muda itu.

Mereka berlari membuat lingkaran. Pada saat-saat tertentu, dua orang dan arah yang berlawanan menyerang ke tengah. Yang satu menusuk dengan tombak,
yang satu membabat dengan golok. Inilah apik rotan. Suatu kepungan yang ditakuti kaum pesilat di Minang saat itu. Lawan akan terkurung dan jadi pening
dikitari sambil berlari itu.

Jika lawan berniat menangkis serangan orang yang berdua itu, maka dua orang lainnya segera muncul menyerang pula, dan yang menyerang pertama tadi
masuk lagi kelingkaran sambil berlari mengikuti lingkaran tersebut. Biasanya pesilat-pesilat yang berkurung di tengah tak sampai bertahan empat jurus. Tapi
kali ini anak muda itu tak perduli. Dia memegang lengan Gampo Bumi, kemudian tanpa bicara melemparkannya ke arah lingkaran yang mengepungnya!

Gampo Bumi terpekik. Barisan yang melingkar itu sendiri jadi kacau balau. Mereka tak mau menlanjutkan serangan, Sebab bisa mencelakakan pimpinan
mereka. Gampo Bumi tercampak di tanah yang berkerikil.

Semua jadi terhenti. Dan memandang anak muda itu dengan wajah pucat. Melihat kejadian ini, rombongan Datuk Sipasan yang tadi kecut karena kekurangan
jumlah orang dan kekurangan kepandaian, kini terbit lagi semangatnya.
Kini mereka mengambil lagi pedang dan keris, dengan bersorak mereka mengejar penyamun-penyamun itu. Mereka berteriak membalaskan dendam teman-
teman mereka yang telah mati barusan.

Beberapa orang di antara penyamun itu kembali mengadakan perlawanan. Tapi perhatian mereka terpecah pada anak muda bergiring-giring perak itu. Mereka
merasa anak muda itu akan ikut menyerang. Ini membuat perhatian mereka tidak tertuju pada serangan. Dalam waktu singkat, beberapa orang terpekik mandi darah.

Rombongan Datuk Sipasan makin bersemangat. Akhirnya dua orang penyamun menghambur ke dalam semak belukar. Dan lenyap melarikan diri. Tindakan ini
diikuti oleh beberapa orang lainnya. Akhirnya Gampo Bumi sendiri ikut ambil langkah seribu. Meninggalkan sebelas anak buahnya yang telah jadi mayat.

“Awas waang buyung. Kali ini kami kalah, tapi akan datang saatnya nanti, guru kami Harimau Tambun Tulang akan mengupakkan seluruh tulang belulang
waang. Dan itu pasti takkan lama. Waang akan kami buru, meski ke ujung dunia sekalipun!”
Ucapan ini dilontarkan oleh Gampo Bumi begitu dia akan meloncat melarikan diri ke dalam palunan belukar di kaki Bukit Tambun Tulang itu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: