Dalam Neraka Vietnam-bagian-716-717


Dalam Neraka Vietnam-bagian-716goa di balik air terjun
Namun dalam rekaman selanjutnya, nampaknya hari telah siang, kelihatan sesosok berlari di antara belantara dan sekilas-sekilas menjadi jelas saat dia melewati rawa yang tidak ditutupi daun kayu.
“Itu si Bungsu…!” serua Ami.
“Ya, itu si Bungsu..! “ ujar Kolonel MacMahon.
Mereka yang di ruangan itu saling berpandangan.
“Peristiwa di padang lalang saat heli menjemput kami, dan kami dihujani tentara Vietkong dengan tembakan, kini terulang lagi. Dia kembali menjadikan dirinya umpan perluru, demi membebaskan tiga tawanan lainnya. Oh Tuhan…!” ujar Kolonel MacMahon dengan suara bergetar.

Ami Florence tak mampu menahan isak tangisnya.
“Selamatkan dia, tolong selamatkan dia, please….” ujarnya.
“Ya… kita semua hadir di sini karena ingin menyelamatkannya. Karena tidak hanya kita, Amerika berhutang amat besar padanya…” ujar multi-milyuner Alfonso Rogers.
“Tidak hanya kita, tiga atau empat tentara Vietkong itu sendiri, seorang di antaranya berpangkat kolonel, yang ditolong oleh si Bungsu, diam-diam menginginkan kebebasannya. Itu informasi yang disampaikan Dragon…” ujar Le Duan.
Laksamana Billi Yones Lee, Komandan USS Alamo kemudian bicara.

“Well, baiklah! Berbeda dengan operasi pencarian MIA atau operasi penyelamatan lainnya selama ini yang dilakukan Amerika, tetapi jika terjadi sesuatu Amerika akan mengatakan ‘tidak tahu!’ Kemarin pagi saya diinformaskan akan kedatangan Tuan-tuan di bawah koordinasi Tuan Rogers. Setelah itu dari Pentagon ada perintah langsung dari Kepala Staf Panglima Gabungan, jemput si Bungsu, Amerika akan menghadapi apapun risiko politiknya. Apapun! Saya yakin, perintah dan sikap Amerika seperti itu hanya di mungkinan karena tekanan Tuan-Tuan dan Anda, Lady. Terutama Tuan Alfonso Rogers dan Kolonel MacMahon dan Jhon McKinlay…”

“Anda terlalu merendah, Laksamana. Saya berada di Pentagon ketika Anda membentak-bentak seorang jenderal di sana. Menyuruh mereka memasang telinga saat Anda menceritakan apa yang dilakukan si Bungsu untuk membebaskan 17 tentara Amerika, dan menghancurkan beberapa boat perang Vietkong menyelamatkan Ami Florence dan Le Duan…” ujar Alfonso Rogers memotong.
Laksamana itu tersipu.

“Ya, apa yang dilakukan orang asing itu belum tentu mampu dilakukan satu kompi pasukan kita yang amat tangguh sekalipun. Di atas segalanya, kesediaannya menjadikan dirinya umpan peluru untuk menyelamatkan heli dan para tawanan Amerika, membuat saya tak tidur berhari-hari. Dia sendirian di padang lalang itu, ditembaki dan ditangkap…” ujarnya.
Semua tertunduk mengingat peristiwa tersebut. Lalu Laksamana itu menyambung.

“Kita sudah sediakan tiga heli tempur. Sebuah untuk mengambil mereka di dekat air terjun itu, dua buah untuk mengawal. Perintahnya amat jelas, bawa mereka pulang, terutama si Bungsu, apapun risikonya….!”
“Saya telah mendapatkan persetujuan Pentagon untuk memiloti heli penjemputan….” ujar Thomas MacKenzie, suami Michiko yang mantan pilot udara Perang Dunia II itu.

“Ya, saya sudah diberitahu. Terimakasih, kami memang amat membutuhkan pilot yang berpengalaman. Dua pilot lain siap mengawal Anda…” ujar Laksamana Lee.
“Saya ikut heli yang menjemput…?” tiba-tiba Ami Florence menyela.
“Maaf, Lady. Kali ini usulan Anda terpaksa saya tolak. Demi kesuksesan operasi yang harus amat cepat ini. Dia tiap heli, selain pilot masing-masing hanya ada dua penembak yang menjaga di mitraliur. Satu di kiri, satu di kanan. Oke, masukkan koordinat wilayah air mancur itu ke komputer di tiap heli. Sekarang jam tiga, ada waktu sekitar empat jam mencapai tempat itu. Anda hanya bisa memakai lampu sorot setelah dekat air terjun itu, MacKenzie. Waktu untuk Tuan mempersiapkan diri ada lima menit, McKenzie….”
“Yes, Sir!” ujar veteran Perang Dunia II itu, sambil bergegas keluar menuju heli yang menanti dalam keadaan mesin sudah dihidupkan.

Mereka menatap keberangkatan tiga helikopter itu dari anjungan komando. Menatapnya hingga jauh, hingga hanya kelihatan seperti seekor burung kecil, kemudian seperti titik. Saat ketiga heli itu lenyap di kaki langit, Ami dikejutkan oleh ucapan letnan di komputer tadi.
“Mam, ada yang ingin bicara padamu di telpon….”
“Saya?”
“Siapa?”
“Nona Roxy….”
Ami menoleh pada Alfonso Rogers, ayah gadis yang ingin bicara melalui telepon dengannya. Lelaki tua itu tersenyum.
“Hallo, Roxy..” sapanya setelah memegang telpon.
“Hai, Ami. Senang dapat lagi bicara dengan Anda. Saya diberitahu ayah, Anda akan bertemu dengannya di USS Alamo….”
“Ya, Ayahmu ada di sini sekarang. Anda dimana, Roxy?”
“New York. Sudah berangkat penjemputan untuk si Bungsu…?”
Ami tertegun. Dia menatap pada ayah Roxy yang sedang ngobrol perlahan dengan Laksamana Lee.

“Anda sudah tahu adanya operasi penjemputan itu…?”
“Saya mendesak Ayah untuk mempergunakan pengaruhnya. Kita semua berhutang nyawa padanya, kan? Sudah berangkat yang menjemput si Bungsu, Ami…?”
“Y..Ya! Sudah….”
“Kita doakan bersama mudah-mudahan tak ada halangan. Apalagi Thomas MacKenzie yang menjemput adalah pilot pesawat tempur yang amat bisa diandalkan….”
“Ya, kita bersama mendoakan.. Roxy….”
ADALAH Cowie pertama tersentak bangun dari tidurnya yang nyenyak karena mendengar suara aneh di antara suara air terjun. Dia membangunkan kawan-kawannya yang bergelimpang di dalam goa di balik air terjun itu.

“Suara heli…!” bisik si Bungsu.
Mereka bangkit dan bergegas ke tabir air terjun yang menutup goa persembunyian mereka. Tiba-tiba sorot lampu heli menerangi air terjun itu. Lalu lampu sorot itu dimatikan. Kemudian dihidupkan. Mati, hidup lagi terputus-putus.
“Morse! Itu heli Amerika menjemput kita…!” seru Kopral Jock Graham setelah mengartikan kerdipan lampu yang dipergunakan seperti morse bagi kapal-kapal di laut.

Mereka keluar dari balik air terjun itu, di bawah sorot lampu heli menuruni bukit batu tersebut dengan cepat. Heli itu mengapung rendah di hamparan pasir lebar di tepi sungai di bawah air terjun itu. Mereka berempat berlarian ke sana. Letnan Cowie yang Negro itu pertama sampai di dekat heli. Namun dia tak segera naik, dia menunggu yang lain. Yang pertama naik adalah Kopral Jock Graham, kemudian Sersan Tim Smith, kemudian si Bungsu. Baru dia menyusul.
“Lengkap! Go.. go.. go…!!” seru sersan penjaga mitraliur di bagian kanan setelah semuanya naik.
Seiring dengan melambungnya heli itu dengan cepat ke atas, terdengar suara.
“Hallo, Bungsu. Welcome home…!”

Si Bungsu kaget mendegar panggilan itu. Dia menoleh ke arah orang yang menyapanya, yang tak lain dari pilot heli itu. Meski dia memakai helm pilot, namun si Bungsu mengenalnya dengan baik.
“MacKenzie…” seru si Bungsu sambil mengulurkan tangan, disambut dengan salaman yang kukuh dan hangat oleh suami Michiko itu.

Dalam Neraka Vietnam-bagian-717
Kemudian mereka menumpahkan perhatian pada pelarian itu. Sebab, sesaat setelah mereka bersalaman, mereka mendengar tembakan dan melihat perluru seperti kembang api menyembur-nyembur dari dua heli yang lain ke arah depan mereka. Saat itu keempat pelarian itu baru menyadari bahwa selain heli yang mereka naiki masih ada dua heli lain yang mengawal.
“Sir, ada empat pesawat tempur memburu kita…” ujar co-pilot yang mendampingi MacKenzie.
“Yap, kita layani!” ujar MacKenzie sambil membuat manuver tajam ke kanan menghindari terkaman peluru yang amat jelas kelihatan datangnya dalam kegelapan malam.

Tak jelas apa jenis pesawat yang memburu mereka. Tapi kini ketiga heli itu saling sama-sama menyerang, menghindar dan melindungi. Mereka tak lagi memper dulikan kemana arah mereka. Yang penting mereka menghindar, atau balas menembak sambil terbang berputar atau melambung ke kiri, ke kanan, berbalik ke belakang. Sampai suatu saat sebuah ledakan dan bola api besar terlihat di samping kanan mereka.

“Cobra kena, hancur…!” ujar co-pilot Mac­Kenzie.
Namun pada saat yang bersamaan, dua buah pesawat tempur yang sedang menyembur-nyemburkan peluru ke arah mereka, yang berada di bahagian depan kiri dan kanan mereka, terlihat menjadi bola api. Yang satu ditembak MacKenzie, yang satu lagi ditembak heli pengawal yang tersisa. MacKenzie menembak sambil meliuk-liukkan terbang helinya.
“Shit, kita kena…!” ujar MacKenzie setelah terasa sebuah guncangan kecil.
“Ya, kita kena…!” seru co­pilot.

Sekilas keempat pelarian itu melihat asap putih menyembur dari bahagian bawah hidung heli. Namun setelah itu tak ada serangan apapun. Kedua pesawat Vietkong yang tersisa lenyap dari udara.
“Mereka menghindar karena tadi kita bertempur di atas wilayah Kamboja…” ujar MacKenzie.
“Kita juga harus menghindar, Sir…” ujar co­pilot.
“Tenang, Panglima AU-nya junior saya waktu di West Point…” ujar MacKenzie.

Belum habis ucapannya di radio terdengar perintah untuk menjelaskan identitas mereka dari pesawat Angkatan Udara Kamboja. Hanya selang beberapa saat, dua pesawat pemburu Kamboja sudah berada di bahagian kiri kanan mereka. MacKenzie menjelaskan mereka AU Amerika, dan sebelum dialog berlanjut dia langsung saja menyapa Panglima AU Kamboja, sambil menjelaskan siapa dirinya dan posisi rumitnya saat ini karena pesawatnya kena tembak. Hal itu dia lakukan karena dia yakin Panglima itu sedang memonitor pembicaraan antar-pilot pesawat tempur yang sedang di udara itu.

Hal itu dipastikan, karena negara manapun yang dimasuki pesawat tempur asing tanpa konfirmasi pasti dilaporkan langsung kepada Panglima AU-nya. Panglima AU Kamboja yang empat tingkat di bawahnya saat di West Point, kalang kabut dan membuat rencana kilat untuk membantu. Dia memberi petunjuk agar MacKenzie mendaratkan pesawatnya di sebuah bekas lapangan Angkatan Udara negara yang bernama asli Kampuchea itu. Dia segera mengirim teknisi dan mobil tangki bahan bakar. Kerja kilat sepuluh teknisi dan mengisi bahan bakar itu selesai menjelang subuh.

Saat kedua heli itu kembali mengudara, tiga pesawat tempur Kamboja mengiringi seolah-olah “mengusir” heli Amerika itu dari wilayahnya. Dalam waktu singkat lima pesawat itu lenyap dalam kabut subuh. Heli itu terlebih dahulu digiring ke arah selatan, ke arah Teluk Siam. Setiba di atas Laut Cina Selatan lalu melambung ke kiri, ke arah Philipina. Di perairan internasional baru kedua heli itu “dilepas”, namun tetap diawasi kalau-kalau disergap pesawat tempur Vietkong. Setelah dirasa aman, barulah pesawat tempur kamboja balik ke pangkalannya. Usailah skenario yang “dirancang” Panglima AU Kamboja itu dengan Thomas MacKenzie, senior yang dia hormati saat di Akademi Militer Amerika dulu.

Ketika mereka turun di helipad, tempat pendaratan heli di USS Alamo, mereka benar-benar disambut dengan upacara yang istimewa. Si Bungsu heran, karena orang-orang yang dia kenal ada di kapal perang itu. Ada Alfonso Roger, multi­milyuner yang “membayarnya” untuk mencari anaknya Roxy Rogers. Ada Jhon McKinlay, pahlawan Hamburger Hill teman Alfonso. Ada Kolonel Eddie MacMahon, perwira SEAL yang dia bebaskan bersama Roxy. Ada Le Duan dan… Ami Florence!
“Hai, Ami. Senang bertemu kembali denganmu…” ujar si Bungsu saat mereka tegak bertatapan dalam jarak sedepa.

Dalam Neraka Vietnam-bagian-718, KLIK DISINI


8 responses to “Dalam Neraka Vietnam-bagian-716-717

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: