Dalam Neraka Vietnam-bagian-711-712-713


Dalam Neraka Vietnam-bagian-711
istri berselingkuhSebenarnya, kalau pun dia membawa senjata, belum tentu apa yang dia ucapkan akan terjadi. Bahwa dia akan menembak mati lelaki yang menyerongi isterinya itu. Sebab, saat dia menangkap basah kedua orang itu, Smith tak sempat menghajar lelaki yang meniduri isterinya di kamar hotel tersebut. Dia hanya tertegak mematung. Dia tak yakin bahwa isterinya akan berselingkuh seperti itu. Dia masih tegak mematung di pintu kamar yang jebol dia tendang sampai polisi militer datang. Dia, isterinya dan lelaki teman sekantor isterinya itu dibawa ke kantor polisi militer.

Dari pengakuan isteri dan teman kencannya itu kepada polisi militer, terungkap bahwa perbuatan tak senonoh itu sudah mereka lakukan tiga kali seminggu selama dua tahun. Hampir selama Smith berada di kancah perang Vietnam. Mendengar pengakuan kedua orang itu, Smith merasa sangat terpukul. Ketika dia menyabung nyawa di medan perang, dalam belantara yang amat ganas di Vietnam, isterinya hampir setiap malam menyerahkan tubuh dan kehormatannya pada lelaki lain. Saat dia dihujani peluru, atau sedang diburu tentara Vietnam, isterinya ternyata tengah mengumbar nafsu. Ketika dia berada di antara mayat rekan-rekannya yang bertumbangan satu demi satu, di Amerika isterinya sedang bermandi keringat mendengus-dengus dalam dekapan lelaki lain. Padahal, kemana pun dia pergi, foto mereka bertiga, dia-isteri-anaknya, selalu setia dalam dompetnya

. Hampir setiap hari dia melihat foto tersebut dengan sepenuh rindu. Siapa menduga, pada saat-saat seperti itu, isterinya ternyata menikmati hari-harinya dengan gejolak birahi tak terkendali. Smith merasa dunianya benar-benar tenggelam. Dia tak mampu berkata sepatahpun. Bahkan ketika polisi militer bertanya apakah dia akan menuntut atau tidak, dia hanya menunduk lemah. Kemudian berdiri. Menatap sesaat pada lelaki yang telah ratusan kali menyebadani isterinya itu. Lelaki itu menunduk. Tak berani menatapnya. Kemudian ditatapnya isterinya yang sedang menangis terisak-isak. Hanya sesaat dia tatap. Kemudian dia melangkah keluar. Tawaran polisi militer untuk mengantarkannya pulang ditolaknya. Dia pulang naik taksi. Di rumah dikemasinya pakaiannya dan pakaian anak lelakinya yang berusia tiga tahun.

Kemudian dia pergi. Dia pulang ke rumah orang tuanya. Dititipkannya anaknya itu di sana. Ketika ibu dan ayahnya bertanya apa yang terjadi, dia hanya menarik nafas. Menatap penuh perasaan hiba kepada anaknya. Kemudian menjawab pertanyaan si ibu sekadarnya, bahwa perkawinannya sudah berakhir. Dia tak menceritakan sepatah pun apa yang telah dilakukan isterinya. Kemudian dia menghabisi hari-harinya di bar. Minum sampai mabuk, tidur di jalanan. Suatu malam dia dirampok segerombolan pemuda. Ada tujuh orang jumlahnya. Ketika dia tak mau menyerahkan dompet, jam dan cincin kawin yang masih dia pakai, ketujuh pemuda itu menghajarnya sampai babak belur. Aneh, kendati dia bisa melawan, namun dia tak melawan sedikit pun. Sebagai tentara aktif yang baru seminggu dari medan perang Vietnam, dia masih memiliki naluri seperti hewan liar dan kemampuan tarung individual yang tak bisa dikatakan rendah. Namun Smith seperti membiarkan dirinya dihajar. Hidung, mulut dan matanya berdarah. Semua uang, jam dan cincinya disikat. Dia sadar di rumah sakit.

Sekeluar dari rumah sakit, dia ke markas minta cutinya diakhiri dan segera minta dikirim kembali ke Vietnam. Dia bertemu dengan PL Cowie, yang saat itu masih berpangkat sersan dan menjabat komandan regunya. Mereka bertemu di markas sehari sebelum diberangkatkan kembali ke Vietnam. Ketika Cowie bertanya apa yang terjadi, Smith hanya menatap kosong, seperti orang yang tak punya semangat untuk hidup. Kemudian dia meninggalkan Cowie. Cowie mendengar apa yang menimpa Smith dari perawat di rumah sakit. Esoknya Cowie mendatangi rumah Smith. Namun di rumah itu yang ada hanya isteri Smith yang sedang duduk menangis. Dan perempuan itu, yang kesadarannya datang sangat terlambat, mengatakan bahwa dia sudah berpisah dengan Smith. Hanya itu. Dia tak bercerita apa penyebabnya.

Ketika Cowie datang ke markas, dia mendapat kabar bahwa paginya Smith sudah berangkat ke Vietnam, bersama pasukan yang mendapat giliran tugas di sana. Sersan Negro itu menemui dua anak buahnya yang sama-sama masih dalam cuti dengannya. Dia ceritakan apa yang dialami Smith. Kemudian mereka mulai mencari dimana peristiwa itu terjadi. Tak begitu sulit bagi mereka menemukan gerombolan tujuh anak-anak muda berusia antara dua puluh sampai tiga puluhan itu. Seorang anak muda yang menjadi saksi mata saat perampokan itu memberitahu mereka pada suatu malam, bahwa ketujuh anak muda itu berada di sebuah bar. Mereka masuk duluan ke bar yang penuh oleh pengunjung itu. Tak lama kemudian anak muda yang jadi saksi itu, memberi isyarat dengan sudut mata ke sebuah meja.

tikamsamurai,Dalam Neraka Vietnam-bagian-712
Di sana ada tujuh anak muda berambut panjang dan pakaian semaunya, bersama empat cewek yang nyaris tanpa pakaian. Cowie dan ke dua anak buahnya mendatangi meja itu. “Halo….” sapa Cowie. Ke tujuh anah muda itu melihat yang menyapa mereka seorang Negro berambut pendek. Kemudian ada dua lelaki kulit putih yang juga berambut pendek. “Niger, apa maumu…?” ujar salah seorang yang bertubuh kekar. Salah seorang anak buah Cowie berpangkat kopral hampir saja memulai menghajar lelaki itu. Namun Cowie memberi isyarat untuk jangan memulai dulu

. “Kami mencari seorang rekan. Kabarnya kalian pernah bertemu dengan dia seminggu yang lalu…” ujar Cowie. “He Niger! Enyah segera dari sini, aku tak tahan baumu yang busuk. Kau pergi atau kuhancurkan hidungmu…” ujar anak muda itu petentengan. Kemudian seusai bicara, dengan brutal dia mengecup dada montok cewek di pangkuannya. Demikian bernaf sunya dia, sehingga ketika mulutnya beranjak dari dada wanita itu, di pangkal dada yang putih dan membukit tersebut kelihatan warna merah ke hitam-hitaman. Cowie mengambil sesuatu dari kantong bajunya. Kemudian mengeluarkan foto Smith berpakaian dinas ukuran 4 x 6. “Kalian mengenal teman kami ini?” ujar Cowie menyodorkan foto itu ke meja. Si lelaki kekar, tanpa menatap foto itu segera saja menancapkan sebuah pisau besar ke foto yang baru beberapa detik diletakkan Cowie di meja. Dan itu adalah awal keributan. Lelaki itu jelas lebih besar dari Cowie. Namun tangan kiri Cowie segera menjambak rambutnya. Lalu tangan kanannya menghajar mulut dan hidung lelaki itu dengan pukulan berkali-kali. Enam bajingan lainnya belum sempat berdiri, ketika mereka disikat habis-habisan oleh teman Cowie.

Bar itu segera berubah menjadi kancah baku tinju antara sesama pengunjung. Akhirnya sepuluh polisi militer datang. Tentu saja mereka segera mengenal Cowie. Karena Cowie memang dikenal secara luas di antara tentara di kota itu. Cowie menceritakan secara singkat kenapa keributan itu terjadi. Ke tujuh pemuda itu, yang semuanya sudah babak belur, digelandang ke kamp polisi militer.

Pada si lelaki kekar yang hidungnya remuk dan giginya copot tiga buah dihajar Cowie, ditemukan dompet dan jam Smith. Mereka lalu dihajar habis-habisan oleh polisi militer. Kemudian semua bajingan tengik itu dijebloskan ke sel tentara. Setelah masa cutinya habis dan kembali bertugas ke Vietnam, Cowie tak bercerita apapun pada Smith. Kedua teman Smith yang ikut menghajar ketujuh orang itulah yang bercerita. Semula tak ada reaksi apapun dari Smith. Dia berubah jadi sangat pendiam. Namun ketika nyawanya diselamatkan Cowie dari ledakan granat dalam suatu pertempuran, Smith akhirnya tunduk. Dia mendatangi komandannya itu menyampaikan terimakasih.

Kisah tentang isteri Smith itu dituturkan Cowie pada larut malam, tatkala Smith sedang tidur mendengkur. Si Bungsu menarik nafas panjang mendengar cerita tersebut. Jock Graham yang ikut mendengar cerita itu hanya termangu. Perang Vietnam memang tidak hanya merobek-robek negeri dan bangsa Vietnam. Perang dahsyat itu juga menimbulkan berbagai krisis di Amerika. Baik di pemerintahan, maupun di kalangan rakyatnya. Di kalangan pemerintahan bukannya rahasia lagi, kalau tak semua mereka yang di Gedung Putih setuju Amerika terlibat dalam perang di Vietnam. Di kalangan rakyatnya, terutama di kalangan para prajurit yang dikirim ke Vietnam, berbagai masalah juga timbul. Masalah hancurnya rumah tangga ratusan prajurit, sebagaimana dialami Smith, adalah persoalan yang tak mudah dicarikan jalan keluarnya. Belum lagi soal pengangguran. Sebahagian besar tentara yang dikirim ke Vietnam adalah anak-anak muda yang terkena wajib militer.

Persoalan timbul setelah mereka kembali dari Vietnam, kemudian masa dinas wajib militernya berakhir. Amat sedikit sekali jumlah wajib militer yang bisa diterima menjadi tentara reguler setelah masa wajib dinasnya usai. Mereka yang selamat keluar dari perang Vietnam umumnya mengalami sindroma pasca perang. Kekerasan di medan perang dalam bentuk sikap “dibunuh atau membunuh” dalam menghadapi ancaman, menyebabkan mereka tak segera bisa menerima perlakuan tak adil di tengah masyarakat. Para bekas wajib militer ini sebahagian menjadi penganggur, sebahagian menjadi buruh kasar, sebahagian mencoba berusaha apa saja. Sebahagian lagi justru ada yang menjadi bandit.

Namun secara umum, para veteran Perang Vietnam menganggap mereka diperlakukan pemerintah dengan sikap ‘habis manis sepah dibuang’. Untuk memperlihatkan bahwa Amerika adalah negara superkuat, polisi dunia dan berbagai simbol kehebatan lainnya, pemerintah mewajibkan seluruh pemuda yang sudah dewasa untuk mengikuti wajib militer. Sebelum diterjunkan ke medan perang mereka diindoktrinasi. Kepada mereka ditanamkan keyakinan bahwa Vietnam Utara yang mereka perangi adalah komunis yang bukan hanya musuh Amerika, tetapi juga musuh dunia. Itu berarti tentara Amerika tidak hanya menyelamatkan Amerika, tetapi sekaligus menjadi pahlawan bagi bangsa-bangsa sedunia. Belasan ribu tentara Amerika terbunuh dalam perang panjang yang amat kejam dan keji itu. Sebahagian besar di antaranya adalah anak-anak muda berusia tujuh belasan sampai 20-an tahun. Sebahagian lagi pulang membawa cacat tubuh permanen, yang takkan bisa baik seumur hidup, betapapun canggih dan tingginya ilmu dan teknologi Amerika.

Mereka, termasuk sebahagian lagi yang selamat fisik namun pulang dengan tekanan mental, mendapatkan diri mereka tak dihargai sama sekali. Baik oleh masyarakat maupun oleh pemerintah yang semula menyanjung-nyanjung mereka. Mereka benar-benar merasa diperlakukan sebagai tebu, yang habis manis sepah dibuang. Lama keadaan menjadi sunyi di dalam goa di balik air terjun itu, usai Cowie menuturkan apa yang dialami Smith. Si Bungsu menatap air terjun yang seperti selendang yang seolah-olah menjadi tirai menutupi pintu goa di mana kini mereka berbaring. Goa itu terasa panas, karena Cowie membawa bara api unggun yang sore tadi mereka buat di luar sana. Bara api itu kemudian mereka tambah dengan dahan-dahan kering. Lama-lama kayu itu ikut terbakar.

Dalam Neraka Vietnam-bagian-713
Dengan cara seperti itu, goa itu tidak hanya menjadi terasa hangat tetapi juga tak bernyamuk. Di bara yang menyala itu Smith dan Jock Graham membakar daging rusa. Kendati sudah dua hari mereka makan daging rusa yang ditimpuk si Bungsu itu, ternyata masih saja banyak yang tersisa. Selain itu, Cowie menebang tiga batang pisang emas yang buahnya sudah masak. Kemudian mengumpulkan sekitar sepuluh buah durian besar-besar. Sebelum tidur mereka duduk atau berbaring di sekeliling api unggun. Bercerita sambil mengunyah daging rusa panggang.

Kemudian memakan cuci mulut berupa pisang atau durian. Jika memerlukan air minum, mereka melangkah ke air terjun. Lalu mengangakan mulut lebar-lebar. Dalam waktu beberapa detik air jernih dan bersih akan masuk satu atau dua drum ke dalam perut mereka. Waw, nikmatnya bukan main!
Bagi mereka tak ada lagi soal akan kena penyakit disentri atau menceret karena minum air mentah. Tubuh mereka sudah kebal terhadap hal seperti itu. Ketika berada di lobang sekapan maut itu dulu, sekali dua mereka sempat meminum air bercampur lumpur, kotoran dan bekas mayat menga pung.Jika sekarang mereka meminum air terjun yang mengalir dari pengunungan, tentu saja air itu bersih bukan main, dibanding yang mereka minum di lobang penyekapan dulu. Begitulah mereka melewatkan hari-hari di “sorga” dekat air terjun itu.

Suatu hari, malam sudah agak larut. Smith masih terdengar dengkurnya. Jock Graham, Cowie dan si Bungsu masih terlibat dalam pembicaraan berbagai hal. Namun yang banyak bicara adalah Co­wie dan si Bungsu. Jock Graham lebih banyak berbaring mendengarkan.
“Engkau sudah punya isteri, Bungsu…?” tiba-tiba kesunyian dipecahkan oleh pertanyaan Cowie.
Si Bungsu yang tengah menatap tirai air terjun sekitar lima depa dari tempat mereka berbaring agak terkejut mendengar pertanyaan itu. Padahal sudah dia jelaskan kemarin atau dua hari yang lalu.
“Belum…” jawab si Bungsu perlahan setelah berdiam diri beberapa saat.
“Dengan kemahiran beladiri yang amat tangguh seperti engkau, kawan, apa sebenarnya yang kau cari…?” tanya Cowie pelahan.

Lama si Bungsu tak bisa menjawab pertanyaan Cowie. Sebab pertanyaan seperti itu tak pernah dia fikirkan sebelumnya. Dan kini, tatkala ada yang bertanya dia sungguh-sungguh tak bisa menjawab. Ya, apa yang dia cari? Dengan atau tanpa ilmu beladiri, apa yang dia cari dengan meng habiskan waktu dan umur berkelana dari satu ke tempat yang lain, dari sebuah negara ke negara lain? Bayangan Reno Bulan, bekas tunangannya yang kini menjadi isteri Sutan Pilihan, yang sebelumnya hidup sebagai tukang salung, kini bertoko kain batik di Bukittinggi, datang membayang.

Mei-mei yang meninggal diperkosa Jepang di Bukittinggi, sesaat sebelum mereka menikah. Salma, orang yang dia kasihi yang kemudian menjadi isteri Overste Nurdin sahabatnya. Hanako, adik Kenji yang menjadi menantu Tokugawa, bekas kepala Yakuza Tokyo. Michiko yang dia cari sampai ke Dallas dan ternyata menikah dengan Thomas MacKenzie. Angela, polisi Dallas yang membantunya membalas dendam pada geng iblis Ku Klux Klan. Ami Florence, mata-mata Amerika di Kota Da Nang. Thi Binh, gadis desa yang cantik dan Roxy Rogers, anak milyarder Alfonso Rogers yang dia bebaskan dari goa di bukit cadas Vitenam. Semua melintas seperti berlarian dalam fikirannya.

“Awalnya saya hanya mencari orang yang pembunuh keluarga saya…”
“Untuk membalas dendam?”
“Ya….”
“Kau berhasil?”
“Ya dan tidak…”
“Kenapa ya, kenapa tidak?”
“Ya, karena dia saya kalahkan dalam pertarungan samurai. Tidak, karena meski dia saya kalahkan tapi dia tidak saya cederai sedikit pun. Namun hanya beberapa saat setelah saya tinggalkan, dia bunuh diri. Di Jepang disebut seppuku, harakiri….”
“Setelah itu..?”
“Setelah itu… di sinilah saya sekarang….”
“Pernah menikah sebelum atau sesudahnya…?”
“Tidak….”
“Kenapa…?”
“Karena mungkin ada kutukan atas diri saya….”
“Apa penyebab kutukan itu?”
“Sewaktu masih amat remaja, saya melemparkan cincin pertunangan di depan keluarga tunangan saya….”
“Jangan percaya soal tahayul, tak ada kutukan begitu….”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: