Dalam Neraka Vietnam-bagian-706-707-708


Dalam Neraka Vietnam-bagian-706
buah rukamKini keempat mereka sudah berkumpul. Ketika ditanya mengapa secepat itu dia bisa menyusul, si Bungsu bercerita ala kadarnya. Semula, beberapa saat setelah dia menyuruh ketiga orang itu melarikan diri arah ke barat, dia bertahan di balik sebuah pohon besar yang tumbang. Dari sana dia menembaki tentara Vietnam, untuk mengalihkan perhatian mereka. Saat akan pergi dari kayu besar tempat dia bertahan itu, tiba-tiba saja perutnya memilin-milin. Kalau saja sabut dimasukkan ke perutnya yang memilin-milin itu, hampir bisa dipastikan akan dihasilkan tali yang alot, saking kuatnya perutnya memilin. Di antara tembakan yang dar…dor… der… darrrr…. dia teringat baru saja memakan buah rukam yang ranum. Rukam yang batangnya penuh duri itu buahnya persis buah anggur.

Hanya bedanya, jika anggur manis, maka rasa buah rukam berbaur antara sepat, asam dan manis. Yang paling mendominasi di antara ketiga rasa itu tentu saja sepat dan asam. Manisnya hanya sedikit, sekedar pelepas tanya. Karena lapar, apalagi semasa di Gunung Sago dulu buah rukam adalah menu makanannya setiap hari, maka dia segera saja memetik belasan buah tersebut. Sambil berlindung dari incaran tentara Vietnam, dia menikmati buah rukam itu. Eh, akibat terlalu banyak makan buah rukam perutnya menjadi memilin-milin. Dia sudah akan melangkah ke batang kayu besar tempat dia berlindung. Namun pilin perutnya sungguh kalera. Tak mau kompromi. Perutnya seolah-olah berpihak pada tentara Vietnam. Apa boleh buat, sambil membalas tembakan dua kali ke sembarang tempat. Dia lalu melorotkan celana. Lalu mencongkong. Ketika ada balasan tembakan. Dia merunduk di balik batang tumbang itu. Diangkatnya bedilnya ke atas kayu, sambil menunduk dua tiga kali. Kemudian kedua bedil yang sudah habis pelurunya itu dia sandarkan ke kayu besar tersebut. Lalu dia pergi ke sungai kecil itu, cebok di sana.

Di antara cecaran tembakan dari tentara Vietnam, dia kembali memakai celananya. Lalu, dalam kegelapan tersebut dia naik ke kayu besar yang tumbang itu. Dengan amat mudah dia berjalan ke bahagian ujung. Di sana ada sebuah pohon besar, dengan beberapa akar besar menjulai ke bawah. Ditariknya akar itu, dia memejamkan mata. Lalu tiba-tiba dengan bergantung di akar besar itu, tubuhnya melayang ke arah barat, melewati sela-sela batang kayu yang tumbuh rapat sekali di belantara tersebut. Beberapa orang tentara Vietnam mendengar suara mendesis di atas kepala mereka. “Kelelawar atau enggang…” bisik hati mereka.

Padahal, kalau saja hari sedikit terang, mereka mungkin akan ternganga. Sebab suara mendesis itu bukan enggang, apalagi kelelawar. Yang melintas di atas batok kepala mereka justru salah seorang dari empat pelarian yang mereka buru! Si Bungsu mirip tarzan yang berayun dari pohon ke pohon dengan mempergunakan akar, yang lazimnya disebut sebagai akar angin. Kendati hanya sekali bisa memanfaatkan akar kayu itu, namun akar kayu itu telah membawanya keluar dari kepungan tersebut. Dia meninggalkan kepungan dengan sekaligus mening galkan seungguk “induk kentut” yang esoknya membuat komandan Vietnam yang melakukan pengepungan menjadi murka.

Dengan pengalamannya selama bertahun-tahun hidup di belantara Gunung Sago, dia tahu kapan ayunan akar kayu itu akan berhenti. Ketika ayunan akar itu dia rasa melemah, tangan kirinya masih memegang akar itu agar tubuhnya tak jatuh seperti goni buruk ke tanah. Sementara tangan kanannya menggapai ke sisi, mencari dahan atau pohon yang bisa dipegang. Tangannya menangkap dahan yang lumayan besar. Tubuhnya bertahan di sana. Untuk sesaat tubuhnya masih berada di dahan yang baru dia pegang. Lalu akar pohon yang baru dia pergunakan untuk meloloskan diri itu dia ikatkan ke dahan di mana tangan kanannya kini berpegang. Dengan demikian, akar itu tak kembali ke tempat awal. Hal itu perlu, sebab kalau akar itu kembali ke tempat semula, pencari jejak andal yang biasanya dimiliki tiap pasukan Vietnam, dengan mudah bisa melacak bagaimana dan kemana dia meloloskan diri. Dalam kegelapan dia naik dan menelungkup di dahan yang besarnya sebesar betis lekaki dewasa tersebut.

Bertahan dengan diam dan memusatkan konsentrasi. Dia mendengar tentara yang gelisah diserang nyamuk jauh di utara sana. Jarak antara dia dengan tentara terdekat dia perkirakan sekitar dua puluh meter. Itu berarti ayunan akar kayu itu sudah mengantarnya ketempat lain sejauh lebih kurang tiga puluh meter, kemudian dia mencari jalan untuk segera turun. Setelah itu mulai melangkah meninggalkan tempat tersebut. Dalam waktu tak begitu lama dia berhasil menemukan tempat di mana dia meninggalkan Cowie, Jock dan Smith. Dia bisa menemukan setiap jejak yang di tinggalkan ketiga orang tersebut. Menjelang siang dia memanjat sebuah pohon besar dan tinggi. Dari pohon itu dia memandang ke arah dari mana dia datang. Melihat kalau-kalau tentara Vietnam itu menyusul. Ada sekitar satu jam dia di pohon besar dan rindang itu, namun tak ada gerakan apapun yang dia lihat.

tikamsamuraiDalam Neraka Vietnam-bagian-707
Tentara Vietnam memang meneruskan pemburuan nya. Namun mereka terpaksa bergerak amat lambat, karena sulit menemukan jejak para pelarian. Kesulitan itu muncul karena sebahagian besar hutan itu adalah hutan dengan rawa yang dalam. Jejak yang ditinggalkan pelarian dapat dilihat dengan jelas.

Namun untuk memburu orang-orang itu di dalam rawa, yang kadang-kadang kedalamannya mencapai setinggi kepala itu, menyebabkan gerak maju mereka sangat lamban. Hardik dan berang si letnan, agar pasukan bergerak cepat tak ada gunanya.
Cowie Smith dan Jock Graham tertawa terkekeh-kekeh mendengar penuturan si Bungsu. Terutama saat si Bungsu menceritakan betapa dia terpaksa membalas tembakan tentara Vietnam sambil jongkok berlindung sekaligus terberak-berak di balik kayu besar, akibat perutnya memilin-milin karena kebanyakan memakan buah rukam tersebut.

Mereka memutuskan untuk beristirahat satu atau dua hari di goa di balik air terjun itu guna memulihkan tenaga yang benar-benar berada di bawah titik nol akibat dikurung sekian lama di lobang berair busuk tersebut. Mereka tak usah takut kelaparan. Tak lama setelah mereka bertemu, si Bungsu memungut beberapa kerikil. Kemudian tegak di tepi sungai yang airnya amat jernih itu. Menatap ikan-ikan besar berlalu lalang seperti di dalam akuarium saja. Ketiga tentara Amerika itu tak faham apa yang akan diperbuat si Bungsu dengan batu-batu kerikil sebesar ibu jari tersebut.

Sampai suatu saat si Bungsu melemparkan batunya ke air. Tak lama kemudian, dua depa ke bahagian hilir, mereka melihat seekor ikan baung sebesar betis lelaki dewasa mengapung dengan kepala pecah. Sekali lagi si Bungsu melemparkan batu kerikil di tangannya. Namun lemparan itu nampaknya luput. Dia melempar sekali lagi, dan kali ini yang mengapung adalah seekor ikan lele yang besarnya yang sama dengan ikan baung pertama. Ketiga tentara Amerika itu ternganga melihat keahlian yang belum pernah mereka temukan seumur hidup itu.

Bagaimana mungkin orang memiliki keahlian dan tenaga yang demikian besar. Yang kekuatan lemparannya tetap tak berkurang setelah menembus air, dan mampu mengenai serta membunuh seekor ikan?
“Pukimak! Pantat orang ini pasti berkurap banyak. Kalau tak berkurap dia takkan punya kepandaian demikian tinggi…” ujar Smith menyumpah panjang pendek.
Sumpah-serapahnya yang tak berketentuan itu tidak hanya membuat Cowie dan Jock yang tertawa, tapi juga si Bungsu. Si Bungsu membuka celananya. Kemudian menungging ke arah Smith. Lalu terjun ke air diiringi tawa Cowie dan Jock Graham.
“Banyak kurap di pantatnya, Smith…?” ujar Cowie yang sampai berair matanya karena tertawa melihat Smith ditunggingi si Bungsu.
“Tidak hanya kurap, tapi juga sipilis. Orang ini rupanya kena induk sipilis…” ujar Smith yang merasa jengkel ditunggingi oleh si Bungsu.

Si Bungsu yang sudah berenang dan melempar bajunya ke pasir, tak dapat menahan tawanya. Dia mengacungkan jari tengahnya ke arah Smith. Sebuah tindakan yang bagi orang Amerika dianggap memaki dengan kasar. Smith tetap saja masih menggerutu dia memunguti dua ekor ikan yang terbunuh oleh lemparan si Bungsu. Kemudian melempar kannya kepada Jock Graham.
“Hei koki pantat kurap, masak ikan ini! Jenderalmu ini sudah lapar….” ujarnya kepada Jock Graham.
“Jenderal emaknya sipilis…” ujar Jock Graham sambil memunguti ikan tersebut.
“Bukan aku yang induk sipilis. Itu si Bungsu itu. Saya lihat pantatnya tadi penuh ulat. Kita jangan ikut-ikut mandi di sungai ini. Sungai ini sudah tertular virus sipilis…” ujar Tim Smith.

Usai berkata begitu, Smith melangkah ke arah dua buah durian yang tadi mereka ambil. Lalu membelahnya dengan bayonet. Lalu memakan isinya dengan lahap. Atas pertanyaan Cowie, si Bungsu memastikan tentara Vietnam yang memburu mereka takkan sampai kemari.

“Saya dua kali mengintai mereka. Terakhir mereka kehilangan jejak setelah melewati rawa besar dan dalam yang kalian lewati itu. Untung rawa itu airnya mengalir, sehingga jejak yang kalian tinggalkan lenyap bersama arus. Dua orang pencari jejak di pasukan itu kebingungan menentukan ke mana harus melanjutkan pengejaran. Jika mereka tak menemukan jejak kalian di seberang rawa, untuk memutuskan kembali ke jejak awal di rawa dangkal sebelum kalian memasuki rawa dalam itu, mereka memerlukan paling tidak waktu empat atau lima hari…” tutur si Bungsu.
Persoalan muncul ketika membakar ikan tersebut. dengan apa ikan itu dibakar. Mereka tak punya korel api. Cowie mencoba menghidupkan api dengan menggesekkan dengan kuat buah buah batu.

Dalam Neraka Vietnam-bagian-708
Namun api tak kunjung menyala.Pukulan dan gesekan batu itu tak
menimbulkan percik api sedikitpun.Si Bungsu memilih sebuah dahan yang
sudah sangat kering.Lalu mengambil serat batang pisang,serat batang pisang
itu dia belah sehingga membentuk sebuah tali.Kayu kering itu dia lobangi
sedikit dengan bayonet.Kemudian sebuah dahan yang lebih kecil dia
runcingkan.

Dahan runcing itu dia lilitkan beberapa kali lilitan dengan serat batang pisang
tersebut.Kayu yang dia lobangi dia letakkan di pasir.Kemudian kayu runcing
sebesar pena itu dia masukkan ke lobang kecil di kayu itu.Dia suruh Cowie
memegang kayu yang di pasir.Smith dia suruh mencari rumput kering dan
meletakkannya di sekitar lobang kayu tersebut.Ujung kayu yang dia runcingkan
dia suruh tekan oleh Jock.Lalu tali serat pisang yang melilit kayu runcing itu,dia
tarik ke kiri dan ke kanan.Kayu itu terputar sedikit.Dia tarik lagi ke kiri dan ke
kanan,makin lama putaran kayu itu makin laju.

Mula-mula gesekan kayu yang runcing di lobang itu menimbulkan asap.Si
Bungsu semakin mempercepat tarikan di kedua ujung tali pisang
tersebut.Percik api mulai memakan rumput kering itu.Smith sampai berteriak
saking kagumnya,lalu menambahkan rumput kering dengan jumlah banyak
dan Jock Graham meletakkan beberapa ranting kecil.

Si Bungsu menarik nafas.Dia teringat ketika membuat apai dengan cara yang
sama ketika di tepi rawa bersama Thi Binh,Duc Thio dan Han Doi.Kini api
menyala besar karena kayu-kayu kering di tambah terus oleh Jock Graham dan
Smith.Di api yangg menyala itu mereka membakar ikan.Harum nya ikan bakar
itu sangat kuat.Si Bungsu lalu berjalan ke dalam hutan takjauh dari sungai
itu.Dia memilih beberapa daun.Kemudian dia remas di sungai.Air remasan itu
dia tetskan ke ikan yang sedang di bakar api unggun.

“Hei,apa itu mariyuana?”asal Smith asal nyerocos.
Si Bungsu tak menyahut.
“Hei,kau akan meracuni kami ya..”ujar Smith.
Si Bungsu masih tak menyahut,dia tetap memeras daun itu dan
meneteskannya ke ikan yang di bakar.
“Hei,itu pasti racun,kau pasti mata-mata Vietnam yang pura-pura baik sama
kami,lalu sekarang kamu meracuni kami,begitu ya..”gerutu Smith.
Cowie dan Jock graham terkekeh mendengar kicauan Smith.Si Bungsu mau tak
mau,ikut nyengir.Tentara yang satu memang tak bisa bernafas sebelum
mengusilin orang.

“Daun itu mengandung zat garam…”ketika duduk dekat Cowie.
Apa yang di katakan si Bungsu dapat mereka rasakan ketika memakan ikan
bakar tersebut.Rasanya nikmat sekali,rasanya tak hambar seperti tanpa garam.
“Ikan bakar ini enak bukan karena daun itu,tapi karea kencing.Kau kencingi
ikan itu tadi ya,Jock..”kata Smith yang kembali kumat,sifat usilnya.
“Tapi enak kan air kencing ku,..”ujar Jock,membalas olokan Smith.
“Enak kepalamu…!”ujar Smith.

Si Bungsu harus mengakui,kehadiran Smith di dalam lobang penyekapan itu
cukup membuat suasana meriah.Bagi ketiga tawanan Amerika itu,itulah
makanan ternikmat yang mereka rasakan sejak setahun berada dalam lobang
itu.Tak heran begitu makan selesai mereka segera tertidur bermandi kan
cahaya matahari.Mereka tidur pulas sekali.

Hari kedua si Bungsu melihat jejak rusa tak jauh dari tempat itu.Dia membawa
Smith berburu.Tempat itu mereka datangi dengan berenang perlahan di
sungai,beru kemudian merayap ke darat.
“Hei,apa-apaan ini,rusanya entah ada-entah ..”protes Smith terhenti ketika
melihat isyarat si Bungsu yang berada di depan.

Smith merayap cepat,dan tiba dekat padang dia melongok dan dia
tertegun,melihat tak jauh di depannya terlihat tak kurang sepuluh ekor rusa
sedang merumput.
“Ya Tuhan,apakah tempat ini kebun binatang..?”desisnya.
“Tempat ini tak pernah di tempuh manusia.Makanya mereka datang mencari
makan kesini siang hari.Di tempat yang sudah di tempuh manusia,biasanya
rusa mencari makan malam hari…”bisik si Bungsu.
“Sialan,mengapa kita tak membawa senapan….!”rutuk Smith.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: