Dalam Neraka Vietnam-bagian-704-705


Dalam Neraka Vietnam-bagian-704
air terjunLetnan itu memutuskan meneruskan pengejaran. Dia tahu, pengejaran harus dia lakukan. Sebab dia sudah mendengar perintah komandannya, sebelum berhasil menangkap ke empat pelarian itu mereka tak dibolehkan pulang ke markas!

Letnan Cowie memutuskan istirahat di balik sebuah jeram air terjun. Belantara yang sudah mereka lewati sepanjang dua hari dua malam ini nampaknya benar-benar belum pernah disentuh kaki manusia. Dia dengan teguh menuruti petunjuk si Bungsu, agar menjaga arah pelarian, tetap menuju ke arah barat. Kendati medan yang harus mereka tempuh semakin berat, namun dia tetap mengarahkan jalan ke arah matahari terbenam. Di hari ketiga, menjelang tengah hari mereka sudah meninggalkan belantara yang datar dan berawa. Dari kejauhan mereka melihat bukit-bukit yang menjulang.

Ketika menemui sebuah sungai yang cukup besar dan berair jernih, mereka mengikuti alur sungai itu ke arah hulu. Semakin jauh ke hulu semakin sulit medan yang harus mereka tempuh. Mendaki bukit batu cadas terjal dan menuruni tebing curam. Namun mereka semua yakin, apa yang diucapkan lelaki Indonesia itu tentang helikopter tempur yang menjemput Kolonel MacMahon. Helikopter itu datang dan pergi ke arah barat, ke arah perbatasan Kamboja.

Lewat tengah hari, mereka tiba-tiba menemukan sebuah air terjun dua tingkat yang selain tinggi dan terjal, juga sangat indah. Di bahagian bawah, di mana air terjun itu terhempas, tercipta sebuah danau selebar lapangan bola volli. Di seluruh tepinya adalah hamparan pasir putih yang landai. Sedikit bahagian yang terjal dan berbatu-batu besar ada di bahagian air itu menghujam dari ketinggian sekitar lima puluh meter. Di bahagian itu pula tercipta pelangi yang melengkung dari sisi kanan ke sisi kiri. Seolah-olah sebuah jembatan yang terbuat dari selendang. Sungguh-sungguh teramat indah.

Baik di danau kecil tempat air itu menghujam maupun di sungai yang dalamnya hanya sekitar dua meter, yang mengalirkan air yang amat jernih ke arah danau berpelangi itu, terlihat dengan jelas ikan-ikan mulai dari sebesar telapak tangan sampai sebesar paha lelaki dewasa hilir mudik. Jumlahnya ratusan!

“Ya Tuhan, saya hampir tak yakin bahwa ada tempat yang begini indah di tengah belantara yang belum pernah ditempuh manusia ini…” desis Cowie sembari menatap dengan mulut separuh ternganga ke arah air terjun tersebut.
Lalu ketiga mereka, termasuk Jock Graham yang demamnya sudah benar-benar sembuh, segera mencebur ke sungai dengan dasar pasir yang amat putih itu. Minum air tawar sepuas hati mereka, sembari mencoba menangkap ikan yang kelihatannya seperti jinak-jinak merpati. Smith yang gagal menangkap ikan, segera kumat lagi penyakit bercarut-carut dan sumpah serapahnya. Semua sumpah serapah yang sudah beberapa hari istirahat dari mulutnya, kini berham buran. Dimakinya ikan-ikan sebesar betis yang lepas dan lepas lagi, padahal sudah tersentuh oleh tangannya.

Makian dan sumpah serapahnya sungguh teramat lengkap. Mulai dari ikan berpantat kurap, ikan kena sipilis, ikan pukimak, ikan impoten, ikan panau, ikan mirip beruk, monyet-gorila. Hampir delapan tahun bertugas bersama Smith, Cowie tahu makian anak buahnya itu hanya asbun, asal bunyi. Kegembiraan yang sangat, bebas dari buruan dan berada di tempat yang seolah-olah sebuah sudut sorga di atas dunia ini, menyebabkan mereka semua melupakan segala rasa penat dan rasa takut. Apalagi di bahagian kanan air terjun itu ada hutan pisang emas dan beberapa pohon durian yang buahnya sedang ranum.

Tuhan nampaknya memang melimpahi sepenggal wilayah jauh di tengah belantara Vietnam Selatan itu dengan rahmat yang amat luar biasa. Sebagai tentara yang sudah malang melintang dalam berbagai medan tempur, yang sudah menjelajahi banyak sekali wilayah, Cowie yakin di balik tirai air terjun itu pasti ada tempat yang aman untuk berteduh. Dia segera melangkah ke sana. Dari sisi sebelah timur dia menyelinap di antara air terjun dengan dinding batu.
Benar!

Di belakang air terjun itu ada sebuah goa berbentuk ruangan sekitar tiga kali tiga meter. Lantainya memang tak begitu datar, namun tempat itu merupakan tempat yang luar biasa indah dan nyaman untuk tempat tinggal. Ruangan di balik air terjun itu tak kelihatan dari luar. Tertutup oleh curahan air terjun yang tak putus-putusnya, yang lebarnya sekitar enam meter. Namun dari dalam goa kecil itu pemandangan bisa menembus air terjun tersebut. Semua yang ada di bahagian depan, hamparan pasir empat meter di kiri dan empat meter di kanan sungai kecil tersebut, sejauh lima puluh meter ke hilir sungai kelihatan dengan jelas.
Menemukan sorga di tengah belantara itu, ketiga pelarian tentara Amerika tersebut benar-benar bergembira, memekik-mekik seperti kanak-kanak yang mendapat permainan baru.

“Saya akan membangun istana di sini. Akan cari cewek Vietnam untuk isteri…” ujar Smith.
“Saya akan jadi nelayan. Ikan-ikan ini akan saya kembangbiakan, untuk dijual ke Washington…” ujar Jock Graham.
“Kalau begitu saya akan menjadi eksportir pisang dan durian. Saya akan menjual pisang dan durian ini ke New York dan Hollywood. Agar bintang-bintang film Hollywood tak berkurap pantatnya. Hei, Cowie! Apakah ada bintang Hollywood yang tak berkurap pantatnya…?”

Cowie yang sedang berbaring di pasir putih itu hanya tersenyum. Namun semua kegembiraan itu lenyap tiba-tiba, menguap seperti kabut pagi disergap terik matahari. Begitu Tim Smith usai dengan sumpah serapahnya, tiga tembakan menghajar sekitar tempat mereka. Cowie sampai terlambung saking kagetnya, Tim Smith ternganga dan menggigil di dalam air. Durian di mulutnya sampai terlompat keluar. Jock Graham yang sedang menyusun-nyusun kayu kering untuk perapian membakar ikan, langsung melompat ke balik pohon pisang, tak jauh dari tempatnya tadi menyusun kayu perapian.

tikamsamurai Dalam Neraka Vietnam-bagian-705
Smith tak berani bergerak dari dalam air. Kepalanya saja yang nongol di permukaan air. Matanya liar menatap ke kiri dan kanan. Dia merasa tak ada gunanya lari ke darat, sudah terlambat. Jika dia bangkit, dia akan menjadi sasaran tembak. Cowie berlindung di balik sebatang kayu, tak jauh dari Jock Graham. Suasana tiba-tiba dicekam sepi yang mencekik. Cowie merasa heran, arah tembakan itu rasanya berasal dari goa di balik air terjun. Yaitu tempat di mana mereka meninggalkan dua buah bedil rampasan yang mereka bawa dalam pelarian selama dua hari ini. Tiba-tiba terdengar sebuah suara dari arah air terjun tersebut.
“Hallo…..”

Semua masih terdiam karena terguncang oleh ketakutan yang sangat tiba-tiba. Lalu… di balik tirai air itu, kelihatan seseorang muncul memegang bedil. Begitu melihat orang yang baru menembak mereka itu, yang tak lain dari si Bungsu, terdengar makian Tim Smith bertubi-tubi.
“Pukimak! Sundal! Sipilis! Monyet kurap! Pantat kurap….!”

Cowie dan Jock Graham juga menyumpah panjang pendek. Namun Cowie segera sadar, apa yang dilakukan orang itu adalah peringatan halus pada mereka. Bahwa adalah suatu pekerjaan sia-sia berada di hutan liar ini tanpa bedil. Apalagi meninggalkan bedil di tempat yang jauh dari mereka. Mereka berdiri dan berjalan menyongsong si Bungsu dengan senyum lebar karena lega. Tidak demikian halnya dengan Smith. Dia menyelam, kemudian muncul dengan sengenggam pasir. Pasir itu dia lemparkan ke arah si Bungsu. Berkali-kali dia lakukan hal itu, sambil mulutnya tetap saja bercarut panjang pendek.

Bahkan, dia tetap saja melempari si Bungsu dengan pasir, tatkala Cowie dan Jock Graham memeluk si Bungsu. Ketiga orang tersebut dibuatnya mandi pasir. Tapi akhirnya dia juga tak mau ketinggalan. Dia melompati ketiga orang yang tengah berpelukan itu. Kendati tubuhnya kurus kerempeng, namun akibat terpaan loncatan tersebut semua mereka jatuh saling tindih dan berguling-guling di pasir putih dan landai tersebut, diiringi gelak tawa berderai. Sungguh ini pertemuan yang luar biasa. Mereka tak menyangka akan bisa disusul dan ditemukan si Bungsu secepat itu.

Namun, sebagaimana sudah dijanjikan si Bungsu, dia akan segera menyusul dan menemukan mereka, hal itu bisa dibuktikan kini. Baik Cowie, Smith maupun Jock Graham tak bisa lain dari pada mengakui bahwa orang Indonesia yang sepintas kelihatan “biasa-biasa saja” ini sesungguhnya adalah seorang yang amat luar biasa. Mereka bisa lolos tanpa hadangan sedikit pun dari puluhan tentara Vietnam malam itu benar-benar berkat keahlian orang Indonesia ini mengecoh para pemburu tersebut. Ketika baru berangkat, mereka mendengar tembakan sahut bersahut di belakang mereka.

Cowie mengajak kedua temannya untuk berdoa bagi keselamatan lelaki dari Indonesia itu. Sesaat mereka berhenti dalam kegelapan. Kemudian membaca doa untuk keselamatan orang yang menolong mereka itu, yang kini sedang dihujani tembakan, dan menutup doa dengan tangan mereka membuat tanda salib di kening dada masing-masing. Setelah itu tanpa menoleh lagi, mereka segera merunduk-runduk. Menghindar dari tempat itu secepat dan sejauh mungkin!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: