Dalam Neraka Vietnam-bagian-695-696


Dalam Neraka Vietnam-bagian-695
urat kayu besar“Tetaplah bertahan, Jock. Saya akan buatkan obat untukmu…” ujar si Bungsu. Matanya coba meneliti beberapa dedaunan dan lumut yang bisa dibuat ramuan obat.
Namun baru dua dari empat jenis daun yang harus diperoleh, pendengarannya yang amat tajam mendengar bunyi langkah tak jauh di belakang mereka. Sementara Smith dan Cowie sudah terpisah dari mereka oleh palunan hutan lebat tersebut. Cowie yang berjalan di bahagian depan sekali berhenti dan menoleh ke belakang. Dia merasa ada sesuatu yang tak beres. Dia tidak melihat Jock Graham dan si Bungsu.

“Jock…!!” serunya.
Tak ada sahutan apapun. Sepi sekali. Hanya suara binatang hutan terdengar di mana-mana.
“Bungsu….!!” serunya.
Tetap tak ada sahutan apapun. Sepi dan amat mencekam. Smith yang nafasnya sudah sesak bersandar ke pohon besar. Matanya menatap jalan yang tadi mereka tempuh. Tak ada jalan sebenarnya, karena yang mereka tempuh saat ini adalah belantara lebat yang belum pernah dijejak manusia. Perang Vietnam-Amerika pun, yang berlangsung amat ganas dan bertahun-tahun, tak sampai menjamah daerah ini. Smith maupun Cowie hanya melihat hutan belantara yang maha lebat dan angker. Apa yang terjadi dengan Jock Graham dan si Bungsu?

Mengapa mereka tak menyahuti panggilan Cowie? Saat si Bungsu sedang memetik beberapa lembar daun untuk obat Jock Graham, kemudian mendengar suara langkah tak jauh di belakangnya, dia bergerak cepat ke tempat Jock Graham yang masih tegak bersandar seperti memeluk pohon besar itu. Dia menotok bahagian belakang leher tentara Amerika tersebut. Totokan yang amat terlatih itu membuat Jock Graham lumpuh. Si Bungsu memanggul tubuh yang sudah tak bertenaga itu. Kemudian dengan cepat membawanya pergi dari sana.

Dia membawa tubuh kurus kerempeng itu ke bawah sebuah pohon yang besarnya sekitar tiga pelukan lelaki dewasa. Letaknya sekitar dua puluh depa dari tempat Jock Graham tegak pertama. Urat kayu itu berbentuk pipih dan besar-besar. Urat-uratnya yang muncul di atas tanah menyebabkan bahagian bawah pohon besar itu memiliki sekat-sekat seperti kamar. Tiap urat pipih yang membentuk sekat itu bisa setinggi tegak lelaki dewasa. Dia dudukkan tentara yang tak sadar diri itu di antara sekat tersebut, persis saat salah satu regu Vietnam sampai ke tempat mereka tadi.

Belasan tentara Vietnam tersebut melihat bekas Jock Graham tegak. Namun setelah itu jejaknya hilang. Tapi saat itu pula mereka mendengar suara orang memanggil sampai dua kali. Suara yang didengar tentara Vietnam itu adalah suara Cowie yang memanggil Jock Graham dan si Bungsu. Pimpinan regu memberi isyarat kepada anak buahnya dengan meletakkan telunjuk ke bibir. Kemudia dia membagi formasi anak buahnya untuk menyergap orang yang hanya ke dengaran suaranya itu. Dia bagi anak buahnya dalam dua sayap, kiri dan kanan.

Mereka memang tak bisa melihat siapapun, karena belantara dimana kini mereka berada demikian lebat. Jarak pandang hanya bisa menembus antara tiga sampai empat meter. Selepas itu pandangan terhambat oleh pohon besar dan belukar yang rapat sekali. Pemburuan itu semakin dipersulit oleh sore yang sudah turun. Hutan yang sudah gelap itu dengan cepat menjadi semakin gelap. Mereka bergerak perlahan, namun cepat, ke arah sumber suara memanggil tadi. Sementara itu, usai mendudukkan Jock Graham si Bungsu menekan urat di belakang leher tentara tersebut. Jock Graham mengeluh saat pertama sadar. Namun mulutnya dibekap oleh si Bungsu. Dia berbisik di telinga tentara itu.

“Dengar Jock! Belasan tentara Vietnam berada hanya beberapa langkah dari tempat kita. Engkau akan cukup kuat untuk mengangkat bedil dan menembakkannya kalau keadaan terdesak. Saya akan membuatkan obat untukmu. Tapi sebelum itu kita harus bisa lolos diri dari buruan Vietnam itu….”
Usai memberikan penjelasan si Bungsu menyerahkan kembali bedil rampasan dari tentara Vietnam yang tadi nyaris lepas dari tangan Jock. Kemudia dia menotok dan mengurut dengan cepat beberapa urat di pusat, kening dan punggung tentara itu. Dengan perasaan takjub Jock Graham merasakan kondisi tubuhnya agak membaik.

“Terimakasih, kawan…” ujarnya perlahan.
“Jangan bergerak. Tetap duduk seperti ini, pasang telinga dan matamu. Saya akan melihat apa yang masih bisa dilakukan. Maaf, saya belum sempat meramu obat untukmu. Tapi kunyah saja daun ini, telan airnya. Agak pahit bercampur asin rasanya, tapi itu obat. Usahakan agar tak tertelan ampas daunnya…” ujar si Bungsu dalam kalimat cepat, sembari menyumpalkan tiga lembar daun selebar telapak tangan ke mulut Jock Graham, kemudian dia menyelinap dengan cepat meninggalkan tempat itu.

Jock Graham mengunyah daun yang disumbatkan lelaki dari Indonesia itu ke mulutnya. Daun itu kesat sekali. Seperti kertas ampelas. Rasanya memang agak asin. Kalau saja bukan lelaki dari Indonesia itu yang menyumbatkan daun sialan tersebut, sudah sejak tadi dia muntahkan. Tapi dia yakin, orang Indonesia itu bukan sembarangan lelaki. Dia tidak hanya sekedar pandai meramu obat, juga tangguh luar biasa. Buktinya adalah kemampuan lelaki itu melumpuhkan empat tentara Vietnam yang menggiringnya. Dengan fikiran demikian dia meneruskan mengunyah daun rasa kentut tersebut. Kemudian menelan airnya yang juga rasa kentut.

Air getah daun yang dia telan itu sebagaimana tadi dijelaskan si Bungsu, memang terasa agak asin dan agak pahit. Dia ingin meludah, namun tiba-tiba di depannya telah berdiri seorang tentara Vietnam! Tentara itu sebenarnya tak tahu bahwa di balik ceruk akar pohon yang besar-besar itu bersembunyi orang yang mereka buru.

tikamsamurai,Dalam Neraka Vietnam-bagian-696

Dia datang ke tempat itu untuk memeriksa belukar lebat tak jauh dari pohon besar tersebut. Namun ketika dia melewati sebuah sisi akar kayu besar itu, tiba-tiba saja dia melihat seorang tawanan yang mereka buru ada di sana. Duduk bersandar ke pohon di antara dua urat kayu pipih lebar dan tinggi, sehingga tak kelihatan jika tidak berada di alur yang sama dengan celah urat kayu tersebut.

Orang itu dia pergoki sedang mengunyah-ngunyah. Namun pertemuan yang mendadak dan saling menatap itu membuat dia kaget dan tertegun. Lupa pada bedil di tangannya. Begitu juga halnya dengan Jock Graham. Kendati kedua mereka sama-sama memegang bedil yang sama-sama teracung ke arah lawannya masing-masing, namun belum satu letusan pun yang terdengar. Telunjuk masing-masing tetap dipelatuk bedil.

Jock Graham masih terus mengunyah daun kayu di mulutnya. Mengunyah perlahan, namun tak lagi mampu menelan getah daun yang sudah terkumpul dalam mulutnya. Tapi kemudian, terjadi juga apa yang harus terjadi. Jock Graham ternyata lebih duluan menyadari situasi berbahaya itu. Telunjuknya bergerak.
“Klik….”Senjatanya macet!

Jock Graham menarik lagi pelatuk tersebut. tak ada bunyi sama sekali. Bedil buatan Cina yang dikenal dengan nama Chung itu memang banyak mengundang celaka tentara yang memakainya. Suara ‘klik’ dari bedil pelarian tersebut membuat si Vietnam sadar. Telunjuknya segera bekerja. Namun tetap saja tak ada sebuah letusan pun yang terdengar. Yang terjadi adalah mendeliknya mata si Vietnam tersebut. Sesaat kemudian tubuhnya terjungkal ke depan. Jatuh tertelungkup sehasta di depan Jock Graham, yang sedetik lalu sudah pasrah menunggu maut.

Sebelum hilang rasa kejutnya, tiba-tiba si Bungsu muncul. Tangannya memberi isyarat agar Jock Graham jangan bersuara. Saat itu Jock Graham baru bisa kembali menelan getah daun kayu yang dia kunyah. Kemudian daun yang sudah menjadi ampas itu dia ludahkan. Dia melihat ampas daun kayu itu berwarna merah. Dia terkejut, apakah dia muntah darah? Dia meludah, ludahnya juga merah. Dia menatap ke arah si Bungsu.

Si Bungsu menggeleng perlahan, sebagai isyarat agar dia tak khawatir. Kemudian mata si Bungsu kembali menatap tajam ke belantara gelap di depannya. Suasana benar-benar sepi. Sore sudah melakukan serah terima tugasnya menerangi bumi dengan senja. Gelap yang makin kental perlahan merayap menerkam rimba tersebut. si Bungsu memang berharap agar malam cepat turun. Semakin gelap hari semakin terlindung mereka dari pengejaran. Hal yang sama juga diinginkan Letnan PL Cowie yang bersembunyi dalam sebuah palunan belukar lebat.

Tadi ketika usai dia memanggil Jock Graham dan si Bungsu, tiba-tiba telinganya yang memang sudah terlatih dalam perang Vietnam yang bertahun-tahun, ternyata masih berfungsi dengan baik. Dia mendengar suara belukar disibakkan dan daun kayu diinjak kaki manusia. Dia segera memberi isyarat pada Smith untuk menghindar dengan cepat dari tempat itu. Dan latihan bagaimana bergerak di belantara dengan tak banyak meninggalkan jejak juga masih mereka kuasai dengan baik. Itu sebab pasukan Vietnam yang mahir melacak jejak dalam hutan sulit menemukan ke mana larinya buruan mereka.

Apalagi cahaya gelap yang sudah turun makin mempersulit mereka meneliti bekas injakan kaki di dedaunan. Senter bukannya tak bermanfaat dalam kondisi seperti itu. Namun mempergunakan senter sama halnya dengan memberi tahu kepada musuh di mana awak berada. Dan itu artinya adalah bunuh diri.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: