Dalam Neraka Vietnam-bagian-685-686-687


Dalam Neraka Vietnam-bagian-685
kambut
Smith kalau berjalan pasti tak lurus. Tulang kering kaki kanannya patah dihajar, juga dengan popor bedil.
Kini memang sudah sembuh, tapi tulang keringnya itu bertaut secara tak benar. Kalau dia berjalan, jalannya tak normal. Setelah si Bungsu berada di hari kelima di dalam kurungan itu, barulah orang Vietnam memberi mereka makanan. Makanan berupa sisa yang terdiri dari rebus ubi kayu, keladi dan ikan asin itu dimasukkan ke dalam sejenis kambut. Kemudian dilempar begitu saja ke dalam lobang penyekapan tersebut. Cowie yang pangkatnya memang tertinggi, mengatur agar semua mereka tidak berebutan.
Sebab pengalaman sudah mengajarkan, ketika bulan-bulan pertama disekap, sebahagian dari mereka babak belur saling pukul karena berebut makanan, yang selain tak memenuhi syarat, jumlahnya pun amat sedikit.

“Makanlah, karena mana tahu ini adalah makanan terakhir bagi salah seorang di antara kita…” ujar Cowie.
Mereka makan dengan diam tapi dengan cepat. Hanya beberapa saat, makanan yang menjadi bahagian masing-masing itu habis. Smith malah menjilati tangannya, merasakan nikmatnya rasa asin ikan yang tertinggal di jari-jarinya. Kemudian mereka meminum air yang dikirim bersama makanan itu. Air mentah, tapi jernih, barangkali air sungai atau air sumur, yang dibungkus dengan kantong plastik. Cowie memberi jatah air dua teguk seorang, kemudian tempat air digantung pada sebuah ranting yang ditancapkan di dinding tanah napal itu.

Tak ada yang membantah aturan yang ditetapkan Cowie, karena aturan itu amat mereka perlukan. Mereka tak mungkin meminum air setinggi dada dalam lobang dimana mereka disekap. Selain airnya kuning dan kental karena lumpur, air itu juga sudah kotor dan bau sekali. Maklum, di lobang tersebut sudah lebih dari enam atau tujuh orang yang mati. Setiap ada yang mati, mayatnya tak segera diangkat orang Vietnam. Ada yang sehari, ada yang dua hari, malah seperti mayat terakhir baru pada hari ketiga diangkat. Namun makanan yang mereka terima itu ternyata tak bisa menolong Sersan Mike Clark.

Kondisi sersan itu sudah demikian buruknya sebelum dipindahkan ke lobang laknat ini. Kondisi kesehatannya yang buruk itu diperburuk oleh bau mayat selama tiga hari di dalam lobang 4 x 4 meter itu. Tak lama setelah usai makan, dia diserang demam. Nampaknya dia terkena tularan kawannya dua minggu yang lalu. Dia menggigil dan mengigau. Tiap sebentar tubuhnya melorot dan terbenam ke dalam air. Cowie sudah berkali-kali menyangga badan temannya itu agar tak terbenam. Si Bungsu menyesal kehabisan ramuan tradisionalnya.

Kalau saja dia mendapat sedikit dedaunan atau lumut yang cocok untuk obat, dia yakin dia bisa menolong Mike Clark. Namun dalam kondisi seperti sekarang kemana dia harus mencari dedaunan atau lumut? Tubuh sersan itu dipegangi Jock Graham. Mereka tak berusaha berteriak meminta bantuan kepada dua penjaga yang ada di atas. Teriakan atau panggilan dalam bentuk apa pun takkan pernah diacuhkan. Memanggil atau berteriak hanya akan menghabis-habiskan tenaga. Mereka sudah berkali-kali mengalami hal seperti itu.

Berkali-kali pula yang sakit di dalam lobang penyekapan ini harus menyerahkan nyawa mereka benar-benar pada takdir Tuhan. Hanya ada satu di antara dua kemungkinan yang harus mereka tunggu. Sembuh dengan sendirinya, atau mati. Untuk kemungkinan pertama, bukannya tak ada. Baik Cowie maupun Tim Smith pernah menderita demam berhari-hari. Namun karena demam mereka stadiumnya masih rendah, akhirnya mereka sembuh sendiri. Tetapi sebahagian besar lainnya, demam memang mengantar mereka ke pintu kubur.

Sersan Mike Clark sudah benar-benar tak sadar pada dirinya. Tubuhnya menggigil terguncang-guncang. Setiap satu jam mereka bergiliran memegang tubuh sersan itu agar tak tenggelam. Dan menjelang larut malam, hanya sekitar enam jam setelah mereka mendapat jatah makanan, tubuh sersan itu sudah tak bergerak.
Kebetulan saat itu yang mendapat giliran untuk memegangi tubuh sersan tersebut adalah si Bungsu dan Tim Smith. Si Bungsu memegangi Clark pada bahagian kepala dan punggung, sementara Smith memegangi bahagian pinggul dan paha.

Dengan kedua tangan berada di bahagian bawah tubuh yang ditelentangkan itulah mereka menjaga agar si sakit tidak tenggelam. Sebenarnya, dengan bantuan air menahan tubuh orang agar tak tenggelam tidaklah begitu berat. Apalagi semua mereka di dalam lobang itu, kecuali si Bungsu, badannya pada kurus kerempeng. Kalau saja dinaikkan ke timbangan, beratnya rata-rata mungkin hanya sekitar 40an kilogram. Dengan tubuh di atas 175 cm, berat badan sekian membuat mereka seperti kerangka hidup. Menjelang larut malam itu, si Bungsu merasa tak ada gerakan apapun lagi pada tubuh Clark.

Perlahan tangannya yang memegang kepala Clark, meraba nadi di leher sersan itu. Tak ada gerakan, tak ada denyut sehalus apa pun. Dia tak perlu meraba atau mendengarkan degup jantung sersan itu untuk memastikan apakah dia benar-benar sudah mati atau masih hidup. Tidak, dia sudah belasan kali menghadapi orang yang berada dalam keadaan sakratul maut. Dari pengalaman itu dia sangat yakin sersan ini sudah mati. Dan dia yakin, bagi mereka yang sudah bertahun dalam sekapan ini, kematian merupakan anugerah, dibanding harus mati setelah menderita dalam waktu yang amat panjang.

Si Bungsu kembali meluruskan badannya bersandar ke dinding. Dia menoleh ke arah Smith. Tak ada yang kelihatan, kendati jarak antara mereka berdua hanya sehasta. Kegelapan yang kental menyebabkan suasana di dalam lobang itu tenggelam dalam kelam yang tak terbayangkan.

tikamsamurai,Dalam Neraka Vietnam-bagian-686
Namun dia tahu Smith masih tegak di sisinya, juga bersandar ke dinding. Suara nafas lelaki itu dia dengar teratur. Dia juga tahu Smith sedang tidur. Hampir dua tahun disekap seperti ini, membuat tentara Amerika itu benar-benar terlatih dan tahu bagaimana tidur dalam segala kondisi.

Pendengarannya yang tajam juga menangkap dengkur perlahan Letnan Cowie dan Kopral Jock Graham. Perlahan dia berbisik, memanggil Smith yang tegak di sisinya.
“Smith….”
“Ya….” jawab Smith, juga berbisik tanpa membuka mata.
“Orang ini sudah mati….”
Tak ada jawaban. Dari kegelapan di atas sana sayup-sayup terdengar suara burung malam.
“Apa…?”
“Clark sudah mati….”
Smith menarik nafas panjang.
“Kau yakin?”
“Ya…”

Tak ada jawaban dari Smith. Yang dia lakukan, justru melepaskan pegangan kedua tangannya di paha Mike Clark yang tubuhnya mengapung di permukaan air.
“Lepaskan saja…” ujar Smith perlahan sambil menggeliat.
Saat si Bungsu melepaskan pegangannya pada punggung bahagian atas tubuh Clark, juga pegangan di bahagian kepala. Smith masih menggeliat panjang. Dia meregangkan kedua tangannya yang hampir kesemutan tinggi-tinggi ke atas. Lalu dia melemaskan jari-jarinya. Menarik jari itu bergantian satu demi satu, sehingga buku-buku jarinya memperdengarkan bunyi gemeletuk. Kemudian dia menguap panjang dan menegakkan tubuhnya yang bersandar hampir sepanjang malam. Lalu memutar badan bahagian atasnya, melemaskah pinggang dan otot-ototnya yang semua terasa kaku.

Si Bungsu juga melakukan hal yang sama. Meluruskan tegak dari posisi bersandar. Menggeliat dengan meregangkan kedua tangannya tinggi-tinggi ke atas. Lalu memutar tubuh bahagian atasnya ke kiri, ke kanan dan sedikit membungkuk. Mereka jelas tak bisa membungkuk benar, karena air di dalam lobang itu tingginya hampir mencapai leher mereka masing-masing. Dalam kegelapan yang kental tersebut, mayat Clark yang mengapung perlahan ke bahagian tengah lobang penyekapan itu, tak kelihatan sama sekali.

Bagi orang-orang di atas sana, bahkan bagi hampir separuh rakyat Amerika; perang Vietnam sudah berbulan-bulan usai. Namun bagi mereka yang berada dalam lobang penyekapan ini, dan bagi ratusan tawanan perang Amerika yang dinyatakan sebagai MIA, yang disekap di puluhan tempat rahasia, perang Vietnam benar-benar belum selesai. Memang tak ada peluru berdesingan atau bom yang menggelegar. Karena mereka yang tertawan dan disekap memang tak memiliki senjata dalam bentuk yang paling purba sekalipun. Tetapi, dalam peperangan ada kata-kata yang dihafal hampir seluruh prajurit yang maju ke me­dan tempur. Kata-kata nasehat sekaligus peringatan itu bermula dari saat latihan.

“Lebih baik bermandi keringat dalam latihan, daripada bermandi darah dalam pertempuran”. Kemudian jika mereka benar-benar sudah berada di medan tempur, ada kata-kata. “Peperangan hanyalah latihan. Menjadi tawanan musuh adalah pertempuran sesungguhnya”. Hanya bagi mereka yang pernah ditawan Vietnam, yang sangat memahami kebenaran kata-kata peringatan itu. Sebagaimana halnya dialami oleh mereka yang kini berada dalam lobang penyekapan bersama si Bungsu, yang disekap di wilayah Vietnam yang mereka tak ketahui di mana lokasinya.

Mendengar ada suara perlahan, Cowie yang juga sedang tidur berdiri, segera terbangun. Membuka mata atau tidak, dalam sergapan gelap seperti sekarang, bagi mereka sama saja. Yang kelihatan hanya hitam kelam. Bahkan mereka juga takkan melihat jari-jari mereka sendiri, kendati mereka meletakkan jari jari tangannya persis di depan mata.

“Smith…” imbau Cowie perlahan.
“Yes, Sir….”
“Clark mati?”
“Yes, Sir! Si Bungsu memastikan hal itu….”
“Bungsu….”
“Ya, Letnan….”
“Sudah berapa lama dia mati?”
“Sekitar sepuluh menit yang lalu, Letnan….”
Letnan Cowie, dan juga Kopral Jock Graham yang ikut terbangun dalam kegelapan yang kental itu, termenung.
“Bungsu…” ujar Cowie perlahan, setelah mereka lama saling berdiam diri dalam kegelapan tersebut.
“Ya, Letnan….”
“Terimakasih, Anda telah ikut bersusah-susah memegangi Sersan Clark.…”

Si Bungsu menarik nafas panjang. Dia merasa tak perlu mengomentari ucapan terimakasih Co­wie. Fikirannya melayang, sampai kapan mereka berada dalam sekapan ini? Sampai nyawa mereka tercabut satu demi satu, seperti Clark dan yang mati pertama karena malaria itu? Dia tidak ingat sudah berapa belas hari dia berada di dalam lobang sekapan maut ini. Dia tak pernah menghitung. Tetapi ada juga pelajaran yang dia peroleh dari Cowie dan Smith, bagaimana cara melepaskan lelah dalam air berlumpur tersebut. Jika penat berdiri atau bersandar di dalam air yang hampir mencapai dada itu, mereka lalu mengapungkan diri.

Menelentang atau menelungkup di air. Karena airnya kental, berat jenis air itu lebih besar dari berat jenis air sungai yang jernih. Dengan berat jenis air yang lebih besar itu tubuh mereka yang memang sudah kurus dengan mudah mengapung lebih lama dibanding jika mereka mengapungkan diri di sungai. Jika ada yang melihat ke dalam lobang itu pada saat mereka “istirahat” di atas air, ke empat lelaki tersebut akan nampak seperti mayat yang berapungan di air. Mayat Clark ternyata lebih baik nasibnya dari mayat-mayat sebelumnya yang mati dalam lobang tersebut.

Dalam Neraka Vietnam-bagian-687
Sekitar pukul sepuluh esoknya,dua milisi vietnam datang mengantar makanan untuk mereka.Seperti biasa,jatah mereka tetap saja nasi sisa dan sedikit basi.Di Tambah ikan asin dan rebus umbi keladi,lalu air minum yang di bungkus plastik.Cowie yang sedikit-sedikit bisa berbahasa Vietnam,memberi tahu kedua milisi itu tentang kematian Clark.Karena sudah tiga hari tidak ada yang melihat ke lobang itu,Cowie mengatakan sudah tiga hari dia meninggal.

Kedua Vietnam itu menatap kepada mayat Clark.Kemudian menghilang,tanpa sepatah katapun.Tak lama setelah mereka selesai makan jatah mereka,kedua milisi tadi datang lagi berama tiga orang tentara.
“Telentangkan dia..”ujar seorang tentara Vietnam itu dalam bahasa Inggris yang cukup baik.
Cowie menuruti perintah itu.Ketiga tentara di atas,yang tegak sambil menodongkan bedil,memperhatikan wajah Clark.Mayat itu memang sudah kaku.Mulutnya ternganga,kedua tangannya kaku dan membengkok keatas.Salah seorang dari tentara itu melemparkan tali nilon sebesar empat jari kaki.
“Ikatkan tali itu di bagian lehernya…” ujar si tentara.

Keempat orang didalam lobang itu mengerti,kalau itu sikap berjaga jaga,kalau -kalau tentara itu hanya pura-pura mati.Cowie membuat jeratan di ujung tali itu,kemudian mengalungkan nya ke leher sersan Mike Clark.Ketiga tentara yang di atas menarik tubuh Clark sampai setengah lobang.kemudian membiarkannya tergantung sambil di perhatikan dengan seksama,apakah tubuh yang di gantung itu ada sedikit gerakan.

Tentu saja tubuh itu tak bergerak,karena Clark memang sudah meninggal dari malam kemaren.Setelah beberapa lama memperhatikan,kalau mulut dan tangan mayat itu tak bergerak sedikitpun,barulah tentara yang bisa berbahasa inggris itu memerintahkan untuk menarik mayat itu sampai keatas.Setelah itu peristiwa yang rutin kembali mereka saksikan.Loteng bambu diatas kembali di tutup.Tiga kayu pemberat sebesar tiga kali tubuh manusia kembali di himpitkan di atasnya.Lalu semak dan dedaunan kembali di timbunkan.

Kemudian mereka kembali di cekam suasana sunyi.Si Bungsu menatap air yang seperti biasa disisakan Cowie untuk cadangan.Air itu berada di kantong plastik berbentuk tas kresek berwarna hitam.Sejak dia berada di dalam tahanan ini,entah sudah berapa belas hari,kalau dia tak salah sudah empat kali pengiriman makanan disertai minuman dengan tas plastik tersebut.Jika isinya sudah habis,tas itu dia buang begitu saja ke air,kemudian tenggelam perlahan dan lenyap.Sekali lagi si Bungsu menatap tas plastik yang tergantung di dinding dekat Cowie.

Disangkutkan di ranting yang di tancapkan ke tanah dinding lobang tersebut.Tas yang masih menggelembung di bagian bawahnya.Tak ada air yang menetes,karena pori plastik itu demikian rapatnya.
“Apakah mereka selalu mengirimkan makanan dan minuman dengan tas plastik itu?”tanya si Bungsu pada Cowie dari tempatnya bersandar.
Letnan PL Cowie yang tadi sedang menengadah keatas,mengalihkan tatapanya kepada si Bungsu.Kemudian mengalihkan pandangannya pada tas plastik yang tergantung di dinding itu.Lalu menatap kembali pada si Bungsu,kemudian mengangguk.
“Mengapa..?”

Si Bungsu menggeleng.Namun dengan kakinya dia meraba-raba dasar lobang di sekitar tempatnya tegak.Tak begitu lama meraba-raba,hanya berapa kali mencungkil lumpur,jarinya tersentuh pada sebuah kantong kresek itu.Dengan jari-jari kakinya dia jepit plastik itu,kemudian mengangkatnya ke atas,kemudian tangannya masuk ke lumpur meraih plastik itu,lalu dia perhatikan plastik itu dengan seksama.

Di genggam dan di luruskannya sehingga membentuk sebuah tali yang panjangnya sekitar dua setengah jengkal.Lalu dia pegang kedua ujung nya,di tariknya perlahan.Dia tahu’tali’dari kantong plastik itu cukup kuat dan alot.Takkan putus ditarik.Namun dia tetap ingin mencoba.Ingin membuktikan sekuat apa’tali’ itu.Ternyata liat sekali.ditariknya dengan kuat,tetap tak putus.Cowie yang dari tadi memperhatikan,tiba-tiba tersadar.Dia faham benar apa yang dipikirkan si Bungsu.
“Anda benar…”desis Cowie sembari menatap dengan mata melotot ke arah’tali’plastik yang tengah di tarik sekuat tenaga oleh si Bungsu.

Kopral Jock Graham dan sersan Tim Smith juga terbelalak setelah mendengar ucapan Cowie,kemudian menatap kepada tali yang ada di tangan si Bungsu.
“Kumpulkan semua kantong plastik yang ada dalam lobang ini….”bisik Cowie kepada sersan dan kopral itu.
Dalam beberapa detik,ketiga tentara itu,yang sudah kering kerempeng tersebut segera saja lenyap dari pandangan si Bungsu.Mereka menyelam dan tangan mereka gentayangan ke segala penjuru.Mengundak-ngundak lumpur di dasar lobang tempat penyekapan mereka,berusaha mendapatkan kantong plastik yang pernah mereka terima sebagai tempat minum.Dalam waktu singkat ketiganya segera mendapatkan empat belas kantong plastik.mereka membersihkannya dari lumpur.Kemudian meluruskannya sehingga membentuk sebuah tali.

Sambil membersihkan kantong-kantong plastik itu,sesekali Cowie memandang ke atas.Seperti khawatir kalau-kalau tentara Vietnam yang mengintai apa yang sedang mereka kerjakan.Cowie menyumpahi kebodohan mereka,kenapa tak dari dahulu mereka punya pikiran bahwa kantong plasti itu di sambung-sambung menjadi tali.Mereka bekerja dengan diam.Tiap kantong yang mereka luruskan,mereka buhul di tengah nya.Kemudian mereka sambung-sambungkan.Tiba-tiba saja di tangan mereka kini terdapat tali yang kukuh dan liat.

Panjangnya sekitar tiga meter lebih.Mereka saling bertukar tatapan satu dengan yang lainnya.Kemudian ke bambu-bambu yang melintang jauh di atas mereka.Mata mereka pada berbinar.Untuk pertama kali selama bertahun-tahun,mereka menjadi gemetar dan gugup.Gemetar dan gugup membayangkan kemungkinan mereka bisa keluar dan melarikan diri dari lobang sekapan dan Dalam Neraka Vietnam ini!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: