Dalam Neraka Vietnam-bagian-683-684


Dalam Neraka Vietnam-bagian-683
images (1)

Sambil melangkahi tiap anak jenjang, matanya melotot ke dada wanita tersebut. Dia masih menahan diri. Tapi pikirannya merayap kemana-mana. Bukan, bukan kemana-mana. Pikirannya merayap hanya ke satu tempat, yaitu ke balik baju wanita itu. Kesela dadanya yang ranum dan sekal. Nafasnya memburu ketika dia sampai di bawah. Perempuan itu lalu naik. Si milisi menoleh ke belakang.

Dan… ampun, ketika perempuan itu naik, pinggulnya yang besar membayang jelas. Terbungkus oleh celana hitamnya yang ketat. Tubuhnya agak kurus. Namun dada dan pinggulnya yang amat sintal membuat lutut lelaki yang melihat goyah gemertak. Senyum dan tatap matanya amat mengundang selera buruk lelaki. Itulah yang terjadi begitu dia menaiki anak tangga di pondok pengawalan tersebut. Dia baru saja akan menghenyakkan pinggulnya di lantai beralas tikar, ketika anggota milisi yang baru turun itu tiba-tiba saja sudah berada di sisinya.

“Ada apa?” ujarnya kaget sambil menatap ke arah milisi tinggi kurus bermata juling yang tegak di depannya.

Perang panjang sering membuat manusia kehilangan akal sehat. Dan akal sehat itulah yang hilang dari tempurung kepala anggota milisi kurus tinggi di pondok penjagaan itu. Dia langsung saja menyergap wanita itu. Si wanita yang kaget bukan main, berusaha berontak dan berteriak. Namun teriaknya tersumbat di tenggorokan. Mulut milisi kurus itu sudah menyumpal mulut si wanita dengan rakus. Berontaknya hanya berupa gelinjang tanpa daya, karena si kurus sudah dikuasai nafsu. Satu-satunya harapan adalah dua milisi lelaki yang kini berada di bawah pondok.

Yang satu adalah yang sama-sama datang dengannya ke pondok ini untuk menggantikan tugas penjagaan. Yang satu lagi adalah teman si kurus, yang akan mereka gantikan. Namun reaksi kedua lelaki itu justru bertolak belakang dengan yang diinginkan si wanita. Kedua mereka justru mengawasi jalan setapak ke arah kampung. Melihat kalau-kalau ada yang datang. Tentu saja takkan ada yang datang. Tempat penyekapan itu terletak di tengah pepohonan dan hutan bambu. Jarak ke perkampungan ada sekitar 500 meter. Memekik kuat pun si wanita tetap takkan terdengar ke kampung. Apalagi pekiknya tertahan di tenggorokan.

Angin bertiup kencang. Atap penutup lobang penyekapan di depan pondok itu terkuak-kuak. Cahaya terang menerobos masuk ke lobang itu. Bau busuk segera menerobos ke atas. Para milisi tersebut segera pada menutup hidung mereka dengan kain. Salah seorang segera melemparkan tali yang tadi dia sandang di bahunya. Si wanita yang masih berpeluh hanya menatap dari tempat duduknya di atas pondok. Dia seperti kehabisan tenaga untuk bergerak.

“Ikat mayat itu dengan tali ini…” ujar pimpinan milisi Vietnam itu dalam bahasa Inggris.

Kendati bahasa Inggrisnya tak begitu baik, namun mereka yang berada dalam lobang sekapan itu faham apa yang disuruh. Letnan PL Cowie maju dan mengikatkan tali sebesar empu jari kaki itu ke pinggang mayat yang sudah tiga hari mengapung di dalam lobang itu. Tali itu segera ditarik. Masih untung mayat itu belum berulat. Udara dingin di dalam lobang tersebut membuat mayat itu tak cepat menjadi rusak. Lalu di bawah todongan bedil salah seorang milisi, dua milisi lain segera menarik mayat itu ke atas. Diperlukan kerja yang cukup menguras tenaga untuk menarik mayat gembung itu.

Si wanita yang masih duduk tersandar menutup hidungnya dan membuang pandangannya ke tempat lain. Betapapun sudah seringnya dia ikut dalam pertempuran dan menyak sikan mayat bergelimpangan, namun melihat mayat gembung yang baru saja diangkat itu tetap saja membuat perutnya mual. Setelah mayat diangkat, bambu-bambu kembali ditutupkan ke lobang tersebut. Kemudian semak-semak ditimbunkan kembali di atasnya. Setelah itu, mayat tersebut mereka bawa kearah hutan. Dan dikubur di sebuah lubang dangkal. Lalu ketiga milisi itu kembali ke perkampungan.

Kini di pondok penjagaan wanita itu hanya tinggal bersama seorang milisi lelaki. Di dalam lobang penyekapan, kelima lelaki yang terkurung di sana bisa agak bernafas lega. Kendati bau bangkai masih saja memenuhi lobang tersebut. Mereka bersandar dengan diam. Air dalam lobang itu nampaknya agak menyusut. Jika semula sebatas dada, kini sudah turun sedikit. Namun masalah mereka untuk bertahan hidup tidak hanya harus berjuang melawan lapar, tapi harus mampu berdiri terus menerus. Tidak satu pun batang atau ranting yang bisa dijadikan tempat berpegang.

Satu-satunya yang bisa mereka lakukan adalah bersandar ke dinding. Penat bersandar mereka berjalan di dalam air berlumpur itu. Si Bungsu menjadi faham cerita Cowie, bahwa sebahagian dari tentara Amerika yang ditawan dalam lobang ini mati karena tak kuat berdiri. Mereka terbenam dan mati lemas. Ini adalah cara menyiksa yang luar biasa. Tentara Vietnam tak perlu rugi sebutir pelurupun untuk membunuh tawanannya. Satu persatu tawanan mati karena lapar, gila atau sakit, kemudian terbenam. Mereka harus berjuang untuk bisa tetap tegak, dengan kaki yang makin melemah.

Semakin lama mereka mampu bertahan untuk berdiri, makin lama pula mereka bisa bertahan hidup. Siapa pun yang berada dalam lobang penyekapan itu pasti takkan pernah membayangkan apa yang mereka hadapi kini. Yaitu kala mereka hidup di kota di Amerika sana, saat mereka masih belum mendaftar menjadi tentara. Saat sebahagian dari mereka masih mengisi hidupnya dengan masuk bar keluar bar. Masuk nightclub yang satu ke nightclub yang lain. Menenggak bir atau wisky, melahap lezatnya hamburger atau sandwich, berjoget dan kemudian main perempuan.

Kini, dalam lobang neraka segi empat berair kuning dan berbau bangkai ini, mereka kembali mendengar cekikikan perempuan. Mereka pada memasang telinga. Suara cekikikan itu suara siapa lagi, kalau bukan suara milisi wanita bertubuh agak kurus tapi berdada dan berpinggul bahenol, yang bisa membuat mata lelaki jadi juling dan lemas kelelep itu. Dia memang sedang terlibat pembicaraan dengan teman lelakinya yang sama-sama menjaga di pondok pengawalan tersebut. Penempatan pengawalan di pondok itu nampaknya hanya sebagai sikap berjaga-jaga.

Lobang itu memang tak perlu diawasi benar. Sebab, hampir bisa dipastikan orang yang disekap di dalamnya, takkan bisa melarikan diri. Tapi begitulah, namanya saja tawanan perang. Kan aneh kalau tak ada yang menjaga tempat mereka ditawan. Itulah sebabnya setiap 12 jam pengawalan ditukar.

Perempuan itu sedang berada dalam posisi berbaring menelungkup di lantai pondok. Di bahagian depan, agak ke samping kanan, duduk temannya yang lelaki. Sesekali memandang ke arah timbunan semak belukar yang menutupi lobang penyekapan. Namun matanya lebih sering menatap bongkol pinggul perempuan yang menelungkup itu.

Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 684)si bungsu

Atau ke dadanya yang seakan-akan mau pecah karena tertekan ke lantai. Nampaknya si lelaki sedang membicarakan peristiwa tadi, yang membuat wanita itu terpekik-pekik. Si wanita nampaknya memang centil, atau katakanlah dia termasuk wanita jongkek. Sebab tiap sebentar, bila ada yang agak lucu atau yang tak dapat dia komentari, tangannya mencubit paha lelaki tersebut. Akan halnya lelaki, yang masih berusaha bertahan duduk, nampaknya berprinsip “Bukan kaba sambarang kaba, kaba dibao mantiko muncak. Bukan saba sambarang saba, saba mananti kutiko rancak”.

Dan saat kutiko rancak itu tiba, yaitu saat darahnya sudah naik ke ubun-ubun, dia menjerembabkan diri ke atas tubuh perempuan jongkek yang sok-sok mene lungkup itu. Perempuan itu terpekik kecil. Bukan pekik terkejut apalagi pekik marah. Dari pekiknya saja orang pasti bisa menebak dia memang jongkek. Sebab pekiknya hanya perlahan, diiringi erangan, entah apa yang dierangkannya. Pokoknya dia mengerang. Si lelaki yang juga bertubuh agak kurus, segera membuat pekerjaan tangan. Maksudnya tangannya bekerja ke bawah, ke atas. Meraba meremas.

Dan si perempuan nampaknya memang mengharap kan semua yang diperbuat si lelaki. Dia menelentangkan diri. Kemudian dia pula yang mendahului membuka baju si lelaki.

“Suara seperti itu pasti suara poyok…” ujar Tim Smith menggerendeng.

Ke empat lelaki lain dalam lobang sekapan itu hanya berdiam diri. Dari atas sana makin jelas terdengar suara wanita dan lelaki. Mengerang, mendesah. Makin lama makin keras, makin lama makin cepat. Kemudian suara pekik panjang perempuan, kemudian suara pekik panjang lelaki. Lalu diam.

“Ayo main tebak-tebakan. Kenapa mereka memekik?” tiba-tiba kesunyian di dalam lubang itu dipecahkan oleh suara Tim Smith, sersan yang rambutnya hampir botak dan tukang carut itu.

Pertanyaan yang dia lontarkan mau tak mau membuat semua yang ada dalam lobang itu nyengir. Jarang sekali mereka bisa tersenyum. Hal itu disebabkan tak satupun yang bisa dianggap lucu, atau tak satupun bisa menghibur hati mereka selama berada dalam lobang terkutuk itu. Namun ucapan yang dilontarkan Tim Smith sebentar ini, ajakan untuk main tebak-tebakan kenapa kedua orang di atas sana memekik-mekik, benar-benar memaksa mereka untuk tersenyum.

Meski senyum yang lebih tepat disebut nye­ngir. Sebab, betapapun bentuk senyum yang tergurat di wajah orang-orang seperti mereka, yang kelihatan adalah guratan muram. Segala bentuk ekspresi, termasuk ekspresi marah, menjadi berbeda tampilnya di wajah, karena dirobah oleh ketegangan dan derita selama bertahun di dalam penyekapan.

“Ayo, siapa bisa menerka. Kenapa mereka memekik?” kembali Smith melontarkan pertanyaan.

Tak ada yang menjawab, selain senyum tergurat di wajah setiap orang dalam lobang itu, termasuk si Bungsu. Sampai akhirnya Kopral Jock Graham, petugas bahagian radio yang sama-sama diangkut dengan truk bersama si Bungsu, memberikan jawaban.

“Mereka dicekik hantu…” ujarnya.

Jawaban itu membuat senyum semakin lebar di wajah kelima lelaki tersebut.

“Mereka bukan dicekik hantu, tapi pekik menyindir. Kau yang disindirnya, Smith…” ujar Sersan Mike Clark.

Mereka tersenyum lagi. Smith yang semula tertegun, tiba-tiba terkekeh.

“Bukan, bukan aku yang mereka sindir de­ngan pekiknya itu. Mereka menyindir kita semua…” ujar Smith.

Mereka kemudian pada tertawa. Tetapi setelah itu, hari-hari mereka lalui dengan kesunyian dan derita panjang. Memang tak ada penyiksaan dalam bentuk pemukulan. Tapi apa yang mereka alami dalam lobang itu tak kalah dahsyatnya dari penyiksaan dalam bentuk sepak dan terjang. Akan halnya sepak, terjang atau cabut kuku, itu mereka alami di tahun pertama mereka tertangkap. Co­wie misalnya, giginya copot dua buah akibat dihajar popor senapan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: