Dalam Neraka Vietnam-bagian-673-674


Dalam Neraka Vietnam-bagian-673
tangan di perban
“Saya tidak tahu, apakah obat yang Anda pakai di balik perban itu cukup manjur atau tidak. Jika Anda tak keberatan, saya punya ramuan di pondok…” ujar si Bungsu.
Kapten itu menatap kedua tangannya yang berbalut perban mirip orang akan bertanding tinju.
“Saya berminat juga mencoba obat Anda, dokter…” ujar Bhun Dhuang, sambil mengikuti si Bungsu dan Lok Ma ke pondoknya.

Di luar, di halaman yang cukup luas untuk berkumpul seratus orang, yang merupakan alun-alun di desa tersebut, orang semakin sibuk mempersiapkan tempat perayaan Hari Raya Tet. Tentara bekerja membuat meja panjang dan kursi darurat. Karena desa itu memang berada jauh di tengah hutan belantara, dengan mudah mereka mendapatkan pohon-pohon yang diperlukan untuk dijadikan tiang meja dan kursi. Untuk alas tempat duduk dan daun meja, mereka memotong bambu, yang disusun menjadi bidang luas. Beberapa lelaki kelihatan tengah membersihkan dua ekor babi.

Kedua hewan itu dibunuh dengan terlebih dahulu mengikat kedua kakinya. Lalu digantung dengan kepala menghadap ke bawah. Lehernya ditusuk dengan sebilah pisau yang amat runcing dan tajam. Darah yang mengalir dari leher babi itu ditampung dengan sebuah tong kayu yang cukup besar. Darah tersebut dicampur dengan semacam asam sehingga mengental mirip hati. Darah beku yang digoreng atau dibakar merupakan makanan yang luar biasa nikmatnya bagi orang-orang Vietnam.

“Bisa minta air yang agak panas?” ujar si Bungsu pada Lok Ma, saat mereka akan masuk ke pondoknya bersama Kapten Bhun Dhuang.
Lok Ma segera mengambil baskom tempat si Bungsu meremas ramuan obat tadi. Kemudian memanggil seorang wanita. Menyuruh bersihkan baskom tersebut dan mengisi nya dengan air panas. Ketika wanita itu kembali dengan air panas, dia menatap si Bungsu.
“Assalamualaikum…” sapa wanita itu perlahan.

Si Bungsu, Lok Ma dan Bhun Dhuang menatap pada wanita itu. Jika kedua Vietnam itu menatap dengan heran, si Bungsu justru terkejut.
“Wa’alaikummussalam…” ujar si Bungsu perlahan, sambil menatap hampir tak percaya pada wanita itu.
“Ana anta Islam…” ujar wanita separoh baya itu dalam bahasa Arab yang ala kadarnya.
Si Bungsu ternganga. Dia menoleh pada Lok Ma.
“Suruh dia masuk dan duduk. Tanyakan padanya darimana di tahu saya seorang Islam…” ujar si Bungsu dalam bahasa Inggris pada Lok Ma.

Sersan itu menyuruh si wanita masuk dan duduk di tikar bambu di depan si Bungsu dan Bhun Dhuang. Dengan takut-takut dia mendekat, namun tetap berdiri. Dia baru duduk dengan amat sopan setelah Kapten Bhun Dhuang ikut menyuruh dia duduk. Lok Ma kemudian menanyakan darimana dia tahu si Bungsu seorang Islam.
“Saya melihatnya ketika dia sembahyang Asyhar setelah mandi sore tadi di tepi sungai…” ujar wanita itu, yang diteruskan oleh Lok Ma kepada si Bungsu.

“Sampeyan tiang Jawi…?” tiba-tiba wanita itu kembali mengejutkan si Bungsu, tatkala dia bertanya dalam bahasa Jawa apakah si Bungsu orang Jawa.
Tentu saja Lok Ma dan Bhun Dhuang tak faham apa arti pertanyaan wanita tersebut. Si Bungsu sampai dibuat ternganga. Buat sesaat dia tak bisa bicara sepatah pun.
“Ibu dari Jawa?’ ujarnya dalam bahasa Indonesia.

tikamsamurai,Dalam Neraka Vietnam-bagian-674
Kali ini wanita itu yang ternganga.
“Ja… uwa… ya, Ja uwa…” ujarnya mencoba mengeja.
Si Bungsu menoleh pada Lok Ma, kemudian dia berkata.
“Ibu ini nampaknya turunan dari Jawa, salah satu pulau di Indonesia. Tolong tanyakan padanya, tentang asal usulnya, juga tentang keluarganya di sini. Barangkali ayah atau ibunya berasal dari Indonesia…”ujar si Bungsu.

Namun sebelum Lok ma menanyai wanita itu, si Bungsu teringat, bahwa dia harus mengobati tangan Kapten Bhun Dhuang. Dia minta maaf pada si kapten, dan menyuruh Lok Ma mengundurkan pertanyaannya. Namun Kapten itu menyuruh agar pembicaraan itu dilanjutkan, sementara dia membersihkan tangannya dengan air suam-suam kuku yang tadi dibawakan wanita tersebut. Lok Ma lalu menyampaikan pertanyaan si Bungsu kepada wanita itu. Dan bertuturlah wanita tersebut. Kakeknya adalah seorang pelaut yang lahir dari perkawinan campuran, ibu Madura dan ayah Jawa.

Sekitar tujuh puluh tahun yang lalu, kakek buyutnya itu merantau ke Thailand. Kemudian berdagang ke Vietnam Selatan, yang juga beberapa pedagang asal Indonesia dan Malaya. Di Vietnam ini lelaki itu tertarik pada seorang gadis setempat dari keluarga muslim. Mereka menikah dan menetap di Vietnam. Pasangan ini melahirkan dua anak lelaki dan seorang anak perempuan. Dia adalah anak perempuan itu. Dia tak bisa berbahasa Indonesia karena ayahnya jarang sekali berbahasa Indonesia. Apalagi ayahnya sudah meninggal sekitar lima belas tahun yang silam.

Dia hanya hafal beberapa potong bahasa Jawa yang pernah diajarkan ayahnya ketika dia masih berusia belasan tahun. Namun karena tak pernah dipergunakan lagi, bahasa itu berangsur-angsur lenyap dari ingatannya. Si Bungsu menyalami wanita itu, setelah ceritanya dalam bahasa Vietnam itu diterjemahkan Lok ma ke dalam bahasa Inggris. Wanita berusia separoh baya itu menyambut uluran tangan si Bungsu dengan mata berkaca-kaca. Sambil meramu obat, mereka lalu terlibat pembicaraan yang diterjemahkan oleh Lok Ma. Lok Ma menjadi penerjemah untuk kedua orang itu.

Jika wanita itu yang bicara Lok Ma menerjemahkan bahasa Vietnam itu untuk si Bungsu ke dalam bahasa Inggeris. Sebaliknya si Bungsu yang bicara dalam bahasa Inggeris kemudian diterjemahkan untuk wanita itu oleh Lok Ma ke dalam bahasa Vietnam.

“Menurut kakek saya, Kota Jawa itu besar sekali, penduduknya juga amat ramai…” ujar wanita tersebut.
“Jawa itu nama pulau, Bu. Ada ratusan kota di sana. Jawa itu bahagian dari negeri yang bernama Indonesia. Ada ribuan pulau besar kecil di negeri itu….”
“Tuan juga berasal dari Jawa?”
“Tidak. Saya dari pulau Sumatera.…”
“Jauh dari Jawa?”
“Tidak juga….”
“Tuan pernah ke Jawa?”
“Pernah, ke Jakarta….”
“Jauh Kakarta itu dari Jawa?”

“Jakarta itu ibukota Indonesia, seperti Saigon ibukota Vietnam Selatan dulu. Jakarta itu terletak di Pulau Jawa…” ujar si Bungsu sambil mengoleskan ramuannya yang sudah selesai dibuat ke pergelangan tangan dan buku-buku jari Kapten Bhun Dhuang.

“Ada berapa keluarga muslim di kampung ini…?”
“Ada lima keluarga.…”
“Berapa keluarga di sini semuanya?”
“Kira-kira lima puluh keluarga….”
“Saya bahagia sekali bisa bertemu dengan orang seagama dan dengan orang yang sekampung dengan ayah saya. Saya ingin sekali datang ke Jawa. Mungkin suatu hari kelak, saya akan datang ke sana bersama anak-anak saya…” ujar wanita itu dengan mata berlinang.

Lalu dia membungkukkan badan, memberi hormat. Kemudian minta izin meninggalkan pondok itu. Si Bungsu berdiri, menyalami wanita tersebut. Dia mengantarkannya ke pintu.
“Saya doakan niat Ibu untuk datang ke Jawa disampaikan Tuhan. Saya senang di sini bisa bertemu dengan keturunan orang Indonesia…” ujar si Bungsu.

Si Bungsu lama berdiri di pintu. Menatap wanita itu berbaur dengan penduduk lainnya di halaman rumah besar di ujung sana. Dari kejauhan dia lihat wanita itu dikerubungi beberapa wanita dan anak-anak. Nampaknya dia bercerita tentang pertemuan mereka sebentar ini. Kemudian bersama Lok Ma yang tadi menjadi juru bahasanya dia kembali masuk ke pondok. Melihat tangan si kapten yang sudah dia olesi ramuan obat.

“Terimakasih, kawan, ramuan obatmu manjur sekali…” ujar Kapten Bhun Dhuang ketika melihat si Bungsu masuk bersama Lok Ma.
Si Bungsu memeriksa kedua kepalan tangan perwira tersebut. Bengkaknya sudah jauh menyusut. Warna merah kehitam-hitaman yang tadi terlihat dari pergelangan tangan sampai ke batas siku, kini sudah lenyap sama sekali. Kedua pergelangan tangan yang retak dan membengkak sebesar telur ayam, kini sudah hilang bengkaknya. Si Bungsu lalu meminta perban kepada Lok Ma. Lalu membalut kedua tangan si kapten mulai dari pergelangan tangannya ampai ke ujung lima jarinya.

“Maaf, untuk sementara bila lapar Anda terpaksa disuapkan. Tapi, jika obat ini manjur besok pagi Anda bisa memegang sendok. Hanya saya kurang yakin…” ujar si Bungsu.
“Bila Anda kurang yakin saya justru sangat yakin…” ujar si kapten sambil tersenyum.

Namun besok yang diucapkan si Bungsu merupakan hari yang tak pernah terbayangkan sedikitpun, baik oleh si Bungsu maupun oleh semua tentara Vietnam yang bermarkas di kampung tersebut. Subuh sekali, tatkala malam perayaan Hari Raya Tet baru saja usai, dan hampir semua penduduk serta tentara pada bergelimpangan tidur karena kenyang dan lelah menari, dua peleton pasukan khusus tentara Vietnam, ditambah tiga perwira dari korp polisi militer, yang dikirim langsung dari Kota Ben Hoa, menyelusup masuk.

Tanpa banyak bicara mereka mengambil alih tawanan. Termasuk si Bungsu, yang karena lelah sedang tidur lelap. Dia tersentak bangun ketika merasa ada yang menindih tubuhnya yang sedang menelungkup. Dia tak sempat bergerak banyak karena dua orang ternyata sudah menginjak tengkuk dan pinggangnya. Lalu dia merasa tangannya kembali diikat ke sebuah kayu pendek yang disandangkan ke bahunya. Nasib seperti siang kemarin ternyata kembali terulang. Sebuah kayu diletakkan di bahunya. Kedua tangannya diikat ke kayu sebesar lengan lelaki dewasa itu.

Subuh belum bersambut dengan pagi, pasukan khusus itu kemudian menggelandang tawanannya. Si Bungsu baru tahu, ternyata masih ada tiga orang tentara Amerika yang disekap di desa tersebut. Dia tak tahu di mana mereka disekap.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: