Dalam Neraka Vietnam -bagian-651-652


Dalam Neraka Vietnam -bagian-651
si bungsuPilot menolehkan kepala ke belakang. Ke arah Ami yang sedang berpeluk tangan dan menatap ke langit gelap lewat kaca di sampingnya.
“Nona Florence….”
Ami tersentak. Menatap ke arah pilot yang memanggilnya.
“Ya…?”
“Silahkan Anda menggeser duduk ke mari. Laksamana di USS Alamo ingin bicara dengan Anda, Mam….”
Ami Florence merasa jantungnya berdegup. Dia berjalan dengan menunduk di dalam heli itu, mendekat ke belakang tempat duduk pilot. Kemudian duduk di sebuah bantalan besar di sana.
“Sir, ini Nona Florence…” ujar pilot.

Dia segera memberi isyarat pada copilotnya untuk membuka headphone di copilot agar menyerahkan head phonenya pada Florence.
Ami memasang headphone itu ke kepalanya. Kemudian membetulkan letak kap radionya di telinga.
“Yes, Laksamana…?” ujarnya membuka pembicaraan.
“Florence…?”
“Ya….”
“Maaf, saya tidak tahu harus memulai dari mana….”
Hati Florence makin berdebar. Firasat buruk merayapi hulu jantungnya. Ini pasti mengenai si Bungsu, bisik hatinya.
“Mengenai Bungsu…?” ujarnya antara terdengar dan tidak.
“Sekali lagi maaf, Florence. Ya, mengenai Bungsu….”

Florence merasakan tubuhnya tiba-tiba menggigil dan berkeringat dingin. Dia tak mampu bicara sepatah pun. Dia seperti menanti vonis hukuman mati.
“Florence…?” himbau Laksamana Lee.
Tak ada sahutan!
“Florence. Anda masih di sana, Mam…?”
“Yy.. Ya… Laksamana….”
“Dengan permintaan maaf saya harus menyampaikan pada Anda, Mam. Bahwa si Bungsu tidak berada di Sea Devil, kapal selam yang kini sedang Anda tuju….”

Ami Florence tak bicara. Namun masih ada sedikit harapan, si Bungsu dikatakan tidak berada di Sea Devil, tidak dikatakan sudah mati. Dia menunggu kepastian lebih lanjut.
“Dia tidak berada di Sea Devil, berarti masih berada di suatu tempat, Laksamana?”
“Ya, Mam. Dia masih berada di suatu tempat, di belantara Vietnam sana….”
“Masih… masih….”
“Ya Mam, dia masih hidup! Itu dipastikan oleh laporan Mayor Murphy Black, komandan gugus tugas khusus dari SEAL yang ditempatkan di Teluk Kompong Sam, yang menjemput dengan helikoptertawanan yang berhasil dibebaskan si Bungsu….”
Florence menghapus keringat di dahinya. Dia menarik nafas panjang. Kendati dia sangat kecewa orang yang dicintainya itu tidak berada di Sea Devil, namun dia bahagia lelaki itu kini masih hidup.

“Dia sendirian di Vietnam sana, Laksamana?”
Laksamana Lee tak segera menjawab.
“Laksamana?”
“Maaf. Dia tertawan oleh Vietnam. Namun Mayor Black memastikan bahwa dia masih hidup. Tubuhnya tidak terdapat di antara mayat-mayat yang bergelimpangan di padang lalang di mana pertempuran terakhir pecah saat mereka akan dijemput helikopter….”
Sekali lagi Ami Florence menghapus peluh dingin di wajahnya.
“Dia tertawan oleh Vietnam?” ujarnya perlahan.
“Ya, Nak. Cerita lengkapnya bisa engkau tanya pada Kolonel MacMahon di Sea Devil, salah seorang dari 17 pasukan Amerika yang dibebaskan si Bungsu, termasuk Roxy Rogers….”

Ami Florence seperti tercekik sesuatu di kerongkongannya mendengar kabar dari Laksamana Lee. Dia masih terdiam sambil memegang radio yang hubungannya masih terbuka dengan USS Alamo. Lewat radio Laksamana Lee dapat mendengar gadis itu menarik nafas berat dan panjang.
“Saya sangat menyesal, Nak. Sepanjang laporan yang saya peroleh, baik dari Kolonel MacMahon maupun Mayor Murphy Black, Komandan SEAL yang menjemputnya, lelaki dari Indonesia itu sengaja menjadikan dirinya umpan. Agar para tawanan bisa lolos.

Dalam Neraka Vietnam -bagian-652
Amerika tidak hanya berhutang budi padanya. Sekaligus benar-benar merasa malu, karena tak bisa mengeluarkan lelaki perkasa itu dari neraka Vietnam. Saya sangat menyesal….”
Tak ada jawaban apapun dari Ami Florence.
“Ami, Anda masih di situ, Nak?”
“Ya….”
“Saya sangat menyesal, Nak….”
“Terimakasih, Laksamana…” ujar Ami nyaris tak terdengar, sembari memutuskan hubungan radio.

Kolonel MacMahon masih menanti beberapa saat. Dia tahu hubungan dengan Ami sudah diputus gadis itu. Dia benar-benar ikut menyesal.
“Kapten Gregor…” ujarnya Laksamana Lee perlahan memanggil pilot heli tersebut.
“Yes, Sir!”
“Nona Florence masih di sana?”
Pilot heli menolehkan kepalanya sedikit ke belakang melihat Ami masih menunduk sambil memegang radio yang tadi diberikan co-pilot kepadanya.
“Ya, dia masih di sini, memegang radio, Sir!”
“Baik, jangan ganggu dia. Gunakan radio pada Anda saja. Perwira navigasi akan memberi petunjuk di mana Anda harus menjemput para bekas tawanan itu….”
“Yes, Sir!”

Namun saat itu Ami Florence mengulurkan radio di tangannya kepada co-pilot.
“Terimakasih…” ujarnya pelan.
“Yes, Mam…” jawab co-pilot.
Ami masih duduk di belakang pilot. Tatapannya kosong.
“Saya ikut menyesal mengenai Bungsu, Mam…” ujar pilot kepada Ami yang sejak tadi memang ikut mendengar percakapan antara Laksamana Lee dengan Ami Florence lewat headphone di kepalanya.
Ami menatap ke arah pilot tersebut.
“Terimakasih…” ujarnya perlahan.

Gadis itu berusaha untuk tersenyum. Namun dia tak mampu menahan air matanya untuk tidak mengalir. Dia dan abangnya, Le Duan, sebenarnya sudah harus menjalani program khusus di Amerika. Setelah mengikuti program khusus antara tiga sampai empat bulan itu, dia akan ditempatkan di salah satu negara bahagian Amerika atau bisa saja di suatu negara lain yang dia pilih. Program khusus itu antara lain menyangkut pekerjaan yang cocok, dan latihan di program tersebut.

Bisa saja dia ditempatkan di kemiliteran atau polisi. Atau menjadi intelijen di FBI atau CIA yang memang sudah amat dia kuasai.Namun dia sudah bertekad, begitu keluar Vietnam dia akan meninggalkan dunia spionase. Akan hidup sebagai dosen atau penerjemah atau mungkin sekretaris eksekutif. Masa program itu dia minta undur. Dia ingin jika dia pergi ke Amerika, atau ke ujung dunia manapun, si Bungsu ada bersamanya. Atau lebih konkret lagi, dia ingin pergi kemana pun si Bungsu pergi.

Dia sudah meminta agar abangnya pergi duluan ke Amerika untuk mengikuti program khusus itu. Kepada Le Duan dia katakan terus terang, bahwa dia hanya mau pergi kalau bersama si Bungsu. Le Duan hanya menarik nafas panjang mendengar ucapan adiknya. Dia tahu sikap adiknya yang bengal dan kadang-kadang bikin pusing. Susah sekali jatuh hati. Namun begitu ada lelaki yang mampu menaklukkan hatinya, maka jatuh hatinya separoh mampus. Kini saat itu nampaknya tiba. Hati adiknya kepincut separoh mampus kepada lelaki dari Indonesia itu.

“Kita akan pergi bersama, Ami. Saya akan menunggumu…” ujar Le Duan di salah satu hotel di Manila, saat Ami menawarkan dia pergi duluan ke Amerika.
“Tapi, saya akan menunggu si Bungsu….”
“Ya, kita sama-sama menunggunya…” ujar Le Duan sambil tersenyum. Ami membalas senyumnya.
“Ami….”
“Ya…?”
“Apakah kau yakin dia juga mencintaimu?”
Ami tertegun. Tak bisa segera menjawab.
“Kau yakin dia juga mencintaimu, seperti engkau mencintainya, Ami?”
“Aku.. aku ingin menjawabnya ‘ya’, Le….”
“Aku juga ingin seperti itu, Adikku. Aku ingin dia mencintaimu, seperti engkau mencintainya. Tapi apakah kau yakin?”
“Menurutmu, Le?”
“Aku tahu dia menyukaimu, Ami…”
“Apakah dia mencintaiku?”
Le Duan tak bisa menjawab.
“Bagaimana, bagaimana kalau…”
“Kalau dia tidak mencintaiku, Le?”
“Ya, Ami….”

Ami tertunduk. Dia memang tak pernah memikirkan bagaimana jika si Bungsu tidak mencintainya. Sementara dia mencintai lelaki itu sepenuh hati.
“Le…”
“Ya…?”
“Apakah menurutmu, aku akan bunuh diri jika dia tidak mencintaiku?”
Le Duan menatap adiknya. Ami Florence menatap abangnya.
“Bagaimana menurutmu, Le…?”
Le Duan menggeleng perlahan.
“Kenapa kau yakin aku tak akan bunuh diri?”
“Kau takkan bunuh diri, Ami….”
“Kenapa…?”
“Karena lelaki itu juga mencintaimu…!”

Ami menatap abangnya. Le Duan mengangguk. Ami memeluk abangnya. Le Duan mendekap kepala adiknya. Membelainya perlahan. Ami tak mampu menahan air matanya.
“Terimakasih, Le… terimakasih. Hanya engkau saudaraku satu-satunya yang tersisa dari perang panjang yang menghancurkan negeri kita…” bisik Ami.

Le Duan tak mampu bicara sepatah pun, seluruh keluarga mereka memang sudah punah dimakan perang Vietnam yang tiga belas tahun itu. Kini hanya tinggal mereka berdua. Dia sangat menyayangi adiknya ini. Mereka berempat bersaudara. Hanya Ami yang wanita. Dua saudara lelaki mereka sudah meninggal. Juga orang tua mereka.
“Saya akan menunggu kabar dari si Bungsu, Le. Saya yakin dalam seminggu dua ini akan ada kabar mengenai dirinya….”
“Kita akan menunggunya bersama, Ami….” ujar Le Duan.

Lamunan Ami Florence terputus ketika dia mendengar suara ribut di sekitarnya. Dia segera mengetahui helikopter yang dia tompangi sudah mengapung cukup rendah di atas laut. Di bawah sana dia melihat sebuah benda hitam memanjang. Sebuah kapal selam yang tak begitu besar. Tak ada siapa pun di atas deknya yang mengapung. Sekitar setengah meter dari permukaan air helikopter diturunkan di dek tersebut. Kapten kapal dengan pilot heli saling berhubungan dengan radio. Begitu heli mendarat, petugas kesehatan dan petugas yang lain segera berhamburan turun.

Pada saat itu sebuah pintu dekat menara pendek di kapal selam itu terbuka. Lalu dua orang tentara Amerika dari kesatuan SEAL segera muncul. Mereka berdiri di tepi pintu keluar masuk ke kapal selam itu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: