Dalam Neraka Vietnam -bagian-636-637-638


Dalam Neraka Vietnam -bagian-636
si bungsu
Sebuah besi baja pipih dengan beberapa bahagiannya yang amat runcing, meluncur dengan kecepatan penuh dan menancap di urat besar pada bahagian kanan leher tentara tersebut. Urat besar itu, berikut beberapa urat saraf ke kepala, langsung putus ketika lempengan besi pipih sebesar jari itu menancap hampir separohnya, tiga jari di bawah telinga tentara tersebut. Wajahnya langsung membenam ke tumpukan daun kering di tanah.

Dia memang tak sempat menggelepar, karena saraf-saraf yang menghubungkan pusat gerak di otak ke berbagai bahagian tubuh sudah terputus. Itu pula sebabnya si komandan dan teman-temannya tak tahu, bahwa nyawanya sudah melayang, beberapa detik sebelum tubuhnya yang akan tiarap itu sempurna mencapai tanah. Si Bungsu ternyata masih berada di tempat darimana dia tadi melemparkan besi pipih kecil dan tajam, yang merenggut nyawa tentara Vietnam itu.

Dari tempatnya berada dia bisa mengawasi sebahagian lokasi di sekitarnya. Dia memang tak dapat melihat di mana komandan tentara Vietnam itu berada. Namun dia dapat melihat ketika hampir semua pasukan itu bergerak meninggalkan tempat masing-masing. Semua menuju ke arah yang sama. Dan si Bungsu tahu, mereka sedang menuju ke arah danau besar di balik bukit-bukit sana. Memburu para pelarian tentara Amerika itu. Si Bungsu juga tahu, tidak semua tentara Vietnam itu meninggalkan lokasi ini. Beberapa di antara mereka tetap tinggal.

Mereka yang tinggal bertugas memasang jebakan untuknya. Hanya dia tak tahu dengan pasti, berapa orang tentara yang ditinggal untuk menjebaknya itu. Lebih celaka lagi, dia juga tidak tahu di mana saja orang-orang yang ditinggalkan itu menunggunya. Si Bungsu tahu, di antara tentara Vietnam itu ada pencari jejak yang mahir. Dia sudah mendapat cerita dari beberapa pensiunan tentara Amerika, ketika dia masih di Dallas maupun saat bepergian bersama Alfonso Rogers dan Yoshua ke Los Angeles dan New York, tentang beberapa warga suku pegunungan di bahagian utara Vietnam, yang menjadi pencari jejak yang tangguh di dalam hutan belantara.

Dia tak boleh gegabah. Untuk sementara, menjelang dia mengetahui berapa orang yang tinggal dan di mana posisi bertahan, dia harus memaksa mereka yang duluan membuat gerakan. Dengan fikiran demikian, perlahan dia merobah posisi. Jika tadi dia berjongkok, kini perlahan dia duduk di tanah. Lalu menengadah dan menarik nafas panjang. Menatap ke daun pohon-pohon raksasa yang membatasi pandangannya ke langit di atas sana. Beberapa ekor burung serindit berwarna indah, kuning tentang dada dan hijau di bahagian tubuh yang lain, kelihatan terbang dan hinggap dari dahan ke dahan.

Menatap burung-burung itu hinggap dari dahan ke dahan, si Bungsu tiba-tiba terperangah. Dia tertunduk tatkala perasaan galau menjalar perlahan ke hulu jantungnya. Jika burung saja memiliki dahan untuk hinggap, bagaimana dengan dirinya? Diibaratkan dirinya adalah seekor burung, ke dahan mana dia akan hinggap? Bertahun-tahun sudah meninggalkan kampung halamannya, Situjuh Ladang Laweh, di kaki Gunung Sago di Luhak 50 sana. Di sana darahnya tertumpah ketika dilahirkan ke dunia. Di sana ayah bunda dan kakaknya berkubur, mati dibunuh dan dianiaya balatentara Jepang di bawah komando Saburo Matsuyama.

Jika burung saja memiliki dahan untuk hinggap, kampung dan negeri mana yang bisa dia jadikan sebagai ‘dahan’ untuk hinggap? Situjuh Ladang Laweh, adakah anak negeri itu masih ingat padanya, dagang yang larat di rantau ini? Di kampung nya, pengakuan terhadap seseorang diukur dari harta dan pusaka yang dimiliki. Di Minangkabau ada bidal: Hilang rono dek cahayo, hilang bangso dek harato. Dia faham benar makna bidal itu, yang berlaku secara umum di tanah Minangkabau. Sejak dahulu, sampai kini.

Dalam Neraka Vietnam -bagian-367
Seseorang tak lagi di pandang karena ilmu dan budinya,tapi di hitung ada jika dia memiliki harta,lagi pula,kini di minangkabau tempat orang berunding dan meminta kata putus tidak lagi ninik mamak.Bahkan gelar datuk,sutan,bagindo,sidi dan gelar lainnya,tak lagi memerlukan keabsahan ranji dan garis keturunan.Uang bisa menciptakan ranji dan garis keturunan,sesuai dengan keinginan pembeli.Dengan uang bisa di suruh membuat ranji baru.Maka dengan ranji tersebut dia bisa mendapat gelar datuk,rajo,sidi,sutan atau bagindo.

Hutan,tanah ulayat,dan tanah kaum bukan lagi hanya di bawah kendali ninik mamak kepala kaum.Dengan uang kendali atas hutan dapat berpindah pada cina misalnya,pindah nya itu bisa karena ninik mamak telah mendapat uang,bisa pula karena yang mendapatkan uang orang-orang di pemerintahan,yang putusannya harus di patuhi oleh ninik mamak di desa-desa.

Ranji dan marwah adat begitu kusut masai.Tak tahu apakah penyebabnya terlalu jauh memasuki wilayah kekuasaan adat atau ninik mamak begitu mudah tergiur uang yang di tawarkan,atau gabungan keduanya.Yang jelas,yang bernasib malang adalah anak kemanakan.sebagian besar di antara mereka tak tahu siapa sebenarnya yang menjadi nahkoda di biduk adat mereka,dan ke pulau manan biduknya itu di layarkan.

Karena takut atau kerana uang mereka terpaksa patuh pada penghulu adat mereka,kendati penghulu adat itu menjual ulayat mereka.Padahal terhadap ulayat ada hukum adat yang tertera dalam bidal:“Gadai tak makan pagang-Jua tak makan bali”.Maknanya adalah,ulayat tak boleh di perjual belikan.Kecuali untuk yang tertera juga di bidal”mayik tabujua di tangah rumah,gadih gadang alun balaki“Meski tak semua adat di kampungnya kusut masai oleh perangai ninik mamak,namun sebagian besar itulah yang terjadi.

Pikiran si Bungsu akhirnya menerawang kepada tentara Vietnam yang kini tengah memasang jebakan untuknya.Dia tahu,tentara itu juga menanti dengan diam.Sama dengan dirinya,mereka juga nyaris tak bergerak.Si Bungsu tahu,lawan yang kini mengintai dirinya adalah orang-orang yang masih mampu bertahan dan lolos dari maut yang ribuan kali mengintai lewat ribuan kali pertempuran,besar maupun kecil,melawan tentara Amerika.

Hanya saja,mereka yang memenangkan peperangan dan menguasai Vietnam sekarang adalah tentara yang amat kejam dan sadis.Dia sebenarnya akan menaruh hormat,kalau saja Vietkong adalah tentara yang melindungi rakyat,tapi justru perbuatan tentara Vietkong tidak bisa di terima akal sehat.

Mereka mengumpulkan wanita-wanita cantik dari kota maupun desa-desa,kemudian di giring ke kamp-kamp untuk di jadikan pemuas nafsu tentara-tentaranya.Sebagaimana di negeri komunis lainnya di Vietnam selatan pun di berlakukan undang-undang yang sama dengan utara.Ribuan orang yang diduga terlibat membantu Amerika di tangkap dan di bunuh atau lenyap tanpa kabar berita.

Siapapun tahu kalau mereka di bunuh di hutan-hutan atau ladang-ladang yang jauh terpencil,lalu di kubur secara masal.Kendati perang sudah berakhir,namun tentara Vietnam yang seluruhnya adalah tentara utara,masih tetap melakukan pembersihan di kalangan rakyat.Semua mereka dilucuti dan di sebar keratusan penjara dengan pengawalan ketat.

Pada minggu-minggu pertama kejatuhan selatan,data intelijen Amerika mencatat,belasan ribu dari sekitar sejuta tentara selatan tak sampai ke penjara.Mereka dibunuh sepanjang jalan,kemudian sebagian lagi mati setelah disiksa di kamp-kamp tawanan.Dimana pun didunia ini,tentara yang menang akan membalas dendam kepada tentara yang kalah,kendati tak satupun hukum didunia yang membenarkannya.Namun,balas dendam yang dilakukan tentara utara terhadap tentara selatan luar biasa kejamnya.Sulit membedakannya dengan yang dilakukan rezim Pol Pot di Kamboja.

Pikiran si Bungsu terus menerawang sembari matanya menatap ke beberapa burung yang hinggap di dahan-dahan kayu di atasnya.Terawang pikirannya terhenti ketika melihat seekor burung terbang dari dahan yang agak rendah ke pohon yang lain yang lebih jauh.Bagi orang lain mungkin tak ada yang aneh atas terbangnya burung itu.Namun bagi si Bungsu yang sudah hafal pada tingkah laku belantara dan segenap yang menghuninya,langsung arif bahwa ada sesuatu yang tak wajar pada cara burung itu terbang dari tempatnya.

Dia tahu,ada sesuatu yang membuat burung itu terbang lebih cepat dari semestinya.Sesuatu adalah yang tak lazim di belantara.Dia berbaring diam.Inderanya yang amat tajam mengetahui ada yang bergerak di bahagian kanannya.Jaraknya paling jauh hanya sekitar sepuluh depa.Gerakan itulah yang menyebabkan burung tadi terkejut dan terbang lebih cepat dari semestinya.Si Bungsu tahu,salah seorang dari tentara yang memasang jebakan untuknya yang sampai kini belum dia ketahui berapa jumlahnya,kini semakin mendekati tempatnya.

Dia memejamkan mata.Meletakkan lengan kanan menutup matanya tersebut.Lewat pendengaran yang amat tajam,si Bungsu tahu orang yang ingin menyergapnya itu kini masih berada dalam jarak sekitar sepuluh depa dari dia.Dia mendengar suara di geser di tanah.Lalu suara bedil diangkat.Lalu suara tangan begeser di besi menuju pelatuk bedil.Bahkan dia bisa mendengar saat itu menarik dan menghembuskan nafasnya.Dari cara orang itu menggerakkan kaki dan menarik nafas,si Bungsu tahu,orang tersebut sedikit gugup.

Tiba-tiba saja,entah mengapa.Dia kehilangan nafsu untuk membunuh.Dia menjadi bimbang,untuk apa dia membunuh tentara Vietnam selama beberapa hari ini?Perang ini bukan perang negerinya dengan Vietnam.Dia tak ada sangkut pautnya dengan perang ini.Lalu dia mendengar suara telunjuk menarik pelatuk bedil.Dia bergulingan ke kiri,tangan kanannya bergerak.Sebuah letusan menggema.Pelurunya menghujam persis ke tempat dimana tadi tubuhnya berada.Kalau dia masih berbaring menelentang di sana,peluru itu akan menghujam persis di dadanya.

Namun dia sudah berguling ke kanan.Peluru menghujam tanah.Pada saat bergulingan itu tangan kananny,yang tadi disilangkan menutup mata,bergerak.Samurai kecilnya meluncur.Beruntung tentara Vietnam tersebut,karena si Bungsu memutuskan tidak lagi membunuh seorangpun tentara negeri ini.Samurai yang meluncur itu hulunya lebih dahulu.Sebelum si tentara sempat menarik pelatuk bedil untuk kali kedua,hulu samurai kecil tersebut menghantam bahagian tengh dadanya,persis di hulu.Karena yang melempar adalah seorang yang amat mahir.hentakkan hulu samurai kecil tersebut membuat tentara berhenti bernafas sesaat,tubuhnya langsung limbung,dan ambruk ke tanah Pingsan!

Si Bungsu tak bangkit sedikitpun.Dari posisinya yang menelungkup,dia menoleh ke arah datangnya suara tembakan.Beberapa pohon langsung menghalanginya pandangannya kearah orang yang menembaknya.Namun pada bahagian kanan dari pohon yang menghalangi,dia lihat sebuah bedil tergeletak.Pada bahagian kanan dari pohon yang menghalangi,dia lihat sebuah kaki tertekuk.popor bedil itu menghadap kekaki yang tertekuk tak bergerak itu.Dia tahu kalau lemparan dia telah membuat orang itu jatuh pingsan.
Setelah itu sepi!.

Dalam Neraka Vietnam -bagian-638

Sersan Lok Ma menanti dengan diam di tempat perlindungannya, di balik sebuah pohon besar. Beberapa saat sebelumnya kopral yang berada sekitar lima belas depa dari tempatnya bergerak, kemudian memberi isyarat, bahwa dia telah melihat tempat persembunyian orang yang mereka buru. Lok Ma memberi isyarat agar si kopral jangan terlalu mendekati tempat orang tersebut. Namun ada dua hal yang mendorong si kopral untuk meringsek ke dekat tempat persembunyian si Bungsu. Pertama, rasa ingin menjadi hero. Kedua keinginan agar tembakannya tidak meleset. Dari tempat dia berada saat memberi isyarat kepada Sersan Lok Ma, dia hanya melihat bahagian kaki orang yang mereka buru.

Dengan kedua alasan yang saling atas mengatasi itu, si kopral menggeser tegak inci demi inci. Kemudian berlarian dengan cepat ke pohon kembar sekitar tiga depa di depannya, dengan jarak sepuluh depa dari tempat si Bungsu. Saat itulah seekor burung serindit yang berada di salah satu dahan di pohon kembar itu terkejut. Lalu terbang menjauh. Dan terbangnya burung itulah yang menjadi isyarat bagi si Bungsu, bahwa di bawah pohon dari mana burung itu terbang ada sesuatu yang tak biasa. Di bawah pohon itu pasti ada sesuatu yang menyebabkan burung itu terkejut dan terbang menjauh. Dugaan si Bungsu ternyata benar.

Kemudian, dari tempatnya tegak si kopral menembak. Hanya sebuah tembakan tunggal. Dan setelah itu Sersan Lok Ma maupun kopral yang seorang lagi, tak mendengar apapun dari mana arah tempat si kopral melepaskan tembakan. Tak mendengar apapun dan tak melihat apapun! Mereka sama-sama menanti dalam diam. Ada beberapa saat dipergunakan si Bungsu untuk menunggu reaksi dari kelompok yang menyerangnya. Karena tak ada reaksi apapun, dia lalu bergerak.

Dia merayap hampir tanpa suara kearah tentara yang pingsan dihantam hulu samurai kecil yang dia lemparkan tadi. Pertama yang dia lakukan setelah sampai ke dekat tubuh prajurit yang terkapar pingsan itu adalah mengambil samurai kecilnya, yang tergeletak dekat topi wajah si prajurit. Dia sisipkan kembali ke sabuk karet tipis di balik lengan bajunya. Setelah itu, masih dalam posisi tiarap dia mengelupas kulit kayu besar yang tadi dijadikan si prajurit sebagai tempat berlindung. Serat kulit kayu itu kenyal dan dan alot sekali. Kedua tangan tentara yang masih tak sadar diri itu dia ikat ke belakang dengan kulit kayu yang tak mungkin diungkai.

Usai mengikat si tentara, dengan membawa bedil prajurit pingsan yang magazinnya masih penuh dengan peluru, dia bergerak menjauhi tempat tersebut. Dia sengaja mengambil jalan melambung, menuju ke arah danau menyusul Kolonel MacMahon dan teman-temannya yang lain. Seperti sudah dia duga, langkahnya pasti ada yang menyusul. Dan yang menyusul adalah Sersan Lok Ma dan seorang kopral lainnya. Ke dua orang itu tak lagi melihat temannya yang tadi melepaskan temabakan ke arah orang yang dia buru. Mereka sudah merasa yakin, bahwa orang yang mereka buru ini telah menghabisi teman mereka. Sebab teman mereka itu tak bersua atau tak memberi isyarat apapun usai menembak tadi.

Lok Ma baru menyadari orang yang mereka buru sudah pergi, setelah melihat beberapa burung di pohon-pohon yang agak jauh pada berterbangan dari dahan yang ada di bawah, pindah ke dahan yang di atas. Dia lalu memberi isyarat pada kopral yang berada sekitar sepuluh depa di kirinya. Mereka berdua kemudian bergerak menyusul si Bungsu. Benar saja, sekitar beberapa menit melacak dalam belantara itu, Lok Ma menemukan jejak orang yang mereka uber. Jejak itu hanya terlihat amat samar di tumpukan dedaunan kering yang menutupi tanah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: