Dalam Neraka Vietnam -bagian- 616-617


Dalam Neraka Vietnam -bagian- 616
si bungsu
Makin banyak tentara yang menyukai layanan mereka, makin banyak mereka mendapat kupon, itu berarti makin banyak pula mereka mendapat uang. Thi Binh tentu saja pernah mendapatkan kupon itu. Baik dari kolonel gaek itu, dan jumlahnya banyak sekali, dari mayor yang wakil komandan, maupun dari para prajurit. Namun tiap diserahkan tiap dirobeknya kupon tersebut.

Sampai akhirnya ada di antara wanita-wanita di barak itu yang meminta agar kupon itu jangan dirobek, tapi diberikan pada mereka. Mereka membutuhkan kupon itu, karena orang tua mereka adalah petani miskin. Jadi uang dari tukaran kupon amat berarti bagi mereka, untuk dibawa pulang ke kampung jika tiba saatnya dibebaskan. Saat gempuran melanda barak-barak, tak seorang pun tentara Vietnam yang berada di barak para wanita penghibur tersebut.

Sejak pagi tadi dibunyikan terompet bahaya. Semua personil segera berhamburan ke barak masing-masing. Memakai pakaian tempur dan mengambil senjata. Kemudian mereka segera dibagi dalam empat peleton besar, dan langsung menerima perintah memburu tawanan yang lolos itu ke empat penjuru. Sudah sejak pagi para wanita itu berada di bukit batu yang memisahkan barak mereka dengan barak yang dihuni para tentara.

Bukit itu biasanya tempat mereka menghibur diri bila sore hari. Karena dari sana bisa memandang ke arah barat dan bisa pula memandang ke bahagian belakang, ke sungai besar yang mengalirkan air amat jernih. Kini mereka menanti apa yang akan terjadi, kenapa para tentara tiba-tiba diperintahkan berkumpul seluruhnya? Mereka melihat para tentara itu bergegas menyusun barisan. Ada pula regu-regu kecil berkekuatan tujuh orang, yang menyisir wilayah hutan berbukit terjal di sekitar barak.

Saat terdengar suara tembakan dari kejauhan, wanita-wanita tersebut segera berlarian ke bukit batu di belakang barak mereka. Mereka melihat hanya belasan tentara yang berada di depan barak. Lalu juga melihat si kolonel mondar mandir di depan pasukan yang belasan itu, persis kereta api lansir. Hampir semua wanita itu mengenal kolonel gaek tersebut. Sebab hampir semua mereka dibawa ke kamp ini harus dipersembahkan terlebih dahulu kepada gaek kalera bernafsu badak itu.

Saat itulah tiba-tiba mereka mendengar sebuah ledakan, lalu tubuh kolonel badak itu lenyap dari pandangan bersama gumpalan asap dan kilatan api. Lalu tentara-tentara yang lain pada bertumbangan, lalu salah sebuah barak meledak dan dilemparkan ke udara menjadi kepingan-kepingan tak berbentuk. Para wanita itu ternganga, ada yang menggigil. Namun, hati mereka sungguh-sungguh amat bersuka cita.

Mereka tak peduli pihak mana yang membunuh kolonel dan anak buahnya itu. Tak peduli apakah malaikat atau iblis. Yang penting semua tentara jahanam di barak ini mampus. Mereka sudah berbulan-bulan dijadikan budak pemuas nafsu tentara-tentara laknat tersebut. Bermacam perangai tentara itu yang harus mereka hadapi. Tak sedikit yang berpenyakit jiwa dalam memenuhi kebutuhannya terhadap perempuan.

Ada yang baru terpuaskan nafsunya setelah dia berhubungan sambil menyakiti si wanita. Meninju, menyepak, sampai tubuh si wanita babak belur. Ada yang lebih dari itu, yaitu yang suka menyayat-nyayat bahagian tertentu tubuh pasangannya dengan bayonet. Sayatannya memang tak dalam, sekedar luka bekas sayatan itu mengalirkan darah. Sambil berhubungan, si tentara akan menghisap dan menelan darah yang mengalir dari bahagian tubuh perempuan itu

Dalam Neraka Vietnam -bagian-617
Ada pula yang sebaliknya, dia baru mencapai puncak kenikmatan bila dia yang disakiti. Dia akan meminta pada wanita pasangannya untuk mencambuknya dengan kopel, bahkan ada yang sengaja membawa potongan rotan sebesar empu kaki. Dia meminta si wanita memukuli punggung, pantat dan pahanya dengan rotan sampai lebam dan bilur-bilur. Dan semua pengalaman itu meninggalkan teror yang menyeramkan pada wanita-wanita yang dipaksa menjadi pemuas nafsu setan tentara-tentara Vietkong itu.

Kini, melihat kolonel itu dan belasan anggotanya mampus, sebahagian dari wanita-wanita yang melihat dari bukit batu itu pada bergegas turun. Mereka pada mengemasi pakaian dan barang-barang mereka. Mereka merasa waktu pembebasan bagi mereka sudah tiba. Derita yang tak tertanggungkan itu sudah akan berakhir. Namun sebahagian lagi tetap saja terduduk diam di tempatnya.

Menatap dengan mata tak berkedip ke lapangan di tengah barak di bawah sana. Menatap ke arah mayat yang bergelimpangan, ke arah barak yang hancur lebur. Menatap ke arah api yang marak di bekas barak yang hancur lebur itu. Kendati ada jarak sekitar seratus sampai dua ratus meter tempat mereka berada dengan barak-barak di bawah sana, namun karena tak ada satu pun yang menghalangi pandangan, mereka dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi.

SI BUNGSU yang masih tegak di sebalik batu besar, tiba-tiba hatinya merasa tak enak. Dia amat yakin pada firasatnya. Dia menatap ke segala penjuru. Saat itu Duval juga sudah selesai menembaki tentara yang berada di lapangan di depan barak tersebut. Si Bungsu memberi isyarat agar mereka berdiam diri sesaat. Roxy, Duval dan Thi Binh lalu berjongkok di balik batu besar di dekat mereka.

Dengan bahasa isyarat si Bungsu menyuruh Duval kembali mengisi kedua howitzer yang baru ditembakkan Roxy dan Thi Binh. Saat Letnan Duval mengisi roket ke howitzer itu, si Bungsu berlutut dan mendekapkan telinganya ke tanah. Ketiga orang lainnya menatap dengan diam. Letnan Duval anggota SEAL yang juga ahli dalam peperangan belantara tahu bahwa lelaki dari Indonesia ini barangkali merasa ada pasukan lain mendekat mereka.

Dia yang juga punya keahlian untuk mendengar dan membedakan gerakan manusia dan hewan melalui tanah, segera ikut mendekapkan telinganya ke tanah. Namun dia tak mendengar ada gerakan kaki manusia. Dia memang mendengar gerakan halus, tapi dia yakin gerakan itu adalah langkah hewan, bukan manusia. Dengan keyakinan pada pendengarannya itu dia lalu duduk. Pada saat yang sama si Bungsu juga telah duduk.

“Kau mendengar sesuatu, Duval?” bisik si Bungsu.
Duval menggeleng. Si Bungsu memberi isyarat pada Roxy dan Thi Binh, agar keduanya bergerak perlahan ke balik sebuah batu besar yang agak melengkung. Sehingga mereka aman dari tiga sisi. Kedua gadis itu, dengan membawa senapan masing-masing, bergerak dengan membungkuk-bungkuk ke tempat yang ditunjukkan si Bungsu. Tempat itu hanya beberapa depa dari tempat si Bungsu dan Duval. Jarak yang masih memungkinkan si Bungsu berkomunikasi dengan berbisik kepada dua gadis tersebut. Si Bungsu kembali menatap pada Duval. Kemudian pada Roxy dan Thi Binh.

“Kita kini terkepung. Ada sekitar tiga puluh tentara Vietnam yang berpencar di sekitar kita dalam jarak antara lima puluh sampai tiga puluh meter…” bisik si Bungsu.
Duval ternganga. Kalau saja yang mengucapkan kata-kata itu bukan lelaki tangguh yang diam-diam dia kagumi ini, pasti dia takkan percaya. Bagaimana dia akan percaya, kalau dia yang juga dikenal sangat mahir melacak jejak dan mendengar gerakan di tanah dan tak mendengar apapun. Lalu tiba-tiba lelaki ini mengatakan ada tiga puluh tentara yang mengepung mereka?

“Engkau tak mendengar langkah mereka karena mereka memang tak sedang melangkah, Duval. Beberapa detik sebelum kita mendekapkan telinga ke tanah untuk mendengar langkah mereka, mereka sudah berhenti bergerak. Mereka sudah berada di posisi masing-masing. Dan menunggu saat kita bergerak dan lengah…” bisik si Bungsu, sembari matanya seperti mata elang, menyambar ke kiri dan ke kanan, mengawasi tiap pohon dan bebatuan besar di depan dan di samping mereka.

Duval kembali merasa terkejut dengan kemampuan daya fikir lelaki di hadapannya ini. Yang mampu membaca fikirannya, bahwa dia tak mendengar apapun saat mendekapkan telinganya ke tanah. Namun fikiran dan keheningan belantara itu tiba-tiba dirobek oleh serentetan tembakan. Batu di dekat telinga Duval beserpihan diterkam peluru. Begitu pula pohon besar di dekat kepala si Bungsu dihantam belasan peluru.

Si Bungsu menggeser diri ke arah kanan, sehingga dirinya benar-benar terlindung dari arah datangnya tembakan. Demikian juga Duval. Mujur bagi Roxy dan Thi Binh, mereka sudah berada di tempat yang benar-benar tak mampu ditembus peluru. Kalau saja mereka masih berada di tempatnya sebelum disuruh pindah oleh si Bungsu, mereka pasti sudah menjadi mayat. Keempat mereka duduk di tanah, bersandar ke batu atau pohon di belakang mereka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: