Dalam Neraka Vietnam -bagian-597-598


Dalam Neraka Vietnam -bagian-597
makmur hendrik
Namun yang dia lihat kini, sama sekali bertolak belakang, ketika orang di dalam kamar berukuran kecil itu, dalam posisi masih sama-sama berdiri, saling melucuti pakaian. Saling memeluk, bergumul, mendesah dan saling meremas dengan rakus. Di sisi lain dari barak itu, di tempat si Bungsu mengintai ke dalam mula-mula dia melihat seorang wanita Eropah memasuki sebuah kamar.

Wanita itu kemudian duduk di pinggir tempat tidur. Dan si Bungsu baru mengetahui bahwa di tempat tidur itu sedang berbaring seorang perwira Vietnam. Usia perwira itu barangkali sekitar 45 tahun. Nampaknya dia sedang memegang botol minuman keras. Begitu wanita Eropah tersebut duduk, si perwira memberikan botol minuman itu padanya. Si wanita menerima botol pipih kecil tersebut.

Kemudian menenggak minuman itu, beberapa teguk. Di bawah sinar lampu dinding, wajahnya segera terlihat bersemu merah usai menenggak beberapa teguk minuman keras tersebut. Sambil menatap nanap pada si perwira, wanita itu kemudian duduk berlutut di pembaringan. Perlahan dia membuka pakaiannya satu persatu, sampai lembar terakhir. Si Bungsu meninggalkan celah tempat mengintip tersebut, setelah memastikan bahwa wanita itu bukan Roxy, anak milyuner Amerika yang sedang dia cari.

Han Doi menoleh ketika mendengar isyarat dari arah kirinya. Dia melihat siluet sosok si Bungsu. Lelaki Indonesia itu kembali memberi isyarat agar mereka segera meninggalkan barak tersebut. Mereka kemudian menuju ke arah belukar berbatu-batu besar di mana tadi mereka mening galkan ransel.

“Apakah wanita yang engkau lihat itu Roxy?” tanya si Bungsu, begitu mereka sampai ke bebatuan besar tempat mereka bersembunyi tadi.
“Tidak…” jawab Han Doi.
“Kalau begitu dia masih disekap di goa yang diceritakan Thi Binh…” ujar si Bungsu sambil mengangkat ransel.
“Kita berangkat…” ujar si Bungsu.
“Akan kemana kita?”
“Kita cari goa tersebut…”
“Tapi, jalan ke arah goa itu dipenuhi ranjau…”
“Kita tunggu di bawah bukit sana…” ujar si Bungsu menunjuk ke arah bukit dari mana kedua wanita itu tadi muncul.
“Kedua wanita itu akan kembali di antar ke goa tempat penyekapan mereka, setelah mereka selesai memuaskan tentara di barak tadi. Kita tunggu mereka, dan kita jadikan sebagai penunjuk jalan…” tutur si Bungsu.

Mereka kemudian mengawasi barak yang terletak sekitar seratus meter di depan tempat mereka berada sekarang. Han Doi memang sangat mengantuk. Sangat sekali. Dia meraba-raba ketika menemukan tempat yang agak datar di dekat sebuah batu besar, dia segera melonjorkan kaki dan menyandarkan diri. Tak lama kemudian dia tertidur.

Mendengar dengkur halus Han Doi si Bungsu mendekati kawannya itu. Dia meraba urat di dekat leher bekas tentara Vietnam tersebut. Menjentiknya perlahan. Dengkurnya hilang, dan akibat jentikan di urat pada tengkuknya itu, Han Doi kini tak hanya tertidur pulas, tapi sekaligus berada dalam keadaan tak sadar secara penuh.

“Maaf kawan. Saya rasa engkau istirahat di sini dulu. Saya akan pergi sendiri, nanti kau kubangunkan lagi…” guman si Bungsu perlahan sambil meletakkan bedil dan ransel berisi peluru dan dinamit yang dia sandang di dekat tubuh Han Doi.

Si Bungsu memperhatikan bukit di dekat mereka berada. Dia tak yakin bukit ini tempat menyekap tentara Amerika. Dia kemudian menelusuri kaki bukit arah ke barat. Di balik bukit itu dia melihat ada bukit lain yang amat terjal sekitar seratus meter dari tempatnya berada. Dia memejamkan mata, memusatkan konsentrasi. Sayup-sayup dia mendengar suara beberapa orang bicara dari arah kaki bukit di depannya.

Si Bungsu segera bergerak cepat, menerobos belukar, menyeberangi sebuah anak sungai dangkal dan masuk ke belukar berikutnya di seberang sungai kecil tersebut. Sekitar sepuluh menit mengendap-ngendap dari pohon ke pohon, dari balik batu yang satu ke batu yang lain, akhirnya dia menemukan tempat asal suara yang tadi dia dengar. Ada api unggun kecil di balik dua batu besar, tak jauh dari sebuah bukit yang menjulang terjal.

Di sekitar api unggun itu hanya ada dua tentara sedang bersandar ke batu, dengan bedil di tangan, sedang ngobrol perlahan. Si Bungsu memperhatikan dengan seksama tempat kedua orang itu berbaring. Dia harus berusaha agar sekitar seratusan tentara Vietnam di tempat penyekapan tawanan Amerika ini tak mengetahui kehadirannya, sebelum dia berhasil membebaskan Roxy.
Tugas pertamanya sekarang tentu saja harus mencari di mana goa tempat penyekapan itu. Pasti di bukit yang dijaga ini, tapi di mana?

Dia menatap bukit tersebut. Kegelapan malam yang kental menyebabkan dia hanya melihat sosok bukit cadas tinggi menjulang, Tak melihat pepohonan apalagi goa di tebing bukit batu terjal tersebut. Saat dia kembali memperhatikan kedua tentara di dekat api unggun itu, terdengar suara tawa renyah mendekat.

Kedua tentara di dekat api unggun itu berdiri. Hanya beberapa saat kemudian, kedua wanita Eropah yang tadi datang menjadi pemuas nafsu perwira di salah satu barak, yang diintip sesaat oleh si Bungsu dan Han Doi, kelihatan muncul. Sebagaimana saat si Bungsu melihat kedua wanita itu ketika muncul dari daerah perbukitan ke areal terbuka di depan barak, yaitu diiringi dua tentara Vietnam, kini juga begitu.
Kedua wanita itu muncul di dekat api unggun juga dengan dua tentara yang tadi mengantar mereka ke barak tersebut. Si Bungsu melihat hal yang hampir membuat dia muntah didekat api unggun yang hanya sekitar sepuluh depa dari tempat dia bersembunyi.

Dalam Neraka Vietnam -bagian-598

Begitu kedua wanita itu muncul dekat perapian, begitu kedua tentara yang menunggu itu tegak. Seperti sudah ada kesepakatan sebelumnya, kedua wanita itu segera saja menyerahkan diri mereka ke dalam pelukan kedua tentara yang menanti.
Dan mereka merebahkan diri dan bergumul di dekat api unggun, sementara dua tentara yang tadi mengantar kedua wanita itu duduk menatap perbuatan kedua temannya. Hanya dalam waktu sekejap, pakaian keempat manusia yang bergumul itu sudah tercampak kemana-mana. Si Bungsu menyandarkan diri, membelakangi keempat manusia yang sudah tak lagi mengenal batas-batas adab itu.

Cukup lama dia duduk bersandar, ketika dia dengar suara cekikikan, dan menoleh ke arah api unggun. Nauzubillah, dia lihat dua tentara yang tadi hanya menonton, kini mendapat giliran. Jika mau, ini adalah kesempatan yang amat baik bagi si Bungsu untuk menghabisi ke empat tentara tersebut. Namun dia harus berfikiran taktis. Tugas utamanya bukan untuk membunuhi tentara Vietnam, melainkan untuk membebaskan Roxy.

Akan jauh lebih baik andainya dia bisa membawa wanita itu tanpa harus berperang. Karenanya, dia terpaksa menanti ke empat tentara Vietnam di dekat api unggun itu menyelesaikan permainan setan mereka bersama kedua wanita tersebut. Sialnya, permainan itu tak segera bisa mereka akhiri. Usai tentara yang dua, yang dua pertama terjun lagi. Usai mereka, yang mengantar wanita itu menggantikan. Laknatnya, kedua wanita itu kelihatan melayani mereka dengan suka cita.

Si Bungsu menyumpah panjang pendek. Ketika perbuatan yang beronde-ronde itu usai. Kedua wanita tersebut ternyata tak segera kembali ke goa dimana mereka disekap. Mereka terkapar di dekat api unggun, dalam keadaan tak berkain secabik pun, di antara ke empat tubuh tentara Vietnam. Setelah terdengar lolong panjang anjing hutan, salah seorang dari tentara itu bangkit. Memakai celana dan baju, kemudian membangunkan kawannya, lalu membangunkan pula kedua wanita tersebut.

Orang-orang yang dibangunkan itu segera memakai pakaiannya masing-masing. Lalu mereka mulai bergerak arah ke bukit terjal tak jauh dari tempat mereka berada. Si Bungsu menyelinap dengan cepat di dalam belantara tersebut, menyusul langkah ke empat orang yang menuju ke bukit itu. Ketika hampir sampai ke kaki bukit batu terjal itu, inderanya yang amat tajam mengisyaratkan bahaya yang mengancam.

Dia yakin pada cerita Thi-thi bahwa jalan ke tempat penyekapan tentara Amerika ini dipenuhi ranjau. Keempat orang yang dibuntutinya itu lenyap ke balik dua batu besar di kaki bukit. Dalam waktu singkat dia tiba di sana, dan masih sempat melihat cahaya senter dari salah seorang tentara Vietnam yang akan masuk ke sebuah goa. Goa itu benar-benar tersembunyi di balik pepohonan dan ada batu besar di depannya.

Jika tidak pernah menempuh jalan tersebut, kendati berdiri semeter di depannya, orang pasti takkan tahu bahwa itu adalah mulut sebuah goa. Si Bungsu menyelinap masuk, dan tetap menjaga jarak dengan ke empat orang itu agar kehadirannya tak diketahui. Goa itu ternyata memiliki terowongan bercabang-cabang. Si Bungsu menggeleng. Kendati sudah berada di dalam, sungguh tak mudah bagi orang untuk mencari mana jalan yang harus ditempuh di antara sekian cabang terowongan itu.

Bahagian dasar terowongan utama yang sedang dia lewati sekarang adalah lantai goa yang tidak rata. Selain batu-batu besar bersumburan, terowongan ini juga memiliki celah-celah yang dalam. Jika tak hati-hati orang bisa terperosok. Setelah melewati empat cabang terowongan, ke empat orang di depan sana dia lihat masuk ke terowongan sebelah kanan. Ketika dia sampai ke terowongan itu, dia hampir kehilangan jejak. Hanya lima meter ke dalam terowongan itu ternyata bercabang tiga.

Ada yang lurus, ada yang ke kiri dan ada yang ke kanan. Hanya dengan mengandalkan pendengarannya yang tajam dia bisa mengetahui bahwa keempat orang itu menempuh jalan yang ke kiri. Terowongan itu ternyata merupakan sebuah anak tangga berkelok-kelok dan mendaki amat terjal ke atas. Dia memperkirakan sudah mendaki sekitar dua puluh meter, ketika tiba-tiba dia sampai ke sebuah terowongan yang lebih besar dan mendatar.

Di terowongan yang agak besar dan datar ini ada penerangan berupa damar atau mungkin juga karet, yang diikatkan di ujung kayu, kemudian dibakar. Ada sekitar lima damar yang ditancapkan dalam jarak beberapa meter di sepanjang terowongan itu. Tiba-tiba dia mendengar pintu besi berdenyit dibuka, kemudian ditutupkan. Lalu suara rantai bergerincing, lalu suara anak kunci dikatupkan. Kemudian suara langkah mendekat.

Si Bungsu segera menyeberangi terowongan datar itu, dan mencari tempat bersembunyi. Sesaat dia menyelinapkan diri ke salah satu ceruk di dinding terowongan itu, dia melihat kedua tentara Vietnam tersebut muncul. Mereka menempuh terowongan kecil dari mana mereka tadi masuk. Dia masih menanti beberapa saat, untuk kemudian dengan hati-hati melangkah ke luar.

Dia berdiri di terowongan yang diterangi lampu damar tersebut, menatap sepanjang lorong. Ada beberapa terowongan ke kiri dan ke kanan. Dia yakin, terowongan itu adalah terowongan buntu, yang dipakai sebagai tempat menyekap tawanan. Dari denyit pintu besar dan gemercing rantai, dia yakin pula, tiap terowongan tempat penyekapan ditutup dengan pintu besi.
Udara di dalam terowongan ini terasa dingin. Dia menoleh ke belakang. Hanya ada jarak sekitar tiga meter menjelang dinding batu tebal. Dia tak tahu, yang mana dinding yang menghadap ke arah barak-barak tentara Vietnam di bawah sana.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: