Dalam Neraka Vietnam -bagian-575-576-577


Dalam Neraka Vietnam -bagian-575makmur hendrik

Han Doi tak perlu bertanya lagi kenapa rakit harus dihentikan.Dia yakin,bahwa
si Bungsu pasti mempunyai alasan yang kuat sekali untuk menyuruh
menghentikan rakit.Dia lihat si Bungsu mengambil bedil yang terletak di
samping Thi Binh.Sementara Duc Thio segera pula paham,lelaki Indonesia ini
mencium bahaya.Dia juga menyiapkan bedilnya serta matanya berusaha
menatap keliling.

Si Bungsu menatap kepepohonan tinggi diatas kabut itu.Tak ada gerak
apapun.Dia menatap ke kanan,dan disana ada beberapa burung di dahan.Ada
kupu-kupu di permukaan rawa.tapi di pohon-pohon di atas kabut itu,seperti
tak ada kehidupan apapun.

Si Bungsu dengan cepat mencoba menaksir,berapa jauh sudah jarak yang
mereka tempuh dari tempat mereka tersobok ular besar ketika akan membuat
rakit tadi,dengan tempat mereka berada sekarang.
Mungkin sudah jauh.Ular besar itu pun bergerak ketempat yang berlawanan
dengan posisi mereka sekarang.Namun apa yang ada di balik kabut itu?

Dia yakin ada bahaya.Nalurinya membisikkan,bahaya itu adalah ular raksasa tadi.
“Belokkan rakit kearah kanan..perlahan…”bisik si Bungsu kepada Han Doi.
Han Doi mengangkat galahnya,menancapkannya kedasar rawa.Kemudian
menekannya.Haluan rakit berputar beberapa derajat.Kemudian bergerak ke
arah kanan,menjauhi kabut tebal yang tinggal hanya beberapa meter dari
depan mereka.Dalam kesunyian yang amat mencekam rakit itu bergerak
perlahan.

Si Bungsu berjongkok,kemudian menatap ke air rawa yang merah kehitam-
hitaman itu.Ada beberapa daun kayu tua mengapung.Dia mencoba
menemukan sesuatu di dalam air tersebut.Tidak ada yang dapat dilihat di
karenakan kentalnya air.Si Bungsu kembali menatap ke arah pepohonan besar
yang kini berada di sebelah kiri mereka,yang dipenuhi kabut.

“Han Doi,Duc thio,duduklah berjongkok…jangan berdiri….”bisik si Bungsu
sambil menatap tajam kedalam kabut.
Han Doi dan Duc Thio kembali tak membantah.Perlahan mereka menurunkan
tubuh,Duc thio tetap memegang bedilnya erat-erat.Tapi sebelum kedua orang
itu sempurna berjongkok tiba-tiba bencana yang diduga si Bungsu segera
menampakkan wujud!

Dari balik kabut,sekitar dua depa dari air,dari palunan dedaunan yang tak
terlihat dari rakit,tiba-tiba meluncur sebuah benda berbentuk pipih segi tiga
dengan bahagian depan ternganga lebar dan memperlihatkan taring-taring
besar dan lidah bercabang!Dengan suara mendesis tajam,kepala monster
raksasa itu menyambar dengan tajam cepat ke arah rakit.
“Tiarap….!!”teriak si Bungsu.

Bersama dengan teriakan itu,bedil yang sudah ditangan kanannya
memuntahkan peluru.Dalam detik yang sama pula,tangan kirinya merangkul
tubuh Thi Binh saat dia menjatuhkan diri kelantai rakit.

Duc Thio dan Han Doi memekik histeris melihat besarnya kepala monster
dengan panjang moncong lebih dari dua meter itu menyapu dengan cepat
kearah mereka.Senjata Duc Thio juga menyalak.Namun pelurunya menghujam
kedalam rawa,Duc Thio tanpa sadar menembak ketika dia sudah menelungkup
dirakit.

Namun kemudian kepala ular itu lenyap kembali masuk kedalam palunan
dedaunan dua meter diatas permukaan air,yang memutih dipagut kabut
tebal.si Bungsu segera memuntahkan peluru kearah palunan dedaunan ke
mana makhluk itu lenyap.

Dalam Neraka Vietnam -bagian-576
Han Doi yang segera dapat menguasai diri juga memungut bedil, lalu ikut memuntahkan peluru ke arah yang sama. Demikian juga dengan Duc Thio. Sepi !
“Ada apa?” bisik Thi Binh yang terlungkup di bawah pelukan tangan kiri si Bungsu di lantai rakit.
Thi Binh sangat beruntung karena tak sempat melihat wujud monster yang menyerang rakit mereka sebentar ini.
“Ada bahaya…” bisik si Bungsu sambil matanya menatap ke dedaunan dalam arah kabut yang sudah mereka siram dengan peluru bedil itu.

“Tetaplah menelungkup, pejamkan mata dan berpegang erat-erat, Thi Binh…” bisik si Bungsu, kemudian berbisik ke arah Han Doi.
“Han Doi… potong dua galahmu itu. Kayuh rakit ini terus, namun posisimu harus tetap menelungkup…”
Han Doi tak perlu diberitahu sampai dua kali. Sambil tetap menelungkup dia memotong galahnya. Lalu potongan galah itu dia tancapkan ke air, dan menekannya. Rakit bergerak perlahan menjauhi kabut tersebut.

Si Bungsu bangkit. Dia berdiri dan menatap ke arah pepohonan berkabut itu sambil mengerenyitkan kening. Dia yakin monster itu masih menatap ke arah mereka dan menunggu kesempatan.
Tak ada sesuatu yang bergerak di dalam kabut itu. Si Bungsu mengangkat bedil dan menembak. Namun baru peluru pertama yang menyembur, tiba-tiba kepala monster itu muncul secepat kilat dan mendesis dengan mulut menganga lebar, menyambar ke arah rakit.

Duc Thio menembak, namun gerakan melengkung kepala ular itu dari arah kanan ke kiri, seperti gerakan sabit, amat cepat. Bahkan si Bungsu sendiri tak sempat beraksi. Pelurunya dan peluru dari bedil Duc Thio tak mengenai sasaran sebuah pun.
Tragisnya, moncong ternganga dengan taring yang panjangnya hampir setengah meter itu kini menyapu ke arah si Bungsu yang dalam posisi tegak. Si Bungsu tak sempat lagi menembak. Kepala monster yang menganga lebar itu, dengan dua biji mata merah sebesar tinju di kepalanya, hanya tinggal semeter di bahagian kanannya. Dengan gerakannya yang amat cepat, tubuh si Bungsu hanya tinggal hitungan detik untuk masuk ke dalam moncong makhluk dahsyat itu.

Si Bungsu tidak menunduk, dia mencoba berkelit dengan memajukan kaki dan menundukkan badan. Namun sambaran kepala itu sampai sudah. Kendati dia tidak kena terkam, namun tubuhnya kena sabet ular dahsyat itu. Saat itu si Bungsu melihat bahwa kepala ular besar ini memiliki dua tanduk yang panjang masing-masingnya sejengkal, tertancap tak jauh di atas kelompak matanya. Hanya itu yang sempat dia ingat. Sebab setelah itu tubuhnya tercampak amat jauh ke air akibat terkena senggolan kepala ular raksasa tersebut. Hanya dalam hitungan detik, kepala raksasa itu kemudian lenyap ke dalam kabut.
“Kayuh rakit itu terus, Han Doi…!” pekiknya sesaat sebelum tubuhnya tercemplung ke air.

Han Doi berhenti mengayuh rakit itu. Dia menatap ke arah si Bungsu yang tercampak sekitar sepuluh depa dari rakit. Thi Binh memekik.
“Menjauh dari sini, Han Doi…!” teriak si Bungsu, yang sudah tegak di dalam air sebatas pinggang.
Namun saat itu pula kepala naga raksasa itu muncul. Kali ini kepalanya menyapu rendah di atas permukaan air, dengan tubuh yang nampaknya melilit ke kayu besar di dalam kabut, moncongnya yang menganga lebar menyabet seperti lengkung sabit ke arah tubuh si Bungsu.

Kali ini si Bungsu juga tetap tak bisa menembak. Waktunya sangat singkat, namun dengan tubuh tegak di dalam air, dia menghadap ke arah datangnya sambaran moncong kepala bertanduk yang amat menjijikkan, sekaligus mengerikan itu.
Baik Duc Thio, Han Doi maupun Thi Binh hanya bisa menatap dengan terpaku di rakit mereka, melihat moncong ular besar itu menganga lebar menyambar ke arah si Bungsu. Menjelang moncong ular besar itu sampai, si Bungsu menegakkan posisi bedilnya lurus-lurus dan merentangkan tangan kanannya yang berbedil itu ke arah datangnya sambaran moncong ular itu.

Thi Binh terpekik, Duc Thio dan Han Doi merasa dilumpuhkan tatkala melihat tubuh si Bungsu disambar ular itu dan terangkat tinggi ke udara. Namun hanya sesaat, tubuh si Bungsu kemudian terlempar kembali ke air. Sementara kepala raksasa itu kelihatan meliuk di udara. Liukannya kemudian makin keras, menghempas dan membanting serta membuncah kabut, pohon dan dedaunan di mana tubuhnya melilit kukuh.Kini kabut di selingkar pohon kayu besar dimana tubuhnya melilit, terkuak. Ular besar itu tetap menghempas dan mulutnya tetap ternganga. Ternyata mulutnya tak bisa dikatupkan. Tersekang oleh bedil si Bungsu.

Ternyata itulah jalan yang diambil si Bungsu. Dia tak punya kesempatan untuk menembak. Kendati badannya demikian besar, namun gerakan makhluk raksasa ini demikian cepat. Satu-satunya yang terlintas di otak si Bungsu adalah menyekang moncong ular itu dengan bedilnya.

Maka ketika moncong menganga lebar itu menyambar ke arahnya, dia menegakkan bedilnya. Dan siasat serta perangkapnya mengena. Moncong ular itu menyambar dengan cepat, sekaligus bedil di tangan si Bungsu masuk ke moncongnya dan terhenti dengan posisi tegak pada bahagian pangkal moncongnya.
Merasa tubuh si Bungsu sudah berada di moncongnya, ular itu mengatupkan mulutnya, kemudian meliukkan kepala ke atas. Tubuh si Bungsu ikut terangkat karena dia masih memegang bedilnya dengan kuat. Tubuhnya baru terlepas dan tercampak setelah kepala ular itu menghempas-hempas di udara.

Makhluk raksasa itu nampaknya menjadi berang karena tak bisa mengatupkan mulutnya. Tersekang oleh bedil yang masih tertegak di bahagian pangkal kerongkongannya. Dalam keadaan menghempas itu terdengar suara aneh keluar dari moncong makhluk raksasa itu. Perpaduan seperti suara pekik ayam jantan dan pekik monyet.

Si Bungsu dengan cepat berenang kembali ke arah rakit. Duc Thio menolongnya naik. Begitu dia sampai di atas rakit, Thi Binh memeluknya dengan erat. Gadis itu menyurukkan mukanya di dada si Bungsu sambil menangis terisak-isak.
“Jangan tinggalkan aku… demi Tuhan, jangan tinggalkan aku…” bisiknya di antara isak tangis.
Duc Thio menyemburkan peluru ke arah makhluk raksasa yang seolah-olah membuncah hutan belantara di dalam kabut sekitar dua puluh meter dari rakit mereka.

Dalam Neraka Vietnam -bagian-577

“Jangan habiskan peluru. Jika bedil di mulutnya tak terlepas, dia akan mati sendiri. Mungkin dalam sebulan, mungkin dalam dua bulan….” ujar si Bungsu sambil meraih galah.
“Han Doi ambil galah. Kita harus segera menyingkir dari sini. Raksasa ini bukan yang bertemu dengan kita tadi pagi. Ini yang jantannya, kepalanya bertanduk. Yang pagi tadi betinanya. Dia pasti tak jauh dari sini…” ujar si Bungsu.
“Thi Binh…. duduklah, ya. kita harus bergerak cepat…” ujar si Bungsu membujuk gadis itu agar mau melepaskan pelukan dari tubuhnya.

Thi Binh memang melepaskan pelukannya namun tak jauh-jauh. Dia menyelosoh duduk di lantai rakit. Namun kedua tangannya masih memeluk kaki si Bungsu. Si Bungsu dan Han Doi mulai menancapkan galah ke dasar rawa, kemudian menekannya sehingga rakit itu menjauhi neraka yang masih saja membuncah hutan di belakang mereka.

“Makhluk itu ada dua ekor…?” tanya Duc Thio yang masih berlutut di rakit sambil memegang bedil dan menatap kepala ular besar itu yang sebentar-bentar muncul dari dalam kabut.
“Ya. Tadi pagi ketika akan membuat rakit ini saya dan Han Doi bertemu dengan yang betina dalam jarak yang amat dekat…” ujar si Bungsu sambil menekan galah ke arah ke belakang kuat-kuat.

Dengan dua orang lelaki dewasa yang menggalah, rakit itu meluncur dengan cepat menyeruak di antara pepohonan besar, menembus kabut dan dedaunan, menjauh dan meninggalkan tempat yang amat menakutkan itu.
Rawa ini sungguh-sungguh rawa maut. Nampaknya memang tak seorangpun yang pernah menerobosnya. Mungkin juga tidak pernah dijejak tentara Amerika atau Vietnam Utara maupun Selatan dalam pertempuran dahsyat selama belasan tahun.

“Han, arahkan rakit ke kayu besar itu…” ujar si Bungsu tatkala menjelang sore dia melihat sebuah pohon yang sebahagian daunnya berwarna kuning dan sebahagian lagi berwarna merah di tengah rawa yang maha luas itu.
Han Doi mengarahkan rakit tersebut ke arah kayu yang dimaksud si Bungsu. Di bawah pohon yang tegak tinggi menjulang itu mereka berhenti. Si Bungsu menatap ke daun-daun kayu yang berserakan dan mengapung di permukaan air. Kemudian memperhatikan bahagian batangnya yang berada di permukaan air.

Batang pohon berwarna putih itu dipenuhi lumut, mulai semeter di atas air sampai ke bahagian bawah yang terendam ke air. Si Bungsu meraih beberapa lembar daun kayu yang mengapung di air itu. Kemudian mendekatkan rakit ke pohon.
“Pinjam saya parangmu…” ujar pada Han Doi.

Dengan parang dia kikis lumut yang tumbuh di pohon tersebut sampai dua genggam. Kemudian dia tatap pohon itu dua kali. Dari bekas tetakan parang kelihatan mengalir getah berwarna kehijau-hijauan dan menyebarkan bau agak harum. Si Bungsu kembali mengambil lumut pohon itu, lalu mengapungkan lumut di genggamannya ke getah yang menetes perlahan. Setelah merasa cukup, dia menyuruh Han Doi kembali menjalankan rakit. Dia lalu duduk dan meremas-remas daun kayu yang tadi dia ambil dengan lumut yang sudah dilumur getah pohon tersebut. Semua perbuatannya dilihat dengan diam oleh Thi Binh dan Duc Thio.

Kemudian ketika rakit melewati sebuah pohon yang agak rendah, dia memetik sehelai daunnya yang lebar. Ramuan yang dia remas tadi dia letakkan di daun tersebut. membuatnya merata di seluruh lebar daun, kemudian meletakkanya di bahagian belakang rakit.
“Saya tak tahu apa nama pohon itu tadi. Namun pohon itu amat langka. Bahkan di negeri saya pun tak ada. Dari bentuk batang dan daun, dari bau yang disebarkannya, orang yang ahli meramu obat akan tahu bahwa bahagian-bahagian pohon itu amat bermanfaat untuk ramua obat, guna menyembuhkan berbagai bentuk penyakit dan luka…” paparnya sambil menatap pada Duc Thio.

Duc Thio dan Han Doi segera teringat pada ramuan yang diminumkan si Bungsu kepada Thi Binh kemarin malam. Ingat pada ramuan yang diminumkan itu, baik Han Doi maupun Duc Thio menatap pada Thi Binh. Mereka baru menyadari, bahwa luka mirip kudis berair yang beberapa hari lalu muncul di sudut bibir Thi Binh, kini sudah lenyap sama sekali.
Hanya tersisa sedikit seperti bekas luka yang sudah mengering. Dan kondisi Thi Binh sendiri kelihatan amat sehat. Wajahnya yang kemarin pucat, kini kembali bersemu merah. Kecantikannya seperti pulih.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: