Dalam Neraka Vietnam -bagian-570-571-572


Dalam Neraka Vietnam -bagian-570
si bungsu
“Saya bisa… berjalan…” ujar Thi Binh sambil mengencangkan pegangan tangannya ke lengan si Bungsu.
“Baik kita akan maju terus. Saya rasa rawa itu tak berapa jauh lagi.”
“Itu suara salak anjing…” tiba-tiba suara Han Doi memutus ucapan si Bungsu.

Mereka semua pada memasang telinga. Dan sayup-sayup terdengar salak anjing sahut bersahut. Suasana tegang segera saja menyergap ketiga orang Vietnam tersebut.
“Kita harus berjalan cepat. Maukah engkau kugendong, Nona…?” ujar si Bungsu pada Thi Binh.

Gadis itu tak menjawab, saking kagetnya. Bagaimana mungkin orang asing ini mau menggendong seorang yang jelas-jelas kena spilis, pikirnya. Namun, dia tak sempat berfikir banyak si Bungsu bergerak cepat. Tiba-tiba gadis itu sudah berada dalam pangkuannya. Dan dia segera mulai melangkah.

Han Doi dan Duc Thio terpana melihat gerak lelaki dari Indonesia yang berjalan di depan mereka itu. Kendati memangku tubuh Thi Binh namun kecepatan geraknya tak berkurang sedikit pun dibanding saat dia tak membawa beban tadi.
Thi Binh melingkarkan kedua tanganya ke leher si Bungsu. Sementara kepalanya dia sandarkan ke dada lelaki tersebut. Kendati dia yakin bahwa suatu saat pasti bertemu dengan lelaki yang selalu datang ke dalam mimpinya ini, namun tak pernah terlintas dalam fikirannya bahwa dia juga akan berada dalam pelukan lelaki perkasa ini.

Apalagi lelaki ini tahu bahwa dia adalah penderita spilis. Ingat pada penyakitnya dan keikhlasan lelaki ini menggendong tubuhnya, tanpa dapat ditahan air matanya mengalir perlahan.
“Jangan menangis, Thi Binh. Penyakitmu akan sembuh, dan kecantikanmu akan kembali seperti biasa…” bisik si Bungsu sambil menyeruak belantara.

Thi Binh kaget separoh mati bagaimana lelaki ini tahu bahwa dia menangis? Dia menangis tanpa bersuara sedikit pun. Dan kagetnya semakin menjadi-jadi, tatkala si Bungsu kembali berbisik.
“Tak sulit untuk mengetahui bahwa engkau menangis Dik, kendati tak ada isak tangismu. Air matamu menembus baju, terasa hangat di dadaku….”

Thi Binh merasa terharu. Dia pererat pelukannya ke leher si Bungsu, dan dipejamkannya matanya. Dia merasa amat tentram berada dalam pelukan lelaki tersebut. Tak lama kemudian mereka sampai ke tepi rawa yang amat luas. Rawa itu, sebagaimana diceritakan Han Doi, selain amat luas, juga dipenuhi hutan belantara. Perlahan si Bungsu menurunkan tubuh Thi Binh.

Dia meminta senter dari Duc Thio. Menyoroti rawa berwajah hitam itu beberapa saat kemudian melangkah memasuki air. Sekitar sedepa memasuki rawa, dia mematah kan sebuah kayu yang sebahagian daunnya yang berwarna merah terendam dalam air. Di pinggir rawa, dipetiknya belasan daun kayu berwarna merah itu, kemudian diremas nya beberapa saat.

“Lumurkan getah daun ini ke sekujur tubuh kalian. Selain mampu menghangatkan tubuh, getahnya juga bisa menyelamatkan kita dari hisapan lintah dan nyamuk…” ujarnya sambil membagikan daun yang sudah diremas itu pada ketiga orang Vietnam tersebut.
Tak seorang pun yang membantah. Mereka menuruti perintah si Bungsu. Mengoleskan daun yang sudah diremas itu ke sekujur kaki, tangan dan bahagian tubuh lainnya. Saat mereka sedang mengoleskan daun ke tubuh masing-masing itu si Bungsu menurunkan bedil yang disandangnya sejak tadi.

Sebuah tembakan menggelegar. Membuat semua mereka terkejut, terutama Thi Binh. Sebab peluru itu seolah-olah hanya berjarak seinci dari telinganya, artinya, tembakan itu seolah-olah memang diarahkan ke kepalanya.
Gadis itu menatap pada si Bungsu. Dan saat itu dia mendengar bunyi menggelosoh sedepa di belakangnya. Dia menoleh, tak ada apapun yang terlihat dalam gelap itu. Si Bungsu menghidupkan senter, menyorot ke belakang gadis itu.

Thi Binh terpekik dan melompat memeluk ayahnya tatkala melihat seekor ular belang merah hitam sebesar betis lelaki dewasa menggeliat-geliat meregang nyawa di tanah. Ular itu, sebelum peluru si Bungsu menghabisi nyawanya, berada persis di dahan rendah sedepa di belakang Thi Binh!

“Engkau membawa parang?” tanya si Bungsu pada Han Doi.
Han Doi, yang juga seperti terbang semangatnya mendengar tembakan dan melihat ular yang panjangnya tak kurang dari lima depa itu, mengangguk.

“Bawa kemari…” ujar si Bungsu.
Han Doi mencabut parang yang dia sisipkan di bahagian belakang tubuhnya. Si Bungsu memberikan senter kepada Duc Thio. Di bawah sorotan cahaya senter, si Bungsu memotong ular itu menjadi dua bahagian. Kemudian membelah tubuh ular tersebut.

“Han Doi, seret yang sepotong ini ke arah sana sekitar lima puluh meter, dan letakkan saja di tanah. Saya akan menyeret sisanya ini kebahagian sana…” ujar si Bungsu.
Dia sendiri segera menyeret bangkai ular itu ke arah yang berlawanan dari arah yang ditunjuknya untuk Han Doi. Sepanjang jalan yang ditempuh saat menarik bangkai ular itu, darah ular tersebut berserakan di dedaunan kering di tanah.

Dalam Neraka Vietnam -bagian-571
Tak lama kemudian mereka berkumpul lagi.Si Bungsu kembali menghidupkan senter.Menerawangi rawa itu sekali lagi beberapa saat kemudian.Saat gonggongan anjing pelacak mulai agak jelas terdengar,dia memberi isyarat kepada ketiga temannya.

Dengan si Bungsu dibahagian depan,mereka mulai memasuki rawa tersebut.Mula-mula sekitar dua puluh meter dari tempat mereka masuk,airnya sebatas lutut.Ketika air mulai mencapai pinggang,si Bungsu membawa rombongannya berbelok kebagian kiri,sejajar dengan tepi rawa.

Sekitar lima puluh meter,dia kembali berbelok kearah tengah rawa.Mereka memasuki air setinggi pinggang,makin ketengah makin kedalam.Kemudian mencapai batas leher si Bungsu membawa rombongannya ke dalam sebuah palunan belukar.

Saat itulah mereka mendengar suara anjing menyalak sahut-sahutan ditepi rawa,disusul cahaya lima atau enam senter dengan cahaya yang amat terang,berseliweran menerangi beberapa pelosok rawa gelap tersebut.Suara tembakan si Bungsu membunuh ular tadi mempercepat pencarian tentara Vietkong tersebut.

Di antara salak anjing dan terkaman cahaya senter kesetiap sudut,terdengar teriakan-teriakan tentara Vietkong itu.Kemudian salak anjing hilang seperti ditelan hantu.Yang tersisa adalah teriakan tentara dan cahaya senter yang simpang siur.
“Mengapa anjing-anjing itu berhenti menyalak?”bisik Duc Thio yang tetap saja merasa was-was.

“Mereka sedang berpesta dengan daging ular tadi.Untuk sementara anjing itu tidak akan bergerak sebelum daging ular itu habis.Kita harus bergerak sejauh mungkin,sebelum anjing-anjing itu memburu.Tetaplah bergerak dijalan yang saya tempuh.Senjata jangan sampai basah.di air berhati-hati terhadap batang yang bergerak mungkin saja itu buaya.Di pohon,hati-hati melihat dahan yang bergerak,bisa saja itu adalah ular….”ujar si Bungsu mulai melangkah.

Di pinggir rawa yang baru saja mereka tinggalkan,sekitar dua lusin tentara Vietkong yang memburu pelarian itu tegak dengan tak sabar melihat anjing-anjing itu makan bangkai ular itu.Komandan mereka,yang merasa tak sabar,segera memerintahkan lima orang anggotanya untuk mengarungi rawa tersebut.Salah diantaranya di kenal mahir mencari jejak.

Kelima orang itu segera memasuki rawa yang airnya sebatas betis.Dengan pertolongan senter,dengan mudaj mereka mengikuti jejak yang ditinggalkan si Bungsu dan kawan-kawnnya.
“Nampaknya mereka tetap dalam satu kelompok,tidak berpencar.Dari sini mereka menuju ketengah rawa…”ujar si pencari jejak pada empat temannya yang lain.
“Mereka menuju ketengah rawa…!”seru sersan dalam rombongan beranggotakan lima orang dirawa itu kepada komandannya,yang masih tegak sekitar dua puluh meter di tepi rawa sana.

Beberapa tentara di tepi rawa tersebut,yang tegak didekat si komandan,menerangi kelima tentara di rawa itu dengan cahaya senter.Saat itu si pencari jejak merasa ada yang ganjil di air.dia sorot sesuatu yang ganjil yang membuatnya tidak tentram.
Di air rawa ada cairan lain yang tak senyawa.Dia raba cairan yang kehitam-hitaman di sekitar mereka tegak itu,yang berbeda dari air di bahagian lain.

Ketika air itu dia sauk dengan telapak tangan,kemudian membawanya keatas dan menyorotinya dengan cahaya senter,tiba-tiba bulu kuduknya meriinding.
“Darah…”Desisnya.
Bagi keempat temannya yang lain,yang sama-sama berada di air setinggi paha mereka,ucapan si pencari jejak tak begitu menarik.
“Darah apa…?”tanya sersan yang tadi berteriak.

Namun si pencari jejak tak menjawab.Bulu tengkuknya merinding.Dia sudah pernah kerawa ini sekali.Dan dia tahu persis,rawa ini merupakan sarang buaya. Di dalam air,buaya mampu mencium kehadiran darah dari jarak ratusan meter.
“Jebakan!ini sebuah Jebakan!”bisik hatinya dengan mata nyalang menatap semak-semak di sekitarnya.
Si pencari jejak ini segera arif,bahwa salah satu dari empat orang yang mereka buru ini pastilah orang yang sangat mengenal hutan belantara,rawa dan seluruh penghuninya.

Itu bisa di buktikan,pertama jejak mereka yang sulit di cari di dalam hutan tadi.jika tanpa bantuan abjing pelacak dan suara tembakan,belum tentu mereka sampai di tepi rawa ini.Mungkin mereka masih berputar-putar didalam hutan.
Sebab jejak yang ditinggalkan pelarian itu sangat susah untuk di temukan.Kemudian cara orang ini menjebak anjing-anjing pelacak dengan daging ular yang amat gurih dan harum itu.Tak sembarang orang bisa mengetahui hanya dengan daging ular yang bisa menahan seekor anjing pelacak.

Kemudian darah dirawa ini.Dia yakin,darah ini bukan darah salah seorang pelarian.Ini adalah darah yang sengaja diserakkan untuk memancing kedatangan mereka.Dan darah ini disebar ditempat ini,bukan di pinggir rawa tentulah dengan maksud tertentu.
Kalau di pinggir rawa,tak kan ada yang celaka.sebab,orang bisa dengan mudah lari kedarat.Tapi tempat ini sudah sekitar dua puluh meter dari tepi rawa.Air sudah setinggi paha.Sudah tak mudah untuk berlari kencang.

Si pencari jejak yang faham bahwa mereka sedang di jebak menyorotkan senternya ke air.Apa yang dia takutkan benar-benar terjadi.Di bahagian kirirnya ada dua batang yang bergerak,makin lama makin cepat.
“Awas,buaya!Lari…!!”serunya sambil ambil langkah seribu.

Namun terlambat sudah,tempat mereka berdiri sudah di kepung oleh lima atau enam buaya yang memang datang ketempat itu karena mencium darah.pencari jejak itu tak bisa mengelak tatkala seekor buaya menyambar pahanya dengan cepat dan menariknya kedalam air.

Empat temannya yang tadi tak begitu terkejut,namun karena melihat si pencari jejak lenyap,mereka mulai panik.Sebelum mereka tahu penyebab si pencari jejak lenyap,giliran si sersan yang tadi berteriak-teriak tiba-tiba tersentak tubuhnya,dia meraung.Tubuhnya di tarik ketengah rawa.
“Tolooong…tembakkk…..!!Tembak buaya iniii..!!”pekik si sersan.

Tangan kanannya yang berbedil menggapai-gapai.Bedil itu tak bisa dipergunakan.Tangan kirinya yang memegang senter yang masih menyala di pukul-pukulkan kekepala buaya besar yang mencengkram pahanya.Namun ketiga temannya hanya terlongo-longo
Mereka masih dicekam rasa kaget dan terkesima.Dan saat itu pula dua buaya menyambar dua tentara yang masih menatap ketubuh si sersan,yang sedang timbul tenggelam di seret buaya ketengah rawa sana.Kedua mereka tadi sudah memegang bedil terkokang.

Begitu kakinya disambar buaya telunjuknya tertarik picu bedil.Rentetan tembakan diiringi lolong dan pekik panjang segera memecah kesunyian malam.Pekik dan tembakan itu menyebabkan belasan teman mereka yang masih berada di tepi rawa pada berkerumunan dan menatap ketengah rawa di mana mereka berada.

“Lari!lari!Ayo kembali kemari…!”ujar para tentara itu pada satu-satunya teman mereka yang masih tegak di tengah rawa tersebut.
Si tentara yang seorang ini segera sadar,bencana yang menimpa teman-temannya segera bisa menimpa dirinya pula.mendengar teriakan temannya,dia segera menghambur berlari kedalam air setinggi paha itu.

Dalam Neraka Vietnam -bagian-572
si bungsu
Malangnya dia salah dalam memilih tempat menghambur. Dia memutar badan ke arah belakang, bermaksud lari ke arah dari mana mereka tadi datang. Tapi itulah kesalahannya. Sebab di belakangnya seekor buaya besar sudah sejak tadi menanti dengan mengangakan mulutnya lebar-lebar.

Si tentara yang sudah memutar badan, dan sudah mengayunkan langkah lebar untuk kabur, pada detik terakhir baru tahu bahwa di belakangnya ada neraka yang amat menakutkan. Padahal langkah sudah diayunkan sekuat tenaga untuk lari.
Dia mencoba merubah arah ke kanan, agar langkahnya tak langsung menuju ke mulut buaya itu. Namun karena sudah dicekam takut kakinya yang berada di dalam air tergelincir. Dia kehilangan keseimbangan.

Tanpa ampun tubuhnya justru jatuh ke dalam mulut buaya yang sedang ternganga lebar itu. Mulut bergigi seperti gergaji itu segera terkatup dengan kepala si tentara persis berada di dalam!
Dalam waktu sekejap rawa itu sepi. Ada tiga buah senter yang tenggelam ke dasar danau yang dangkal. Cahayanya nampak menari-nari dalam air yang berge-lombang akibat pergumulan manusia dengan hewan.

Pergulatan kelima orang itu dengan buaya, disaksikan oleh komandannya dan belasan teman-temannya yang lain dari tepi rawa. Tak satu pun bantuan yang bisa mereka berikan. Mereka mahir menembak. Tapi ke arah mana tembakan harus diarahkan?

Sungguh suatu pemandangan yang tak bisa dibayangkan betapa dahsyat dan mengerikannya, tatkala melihat teman-teman sepasukan lenyap satu demi satu ke dalam air, diseret buaya untuk dijadikan santapannya!

Matinya si pencari jejak tersebut sangat menguntungkan pelarian si Bungsu dan teman-temannya. Kalau mereka selamat, mereka pasti melaporkan kepada komandannya bahwa ada jebakan di dalam rawa tersebut.

Namun dengan matinya si pencari jejak bersama empat temannya yang lain di rawa maut itu, tidak hanya memu dahkan pelarian mereka, tetapi sekaligus juga menyebabkan pemburuan diakhiri.

“Tak seorang pun yang bisa selamat memasuki rawa ini. Mereka yang kita buru itu juga pasti sudah terlebih dahulu menjadi santapan buaya atau ular…” ujar si komandan yang memimpin pengejaran itu, setelah menyenter permukaan rawa belantara tersebut beberapa saat.

Ketika subuh hampir turun, dia memerintahkan seluruh pasukan pemburu itu segera meninggalkan pinggir rawa, kembali ke markas mereka. Saat itu, di tengah rawa sana, hanya sekitar dua ratus meter dari tempat belasan tentara Vietnam itu menarik diri, para pelarian tersebut sedang berada di dahan kayu, sekitar semeter dari permukaan air. Namun mereka hanya bertiga.

Si Bungsu tak ada di sana. Rawa itu sudah mulai terang-terang tanggung oleh cahaya subuh yang mulai datang. Pandangan mereka hanya mampu menembus beberapa meter ke depan. Kabut akibat uap air nampak menggantung rendah di permukaan air rawa.

Mereka sungguh dibuat takjub oleh ramuan yang malam tadi disuruh si Bungsu agar diusapkan ke tubuh mereka.
Semula mereka menuruti perintah itu dengan perasaan antara percaya dan tidak. Ternyata apa yang dikatakan lelaki dari Indonesia itu benar belaka adanya. Usapan getah daun berwarna merah, yang diambil si Bungsu dari dalam air rawa, yang kemudian diremasnya, ternyata tidak hanya menyebabkan mereka tak didekati nyamuk atau lintah, bahkan mereka tak merasa kedinginan sedikit pun.

AWALNYA, ketika masih dalam perjalanan mengarungi danau, rombongan si Bungsu dikejutkan oleh suara pekik dan tembakan dari pinggir danau. Si Bungsu berhenti sesaat, orang-orang di belakangnya juga berhenti. Dalam gelap dan suasana mencekam mereka menanti dengan diam.
“Tadi, saat akan memutar arah, untuk apa Tuan melemparkan kepala ular yang terpotong lehernya itu ke dalam rawa?” bisik Thi Binh yang masih berada dalam bopongan si Bungsu.

“Darah amat merangsang penciuman buaya. Mereka mampu mencium bau darah di dalam air dari jarak dua ratus sampai tiga ratus meter. Mereka pasti akan memburu ke sana. Dengan demikian, kita bisa aman bisa buat sementara, karena perhatian dan selera mereka tersedot ke arah darah dari kepala ular itu. Mudah-mudahan tentara yang memburu kita juga menuruti jejak kita tadi. Mereka ke tempat kepala ular itu, baru kemudian melihat arah kita berbelok. Jika itu yang terjadi, mereka sesungguhnya sedang memasuki sarang buaya…” bisik si Bungsu.

“Apakah danau ini memang banyak buaya?” bisik Thi Binh.
“Barangkali ada dua atau tiga ratus ekor…” ujar si Bungsu.
Thi Binh merasa merinding mendengar jawaban itu. Dia menyurukkan mukanya ke dada anak muda itu. Dalam cahaya senter si

Bungsu melihat tiga depa di kanan ada pohon bercabang banyak, yang dahannya sekitar semeter dari permukaan air. Dia memperhatikan pohon itu dengan seksama.
“Tunggu di sini saya periksa pohon itu. Barangkali bisa tempat beristirahat sementara…” bisik si Bungsu pada Thi Binh sambil akan menurunkan gadis itu.

“Saya ikut…” ujar gadis itu.
“Di sana ada ular….” bisik si Bungsu.
“Biarin….” ujar gadis itu.
“Di sana ada buaya…”
“Biarin, biariiin!! Pokoknya aku ikut kemana Tuan pergi…” ujar Thi Binh.

Namun ucapan itu disampaikan Thi Binh tetap dalam berbisik, dan tangannya tetap memeluk leher si Bungsu. Si Bungsu mengalah.
Dalam posisi membopong Thi Binh itu si Bungsu beringsut perlahan mendekati pohon tersebut. Sesampainya di pohon, tangan kirinya meraba-raba dahan pohon itu. Memegang dahan itu beberapa saat, dan menatap ke rimbunan daun di atasnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: