Dalam Neraka Vietnam -bagian- 542-543


Dalam Neraka Vietnam -bagian- 542
makmur hendrik
Ami kembali menyurukkan wajahnya ke dada si Bungsu. Lama mereka saling berdiam diri. Tangan Ami mempermainkan anak rambut di tengkuk si Bungsu.
“Bungsu….?”
Si Bungsu tak menjawab
“Engkau punya istri di kampungmu?”
Si Bungsu masih tak menjawab.
“Dia tentulah wanita cantik yang sangat beruntung….”
Si Bungsu tak berkomentar sepatah kata pun
“Berapa orang anakmu?”

Si Bungsu memejamkan mata. Tetap tak menjawab. Lama mereka sama sama berdiam diri.
“Bungsu…?”
“Ya…?”
”Maafkan kalau pertanyaanku….”
“Tak ada yang harus dimaafkan, karena tidak ada yang harus dijawab….”
“Maksudmu….?”
“Aku tidak punya anak…”
“Oh maafkan aku…”
“Aku juga belum pernah menikah….”

Gadis itu mengangkat wajahnya yang tadi disurukkan ke dada si Bungsu. Menatap wajah pemuda yang hanya berjarak setengah jengkal dari wajahnya. Lama diperhatikannya wajah pemuda tersebut. Kemudian dia kembali menjadi anak kucing yang kedinginan, menyurukkan wajahnya ke dada si Bungsu. Sebagai seorang ahli ilmu jiwa, Ami segera bisa mengetahui bahwa lelaki yang dipeluknya dan yang memeluknya ini tidak berbohong sedikit pun. Lebih dari itu, dari sinar matanya Ami juga mengetahui bahwa lelaki ini seorang yang sering dikecewakan wanita. Bekasnya amat dalam menggurat pada sinar mata dan air mukanya.
“Maafkan pertanyaanku tadi…”
“Tidak apa-apa, jangan difikirkan….”
“Bungsu…?”
“Ya…”
“Kau ke Vietnam ini disebabkan merasa hidup tak ada guna, karena dikecewakan seorang gadis?”

Si Bungsu ingin menampar gadis itu. Namun itu tak dia lakukan, karena apa yang dikatakan gadis ini 85,5 persen benar. Yang 14,5 persen lagi karena dia benar-benar ingin membantu Alfonso Rogers. Karenanya dia tetap berdiam diri.
“Siapa pun gadis yang tega meninggalkan dirimu, orangnya sungguh keterlaluan…” bisiknya dari dalam dekapan si Bungsu.
Si Bungsu masih berdiam diri.
“Sudah berapa lama engkau meninggalkan kampungmu?”
“Tiga tahun…”
“Selama itu engkau di Amerika?”
“Ya…”
Sepi setelah itu.

Si Bungsu menarik nafas, dia senang kalau gadis ini tak ngomong lagi. Apalagi omongannya terus-terusan menyucuk puncak kadanya. Dia sudah mulai memejamkan mata. Tetapi…
“Bungsu…?”
”Hmmmmm…”
“Kalau sudah tiga tahun engkau meninggalkan kampungmu, berarti gadis yang meninggalkan dirimu itu kini ada di Amerika, bukan?”

Si Bungsu merasa sakit perutnya, sakit jantungnya. Tapi tiba-tiba saja dia ingin tahu, sampai dimana hebatnya gadis ini bisa ‘menebak’ apa yang sudah terjadi pada dirinya. Dia lalu memutuskan berada pada posisi sebagai penyerang.
“Ami…?”
“Ya…?”
“Di negeriku cewek seperti engkau punya gelar yang cukup hebat dan menarik….”
“Gelar apa itu?”
Upik asteb dan Upik asngom….”
“Gelar apa pula itu, sehingga disebut sebagai cukup hebat dan cukup menarik?”
“Di Minang, Upik itu panggilan untuk seorang gadis secara umum. Butet kalau di Tapanuli, geulis kalau di Jawa Barat, nona kalau bahasa Indonesianya. Asteb itu singkatan dari katakan ‘asal tebak’, sementara asngom singkatan dari kata-kata ‘asal ngomong’…. Aduh!…duh. aduh mak, Ampuun….!”

Dia tak bisa menyelesaikan penjelasannya. Dia terpekik-pekik. Antara sakit dan geli, soalnya Ami Florence yang merasa diolok-olok dengan gemas mencubit dadanya.
“Masih mau mengolok-ngolok?” ancam Ami sambil segera menempelkan mulutnya yang ternganga, dengan gigi siap menerkam ke dada si Bungsu.
“Tidak, tidak mak ooii! Ampunlah aku. Sebelas dengan kepala….!” ujarnya dengan bulu tengkuk merinding.
Ami justru menjadi heran dengan kata-kata ‘sebelas dengan kepala’ itu.
“Sebelas dengan kepala, kalimat aneh apa pula itu? Kenapa tidak sembilan, tujuh atau dua puluh lima?” ujarnya.

Meski bulu romanya merinding, karena mulut dan gigi gadis itu menempel terus di dadanya, seperti perangko nempel di amplop, si Bungsu mau tak mau terpaksa tertawa juga mendengar pertanyaan gadis tersebut. Entah kenapa, tiba-tiba saja dalam berbicara dengan gadis ini dia banyak mengeluarkan kata-kata yang berasal dari rumpun bahasa kampungnya. Yang tentu saja tak dimengerti oleh Ami Florence, dan sekaligus mengusik keingintahuan gadis itu.
“Oke, kuceritakan. Tapi mulut dan gigi drakulamu itu jangan ditempelkan terus ke dad…. Addow…!!

Dia terpekik lagi. Ami rupanya jadi jengkel giginya disebut gigi drakula. Dia lalu menggigit dada si Bungsu, yang menyebabkan pemuda itu terpekik.
“Sebut lagi gigiku gigi drakula….!” ujar Ami, sembari mengangkat kepala dan menyeringaikan giginya yang putih di hadapan wajah si Bungsu. Tak cukup hanya sampai menyeringaikan gigi saja, gadis itu tiba-tiba mempergunakan giginya untuk menyambar bibir si Bungsu, dan menggigitnya dengan gemas. Bibir si Bungsu terkalayak, menjadi dower seperti bibir Mick Jager, penyanyi rock yang berbini cantik amat itu.
“Amfun…amfuuun…!” ujarnya.
“Ayo katakan apa arti sebelas dengan kepala itu….” perintah Ami.

‘Huu… alamaaak….!” keluh si Bungsu tatkala Ami melepaskan gigi dari bibirnya. Kemudian menyurukkan lagi kepalanya ke dada si Bungsu. Persis anak kucing kedinginan.
“Bungsu….?”
“Apa lagi, eh…ya….?”
Si Bungsu cepat-cepat meralat suaranya yang semula bernada jengkel menjadi dilembut-lembutkan.
“Ceritakan soal sebelas kepala itu….”
Usai menarik nafas panjang, si Bungsu lalu menuturkan apa artinya kata-kata tersebut. Bahwa orang biasanya minta ampun dengan merapatkan kedua telapak tangan yang berjari sepuluh, kemudian menundukkan kepala. Jari yang sepuluh dengan sebuah kepala, menjadi sebelas.
“Ami….”
“Ya… Aku mengantuk….”
“Kita tidur, ya…?” ujar si Bungsu gembira.
“Jadi, selama tiga tahun engkau berada di Amerika?” tanya gadis itu.
“Tapi sudah mengantuk….” ujar si Bungsu.
“Soal gadis yang mengecewakanmu itu belum selesai….”
“Biarlah, kuanggap selesai saja….”
“Bagiku belum….”

Dalam Neraka Vietnam -bagian-543
minangkabau
“Besok kita selesaikan….”
“Besok kita justru akan berpisah….”
Si Bungsu terdiam.
“Bungsu….?”
“Ya….?”
“Kita berdua tak punya hari esok, bukan? Yang kita miliki hanya saat ini. Ceritalah sebelum ‘saat ini’ itu berakhir. Please….” ujar gadis itu sambil mempererat pelukannya.

Si Bungsu menarik nafas. Diciumnya rambut gadis itu. Dipereratnya pula pelukannya ke tubuh Ami.
“Gadis itu ada di Amerika?” bisik gadis itu perlahan.
“Ya….” ujar si Bungsu.
“Dia pastilah orang Asia….”
Si Bungsu tertegun. Gadis ini ternyata tidak hanya ‘asteb’ dan ‘asngom’. Bagaimana dia bisa menyimpulkan, Michiko, gadis yang meninggalkannya itu, orang Asia?
“Dia orang Asia, kan?”
“Bagaimana engkau bisa menyimpulkan begitu…?”
“Entahlah, barangkali naluri kewanitaanku….”
Sepi sesaat.
“Dia bukan gadis kampungmu, bahkan bukan gadis Indonesia, kan?”
“Bukan..” ujar si Bungsu dengan perasaan semakin mengagumi ketajaman naluri Ami.
“Karena dia orang Asia, maka yang paling punya kaitan tentulah Jepang. Dia gadis Jepang, Bungsu…?”

Kali ini si Bungsu meraih wajah Ami yang masih berlindung di pelukan dadanya. Ditengadahkannya wajah gadis tersebut sehingga mereka saling bertatapan.
“Bagaimana engkau menebak setepat itu, Ami…?
“Orang Asia yang pernah punya kaitan sejarah dengan kalian adalah Jepang. Alur logikanya adalah sebagai berikut. Pasukan Jepang pernah menjajah negeri kalian, barangkali ada dendam antara engkau dengan bangsa Jepang yang menjajah negeri kalian. Mungkin sanak keluargamu, atau mungkin ayah atau ibumu tersiksa atau terbunuh semasa penjajahan Jepang. Engkau lalu datang ke Jepang untuk menuntut balas. Di Jepang engkau bertemu dan jatuh hati dengan seorang gadis Jepang. Mungkin kau belajar mempergunakan samurai kecil itu dari dia, atau mungkin dari orang lain. Yang jelas, samurai kecil yang menjadi senjatamu, kemudian Jepang dan dirimu, lalu gadis itu dan kedatanganmu ke Amerika, saling kait berkait. Merupakan sebuah sebab akibat….”

Ami menatap dalam-dalam ke mata si Bungsu. Si Bungsu juga menatap gadis yang amat cerdas itu dengan perasaan takjub. Kecuali dari siapa dia belajar mempergunakan samurai kecil itu, paparan Ami yang lain benar semuanya. Perlahan didekatnnya wajahnya ke wajah gadis itu. Perlahan didekatkannya bibirnya ke bibir gadis itu. Ami memejamkan mata, tangannya memeluk kepala si Bungsu. Perlahan diciumnya bibir gadis itu dengan lembut. Setelah itu, perlahan dia tuturkan tentang Michiko secara garis besar. Dia ceritakan mana yang perlu-perlu saja.

Ami Florence mendengarkan dengan kepala tetap berada dalam pelukan si Bungsu. Dengan tangan tetap memainkan rambut di tengkuk pemuda tersebut. Ketika si Bungsu selesai bercerita, suasana menjadi sunyi.
“Kau punya kekasih?” suara si Bungsu memecah keheningan.
Ami semula tak bereaksi. Namun setelah beberapa saat, dengan wajah masih berada di dada si Bungsu, dia mengangguk.
“Dulu tunanganku seorang perwira Vietnam Selatan. Tujuh tahun yang lalu dia dan dua tentara Amerika tertangkap oleh Vietkong.

Kemudian dinyatakan hilang. Saya sudah berusaha mencari jejaknya, namun tak ada bekas sama sekali. Sampai akhirnya dia ditemukan dalam keadaan gila di pinggiran Saigon. Kemudian bunuh diri. Sejak itu aku membenci tentara Utara dengan sepenuh kebencian. Lima tahun yang lalu aku menawarkan diri menjadi mata-mata Amerika. Itulah mula asalnya aku bertugas untuk Selatan dan Amerika….”
Sepi beberapa saat.
“Maafkan kalau aku membangkitkan kenangan lamamu, Ami….”

Gadis itu menjawab dengan mencium dada si Bungsu. Kemudian wajahnya, kemudian bibirnya. Kemudian sepi.
“Tadi kata abangmu akan menunggu jawaban radio dari salah satu kapal Angkatan Laut Amerika yang berlabuh di sekitar Natuna. Apa maksudnya…?”
“Ya, Natuna di Laut Cina Selatan, yang berada di wilayah Kepulauan Riau, Indonesia. Hanya satu itu pulau bernama Natuna di dunia….”
“Apakah Pemerintah Indonesia mengetahui perairannya dipakai oleh armada Amerika untuk kegiatan perang melawan Vietnam?”
“Pasti tahu. Amerika bukan negera bodoh yang tak tahu hukum perairan Internasional. Militer dan pemerintah Indonesia juga bukan orang-orang tak bersekolah. Tentu ada pembicaraan diam-diam di tingkat paling tinggi. Perairan itu sudah lama sekali dimanfaatkan Amerika, sejak pecah Perang Teluk Tonkin tahun 63-an. Saat itu, Armada VII Amerika berada di perairan tersebut. Kini armada itu sudah ditarik. Tetapi beberapa buah kapal perangnya masih di sana. Menunggu perintah-perintah darurat. Misalnya untuk menyelamatkan dan mengungsikan orang-orang tertentu, jumlahnya mungkin masih ratusan di daratan Vietnam ini. Itu di luar orang yang dinyatakan sebagai yang hilang dalam bertugas….”

“Antara lain seperti engkau dan abangmu?”
“Ya…”
“Kalian akan diantarkan kemana?”
“Terserah kemana kami inginkan. Bisa ke Inggris, Perancis, Philipina, ke Jepang atau Honolulu. Bisa langsung ke Amerika….”
“Kalian akan hidup di penampungan?”
“Yang bertugas khusus seperti kami, tidak. Kami akan diberi status warga negara Amerika. Diberi perumahan, mobil biaya hidup untuk jangka tertentu. Lamanya bisa dua atau tiga tahun. Juga diberi pekerjaan sesuai keahlian yang dimiliki. Ah, kita bercerita terus. Dapatkah kita memanfaatkan sisa waktu kita yang sedikit ini tidak hanya dengan bercerita?” bisik Ami sembari mempererat pelukannya di tubuh si Bungsu.

Di Atas sana embun sudah sejak tadi turun mendekap bumi. Namun di reruntuhan bangunan yang diledakkan dengan bom waktu, ada lusinan tentara Vietkong sedang bekerja. Mereka mengais tiap kepingan puing. Mengumpulkan serpihan tubuh tentaranya yang bercerai-berai oleh bom. Yang lain memblokir areal seluas dua hektar di belakang dan di kiri kanan bar itu. Memeriksa setiap rumah dan lorong dalam usaha mencari pemilik bar itu. Sebab, dari serpihan tubuh yang mereka kumpulkan, tak ditemukan serpihan tubuh wanita. Tak ada juga serpihan tubuh lelaki dengan pakaian sipil. Berarti ketiga pemilik bar ini, blasteran Vietnam-Perancis yang amat dicurigai itu, selamat dari ledakan bom. Artinya lagi, mereka sudah lebih dahulu menyingkir, sebelum bom meledak.

Setiap yang bergerak di tempat-tempat yang dicurigai pasti diperiksa oleh tentara Vietnam dengan ketat. Seringkali yang bergerak dan dicurigai itu hanya kucing atau anjing. Seekor kucing berwarna hitam bertubuh besar, yang muncul dari sela-sela semak di bawah dua batang pohon palem, hampir saja ditembak.

Kucing besar itu terkejut ketika matanya disorot senter. Dia melompat ke antara dua pohon palem lain yang di bawahnya ditumbuhi rerumputan lebat. Tentara Vietnam yang tadi terkejut mengarahkan senternya ke bawah pohon palem itu. Mungkin karena situasi dalam perang, pemilik pohon palem tak sempat mengurus tamannya. Selain rumputnya lebat karena tak disiangi, warna rumput itu menjadi pirang. Mungkin karena tak pernah disiram.

Dua tentara Vietnam mendekat ke pohon palem itu. Tubuh kucing hitam besar yang bersembunyi di rerumputan tebal dan pirang itu menegang. Seolah-olah membaca bahaya yang mengancamnya. Saat kritis itu dia melihat sebuah lobang kecil di depannya. Kucing itu segera masuk ke lobang tersebut. semula agak sempit. Tapi karena dia berusaha terus untuk menerobos, akhirnya seluruh tubuhnya amblas ke dalam.

Di dalam juga sempit. Namun dibanding udara dingin berselimut embun di luar, di dalam ini terasa amat hangat. Dia tak tahu bahwa dua tentara Vietnam yang tadi memburunya melihat saat dia masuk ke dalam lobang kecil. Baru saja dia berada di dalam lobang kecil yang hangat itu, tiba-tiba kedua tentara Vietnam tersebut mengangkat sebuah kardus.
“Dia di dalam, ayo kita kerjain…” ujar yang seorang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: