Ke Dallas Menuntut Balas -bagian- 459-460-461-462


Ke Dallas Menuntut Balas -bagian- 459 Klik disini

Ke Dallas Menuntut Balas -bagian-460
si bungsu
Direktur CIA itu saling pandang dengan petugas keamanan.
‘’Jangan khawatir. Dia bukan bahagian dari kami. Dia benar-benar seorang penumpang biasa. Seorang lelaki. Saya harap Anda bisa mengerti..’’
Dan tiba-tiba saja Direktur CIA itu menjadi maklum. Dia punya seorang anak gadis yang sebaya dengan pramugari cantik ini. Gadisnya itu seorang yang manja.

‘’Baik, Anda bisa sebutkan namanya. Tapi kami hanya bisa memberi waktu lima menit. Tak lebih’’
‘’Terimakasih. Saya justru hanya butuh waktu setengah menit..’’
‘’Nona, bisa sebutkan namanya, agar kami bawa dia kemari..’’
‘’Saya tak tahu namanya..’’
Direktur CIA itu tertegun heran.
‘’Ya saya tak tahu namanya. Namun saya bisa sebutkan ciri-cirinya’’.
‘’Baiklah. Anda sebutkan ciri-cirinya..’’

Yuanita menyebutkan ciri lelaki yang ingin dia temui itu. Di ruang khusus di salah satu tempat dekat lapangan itu, para bekas sandera masih ada yang menunggu pesawat. Sebahagian besar diantara mereka telah diterbangkan ke kota masing-masing. Seorang petugas bergegas ke sana. Menyeruak diantara petugas keamanan yang menjaga dengan ketat. Berbisik dan mencari-cari. Kemudian mendekati seorang lelaki.
‘’Tuan, Anda diminta datang ke ruang itu..’’ petugas tersebut bicara pada si lelaki. Lelaki itu, yang tak lain daripada si Bungsu, jadi kaget.
‘’Saya..?’’
‘’Ya, Tuan..!’’

Si Bungsu memandang pada Tongky yang tengah duduk bersandar di kursi sambil menaikkan kaki ke meja. Di meja ada dua botol bir yang telah kosong. Sebuah piring yang penuh tulang ayam.
‘’Saya dengan teman saya ini?’’
‘’Tidak, Anda sendirian..’’
Tongky mengedipkan mata. Dan si Bungsu mengikuti petugas itu. Dia segera dibawa ke luar ruangan. Ke sebuah jalan di depan ruang tunggu. Naik ke sebuah jip, kemudian jip itu dipacu ke sudut lapangan yang lain. Lalu berhenti di dekat sebuah pesawat jet kecil yang dijaga dengan ketat. Di dekat tangga, ada tiga orang tegak. Satu diantaranya adalah perempuan. Yang segera dikenali oleh si Bungsu sebagai Yuanita.
‘’Dia yang Anda maksud..?’’ tanya Direktur CIA itu begitu jip tersebut berhenti.

Gadis itu mengangguk. Matanya tak lepas menatap si Bungsu yang termangu-mangu di atas jip. Si Bungsu benar-benar tak tahu akan mengapa. Dia turun dari jip itu. Kemudian melangkah mendekati gadis yang tetap saja memandangnya tak berkedip. Petugas-petugas, termasuk Direktur CIA, menatap setiap gerak kedua orang itu dengan diam. Sebenarnya adalah tak sopan berlaku demikian. Menatap sepasang anak muda yang barangkali entah akan mengapa. Tapi yang mereka hadapi ini bukan sembarang anak muda. Yang perempuan adalah gembong pembajak komunis yang amat militan.

Siapa tahu, kesempatan seperti ini dia pergunakan untuk bunuh diri, atau melakukan penyanderaan lagi, misalnya. Jika gerakan mencurigakan seperti itu mereka lihat, mereka sudah siap sedia. Gadis ini merupakan salah satu tertuduh utama, dan merupakan mata rantai amat penting dalam menggulung sindikat terorisme internasional. Makanya dia tak boleh diabaikan.

Itu pula sebabnya, meski dalam keadaan bagaimanapun, dia harus diawasi dengan ketat, walaupun terasa agak kurang sopan. Namun si Bungsu sama sekali tak tahu untuk apa dia datang ke sana. Kalaupun benar seperti yang diucapkan Direktur CIA, maka dia juga tak tahu kenapa gadis itu memintanya untuk datang. Dia mendekati gadis itu. Yang rambutnya tergerai ditiup angin di lapangan udara

Mexico City itu. Kemudian tegak tiga langkah di depanya. Dia masih menatap sejenak. Menatap gadis yang sejak tadi memang telah menantinya.
‘’Anda meminta saya untuk kemari, Nona?’’ tanya si Bungsu pelan.
Gadis itu tak menjawab, melainkan mendekat padanya. Menglurkan tangan untuk bersalaman. Si Bungsu ragu-ragu, namun akhirnya menyambut uluran tangan itu. Gadis itu menjabatnya dengan erat, dan tanpa diduga —dan tak dapat dielakkan si Bungsu— Yuanita menarik tangannya mendekat. Menyebabkan tubuh mereka saling merapat dan tubuhnya langsung dipeluk gadis itu. Tidak berhenti sampai di sana, gadis itu mencium bibirnya

Ke Dallas Menuntut Balas -bagian-461 Klik disini

Ke Dallas Menuntut Balas -bagian- 462
tikam samurai
Di bahagian tengah, disebut sebagai Centrum City. Pusat kota tidak hanya disebut Centrum karena berada di tengah. Pengertian Centrum diartikan sebagai ‘pusat’nya segala kegiatan. Kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan yang mengatur dunia! Sekali lagi, “yang mengatur dunia”! Di bahagian inilah para bandit Mafia mengatur cabang dan kegiatannya hampir di seluruh penjuru dunia.

Di bahagian ini pula terdapat sebuah kantor Caltex, yang kelihatannya tak begitu besar, namun dari situlah seluruh kebijaksanaan perusahaan minyak raksasa itu dikomandokan. Dan.. di bahagian ini pula pusat perjudian, pelacuran serta kegiatan politik disutradarai! Jadi bedanya amat menyolok antara kota bahagian utara dimana Gubernur berkantor dengan bahagian Centrum dimana para bandit bermarkas.

Bahagian Utara dengan gubernurnya dianggap tidak sebagai pusat kekuasan. Tidak sebagai pusat pengambil keputusan. Keputusan dan kekuasaan justru ditentukan oleh orang-orang yang bukan duduk di pemerintahan, tak berpangkat dan tak jelas identitasnya. Mereka bermarkas di Centrum City! Itulah selintas gambaran tentang Dallas. Dan ke sanalah si Bungsu menuju. Ke belantara yang tak berbelas kasihan itu.

Dia dan Tongky menginap di Dallas Hotel. Hotelnya terbilang sederhana. Bertingkat dua belas dengan gedung model Abad ke 19. Begitu masuk loby hotel, seorang gadis cantik berpakaian seperti perwira Spanyol zaman Napoleon membukakan pintu mobil. Membawanya masuk dan mengantarkan ke bahagian front office. Di sana, dua orang gadis yang hanya mengenakan kutang, memperlihatkan sebahagian besar dari dadanya yang ranum, menerima mereka. Mulai dari mencatatkan nama, menentukan kamar, lalu mengantarkan mereka ke kamar.

Yang mengantarkan seorang gadis dengan pakaian Ceong Sam yang lazim dipakai di negeri Cina. Belahan samping baju itu seperti dirobek. Mulai dari mata kaki, sampai ke atas pinggul. Belahan itu menampakan betis, paha, pinggul yang tak bertutup. Mereka menaiki lif yang modelnya kuno sekali. Sebuah kotak empat segi dengan tutup seperti jerajak besi di penjara. Ketika tombol bernomor dipencet, yaitu tingkat dimana mereka akan ditempatkan, lift itu memperdengarkan bunyi berdenyit. Persis seperti membuka pintu di rumah-rumah kuno.

Gadis yang memakai baju “robek lebar” di paha, dan model dada terkelayak separuhnya itu tersenyum manis. Tongky mengerdipkan mata pada gadis itu. Mereka menempati kamar 707. Gadis itu mengantarkan mereka sampai ke dalam kamar. Menunjukan letak kamar mandi, tempat sabun, lemari pakaian, handuk dan lain-lain.
‘’Jika Anda butuh apa saja, tekan bel itu… dan ngomong lah, mintalah. Apa saja, akan kami layani…’’ ujar gadis itu.
‘’Kalau kami minta Anda, Nona..?’’ ujar Tongky memulai kedegilannya.
‘’Tuan hanya tinggal menekan aiphone itu, dan katakan pada bos saya, bahwa saya demam dan harus berada di kamar ini untuk jangka waktu yang ditentukan..’’ gadis itu menjawab penuh sikap profesional. Tongky bersiul.

‘’Terimakasih, kami akan pikir tombol mana yang akan kami tekan setelah kami mandi nanti..’’ ujar bekas pasukan Baret Hijau itu sambil meletakan uang sepuluh dollar ke belahan dada gadis itu, yang terbuka dua pertiga bahagiannya. Gadis itu tersenyum dan meninggalkan kamar.
‘’Wow, inilah Dallas Bungsu. Sambutan untuk kita di hotel ini ternyata cukup lumayan’’.

Si Bungsu yang sejak tadi sudah merebahkan diri di pembaringan menatap isi kamar itu. Kamar itu luar biasa mewahnya. Seluruh lantainya di alas permadani biru. Dindingnya juga berwarna biru. Alas kasur dan selimut tebalnya juga berwarna biru dan mewah. Tiba-tiba ada suara di aiphone dalam kamar itu.
‘’Tuan, jika tuan ingin dipijat, kami akan mengirimkan dua orang pemijat ke sana..’’
‘’Apakah tukang pijatnya lelaki atau perempuan?’’ tanya Tongky dari pembaringannya.
‘’Tuan boleh pilih..’’ jawab aiphone itu.

Tongkay tertawa bergumam dan mengucapkan terimakasih. Buat sementara mereka hanya memesan minuman. Tongky memesan gin yang tal ada dalam kulkas kecil di kamar dan si Bungsu memesan teh panas. Hari sudah malam ketika mereka sampai di hotel itu. Karenanya tak seorangpun diantara keduanya yang berminat untuk meninggalkan hotel. Mereka memilih untuk tidur dan istirahat. Sehabis memesan minuman mereka memesan makan malam. Berupa ayam goreng dan nasi putih.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: