Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian-435-436-437


Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian-435
sibungsu
’Oke..oke, Kapten. Tapi jelaskan dulu, apa yang akan kita kerjakan..’’ ujar Sony.
‘’Si Bungsu akan menceritakannya padamu…’’
Sony menatap si Bungsu. Si Bungsu membawa temannya itu ke luar. Mereka berjalan di pekarangan yang dipenuhi pepohonan. Si Bungsu menceritakan tentang kemelut Irian Barat. Termasuk terbunuhnya Komodor Yos Sudarso di Laut Arafuru. Kemudian tentang kapal selam yang ada di teluk itu. Sony mengangguk mengerti.

‘’Kau ingin kita berbuat sesuatu degan kapal selam itu, bukan?’’
Si Bungsu mengangguk. Sony tersenyum, lalu masuk ke rumah. Di dalam, Fabian dan Tongky sudah mulai ‘meramu’ beberapa buah dinamit.
‘’Kapan kita ke teluk itu?’’ tanya Sony.
‘’Secepatnya. Kini Tongky harus ke sana. Teliti beberapa buah kapal selam di sana, berapa orang awaknya, berapa jauh dari tepi pantai, berada di atas air atau di dalam airkah, berapa orang yang menjaga di pantai dan tempat-tempat penjagaanya’’ ujar Fabian kepada Tongky.

Negro yang setia itu segera bangkit dan tanpa banyak bicara berjalan ke luar. Tak lama kemudian terdengar suara mobil meninggalkan pekarangan rumah itu. Fabian dan Sony meneruskan membuat persiapan. Si Bungsu yang tak mengerti sama sekali pada bahan-bahan peledak hanya menatap saja dengan diam kedua sahabatnya itu bekerja.

Hampir sejam pekerjaan itu. Selesai merakit dinamit, Sony mengeluarkan makanan dari lemari es. Ada daging dan telur serta beberapa jenis makanan kaleng. Sony memanggang daging itu di pemanggang di atas bara kayu. Kemudian membuat telur mata sapi. Lalu memotong roti. Dan mereka makan dengan lezat.

Selesai makan siang, mereka bertiga mempersiapkan peralatan untuk menyelam. Mulai dari skuba, yaitu tabung zat asam yang terbuat dari besi, masker kepala yang juga dari besi sampai pada pistol. Tak seorangpun yang bicara selama mempersiapkan peralatan itu. Kemudian ketika alat-alat itu selesai mereka siapkan, mereka duduk di ruangan depan.
Fabian mengambil sebuah buku dari lemari kemudian membawanya ke ruang depan dimana si Bungsu dan Sony tengah membaca koran-koran lama.
‘’Pernah membaca buku ini?’’

Si Bungsu menoleh. Melihat kulitnya saja dia tahu tak pernah mengenal buku itu sebelumnya. Dia menggeleng. Fabian mengambil tempat duduk di sisi si Bungsu.
‘’Buku ini pantas kau baca. Bahkan bukan hanya Anda saja, tetapi barangkali juga pantas dibaca oleh semua pimpinan negaramu..’’ dia meletakan buku itu di meja.

Sebuah buku cukup tebal. Si Bungsu masih belum meraihnya. Namun dapat membaca judul dan pengarang buku tersebut. Buku itu karangan James Mossman, penulis asal Inggeris. Judul bukunya REBELS IN PARADISE (Indonesia’s Civil War).
‘’Buku itu bercerita banyak sekali tentang negerimu, Bungsu. Tentang Indonesia, dan lebih khusus lagi tentang Minangkabau. Yaitu cerita tentang PRRI. Cerita tentang kenapa mereka memberontak dan kenapa mereka kalah..’’

Fabian menceritakan isi buku itu sambil meneguk minuman kaleng yang diambil dari lemari es. Tak dapat tidak, si Bungsu jadi tertarik jadinya. Dia memang tak mengerti sama sekali tentang politik. Dan dia tak mau ikut campur masalah itu. Dia seorang awam. Sekolahnya hanya sampai SMP. Kemudian terbengkalai.

Nasib telah menyeretnya ke dalam badai dan gelombang kehidupan yang tak kunjung menghempas ke pantai yang tentram. Nasib dan penderitaan jua yang telah menyeretnya sampai ke Jepang, ke Singapura dan Australia. Dan nasib serta kebetulan otaknya sedikit encer saja, makanya dia dapat belajar bahasa Jepang dan Inggeris. Barangkali kedua bahasa itu tak dia kuasai sebagaimana tamatan perguruan tinggi, namun sekedar untuk hidup, dia memahami kedua bahasa tersebut.

‘’Buku ini tak boleh masuk ke negerimu, Bungsu. Saya tahu beberapa orang pimpinan politik dan wartawan yang menyelusup kemari. Mereka kasak kusuk mencari buku-buku atau majalah yang menulis tentang negerimu, tentang pimpinan-pimpinan negaramu. Aneh juga bukan, orang terpaksa pergi jauh-jauh dari rumahnya, bertanya kepada orang lain tentang segala sesuatu yang terjadi di dalam rumahnya sendiri.

Itu pertanda, di dalam rumahnya dilarang berbicara tentang kebenaran. Begitulah negerimu kini, sobat. Kau bisa baca buku ini. Barangkali tak semuanya benar, namun kau dapat menjadikannya sebagai pembanding. Kau tahu tentang rumahmu, kemudian kau dengar orang bercerita tentang rumahmu itu, maka kau akan ketahui mana yang benar mana yang tak benar…”

Si Bungsu meraih buku itu. Buku itu dicetak buat pertama kali di tahun 1961. kulitnya berwarna merah putih dan hitam. Sudah cetakkan kedua. Di kulit luar itu ada gambar sepotong tangan yang seperti menggapai, ada bercak-bercak darah dan lingkaran yang tak mengerti dia apa maksudnya. Nampaknya kulit buku itu dirancang dengan selera setengah pop.
Warna hitam dan merah, selain ingin menggambarkan keseraman, juga ingin menimbulkan suasana misteri. Namun kesan tak menarik tak bisa disembunyikan dari ilustrasi itu. Kalau ada yang menarik barangkali adalah judulnya itu. Tentang pemberontakan-pemberontakan yang terjadi di Indonesia.

Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian-436 klik disini

Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian-437

Di halaman lain, si Bungsu membaca tulisan Mossman sebagai berikut: “Sejak hari-hari pertama perang saudara itu, Mossman mempunyai kesan yang pelik. Adapun Simbolon dan pemimpin militer yang lain, pendiri-pendiri sesungguhnya dari gerakan otonomi Sumatera Tengah, tidak pernah mengharapkan akan harus berkelahi sama sekali untuk kepercayaan-kepercayaan mereka. Mereka mengira akhirnya akan berunding di meja konferensi dengan Soekarno. Menurut Mossman pula, pasti Syafruddin tak pernah mengira akan terjadi segalanya itu. Yakni PRRI akan diserang dengan kekuatan tentara oleh Jakarta.

Sampai saat-saat akhir, dia percaya pada bantuan pasukan dan sekutu-sekutunya, prajurit-prajurit, politisi dan dunia barat. Kekalahan tak masuk akal baginya, karena dia percaya perjuangannya adalah benar. Ketika dilihatnya prajurit-prajurit PRRI tak mampu menghadapi serangan udara dan tak punya keinginan untuk menewaskan sesama orang Indonesia, atau dibunuh oleh mereka dalam suatu pertarungan untuk mana mereka tidak begitu aktif perasaan simpati mereka, maka dia jauh lebih terkejut daripada perwira-perwira yang mengangkatnya ke atas jabatan pemberontaknya. Itulah tulisan Mossman tentang Syafruddin Prawiranegara.

Selanjutnya, wartawan Inggeris itu mencerca Syafruddin dengan pedas. Dalam bukunya itu dia menulis: ‘’Syafruddin seorang kerani, bernafsu, picik. Ia adalah kerani bank yang akhirnya lepas lalang dan merampok bank.’’
Tapi Mossman tak pernah menjelaskan kebenaran tuduhan pedasnya, Bank mana saja yang dirampok oleh Syafruddin. Di halaman lain, si Bungsu membaca tentang PRRI itu sebagai berikut: ‘’Tokoh-tokoh PRRI tampaknya sangat mengandalkan bantuan Barat.Sebab PRRI berjuang antara lain untuk menghancurkan komunis di Indonesia. Namun ketika bantuan itu tak kunjung datang, atau kalaupun datang tapi tak menentu dan dalam jumlah yang nyaris tak ada arti untuk mempersenjatai beberapa resimen, sementara tentara APRI telah mendesak terus, mereka tak dapat berbuat lain, kecuali menyumpah dan amat kecewa.”

Dalam suatu wawancara antara Mossman dengan Simbolon di Mess Perwira Padangpanjang pada 15 April 1958 (Saat itu APRI telah maju cukup banyak) dia berkata: ‘’Kami memerlukan pesawat-pesawat pemburu. Hanya dua atau tiga pemburu jet. Satu malah dengan penerbang yang baik. Yang akan menghasilkan tipu muslihat. Kami akan mampu menahan majunya pasukan Nasution. Mengapa Barat tak melihat hal ini? Mengapa mereka tak mempunyai cukup kepercayaan buat mengirimkan beberapa pesawat pemburu, yang buruk sekalipun? Tak lama lagi, jika bantuan itu datang juga, keadaan sudah akan terlalu terlambat’’. Itu ucapan Simbolon.

Dalam buku itu juga Mossman memperjelas siapa yang dimaksud oleh tokoh-tokoh PRRI itu dengan “teman barat” itu. Mossman menunjukan peranan Central Intelligence (CIA) dari Amerika dalam kemelut perang saudara itu. Sebelum pecah perang saudara, beberapa tokoh PRRI bertemu dengan agen-agen CIA di Sumatera, dan di lain-lain tempat.

Hanya dia tak merinci tempat-tempat pertemuan itu. Tak menyebutkan kota dan tempat serta waktunya. Kemudian menurut Mossman, salah satu sebab kenapa PRRI berantakan dari dalam ialah karena diproklamirkannya Republik Persatuan Indonesia (PRRI) di Bonjol tanggal 7 Februari 1960. Republik ini merupakan gabungan antara PRRI dengna pasukan Darul Islam (DI) di Aceh dan Sulawesi Selatan.

Adapun DI yang fanatik Islam amat tak berkenan di hati orang Permesta yang beragama Kristen seperi Vence Sumual, Alex Kawilarang, Simbolon dan Dr. Sumitro Djojohadikusumo. Proklamasi PRRI itu adalah awal dari perpecahan di kubu PRRI dan Permesta. Pemberontakan itu dianggap selesai sejak Presiden Soekarno memberikan amnesti dan abolisi secara umum terhitung 5 Oktober 1961.

Si Bungsu meletakkan buku tebal itu di meja. Menatap pada kedua temannya bekas tentara Baret Hijau itu.‘’Buku itu tak ada di Indonesia bukan?’’ tanya Fabian.Si Bungsu menatap buku tersebut. Dia menggeleng.‘’Saya tak tahu. Saya tak berminat pada masalah-masalah begini di sana. Saya bukan politisi, bukan militer, bukan cerdik pandai.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: