Dalam Kecamuk Perang Saudara-bagian- 432-433-434


Dalam Kecamuk Perang Saudara-bagian- 432
si bungsu
Si Bungsu tak menjawab. Selama di Indonesia dia memang tak tertarik sedikitpun soal Irian Barat itu. Masalah yang dia hadapi adalah masalah dimana dia berada secara langsung. Yaitu di tengah kecamuk pergolakan PRRI. Dia hanya mendengar soal Irian Barat itu dari siaran-siaran radio. Tapi begitu sampai di negeri orang, entah mengapa, ada saja suatu rasa yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata, betapa rasa solidaritas, rasa bangga terhadap tanah air, dan rasa amarah terhadap orang yang ingin meneruskan penjajahan, tiba-tiba saja meresap demikian dalamnya.

‘’Cukup banyak yang Anda ketahui, Fabian. Saya harap, saya dapat cerita yang cukup banyak pula..’’
‘’Tentang negerimu, di sini tak ada yang dirahasiakan Bungsu. Semua terbeber tanpa ada yang disembunyikan sedikitpun. Dibeberkan oleh puluhan wartawan Barat dan Timur dalam berbagai bahasa. Namun saya kurang tahu apakah ada pasukan Belanda yang dikirim lewat Singapura atau tidak, itu memang dirahasiakan Belanda. Kini ada satu soal yang ingin saya katakan padamu….’’
Bekas kapten Baret Hijau itu tak melanjutkan ucapannya. Dia menghentikan mobilnya di depan sebuah bangunan. Si Bungsu segera ingat bangunan itu. Hatinya berdegub kencang. Gedung itu adalah gedung Konsulat Indonesia. Dia pernah di sini beberapa tahun yang lalu.

Atase Militer di Konsulat adalah sahabatnya, Overste Nurdin. Teman seperjuangannya ketika melawan Belanda di Pekanbaru. Lebih daripada itu, isteri atas militer itu adalah Salma. Gadis yang meninggalkan bekas amat dalam di hatinya.
‘’Ingat gedung ini?’’ tanya Fabian.
‘’Apakah mereka masih di sini?’’ Si Bungsu balik bertanya. Perlahan Fabian menjalankan mobilnya kembali.
‘’Tidak. Mereka telah pindah. Mereka kini di India. Overste Nurdin menjabat sebagai Atase Militer di New Delhi.
‘’Sudah lama mereka pindah?’’
‘’Setahun yang lalu’’
‘’Anda hadir di sini ketika dia pindah?’’
‘’Sahabatmu adalah juga sahabat saya, Bungsu. Demikian juga mereka memperlakukan kami. Kami mereka anggap penggantimu. Kami mereka undang dalam tiap acara resepsi yang diadakan Konsulat. Demikian pula ketika overste itu dipindahkan. Pada acara perpisahan dengannya, kami juga diundang..’’

Si Bungsu menarik nafas, membayangkan masa lalunya ketika di Bukitinggi. Mobil yang mereka kendarai meluncur terus di jalan-jalan kota Singapura yang kelihatan bersih dan teratur. Di suatu tempat, di daerah Petaling Jaya, mobil itu membelok ke sebuah pekarangan yang amat luas dan berpagar tinggi. Jauh di tengah pekarangan itu tegak sebuah rumah model Tahun 1800 yang antik.

Padang rumput pekarangan luas itu berwarna hijau bersih. Dan di tengah lapangan hijau itu, rumah antik tahun 1800 itu seperti muncul tiba-tiba. Berwarna putih kemerlap dengan lampu-lampu kristal. Putih bersih di tengah permadani hijau. Benar-benar pemandangan yang mempesona. Di depannya ada taman dengan pohon-pohon bonsai dan bambu cina.

‘’Ini rumahku. Di sini aku dan ibuku tinggal, Bungsu..’’ Fabian berkata sambil menghentikan mobilnya. Seekor anjing jenis pudel yang lucu berlari menyongsong.
‘’Ini bukan rumah, Fabian. Ini istana..’’ kata si Bungsu tak habis-habisnya mengagumi rumah bertaman yang ditata dengan selera aristokrat itu.
‘’Mari kita menemui Ibu..’’

Si Bungsu melangkah menaiki tangga bersusun empat panjang-panjang. Nyaris sepanjang bahagian depan rumah tersebut. Dan di pintu, berdiri ibu Fabian. Perempuan tua itu kelihatan anggun dan berwajah ramah. Fabian mengenalkan si Bungsu pada ibunya. Tak berapa lama mereka berada di rumah, sebuah mobil sedan lain muncul dan berhenti di halaman. Dari dalamnya keluar Tongky, Negro yang ahli menyamar itu. Mereka berkumpul di ruang samping.
‘’Siapa turis-turis itu sebenarnya?’’

Kapten Fabian memulai pembicaraan. Tongky tak segera menjawab. Dia menghirup jus dingin yang dia ambil dari lemari es.
‘’Ada enam puluh turis dari Belanda, Jerman dan Scotlandia. Sepuluh di antaranya perempuan. Tapi dari limapuluh lelaki yang mengaku turis itu, saya rasa empat puluh diantaranya adalah tentara reguler. Saya tak yakin mereka orang Scot, Jerman atau bangsa manapun, mereka itu orang Belanda. Saya berani bertaruh. Dan saya berhasil mendapatkan ini dari salah satu kantong mereka’’
Tongky memberikan sehelai kertas kepada Kapten Fabian. Kertas itu dikembangkan di atas meja. Si Bungsu melihat kertas itu tak lain daripada sebuah peta. Peta Singapura.

‘’Saya juga memiliki peta itu..’’ ujar si Bungsu.
Dia mengambil dari kantongnya sebuah peta yang nyaris sama. Peta itu adalah brosur pariwisata yang dapat diambil gratis di Airport Payalebar.
‘’Ini hanya peta pariwisata yang dibagikan gratis..’’ katanya.
Peta itu memang mirip sekali. Di sana ditunjukan beberapa tempat wisata. Beberapa pulau dan teluk. Pelabuhan dan terminal taksi. Bank dan lapangan udara.

‘’Tidak, Bungsu. Ini memang mirip dengan milikmu. Tapi ini ada bedanya. Ini..’’
Fabian lalu menunjuk ke sebuah teluk di selatan Singapura. Tak begitu kentara, namun jelas ditandai dengan pinsil. Tanda yang tak begitu menyolok. Kemudian Fabian juga menunjuk beberapa titik di pelabuhan Singapura. Tanda beberapa kapal yang berlabuh.
‘’Ini adalah kapal-kapal dagang. Tapi ada bedanya. Di teluk ini, dengan tanda pensil bergambar garis bengkok ini, adalah semacam kode dalam kemiliteran, bahwa di sini ada kapal selam. Dan ini… kapal-kapal dagang yang ditandai ini, diantara puluhan kapal dagang di pelabuhan, ada lima kapal perang yang disulap seperti kapal dagang. Meriam-meriam dikamuflase sedemikian rupa, sehingga sepintas nampaknya seperti tumpukan peti barang..’’ papar Fabian.

Si Bungsu tak bisa bicara saking kagetnya.
‘’Mereka akan menyerang Indonesia..’’ akhirnya dia berkata.
‘’Barangkali tidak. Tetapi mereka akan membalas jika presidenmu yang condong ke komunis itu memerintahkan menyerang Irian Barat..’’
Si Bungsu menatap Fabian dan Tongky bergantian.
‘’Kalian mengetahui rahasia ini sejak lama?’’
‘’Tidak. Saya juga baru mengetahuinya.

Dalam Kecamuk Perang Saudara-bagian-433 klik disini

Dalam Kecamuk Perang Saudara-bagian-434

Fabian menunjuk sebuah teluk di bahagian selatan pulau itu. Di depan teluk itu ada sebuah pulau kecil. Nampaknya kalau benar kapal selam Belanda itu ada di sana, maka dia tersembunyi dari pandangan orang. Daerah daratan teluk itu memang tak berpenghuni. Teluk di situ, seperti umumnya teluk di sekitar pulau

Singapura, adalah teluk yang lautnya tak terbilang dalam. Namun dengan lindungan pepohonan, terutama pohon-pohon beringin dan bakau yang memang menjadi ciri khas pantai pulau tersebut, dua atau tiga buah kapal selam dengan aman dapat merapat ke pantai. Bersembunyi di bawah naungan dedaunan.

Bagi Singapura nampaknya tak pula ada alasan untuk menolak kehadiran kapal selam itu, Sebab Singapura adalah bahagian dari Malaysia, Negara Persemakmuran Inggeris. Dan mereka punya hubungan baik dengan Belanda. Si Bungsu menatap peta itu. Kemudian menatap ke laut.

‘’Di mana kapal-kapal perang yang disulap seperti kapal dagang itu?’’ tanyanya pelan.
Fabian dan Tongky menatap ke laut. Ke kapal besar kecil yang buang jangkar.
‘’Mereka berada diantara kapal-kapal yang banyak itu, Bungsu..’’ jawab Fabian.
Si Bungsu berdiri. Melipat peta tersebut dan memasukannya ke kantongnya.

‘’Hei, akan kemana?’’ tanya Fabian begitu melihat si Bungsu bergerak.
‘’Ini urusanku, kawan. Ada sedikit pekerjaan yang harus kulakukan’’
‘’Hei sobat, kau tak dapat meninggalkan kami begitu saja. Apapun yang akan kau lakukan, terutama bila bersangkut paut dengan kapal selam dan kapal perang itu, kau tak dapat bekerja sendirian. Tenaga kami kau butuhkan’’ ujar Fabian sambil membayar minuman.

Si Bungsu tak berkata. Dia naik ke mobil, di susul Tongky dan Fabian.
‘’Kau akan menenggelamkan kapal selam itu bukan, kawan?’’ Fabian bertanya sambil menjalankan mobilnya. Si Bungsu menatap kapten itu. Si kapten bekas Baret Hijau tentara Inggeris itu ternyata cepat sekali menebak.

‘’Benar, bukan?’’
‘’Saya tak tahu caranya’’
‘’Makanya ku katakan, kau butuh kami’’
‘’Tapi kalian tak menyenangi politik negaraku yang pro komunis’’
‘’Benar. Soekarno akan membawa negerimu ke kemelaratan yang tak bertepi bila memilih komunis sebagai sahabatnya. Tapi dalam hal meledakan kapal selam Belanda itu, kami tak berniat membantu negaramu. Kami hanya ingin membantumu. Kita telah terikat dengan sumpah persahabatan. Ingat? Kami akan membantumu!’’
Sepi.

Si Bungsu tak tahu harus menjawab bagaimana. Mobil menuju ke suatu daerah di luar kota. Di sebuah perempatan mereka berhenti. Tongky melompat turun, menuju ke sebuah telepon umum. Menelepon beberapa saat. Lau naik kembali ke mobil.
‘’Siapa saja yang dapat kau hubungi?’’ tanya Fabian begitu Tongky duduk di bangku belakang.
‘’Sony, ahli peledak itu..’’ jawab Tongky.

Setengah jam kemudian, mereka sampai ke sebuah rumah yang terletak di tengah rerimbunan pohon. Si Bungsu segera ingat, di rumah ini dahulu mereka merencanakan penyerbuan terhadap kelompok penjual perempuan di kota ini. Tak lama setelah mereka berada di rumah itu datang Sony, bekas sersan Green Barret yang ahli peledak itu. Dengan senyum lebar dia menyalami dan memeluk di si Bungsu.

‘’Hei, akan ada pesta nampaknya..’’ katanya.
‘’Kau punya pengetahuan tentang kapal selam?’’ Fabian memburunya dengan pertanyaan.
‘’Tenang….tenang! Kenapa terburu amat. Saya masih ingin bercerita dengan orang Indonesia kita ini. Apa ada perang yang harus kita selesaikan segera?’’
Fabian segera meninggalkan mereka. Masuk ke kamar yang di kanan. Tak lama kemudian muncul lagi dengan beberapa batang dinamit serta beberapa kotak karton dan beberapa gulung kabel.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: