Dalam Kecamuk Perang Saudara-bagian-422-423-424


tikam samurai Dari Kecamuk Perang Saudara Ke Dallas Menuntut Balas (Episode II – 422)

tikam samurai novel makmur hendrik

Rumah Gadang

”Dua kali kau menyelamatkan kami, Nak. Engkau seperti malaikat yang dikirimkan Tuhan ke kedai ini, persis di saat-saat yang sangat genting. Kami dua beranak tidak tahu bagaimana membalas budimu…”
Si Bungsu hanya menatap dengan tenang.

”Saya sangat lapar, apakah mungkin saya minta bantuan Siti menanakkan nasi? Saya rasa kita makan dengan Pak Wali bersama-sama. Saya rasa besok belum tentu ada orang yang mau menanakkan nasi buat saya di Situjuh Ladang Laweh. Di sana tak ada lagi sanak famili saya. Mamak saya suami isteri, sudah meninggal. Anaknya Reno Bulan kini berjualan kain di Bukittinggi bersama suaminya.”

Siti hiba hatinya saat si Bungsu berkata ”besok belum tentu ada orang yang mau menanakkan nasi buat saya” .
”Saya akan tanakkan nasi untuk Uda. Tapi … bila Uda bertemu dengan kak Reno? Kabarnya hidupnya susah, dia ikut suaminya yang tukang salung..”

”Saya bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu. Sebelum peperangan besar melanda Bukittinggi. Dulu suaminya memang tukang salung. Tapi berkat yakin, dari uang yang mereka kumpulkan sedikit demi sedikit, kini mereka sudah berjualan kain di Los Galuang.”
Siti menatap lelaki yang tak pernah lenyap dari hatinya itu nanap-nanap. Kemudian mulai menjerang nasi, menyiangi ikan limbat dan gurami yang dibeli sore tadi dari orang yang memancing di sungai kecil tak jauh dari kampung itu. Kemudian menggorengnya dengan cabe hijau yang dia giling. Sambil menanti Siti bertanak, ketiga lelaki itu terlibat pembicaraan tentang pertempuran PRRI dan APRI di Bukittinggi. Tentang ratusan korban yang bergelimpangan yang dikumpulkan di bawah Jam Gadang, yang tidak jelas apakah penduduk atau tentara PRRI.

Ketika azan subuh terdengar, walinagari minta diri seraya juga mengucapkan terimakasih kepada si Bungsu atas perannya menyelamatkan Siti dan ayahnya, sekaligus menyadarkan ketiga orang PRRI yang sering jadi momok di kampung-kampung di kaki Gunung Sago itu. Si Bungsu menompang sembahyang subuh di rumah itu. Mereka sembahyang berjamah, dengan ayah Siti sebagai Imam. Usai sembahyang Siti meletakkan kopi dan ketan serta pisang goreng yang dia siapkan dengan cepat.

Tapi akhirnya tiba juga saat yang sangat dia takuti, sangat tidak dia ingini. Yaitu saat si Bungsu minta diri. Entah mengapa, dia ingin anak muda itu berada lebih lama lagi di rumahnya. Namun si Bungsu sudah minta diri.
”Saya harus pergi, terimakasih masakanmu Siti. Selamat jalan kalau kelak Bapak dan Siti berangkat ke Negeri Sembilan. Salam saya kepada suamimu, Sutan Sinaro, Siti…” ujar Si Bungsu. Siti menatap si Bungsu, kemudian tertunduk. Ada manik-manik air mengalir perlahan di pipinya.
”Akan lama Uda di Situjuh?”
”Saya tidak tahu, Siti. Seperti saya katakan tadi, di sana tidak ada lagi sanak famili saya..”
”Kalau sebelum kami pergi Uda lewat di sini, singgahlah. Saya akan menanakkan nasi untuk Uda..”

Rumah Gadang tempat dia lahir dan menjalani masa remaja, rumah dimana ayah, ibu dan kakaknya mati ditangan Saburo dan pasukannya, masih terurus dengan baik. Dia dapat cerita dari Reno Bulan sewaktu di Bukittinggi bahwa rumah itu kini dihuni kemenakan ayahnya. Waktu mereka bertunangan dulu kemenakan ayahnya itu berada di Jambi, menikah dan berdagang di sana. Si Bungsu tak pernah mengenal kemenakan ayahnya itu. Karenanya dia sengaja tak singgah di rumah tersebut. Kendati hatinya direjam rindu, namun dia hanya melihat dari kejauhan saat akan menuju ke pekuburan. Sudah tiga hari dia di kampungnya ini. Pandam pekuburan kaum dimana keluarganya dimakamkan sudah tak terurus dan ditumbuhi lalang padat.

Dia baru menemukan ketiga kuburan keluarganya itu setelah mencari dengan susah payah. Selama di kampung dia tidur di masjid dimana dulu terjadi keributan karena tentara Jepang akan menangkap Sawal dan Malano, dua pejuang yang sebeumnya mencuri senjata di gudang tentara Jepang di Kubu Gadang. Peristiwa itu terjadi setelah dia ikut sembahyang berjamah di masjid itu. Sawal adalah anak haji yang menjadi imam di masjid tersebut. Itu adalah hari pertama dia turun dari puncak Gunung Sago. Dan hari itu, untuk membela Saleha, anak kedua Imam masjid dan sekaligus menolong Sawal dan Malano agar tak tertangkap, dia membunuh ketiga Jepang yang datang itu. Itulah kali pertama dia membunuh tentara Jepang.

Kini tak ada lagi orang sembahyang berjamaah di masjid itu. Pergolakan merobah kampung itu, dan juga kampung-kampung lain di pedalaman Minangkabau. Sebagaimana dijelaskan walinagari di kedai Siti, para lelaki sebagian ada yang ikut masuk hutan bergerilya melawan tentara pusat dengan sukarela. Sebagaian lagi ikut dengan terpaksa. Sebagian yang lain lagi pada meninggalkan kampung. Merantau ke Jawa, Tanjung Pinang atau Pekanbaru. Sebagian besar yang tinggal di kampung adalah orang-orang tua, lelaki maupun perempuan.

Jika di kota seperti di Payakumbuh, Bukittinggi dan Batusangkar saja orang jarang sembahyang berjamah ke masjid, apa lagi di kampung-kampung kecil di kaki Gunung Sago itu. Tapi keadaan itu membuat si Bungsu agak tenteram. Karena hampir tak ada orang yang tahu dia berada di kampung itu. Situjuh Ladang Laweh, karena letaknya di pinggang Gunung Sago, situasinya sangat rawan. Letaknya itu menyebabkan desa tersebut setiap sat dengan mudah didatangi pasukan PRRI. Sebaliknya, pada waktu tertentu tentara pusat yang disebut sebagai APRI itu datang ”membersihkan” desa-desa dari PRRI yang mereka sebut sebagai ”gerombolan”.

Penduduk benar-benar seperti memakan buah simalakama. Mereka tak mungkin menolak bila ada dua atau tiga anggota PRRI yang singgah dan meminta nasi. Namun bagi orang tertentu hal itu digunakan untuk mencari keuntungan bila tentara APRI datang. Bisa saja untuk balas dendam bila orang yang rumahnya didatangi PRRI itu adalah orang yang berseteru dengannya. Sebaliknya, bila yang naik ke sebuah rumah adalah anggota TNI dari APRI, maka itu juga bisa dijadikan sumber fitnah oleh seterunya. Lapor melapor antar-sesama penduduk seperti itu bukan hal yang jarang terjadi. Itulah yang menyebabkan orang merasa lebih baik angkat kaki dari kampung halaman mereka. Pergi merantau ke Jawa, ke Riau atau ke daerah lain.

Si Bungsu tengah menuju ke pemakaman untuk kembali membersihkan kuburan keluarganya itu. Saat lewat di depan rumah milik kedua orang tuanya, dimana dahulu dia hidup di sana, dia lihat seorang lelaki separoh baya tengah membelah-belah kayu di bawah rumah gadang tersebut. Lelaki itu menoleh ke arahnya. Dia cepat-cepat mengalihkan pandangan dan terus berjalan. Dia tahu, lelaki itu adalah kemenakan ayahnya yang menunggu rumah gadang tersebut.

Lewat tengah hari dia selesai membuat ketiga makam keluarganya menjadi amat bersih. Selain ketiga makam itu, dia juga membersihkan tiga atau empat makam di sekeliling makam keluarganya tersebut. Pergolakan tidak hanya membuat kampung menjadi lengang, juga menyebabkan kuburan, kebun, sawah dan ladang menjadi terlantar. Rumah-rumah yang tidak berpenghuni atap ijuknya pada ditumbuhi lumut atau sakek.

Saat akan mengakhiri pekerjaannya membersihkan kuburan itu tiba-tiba jantungnya berdebar. Dia tegak, menatap keliling. Hanya ada belukar yang semakin lebat. Debar jantungnya makin menguat. Biasanya debar seperti itu adalah isyarat datangnya bahaya. Jauh di atas sana dua ekor elang terbang berputar seperti sedang mengintai mangsa. Dia memejamkan mata, memusatkan konsentrasi. Mencoba mengetahui apakah bahaya yang mengancam nya, yang membuat debar jantungnya berdenyut tidak normal itu, datang dari dalam belukar yang mengelilingi kuburan tersebut.
Dalam konsentrasinya dia mencoba menangkap suara sehalus apapun yang datang dari dalam belukar itu. Mungkin desah nafas, mungkin dengus, mungkin suara dedaunan yang tergeser oleh tubuh mahluk apapun. Harimau, beruang atau ular sekalipun. Dari pengalaman hidup di puncak Gunung Sago dahulu, dia memiliki kemampuan untuk mendengarkan perbedaan sekecil apapun suara yang ditimbulkan. Antara suara daun yang ditiup angin dengan daun yang terkuak oleh lewatnya mahluk hidup.
Namun meski beberapa kali dia coba memusatkan kosentrasi tetap saja tak satupun sumber suara yang bisa disimpulkan sebagai ancaman. Dia hanya mendengar suara beberapa ekor ayam hutan mengais makanan. Kemudian suara desiran seekor ular, mungkin ular tedung yang besarnya tak melebihi lengannya. Suara bergeraknya ular itu, menurut perkiraannya, ada sekitar dua puluh depa dari tempatnya berdiri. Lagipula arah bergerak ular itu menjauhi tempatnya berdiri, bukan ke arahnya. Jadi samasekali bukan ancaman bagi dirinya.

Dalam Kecamuk Perang Saudara-bagian-423 klik disini

Dalam Kecamuk Perang Saudara-bagian-424

tikam samurai

michiko

Sama sekali tak ada niatnya untuk melukai apalagi membunuh si Bungsu, lelaki yang siang malam memenuhi relung hatinya. Satu-satunya lelaki yang pernah merebut hatinya, yang siang malam dia rindukan. Lelaki yang dia cari sampai ke ujung dunia, tanpa mempedulikan apapun rintangannya. Kalau tadi dia menghunus samurai, itu dengan keyakinan yang amat sangat bahwa serangannya dengan amat mudah dapat dielakkan atau ditangkis oleh si Bungsu. Dia sebenarnya sangat berharap dialah yang dilukai dan dilumpuhkan.

Kalau si Bungsu tidak mencintainya, dia rela mati di tangan lelaki yang dia cari ke segenap penjuru ini. Dia memang mencari lelaki itu dengan dendam di hati. Tapi jika ditimbang mana yang berat antara dendam dengan rasa cintanya kepada lelaki itu, perbandingannya bisa satu untuk dendam, sepuluh untuk cinta. Dia benar-benar tidak menduga sedikitpun, bahwa gerakan si Bungsu di awal tadi adalah gerakan untuk membuang samurai nya. Dalam pikiran nya, serangannya yang tak berbahaya dalam bentuk memancung dari atas kiri ke dada lelaki itu akan mudah digagalkan. Dia tahu, serangannya itu dapat di tangkis siapapun dengan gerakan sederhana sekali, apalagi oleh si Bungsu.

Tapi si Bungsu ternyata samasekali tidak mencabut samurai nya. Dia merasa hiba melihat gadis itu memburunya ke mana-mana untuk membalas dendam. Dia amat menyesal telah menyebabkan Michiko sebagai anak tunggal kehilangan ayah. Kini tak ada lagi tempat gadis itu menggantungkan hidup. Ibunya sudah lama meninggal. Dia dapat merasakan betapa sepi dan terguncang nya jiwa Michiko setelah kematian ayahnya, dia dapat merasakan karena hal yang sama juga menimpa dirinya.
Itulah sebab dia ingin segera mengakhiri dendam turunan itu. Itulah pula sebabnya kenapa dia samasekali tidak mencabut samurai untuk melawan Michiko. Yang dia lakukan justru melemparkan samurai nya ke tanah. Dan saat itu serangan ke dadanya tak lagi sempat ditarik Michiko. Lalu…terjadilah tragedi dan malapetaka itu!

Dalam ketakutan ditinggalkan lelaki yang amat dicintainya itu, Michiko teringat ucapan pendeta Kuil Shimogamo yang menjadi senseinya berlatih samurai, sepeninggal ayahnya. Saat sensei itu tahu Michiko berlatih untuk mencari dan membalas dendam kepada si Bungsu, pendeta itu mengingatkannya dengan lembut:
Saya tahu anak muda bagaimana musuhmu itu Michiko-san. Dia akan membunuh lawan-lawannya. Tapi percayalah, jika engkau bertemu kelak dengannya, dia takkan melawanmu. Dia adalah anak muda yang berbudi. Dia tak akan melawanmu, dia akan merelakan nyawanya di tanganmu. Percayalah, Nak . .

Dia juga teringat penggalan dialognya suatu hari dengan Zato Ichi, pendekar legendaris Jepang yang ternyata juga sudah sangat mengenal si Bungsu setelah peristiwa wafatnya Obosan Saburo Matsuyama.
”Michiko, muridku. Saya dapat menerka, bahwa antara kalian ada salah pengertian . .”
”Maksud bapak?”
”Salah fahaman itu datangnya bukan dari dia. Tapi dari engkau Michiko-san . .”
”Maksud bapak?”
”Maksud saya, kalian sebenarnya saling cinta . .. ”
”Tidak. Dia tak mencintai saya . . ”
”Bagaimana dengan engkau. Apakah engkau mencintainya?”
Saat itu Michiko tak bisa menjawab pertanyaan Zato Ichi.

”Jawablah. Apakah engkau mencintainya?”
”Saya orang Jepang. Dia telah menyebabkan kematian ayah saya. Bagaimana mungkin dengan kedua perbedaan yang amat besar ini saya bisa mencintainya?”
Zato Ichi tertawa bergumam, lalu menarik nafas panjang.

Kalau engkau orang Jepang, apakah itu menjadi halangan untuk mencintai bangsa lain? Ah, sedangkan diriku yang tua tak berfikir sekolot engkau Nak. Yang penting bukan bangsa apa dia. Bukan pula bangsawan atau tidaknya dia. Tapi yang penting apakah engkau mencintainya dan dia mencintaimu. Jika hal ini terjadi timbal balik, maka persetan dengan segala perbedaan yang ada. Apakah tak pernah kau dengar betapa banyaknya orang yang kawin hanya karena mementingkan derajat, kekayaan, martabat, akhirnya perkawinan mereka jadi puing. Perkawinan mereka jadi neraka bagi diri mereka. Ah, saya sudah banyak mendengar perkawinan yang demikian Nak . . . ”

Terakhir, dia teringat dialognya dengan Salma, orang yang dicintai si Bungsu sebelum bertemu dengannya, yang ternyata menjadi isteri sahabatnya, Overste Nurdin, Atase Militer Malaya yang berkedudukan di Kota Singapura. Saat itu dia akan naik pesawat ke Padang melalui Jakarta. Saat itu suami Salma berkata:

Saya berharap akan dapat bertemu dengan kalian berdua, Michiko. Maksud saya engkau dan si Bungsu. Saya tahu, engkau menaruh dendam padanya. Namun, saya benar-benar menginginkan tak satupun di antara kalian yang cedera…”
Kala itu Michiko hanya tersenyum. Senyumnya kelihatan getir. Sebelumnya Salma juga sempat bicara empat mata dengannya.

”Sebagai sesama perempuan, Michiko, saya ingin mengatakan padamu. Engkau punya kesempatan untuk bertemu dengan lelaki yang sama-sama kita cintai. Engkau yang memiliki kesempatan paling besar untuk mendapatkan dirinya. Jangan engkau sampai dikuasai oleh dendam keparat itu. Itu nonsens sama sekali. Berfikirlah dengan akal sehat. Dia takkan mau melawanmu, aku tahu itu bukan sifatnya. Bila dia engkau bunuh Michiko, sama artinya engkau membunuh harapanmu sendiri. Kau akan menyesal seumur hidupmu.

Kalian kini sama-sama sebatangkara. Yang kalian butuhkan adalah kasih sayang. Bukan perkelahian dan saling bunuh. Sebagai seorang yang lebih tua darimu, Michiko san, saya ingin engkau bahagia. Saya ingin si Bungsu bahagia. Dan saya yakin, kebahagiaan itu takkan kalian peroleh kalau kalian tidak bersama. Saya ingin mendengar kabar bahwa kalian menikah. Saya akan menanti kalian di sini. Datanglah sebagai suami isteri. Saya selalu berdoa untuk itu, Michiko, Adikku!”

Michiko tak bisa menahan air matanya. Dia memeluk Salma. Salma juga basah matanya. Kini, lelaki yang dia cintai dan dia cari ke ujung langit itu, bersimbah darah dan sekarat dalam pelukannya karena dimakan mata samurainya! Apa yang pernah diucapkan sesnseinya di Kuil Shimogamo dan Salma, bahwa anak muda itu takkan pernah mau melawannya, akan merelakan nyawanya di tangan Michiko, kini semua terbukti. Semua!

Di antara ratap sesalnya Michiko sayup-sayup seperti mendengar suara ledakan dan tembakan sahut menyahut. Disusul suara gemuruh. Semua suara berdesakan ke dalam kepalanya, susul menyusul dan kacau balau. Hiruk pikuk tak menentu. Bathinnya yang terpukul amat dahsyat akhirnya membuat pertahanan jiwanya berada di titik paling nadir. Mula-mula semuanya menjadi samar-samar, lalu akhirnya tubuhnya rebah ke jalan berkerikil tak sadarkan diri, dengan tetap memeluk tubuh si Bungsu!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: