Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian – 412-413


Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian – 412

si bungsu

michiko

Samurai Michiko hanya sekejap berada di luar sarangnya. Tak sampai lima hitungan cepat. Begitu dicabut, dia melangkah ke belakang, samurainya berkelebat, membabat bahu sopir itu dan snap…masuk kembali ke sarungnya di tangan kiri Michiko!

Kini dia tegak dengan diam. Lelaki besar berpisau itu juga tegak. Kaget bercampur ngeri melihat ketenangan gadis itu membunuh manusia. Mereka bertatapan. Lelaki besar itu, juga seorang bandit yang sering menghantam mangsanya dengan kepalan atau dengan pisau, kali ini mulai hati-hati benar. Dia menggertak lagi. Michiko masih diam. Kakinya menendang cepat dalam suatu tendangan Silat Mataram. Tendangan melengkung dari kanan ke kiri. Michiko bergerak cepat, kakinya melesak maju antara kaki kanan yang menendang itu dengan kaki kiri yang tegak sebagai kuda-kuda. Tendangan lelaki itu cukup cepat. Namun jauh lebih cepat lagi tendangan kaki Michiko. Tendangannya menghajar selangkang lelaki itu, menyebabkan lelaki itu tersurut dua langkah. Dia meringis menahan sakit.

Babah gemuk itu mengerutkan kening. Dia seperti dapat merasakan sakit yang diderita anak buahnya itu. Bukankah dia juga kena tendang selangkangnya di hotel Angkasa tadi oleh Michiko? Bukankah dia terpaksa harus merangkak untuk meninggalkan hotel itu? Kini anak buahnya kena tendangan seperti itu pula. Dia dapat mengerti betapa sengsaranya anak buahnya itu. Tapi lelaki besar itu memang agak tangguh. Hanya sebentar dia mengerang dan mengerutkan kening. Saat berikutnya dia sudah tegak. Kali ini, dalam jarak empat depa, dia tak lagi berusaha untuk maju. Tapi dengan ayunan yang amat cepat, dia melemparkan pisau itu ke dada Michiko.

Lelaki itu juga dikenal sebagai pelempar pisau yang bukan main mahirnya. Tadi dia memang tak berniat melemparkan pisau itu pada Michiko. Sebab lemparan pisaunya berarti maut. Dia tak ingin membunuh gadis itu. Sebab selain tak dibolehkan bosnya, dia sendiri ingin menikmati tubuh gadis itu terlebih dahulu. Tubuh yang montok dan menggiurkan. Tapi kini, setelah gadis itu menghantam selangkangnya, dia tak perduli lagi dengan kemontokan itu. Dia berniat membunuh gadis itu. Pisaunya melayang cepat secepat kilat. Namun Michiko juga bergerak cepat. Samurainya tercabut. Membabat di udara. Trangg!

Terdengar suara besi beradu. Dan pisau itu berobah arah. Dihantam dengan telak dan tepat oleh samurai Michiko. Arahnya justru melaju cepat sekali ke arah si gemuk! Kembali bahaya mengamcamnya! Gerakan itu juga telah diperhitungkan dengan cermat oleh Michiko. Tapi kembali tangan Cina kurus itu bergerak. Kembali pisau yang meluncur cepat berobah arah. Jatuh ke lantai dengan menimbulkan suara ribut!

”Hm. Bukan main. Cantik, cepat dan kejam!”
Untuk pertama kalinya Cina kurus tinggi itu bersuara. Suaranya seperti keluar dari sebuah goa. Bergema mengerikan. Matanya yang kuning menatap pada Michiko. Tapi Michiko tak sempat terkejut atas kehebatan Cina itu, sebab si besar yang pisaunya telah dilemparkannya itu kembali menyerang. Dia menyerang dengan melompati tubuh Michiko yang saat itu tengah menghadap pada si kurus. Sungguh malang orang ini. Dia melompati mautnya sendiri. Michiko bukannya kanak-kanak. Bukan pula orang yang mudah merasa takut dan gentar menghadapi serangan bandit seperti mereka. Selagi perkelahian satu lawan satu, maka Michiko tak usah khawatir.

Lelaki itu masih melompat, tubuhnya tengah melayang ketika Michiko menggeser tegak. Dia melayang setengah hasta di sisinya. Saat itu samurai Michiko kembali bekerja. Samurainya memancung dari atas ke bawah, persis di pinggang si lelaki. Tubuh lelaki itu masih melayang sedepa lagi. Baru akhirnya menubruk seperangkat meja dan kursi. Jatuh dan mati dengan pinggang hampir putus. Tapi saat itu pula tubuh Michiko terlambung. Tubuhnya menerpa dinding. Kepalanya berdenyut, untung samurai masih di tangannya. Ternyata ketika dia melangkah menghindarkan tubrukan tadi dia tegak membelakangi si kurus.

Ketika dia menghantam lelaki yang menubruknya itu dengan samurai, si kurus maju pula menghantam tubuh Michiko. Pukulannya hebat. Tubuh Michiko sampai terpental menubruk dinding. Michiko terduduk di lantai dengan punggung bersandar ke dinding. Dia menggelengkan kepala. Berusaha menghilangkan pening, menatap pada Cina kurus itu. Cina itu tegak tiga depa di depannya dengan kaki terpentang. Menatap ke bawah, ke arah Michiko dengan mata kuningnya yang berkilat buas.
”Tegaklah, Nona. Saya akan tunjukkan padamu bagaimana seorang perempuan harus menanggalkan pakaiannya satu demi satu secara baik.”

Suaranya yang mengerikan itu terdengar bergumam. Michiko menggertakkan gigi. Dia bangkit dan memegang samurainya yang telanjang dengan kukuh di tangan kanan! Cina itu tersenyum. Senyum yang mirip seringai.
”Ya. Tanggalkan pakaiannya satu demi satu, Hok Giam! Saya tadi telah melihat tubuhnya tak berkain sehelai pun di hotel. Ketika Husein akan melahapnya. Tubuhnya bukan main. Ayo tanggalkan, Hok!”
Yang bicara ini adalah si gemuk. Suaranya yang mirip lenguh kerbau itu bergema dari tempatnya duduk. Michiko meludah. Perlahan tangan kirinya memegang bahagian bawah samurainya. Kini hulu samurai dia pegang dengan dua tangan. Dia harus hati-hati. Lawannya amat tangguh.
”Heh, Jepang busuk!. Ingin mencoba kehebatan nenek moyangmu dari daratan Tiongkok?” lelaki kurus yang bernama Hok Giam itu bersuara.

Nadanya seperti ada dendam antara Jepang dengan Tiongkok. Kedua tangannya terangkat tinggi di atas kepala. Kemudian kesepuluh jari-jarinya ditekuk ke bawah. Persis cakar garuda. Aneh. Dalam posisi demikian, kedua tangan terangkat tinggi, berarti membiarkan bahagian seluruh tubuh terbuka untuk diserang. Apalagi diserang dengan senjata panjang. Benar-benar posisi yang berbahaya. Namun Michiko tak berani bergerak sembarangan. Dia tak mengenal lawannya ini kecuali dalam tiga gebrakannya. Gebrakan pertama dan kedua ketika memukul samurai kecil dan pisau. Gebrakan ketiga ketika menghantamnya dari belakang tadi.

Dia menanti. Yang dikhawatirkannya hanya satu, yaitu kalau-kalau Cina kurus ini memang memiliki tenaga dalam yang bisa mencelakakan orang dari jarak jauh. Kalau itu benar, maka binasalah dia. Karenanya dia tetap diam menanti. Dia agak yakin juga, sebab tadi hanya dengan kibasan tangan saja, Cina itu berhasil merubah arah samurai dan luncuran pisau yang akan menghabisi nyawa si gembrot bajingan itu. Tangan Cina itu bergerak. Aneh, Michiko melihat tangan Cina itu seperti bergetar. Jumlah tangannya makin banyak. Lalu Cina itu melangkah maju.

Michiko menyilangkan samurai di depan dadanya. Tangan Cina itu tiba-tiba bergerak dan seperti menyambar ke arah Michiko. Michiko dengan tetap tegak memegang samurai melangkah surut. Dia yakin dalam jarak demikian, cakaran Cina itu tak bakal mengenai tubuhnya. Namun dia merasa mendengar suara kain robek. Dia melihat ke dadanya. Wajahnya jadi pucat. Bajunya robek tentang dada! Kutangnya kelihatan ketat menahan dadanya yang membusung! Si babah gemuk tertegak. Matanya melotot menatap dada Michiko. Michiko menggertakkan gigi. Seharusnya tangannya menutup dadanya. Tapi itu tak dia lakukan.

Dia tak mau kehilangan konsentrasi atas samurainya dengan melepaskan salah satu tangannya dari gagang samurai itu. Tangan Cina itu gentanyangan lagi. Seperti memukul bolak balik. Kini rok Michiko robek! Tergantung-gantung. Menampakkan pahanya yang putih dan celana dalamnya yang berwarna merah jambu! Michiko masih tegak dengan diam dan bersandar ke dinding. Dia tak perduli berpakaian atau tidak. Pokoknya dia tak mau melepaskan samurainya. Dia akan mempertahankan kehormatannya dengan itu. Si babah melangkah ke depan. Ingin melihat lebih jelas tubuh Michiko. Michiko tegak dengan kukuh.

Cina itu menggerakkan tangannya lagi. Waktu itulah Michiko menggulingkan tubuhnya ke lantai. Bergulingan cepat ke depan sambil menebaskan samurainya seperti kitiran angin ke arah kaki Cina kurus itu. Namun Cina itu seperti sudah sangat arif.
Tubuhnya melenting ke atas namun samurai michiko lebih dulu membelah tubuh nya menjadi dua,dan ketika michiko memandang ke babah gemuk itu dia sudah berada di pintu siap melarikan diri.namun tiba2 dari belakang tubuhnya dia merasakan sesuatu menikam tubuhnya hingga tembus ke dadanya.Babah cina itu mati di karenakan tidak bisa menahan napsu bejat nya terhadap perempuan..!

Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian –413

Michiko memandang ke arah yang ditunjukkan sersan itu. Dia melihat rumah hijau yang ditunjukkan tersebut. Di depannya dia melihat sepeleton tentara tengah bersiap-siap untuk berangkat. Ada yang memakai topi baja. Ada yang memakai baret kuning tua. Harapannya untuk segera tiba di Minangkabau timbul lagi.
”Terimakasih. Bapak baik sekali. Saya takkan melupakannya…” katanya pada sersan mayor itu.
”Ah, saya tak membantu apa-apa Nona. Saya hanya menunjukkan jalan. Barangkali saja Nona bisa ikut. Saya doakan….”
”Terimakasih….” ujar Michiko sambil mengulurkan tangan.

Sersan itu tersenyum dan menyambut salam Michiko. Gadis itu menenteng buntalan pakaiannya menuju ke rumah hijau itu. Kehadirannya di sana jelas saja menarik perhatian. Tentara yang ada di depan rumah itu terdiri dari pasukan-pasukan PGT dan tentara Infantri.
”Bisa kami membantu Nona?” seorang letnan bertanya.
”Terimakasih. Saya ingin ikut ke Sumatera Barat. Ke Padang. Dapatkah saya bertemu dengan pimpinan Tuan?”
”Akan ke Padang?”
”Ya, kalau bisa…”
”Silahkan masuk. Komandan ada di kamar nomor dua itu…”

Si Letnan menunjukkan kepada Michiko tempat yang di maksud. Gadis itu masuk, diantar oleh si Letnan. Letnan itu mengetuk pintu. Ketika ada suara menyuruh masuk, Letnan itu masuk duluan. Menutupkan pintu di belakangnya. Michiko menanti di luar. Tak lama kemudian Letnan itu keluar lagi.
”Silahkan….”
Michiko masuk. Di dalam kamar itu ada beberapa orang tentara. Seorang mayor duduk di balik sebuah meja.

”Selamat siang…” kata Michiko.
Mayor itu menanggalkan kacamatanya.
”Oh, ya. Silahkan duduk. Silahkan…” suaranya terdengar ramah.
Michiko mengambil tempat duduk.
”Ada yang bisa kami bantu untuk Nona?”
”Saya ingin ke Padang. Dua hari yang lalu saya telah mendaftarkan diri di penerbangan sipil. Ternyata penerbangan hari ini dibatalkan.

Dari bahagian penerbangan sipil itu saya mendapat informasi bahwa ada pesawat militer yang akan berangkat siang ini ke sana. Saya berharap bisa ikut dengan pesawat itu…”
”Ya. Memang ada pesawat militer yang akan ke sana. Maaf, apakah Nona ada membawa surat keterangan?”
”Ada…”
Michiko lalu membuka sebuah tas kecil. Mengeluarkan pasport, visa dan beberapa surat keterangan lainnya. Lalu menyerahkan pada mayor itu.

”Anda seorang turis?”
”Ya”
”Aneh. Maaf, maksud saya, adalah sesuatu yang agak luar biasa kalau memilih Sumatera Barat sebagai tempat melancong dalam situasi yang begini. Negeri itu sebenarnya memang negeri yang indah, Nona. Gunung berjejer. Sawah berjenjang. Ada ngarai dan air terjun. Bunga mekar sepanjang tahun. Tapi saat ini masih bergolak. Kalau saya boleh menyarankan, barangkali bisa memilih Bali atau Danau Toba. Yaitu kalau ingin sekedar jalan-jalan….”
Michiko menunduk.

”Ada seseorang yang saya cari di sana, Mayor….” akhirnya dia membuka kartu.
”Nah. Saya sebenarnya telah menduga hal itu. Kalau demikian lain persoalan. Apakah dia seorang yang telah lama di Sumatera Barat?”
”Dahulu dia dilahirkan di sana. Tapi saya mengenalnya di Jepang. Dia baru datang dari Australia. Barangkali baru sepekan dua ini….”
”Dari Jepang dan Australia?”
”Ya”
Mayor itu mengerutkan kening. Menatap pada Michiko seperti menyelidik.
”Apakah dia bekas seorang sahabat?” tanyanya.
Michiko ragu, tapi kemudian mengangguk.
”Seorang pemuda?”

Michiko tak menjawab.
”Maaf. Saya hanya ingin memudahkan urusan Nona” ujar mayor itu ramah.
”Ya. Dia seorang pemuda…”
Mayor itu mengangguk maklum. Kemudian menoleh pada seorang staf yang duduk di meja di kanannya. Mengatakan sesuatu. Stafnya itu, seorang letnan, lalu berdiri. Membuka sebuah lemari yang dipenuhi laci-laci. Melihat sederatan map yang diberi kode bernomor-nomor. Mengambil sebuah di antaranya. Map berwarna biru. Menyerahkannya pada Mayor tersebut yang lalu membuka map tersebut. Menatap sebuah halaman berfoto. Kemudian menatap kembali pada Michiko.

”Pemuda itu bernama Bungsu?”
Ujar Mayor itu perlahan. Michiko kaget. Jantungnya seperti berhenti berdegup.
”Apakah memang benar dia orang yang Nona cari?”
Michiko masih belum bisa bersuara. Namun akhirnya dia mengangguk dan balik bertanya.

”Apakah dia memang berada di Sumatera Barat?”
”Ya, dia memang kembali ke sana. Dulu dia juga menompang pesawat khusus yang mengangkut militer. Pesawat Hercules yang sebentar lagi akan berangkat. Maaf, ini fotonya, bukan?” mayor itu memperlihatkan map tersebut.
Michiko melihat foto si Bungsu di sana.
”Ya…” katanya antara terdengar dan tidak, sementara jantungnya berdegub kencang melihat foto itu.
Mayor itu menarik nafas panjang. Menutup map di tangannya.

Iklan

4 responses to “Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian – 412-413

  • Alfian Capone Sainur

    KENAPA BANYAK BAGIAN YG HILANG SIH..? SEBENARNYA CERITANYA SANGAT BGS NAMUN KARENA BANYAK YG HILANG SEHINGGA BIKIN HATI NGGAK NYAMAN. TLG LAIN KALI DI BUAT LEBIH TELITI DEMI MENJAGA MUTU SEBUAH KARYA.
    SAYANGKAN JIKA SEBUAH KARYA MASTERPIECE JD CACAT KARENA KE TIDAK TELITIAN.
    MOHON MAAF.. INI SAYA KATAKAN KARENA SAYA SANGAT-SANGAT MENCINTAI SEBUAH KARYA SENI.
    TERIMAKASIH..

    • tikamsamurai

      thanks atas masukan nya,untuk ceritanya memang byk yg hilang karena buku nya juga sdh byk yg hilang dan sekarang sudah sulit menemukannya.. media ini lebih kurang untuk mengingatkan penggemar atau yang pernah membaca bukunya.. mgkn seperti buat mengingatkan atau menimbulkan lagi kenangan tentang buku ini..karena buku ini adalah bacaan favorit bagi kebanyakan orang di tahun 80 an khususnya daerah sumbar atau riau..bagi yang baru mengenal atau membaca nya dan ingin membeli bukunya dapat di beli di toko buku sari anggrek padang karena buku ini di cetak oleh penerbit lokal,..

      • Alfian Capone Sainur

        Ooo..begitu ya.. maaf kalau saya salah sangka. saya kira hal itu terjadi karena unsur kelalaian. sekali lagi saya mohon maaf yang sebesar-besarnya dan terima kasih atas niat baiknya untuk menerbitkan kembali cerita ini di sini. Saya sebagai penggemar yang sangat fanatik memberikan penghargaan yang setinggi2nya kepada anda yang telah membantu para penggemar Tikam Samurai ini untuk membangkitkan kenangan yang mungkin sempat terbenam didasar memori.
        Tb.sari anggrek tersebut apa punya koleksi lengkap?

      • tikamsamurai

        Ga pa2 ,. 🙂 Menurut informasi dariContributed by Webmaster Cimbuak
        Tuesday, 17 November 2009
        Last Updated Tuesday, 17 November 2009
        Untuk dunsanak-dunsanak sekalian penggemar berat karya abang kita Makmur Hendrik, saat ini Makmur Hendrik Center
        (MHC) telah menerbitkan kembali buku-buku legendaris karya beliau yang mudah mudahan dapat mengobati rasa
        taragak dunsanak sekalian.
        Adapun buku buku yang telah terbit itu adalah sebagai berikut :
        – MELINTAS BADAI : 300-an halaman @ Rp 50.000,-
        Novel laris tentang cerita keluarga yang amat mengharukan, yang telah diangkat ke layar lebar dengan pemeran Marissa
        Haque dan Ray Sahetapi.
        – DI LANGIT ADA SAKSI : 300-an halaman @ Rp 50.000,-
        Makmur Hendrik adalah cerpenis yang memenangkan berkali-kali sayembara penulisan cerpen tingkat nasional, tiga
        diantaranya ada dalam kumpulan berisi 13 cerpen ini. Tiga pula di antara cerpen dalam kumpulan ini (Di Langit ada
        Saksi, Luka di Atas Luka, dan Jangan Menangis Mama) sudah dijadikan film layar lebar. Ada cerita tentang
        “wajah lain” dari polisi dan tentara, tentang bagaimana mereka mengabdi dan menghidupi keluarga
        mereka secara amat menghharukan
        – TERJEBAK DI PERUT BUMI : 200-an halaman @ Rp 25.000,-
        “Lubang Japang” adalah benteng balatentara Jepang di bawah Kota Bukittinggi. Tiga siswa STM
        terperangkap selama 30 hari di dalamnya. Mereka tidak hanya menemukan senjata, dinamit, dan batangan emas, tapi
        juga harus mempertahankan nyawa dari ribuan ekor ular berbisa dan laba-laba raksasa. Bisakah mereka menemukan
        jalan keluar?
        – TIKAM SAMURAI (Lima Jilid) : 400-an halaman per jilid @ Rp 50.000,-
        Jilid I: Pembantaian keluarganya di Situjuh Ladang Laweh oleh Saburo Matsuyama, seorang kapten balatentara Jepang,
        merubah total jalan hidup si Bungsu. Jilid II: Seorang diri si Bungsu ke Jepang, guna menuntut balas kematian
        keluarganya. Agar bisa bertahan hidup, dia harus bertarung dengan Ninja. Jilid III: Saat mengantar jenazah sahabatnya,
        mantan tentara Perang Dunia II, ke Australia, dia terlibat pertikaian maut dengan “Boomerang”, kelompok
        bandit paling sadis di Australia. Jilid IV: Michiko, anak Saburo Matsuyama yang mencintai sekaligus memusuhi si
        Bungsu, memburunya sampai ke Situjuh Ladang Laweh. Tapi dia “terbawa” ke Dallas oleh seorang pilot
        Amerika, yang kala itu datang ke Minangkabau mendrop senjata untuk PRRI. Ke Dallas dia datang. Jilid V: Saat akan
        meninggalkan Dallas, sahabatnya bernama Alfonso Rogers, milyarder Amerika turunan Spanyol, memohon bantuan
        mencari anak gadisnya yang hilang saat bertugas sebagai perawat di Viet Nam. Sudah berkali-kali misi dikirimkan,
        hasilnya nihil. Demi sahabat, ke sanalah si Bungsu datang, ke Nerakan Viet Nam!
        – GIRING-GIRING PERAK (Dua Jilid) : 400-an halaman per jilid @ Rp 50.000,-
        Jilid I: Seorang anak muda melintasi gunung dan lembah, menembus kabut pagi dan mlintasi embun malam, mencari
        dimana kampungnya, siapa ayah bundanya. Bahkan dia tak tahu siapa namanya, kecuali sebuah giringigiring perak di
        kakinya sebagai tanda. Dia menyelamatkan sedbuah kafilah dari Pariaman dari kezaliman penghuni Bukti
        Tambuntulang, kerajaan rampok dan lanun. Jilid II: Bersama Tuanku Nan Renceh, Datuk Sipasan dan Pelarian Raja-raja
        Pagaruyung dia menghancurkan kerajaan dajal di bukit maut itu. Bertemukah dia dengan ayah dan ibunya?
        – PANGLIMA SAKAI : 400 halaman @ Rp 50.000,-
        Seorang anak ditemukan hanyut dalam sampan di Sungai Jantan, yang kelak berubah nama menjadi Sungai Siak.
        Setelah dewasa si anak menjadi Panglima Perang Kerajaan di Sriwijaya, namun dia pulang mencari ayah bundanya di
        sepanjang Sungai Siak dan Sungai Sungai Gasib. Dia menyelamatkan Puteri Kaca Mayang yang legendaris itu, yang
        disandera pasukan Aceh. Anak siapakah diia?
        Cover : Lux, Construk 260 gram & Laminating
        Isi : HVS 70 Gram
        Ukuran : 12 x 19 Cm
        Untuk dunsanak yang berminat dapat mepesan mulai sekarang, melalui
        Makmur Hendrik Center (MHC)
        Telepon No: 081365639801(sony), 08127618309 (eva)
        saya sudah pernah mencoba menghubungi contact tersebut tetapi blm berhasil.. dan informasi terbaru dari saudara dari page facebook tikam samurai fans :kabar gembira buat penggemar cerita/novel tikam samurai yg ingin memiliki novelnya,sekarang bisa anda dapatkan di toko buku sari anggrek..info dari http://www.facebook.com/jhim.chaniago Di toko buku sari anggrek padang sudah ada buku cetak ulangnya…!!!
        dari saudara Jhim Redi Chaniago.. berhubung saya tidak tinggal di sumbar lagi,jadi belum bisa untuk hunting kesana,terima kasih atas atensinya 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: