Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian- 409-410-411


Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian- 409
si bungsu
Babah itu sejenak terkesima. Pemandangan di tempat tidur, tubuh Michiko yang tertelentang tanpa apa-apa, membuat jantungnya berhenti berdetak. Namun Michiko yang merasa dirinya bebas, segera menyambar kimononya. Saat itu si babah mengalihkan pandangannya ke Husein.
”Husseiinnn! Lu kulang ajal. Kulang ajal betuuul! Babi, anjing, monyet, beluk lu!”
Sumpah serapah incek gemuk itu berhamburan. Husein tertunduk layu. Layu dari atas sampai ke bawah.

Babah itu maju lalu plak, pluk, plak….plak! tangannya menampar Husein tiga kali. Husein tak bisa cakap. Kepalanya tertunduk. Atas bawah. Tangannya melindungi miliknya yang berada di bawah. Saat itulah mereka berdua melihat gadis Jepang itu turun dari tempat tidur. Babah gemuk itu menoleh. Husein juga menoleh.
”Ah, kau diganggunya, Dik?”
Buset..! Babah gemuk itu memanggil Michiko dengan sebutan ”dik”. Benar-benar selangit!! Michiko tak mengacuhkannya. Matanya berbinar berang. Menatap tajam pada lelaki besar yang masih telanjang itu.
”Saya, eh, we sudah tempiling dia. We sudah tempiling tiga kali. Mau lihat! Nih….” dan babah gemuk itu maju lagi ke dekat Husein.

Tangannya bekerja lagi. Puk, pak, puk…..! Tiga kali tempiling mendarat dengan telak.Husein tertunduk kuyu.
”Nah, dia telah ku tempiling, Dik…” kata babah itu sambil nyengir.
Michiko memandang dengan jijik dan marah luar biasa. Perlahan dia mencabut samurai yang kini telah dia pegang di tangan kiri. Babah yang sudah siap lagi untuk bicara, jadi terdiam. Husein juga menatap. Tapi dia tak kaget. Dia hanya menatap heran pada perempuan cantik yang tadi hampir saja memuaskan nafsunya itu. Heran melihat gadis secantik itu memegang senjata yang dulu sering dipergunakan serdadu Jepang.

”Jahanam, kalian…” gadis itu mendesis tajam.
Lalu samurainya bekerja. Amat cepat. Samurai itu melukai dada Husein. Michiko memang tak segera membunuhnya. Dia hanya ingin memberi pelajaran pada lelaki itu. Husein kaget. Menatap ke dadanya yang luka. Meski tak dalam, namun darah merembes. Dia usap dadanya. Ternyata dia lelaki yang tak mengenal takut.

”Ha, bisa juga kau memainkan senjata itu nona….” katanya sambil tersenyum tanpa memperdulikan darah di dadanya. Babah gemuk itu sebenarnya sudah agak takut. Tapi karena tukang pukul nya itu tak takut, dia juga jadi berani.”Sudahlah, Dik. Jangan main-main palang panjang, eh, kapak, eh, jangan main-main samulai. Nanti adik luka. Mali sini abang simpan…” kata apek gemuk itu sambil maju mengulurkan tangan pada Michiko.

Maksudnya membujuk agar samurai itu diserahkan padanya. Namun sebuah tendangan menantinya. Tendangan yang telak dari jurus karate yang telah mahir dipelajari Michiko. Tendangan itu mendarat di kerampang Cina gemuk itu. Babah gemuk itu terhenti. Nafasnya tertahan. Matanya juling. Alat kesenangannya, yang biasa dia buat untuk bersenang-senang, terasa sangat sakit. Rasa akan pecah dihantam tendangan gadis itu. Dengan melenguh, dia jatuh berlutut di lantai. Husein jadi kaget juga melihat makan kaki gadis itu.

Dia segera membantu bosnya. Dengan masih bertelanjang, dia menyergap gadis itu dari samping. Namun Michiko sudah siap. Meski dia tak bisa segera menggunakan samurai, pukulan tangan kirinya mendarat di jidat lelaki itu. Lelaki itu terhenti. Jidatnya bengkak sebesar telur ayam. Namun dia tak merasa sakit. Yang dirasakannya hanya sedikit pening dan kaget. Dia memang lelaki yang alot. Tak merasakan pukulan.

Tapi waktu dia berhenti menyerang itu sudah cukup bagi Michiko untuk mempergunakan samurai di tangan kanannya. Cress! cresss!, dua sabetan cepat. Pada sabetan pertama telinga kanan Husein bercerai dari kepalanya. Sebelum Husein sempat berteriak karena sakit, sabetan kedua menghantam perutnya. Perutnya menganga. Husein kali ini menatap dengan wajah pucat pada gadis itu. Gadis itu juga menatapnya. Mukanya masih tetap merah. Husein memang tangguh.

Dengan tangan kiri memegang perutnya yang belah, dia maju menyerang. Dia sebenarnya tukang pukul yang ditakuti di Jakarta saat itu. Namun samurai Michiko menantinya lagi. Sebuah sabetan menghantam kepalanya! Cress! Kulit kepala lelaki itu berikut rambutnya seluas telapak tangan terbang! Demikian tajam dan demikian cepatnya. Darah meleleh. Husein berhenti lagi. Sedepa di depannya,

Michiko tegak lagi menanti! Husein maju. Kembali samurai Michiko bekerja. Cress! Dan kali ini arahnya adalah sebuah benda di bahagian depan bawah. Husein terhenti.
Kali ini dia tak bisa untuk tidak meraung. Tangannya segera mendekap selangkangnya. Di sana, tadi ada sesuatu yang hampir menusuk-nusuk tubuh Michiko. Dan kini sesuatu itu putus sudah! Tercampak di lantai! Lelaki itu meraung-raung. Membangunkan orang di hotel. Mereka berlarian ke kamar nomor empat itu. Ketika sampai di sana, pintu terbuka. Seorang lelaki Cina bertubuh gemuk, merangkak ke luar dengan wajah meringis menahan sakit dan wajah pucat.
”Ada apa, ncek?”
”Ada sakit. Banyak sakit…” jawab incek gemuk itu sambil meerangkak terus meninggalkan kamar maut itu.

Dia sebenarnya ingin berlari kencang. Tapi alat kesenangannya amat sakit. Menyebabkan dia tak bisa berdiri. Tapi dia tak berani bertahan terus di kamar perempuan tukang bantai itu. Dia harus pergi. Kesempatan itu terbuka tatkala perhatian Michiko tengah terarah sepenuhnya pada Husein. Dia cepat merangkak keluar. Michiko memang tak melihatnya. Di kamar, Husein masih meraung-raung. Namun Michiko tak memperdulikannya.

Samurainya kembali bekerja. Kedua tangan lelaki itu putus hingga bahu! Lelaki itu bergulingan di lantai. Bermandi darah dan seperti dijagal. Dia belum mati. Orang yang melihat ke dalam jadi tersurut dengan wajah pucat pasi. Kemudian menghindar dari sana. Takut dan ngeri. Michiko mengambil buntalan pakaiannya. Kemudian dengan tenang dia melangkah ke luar. Namun langkahnya terhenti tatkala mendengar suara Husein menghiba-hiba.bersambung bagian 410 klik disini

Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian- 411
tikam samurai
Leher gemuk yang hampir saja disikat samurai kecil itu. Dia menatap ke samurai yang tertancap itu. Kemudian beralih ke Michiko. Bergantian menatap samurai dan Michiko. Sambil tangannya masih meraba lehernya.
”Perempuan sundal. Kau akan rasakan akibat perbuatanmu ini…” desis Babah itu sambil menyeringai buruk.
Michiko tak memperhatikannya. Dia justru tengah memperhatikan lelaki kurus berwajah pucat itu. Semakin diperhatikannya, semakin jelas olehnya bahwa lelaki itu sebenarnya adalah seorang Cina. Tak diketahuinya karena kulitnya hitam. Sama seperti orang melayu.

Tapi melihat matanya yang sipit, tak ayal lagi, sikurus ini adalah Cina tulen. Selain dia Cina tulen, nampaknya dia juga memiliki ilmu silat yang tangguh. Itu terbukti dari kibasan tangannya yang berhasil memukul samurai kecilnya tadi. Michiko pernah mendengar dan membaca kehebatan pesilat-pesilat Cina yang mampu melompati pagar atau tembok setinggi atap.

Yang mampu memukul roboh lawan dari jarak dua atau tiga meter dengan mempergunakan ”tenaga dalam”. Dia tak yakin bahwa ada orang Cina yang memiliki ilmu sehebat seperti di dalam cerita-cerita silat itu. Namun apakah yang telah dilakukan Cina kurus jangkung itu sebentar ini? Bukankah hanya dengan kibasan tangannya saja dia telah membelokkan arah samurai kecilnya? Michiko tak sempat memikirkan terlalu banyak. Babah gemuk itu telah memberi isyarat kepada lelaki bertubuh besar yang tegak di sisi kanannya.
”Siapa di antara kalian yang berhasil menelanjangi perempuan itu, dia akan mendapat giliran setelah aku….” babah itu berkata dengan kurang ajarnya.

Michiko ingin muntah mendengar ucapan jorok itu. Lelaki besar itu maju. Nampaknya dia telah diberi tahu bahwa gadis ini berbahaya. Begitu maju, tangannya telah memegang sebuah belati. Dengan gaya seorang yang amat ahli, dia mulai maju dengan mengayun-ayunkan pisau di depan tubuhnya yang agak membungkuk ke depan.
Michiko masih tetap tegak di tempatnya. Tak bergerak sedikitpun. Dia telah bertekad, kalau dia tak bisa melawan orang-orang ini, maka dia akan menyudahi nyawanya sendiri. Dia akan bunuh diri sebelum dinodai. Tapi dia bersumpah akan membunuh babah gemuk itu sebelum dia bunuh diri. Dia benar-benar berharap dapat melaksanakan sumpahnya itu.

Lelaki itu tiba-tiba menyerang. Pisaunya bergoyang cepat sekali di depan dada Michiko. Michiko bukannya tak tahu itu adalah sebuah tipuan. Dia tetap diam. Dan benar, kaki lelaki itu ternyata degan cepat menyapu kaki Michiko. Maksudnya ingin agar gadis itu terjatuh. Dengan demikian bisa dia tindih. Namun Michiko adalah Michiko. Dia telah belajar cukup banyak dari Zato Ichi. Dia telah belajar banyak dari Tokugawa. Dan dia telah belajar banyak dari Kenji. Teman si Bungsu dan abang Hanako. Bukankah dia tinggal bersama Hanako lebih kurang setahun? Selama itu pula dia belajar karate dari Kenji.

Kini, Michiko adalah seorang pemegang sabuk hitam karate. Sistem pelajaran yang dipakai oleh Kenji untuk membekali Michiko adalah sistem memintas. Hingga memungkinkan gadis itu memiliki bekal yang lebih daripada cukup. Ketika kaki lelaki besar itu menyapu kakinya, dia justru memajukan kakinya selangkah ke depan. Dan serentak dengan itu tangan kanannya terayun dalam bentuk sebuah pukulan yang telak. Prak! Pukulannya mendarat di hidung lelaki besar itu. Lelaki itu seperti tersentak. Kepalanya seperti ditarik ke belakang dan hidungnya bocor. Darah segar mengalir dari hidung yang pecah itu. Bukan hanya si gendut, tapi lelaki Cina kurus kerempeng yang tadi memukul samurai kecil Michiko itupun jadi kaget. Serangan gadis itu demikian cepat dan demikian telaknya.

Lelaki besar itu menggeram. Tangannya yang tak berpisau menghapus darah yang meleleh di hidungnya. Sopir taksi tadipun, yang saat itu tetap tegak di pintu, jadi kaget. Namun mereka adalah bandit-bandit ibukota yang tak mudah gentar oleh bahaya. Apalagi kalau hanya terhadap seorang gadis, cantik pula. Bos mereka telah menjanjikan bahwa siapa yang berhasil meringkus gadis itu akan mendapat giliran pertama menikmati tubuh gadis itu, setelah si bos. Pernyataan demikian membuat mereka terangsang dan bersemangat untuk menundukkan Michiko. Lelaki berpisau itu maju lagi. Kini dengan lebih berhati-hati. Dia telah kecolongan. Michiko masih belum mau mencabut samurainya. Dia ingin menghemat tenaga dan kecepatannya. Lawannya yang dia taksir berbahaya adalah lelaki Cina kurus tinggi itu. Maka dia harus menyimpan kepandaian bersamurainya untuk menghadapi lawannya yang kurus itu.

Kalau kini dia menggunakan samurai, dia khawatir permainan samurainya bisa dibaca oleh si kurus. Itu sudah tentu membahayakan. Karena itu, ketika si besar itu menyerang, dia masih mengandalkan ilmu karatenya. Lelaki itu maju dengan sebuah tusukan pisau yang cepat ke rusuk Michiko. Michiko mengelak dengan mengalihkan tegak kakinya. Lelaki itu tahu. Dia menyabetkan pisaunya ke kanan, hampir saja menebas perut Michiko. Untung gadis ini juga cepat melompat mundur. Tegaknya justru mendekat ke dekat sopir taksi tadi. Sopir itu menatap heran dan kagum. Dan saat itulah Michiko mencabut samurai. Sopir taksi itu masih belum sadar akan bahaya yang mengintainya. Dia menyangka bahwa gadis itu hanya sekedar bermain tongkat.

Michiko menanti si besar berpisau itu menyerang kembali. Ketika lelaki itu kembali menyerang dengan menyabetkan pisaunya, Michiko seperti akan menangkis dengan samurai. Namun dia sama sekali tidak menangkis serangan pisau itu. Melainkan mundur selangkah lagi. Dan samurainya justru membabat ke belakang! Ke arah sopir taksi yang masih tegak di dekat pintu! Cress! Samurai itu memakan bahunya. Sopir taksi yang sok sopan itu benar-benar tak pernah menduga bahwa dirinya akan dimakan senjata gadis cantik itu. Dia sebenarnya seorang pesilat aliran Cimande. Begitu bahunya termakan samurai, dia segera memasang kuda-kuda Cimande. Tangannya bergerak seperti akan bersilat.

Tapi apa hendak dikata, gerakannya itu sudah tinggal sekedar lagak saja. Tak ada gunanya. Bahunya telah dibabat samurai yang alangkah tajamnya. Mata samurai itu menetak dan memutus tulang bahunya. Terus ke bawah membelah jantungnya. Demikian tajamnya samurai itu. Tubuh sopir itu belah dan mati sebelum jatuh ke lantai! Sekali lagi babah gemuk itu jadi pucat dan sekali lagi Cina kurus tinggi itu dibuat kaget bukan main.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: