Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian– 405-406


Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian– 405lapangan udara kemayoran
Babah itu merasa dadanya sesak. Peluh membasahi keningnya. Tubuhnya gemetar. Dia ingin menerkam gadis di sisinya ini. Cina ini nampaknya dijangkiti penyakit gila seks. Saat itu Michiko menoleh, melihat babah itu berpeluh dan matanya jadi merah.
”Tuan saya lihat kurang sehat….” katanya perlahan.
Dan babah itu menyangka bahwa gadis itu memancingnya. Artinya gadis Jepang itu sengaja memancing-mancing.

”Ya, saya sakit. Debar jantung saya sangat keras. Rasakanlah…”
Dengan cepat dan sigap dia meraih tangan Michiko, menekankan ke dadanya. Michiko yang kaget tangannya disambar begitu, semula akan menyentakkannya. Tapi takut dianggap tak ramah, dan melihat lelaki gemuk itu memang pucat dan gemetar serta berpeluh, dia membiarkan tangannya ditekankan ke dada lelaki itu.

Dada lelaki itu memang gemuruh. Apalagi mendapat kenyataan bahwa gadis itu tak menolak tangannya dipegang dan ditekankan ke dadanya. Michiko mula pertama merasakan tangannya menekan segumpal daging yang bergoyang di dada Cina gemuk itu. Kemudian dia memang merasakan denyut jantung Cina itu tak beres. Cepat-cepat dia menarik tangannya.
”Lebih baik panggil pramugari…” katanya.
Tapi dengan cepat Cina itu memegang lagi tangan Michiko.
”Jangan, jangan dipanggil. Kalau mau agak sesaat saja meraba dada saya, akan sembuh segera…” katanya sambil tetap menekankan tangan gadis itu ke dadanya.

Tapi Michiko baru dapat merasakan sesuatu yang tak beres pada sikap babah gemuk itu. Dia menarik tangannya dengan paksa. Kemudian menatap dengan heran. Cina itu malah nyengir penuh maksud. Michiko menoleh lagi keluar, perasaannya jadi tak sedap. Kaki Cina itu di bawah menggeser-geser kakinya. Michiko tak ingin bikin ribut dalam pesawat ini. Banyak orang kulit putih dan satu dua orang Indonesia. Dan cukup banyak pula orang Cina.

Dia menoleh ke belakang. Kemudian berdiri, pura-pura akan ke WC. Padahal dia ingin mencari tempat kosong. Karena tempat lewat di depan cina itu sempit, dia lalu membelakang. Ketika lewat pinggulnya bergeser dengan lutut Cina itu. Cina gaek dan gepuk jahanam itu memang sengaja menyorong-nyorongkan lututnya ke depan dan agak meninggikannya. Sehingga lututnya tertekan oleh pinggul Michiko yang sedang lewat. Michiko yang menyangka bahwa jalan itu memang sempit, terus saja menggeser diri. Michiko pura-pura menuju toilet.

Sambil berjalan, dia melirik kiri kanan. Berharap menemukan sebuah kursi kosong untuk bisa pindah duduk. Namun pesawat Dakota yang bermuatan 20 orang itu penuh semua. Dia masuk ke toilet. Berkaca dan mendapatkan wajahnya agak pucat karena malu dan berang. Dia merasa muak untuk kembali ke tempat duduknya. Tapi terlalu lama di toilet ini juga mustahil. Dia lalu keluar lagi. Yaitu setelah hampir setengah jam dalam kakus itu.

Mau tak mau dia kembali lewat di depan Cina gemuk itu. Cina gemuk itu, seperti tadi lagi, menyorongkan lututnya. Kini tangannya juga ikut menggerayang. Meremas pinggul Michiko. Wajah Michiko jadi merah padam. Dia menatap dengan penuh berang pada Cina itu. Hampir saja dia menyambar samurainya yang tertegak di sisi tempat duduknya. Namun dia tak mau huru hara terjadi. Kalau itu dia lakukan, maka perjalanannya ke Minangkabau bisa terhalang. Makanya dia terpaksa menerima perlakuan itu dengan menekan amarah. Tapi celakanya Cina itu benar-benar tak tahu diri. Diamnya Michiko dia sangka sebagai persetujuan untuk berbuat makar. Dia nyengir, memperlihatkan tiga gigi emasnya yang sudah menghitam karena candu. Mana sudi Michiko menatapnya. Gadis itu melempar pandangan ke luar.

Untunglah pesawat segera tiba di Lapangan Udara Kemayoran, Jakarta. Kalau tidak, penderitaan gadis itu tentu takkan berujung. Michiko menunggu Cina itu turun duluan. Tapi Cina itu seperti mananti kesempatan untuk menekan pinggul gadis itu dengan lututnya kembali.
”Silahkan nona tulun duluan…” katanya meramahkan diri.
Michiko memandangpun tidak. Saat itu tangannya sudah memegang samurainya. Kalau Cina itu coba berbuat kurang ajar lagi, akan dia hantam saja. Tapi Cina itu tegak. Kemudian turun. Akhirnya Michiko juga turun. Celakanya mereka bertemu lagi di imigrasi.
”Hmm, ini apa yang bawa, nona?” seorang petugas imigrasi menunjuk pada tongkat di tangan Michiko.
”Samurai, tuan…” katanya.
”Samurai?” petugas itu heran.
”Ya. Samurai. Belum pernah melihat senjata begini?”
”Ah, saya terlalu sering melihatnya, nona. Saya hanya tak mengerti buat apa senjata berbahaya begini nona bawa-bawa…” ”Seorang teman ayah saya memesannya untuk kenang-kenangan…”

Petugas imigrasi itu tampaknya agak keberatan. Dia kembali memeriksa paspor Michiko. Dalam paspor itu tertulis bahwa Michiko adalah turis. Dan saat itu adalah sesuatu yang agak aneh kalau ada orang mengaku turis datang ke daerah. Apalagi daerah itu adalah daerah yang baru saja bergolak seperti Sumatera Barat. Tapi ketika Michiko memperlihatkan sepucuk surat, yang ditandatangani oleh overste Nurdin, Atase Militer Indonesia di Malay yang berkedudukan di Singapura, petugas itu tak banyak cincong lagi. Michiko keluar dari kawasan itu.

Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian-406
”Dimana saya…
dapat membeli tiket untuk pesawat yang berangkat ke Sumatera Barat?” tanyanya pada seorang lelaki berseragam pilot.
”Nona akan ke sana?”
Pilot itu balik bertanya dengan heran, tapi sikapnya sopan.
”Ya, saya bermaksud ke sana….”
”Seingat saya, saat ini belum ada pesawat sipil yang ke sana. Jalur itu khusus diterbangi oleh pesawat Angkatan Udara. Tapi mereka juga menerima penompang-penompang sipil dari pemerintahan. Untuk itu dapat meminta keterangan di ujung sana,” ujar pilot itu sembari menunjuk ke gedung lain.

Dia menunjuk ke sebuah gedung tua yang mirip gudang besar. Terletak di antara pohon-pohon kelapa. Jalan menuju ke sana ditumbuhi padang lalang. Michiko memang mendapatkan keterangan yang sama dari pilot tadi. Rute Jakarta – Padang hanya diterbangi oleh pesawat AURI. Tapi dia mendapat tempat. Hanya sayangnya, pesawat baru dua hari lagi berangkat ke Padang. Sebab pesawat ke sana baru tadi pagi berangkat.

”Ada kemungkinan saya menompang pesawat lain?” tanya Michiko.
”Tidak nona. Memang ada pesawat militer ke sana. Tapi usahkan orang asing seperti Anda. Orang Indonesia tak juga akan diperkenankan ikut dalam pesawat itu…”
”Kalau begitu, saya pesan tiket untuk dua hari lagi…”
”Baik. Kami catatkan. Nona bisa bayar dua hari lagi.”
”Tidak. Sekarang saja…”
”Jangan Nona, sebab ada kemungkinan pesawatnya tak berangkat hari itu…”
Michiko mengerutkan kening.

”Saya kurang mengerti maksud Tuan…”
Petugas yang melayani seorang Sersan Mayor Penerbang, menatap gadis cantik itu. Lalu bicara sopan :
”Anda tahu Nona, negeri itu baru bergolak. Segala penerbangan kesana bisa saja diundur.”
”Apakah itu sering terjadi?”
”Seingat saya ada dua atau tiga kali.”
”Ya. Apa boleh buat. Kalau diundur, maka saya juga akan undur berangkat…” katanya menyerah.
Sersan itu mencatat.
”Di mana Nona menginap? Kalau ada perobahan kami bisa mudah memberitahu…”
Michiko menatap ke arah lain. Itulah yang tengah dipikirkannya, penginapan.

”Saya tak tahu. Ada penginapan di sekitar lapangan ini?”
”Ada. Di luar sana. Anda bisa naik beca. Minta ke Hotel Angkasa. Cuma hati-hatilah. Di sana kadang-kadang ada bajingannya…”
Michiko menatap sersan itu.
”Ya, kadang-kadang ada orang mabuk-mabukan dan suka mengganggu perempuan..”
”Apakah tak ada penginapan lain yang lebih aman?”
”Cukup banyak. Tapi agak jauh dari sini. Di kota..”
”Saya rasa di sana saja, di hotel Angkasa. Terimakasih atas bantuan Bapak….”
”Saya harap Nona senang berada di negeri kami…” ujar sersan itu mengangguk hormat.

Michiko mendapat kesan yang baik pada sikap sersan itu. Dia berjalan lagi ke arah gedung Imigrasi darimana dia datang tadi. Untung saja yang dia bawa hanya sebuah tas kecil yang bisa dia gantungkan di bahu. Mirip-mirip ransel. Hanya dua perangkat pakaian, handuk, kimono dan barang-barang kecil lainnya. Kemudian uang. Itulah bekalnya. Di tangan kirinya ada samurai yang sekilas lihat mirip dengan tongkat biasa. Michiko memakai gaun seperti jamaknya gadis-gadis Indonesia saat itu. Pakai rok dalam hingga ke betis dengan banyak kerunyut-kerunyut. Pakai blus warna cerah dengan rambut dipotong hingga bahu.
Sekilas lihat gadis ini tak mirip dengan gadis Jepang yang bermata sipit dengan wajah klasiknya. Dia lebih mirip gadis-gadis Indonesia kelahiran Menado, atau gadis-gadis dari Sunda yang bertubuh indah berkulit kuning. Di depan kantor Imigrasi dia memanggil beca.

Tapi saat itu sebuah sedan Chevrolet hitam berhenti persis di dekat dia tegak. Sebuah suara terdengar saat pintu mobil terbuka.
”Mali naik sini saja, Nona. Saya antalkan….”
Michiko heran, tapi herannya segera berobah jadi mual tatkala dilihatnya siapa yang membuka pintu mobil itu. Si babah gemuk bergigi emas yang duduk di sebelahnya dalam pesawat tadi.
”Naiklah. Saya antalkan Nona….” kata babah itu meramah-ramahkan diri.
Michiko tak menjawab. Dia memanggil beca.
”Ke hotel Angkasa, Pak….” katanya kepada tukang beca.

Beca itupun meluncur. Chevrolet hitam yang ditompangi oleh babah gemuk itu mengikut dengan perlahan dari belakang. Tak lama kemudian beca itu memasuki halaman hotel yang tak begitu bagus. Bahagian bawah berlantai dan berdinding batu. Bahagian atas berdinding papan. Itulah Hotel Angkasa yang tadi ditunjukkan oleh sersan AURI itu. Michiko memesan kamar. Dia sempat melirik bahwa sedan Chevrolet hitam model terbaru itu melaju ke arah kota.

Tempat tidur hotel itu tak bisa dikatakan bagus, tapi cukuplah. Siang itu terasa panas. Keinginannya adalah segera mandi dan tidur. Dia membuka pakaiannya, menukarnya dengan kimono. Kemudian mengambil sabun dan sikat gigi. Lalu masuk ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Airnya tak begitu sejuk. Tapi dia tak perduli. Selesai gosok gigi dia membuka kimononya, lalu mandi. Di tingkat dua, persis di atas kamar mandi di mana dia tengah membersihkan diri, ada sebuah lobang kecil. Di lobang itu ada sebuah mata yang tengah melotot menatap ke bawah. Ke tubuh Michiko yang tak tertutup kain sehelai benangpun.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: