Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian– 402-404


Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian– 402
tikam samurai
Kalau itu terjadi, maka pinggangnya akan putus dua! Dia menatap dengan wajah pucat. Gadis itu selain cepat, tenaganya juga luar biasa sekali. Zato Ichi benar-benar menurunkan seluruh ilmunya pada gadis ini. Michiko tersenyum sinis. Orang-orang menatap dengan diam pada perkelahian sepasang anak muda yang mengagumkan itu.

”Keluarkan kepandaianmu, Bungsu! Takkan pernah ada bangsa lain yang melebihi kemahiran orang Jepang bersamurai! Kau sangka kemahiran samuraimu sudah hebat, setelah engkau mengalahkan beberapa jagoan di Jepang sana. Setelah engkau mendapat pengakuan Zato Ichi? Hmm, yang kau peroleh baru kulitnya. Bungsu! Engkau ingin tahu bagaimana bermain samurai yang betul? Ini…!” dan gadis itu menyerang lagi!

Kali ini si Bungsu tak mau main-main. Dia memusatkan konsentrasi. Nafsu membunuhnya yang dia bawa dari rimba di pinggang Gunung Sago seketika mengalir kencang. Mulutnya terkatup rapat. Tangannya melemas. Begitu Michiko menyerang, dengan seluruh kepandaian, dengan seluruh kemahiran, dengan seluruh konsentrasi yang penah dia miliki, dengan seluruh kecepatan yang pernah dia pelajari, dia kerahkan! Tak sampai dalam hitungan dua detik, benar-benar cepat, hanya para malaikat yang tahu betapa cepatnya kedua samurai itu dahulu mendahului! Namun, sekali lagi, dan mungkin untuk kali yang terakhir, si Bungsu dari Situjuh Ladang Laweh itu menjadi kaget.

Michiko jauh lebih cepat. Tidak hanya sekali, tetapi Michiko berkali-kali lebih cepat dari kecepatan yang pernah dia miliki. Tak sia-sia Zato Ichi menurunkan ilmu padanya. Samurainya belum sempurna tercabut, ketika dia rasakan rusuknya belah. Dia melanjutkan mencabut samurainya dengan kecepatan penuh. Saat itu sabetan kedua samurai Michiko telah membelah dada kirinya! Tembus!
Darah memancur ketika samurai itu disentakkan dengan cepat. Samurai di tangannya sendiri baru terayun ke arah Michiko ketika kedua serangan mematikan itu telah selesai dilakukan gadis itu. Samurainya menyerang kepala Michiko, menetak dari atas ke bawah. Namun samurai Michiko menanti ayunan samurainya. Kembali bunga api memercik.

Tangannya terasa pedih, tenaga gadis itu amat luar biasa. Samurainya terpental ke udara! Terdengar orang memekik melihat darah menyembur dari tulang rusuk dan jantungnya. Dia masih tegak. Gadis itu juga masih tegak di depannya, dengan kegagahan yang mengagumkan. Si Bungsu jadi lemah. Kakinya gemetar. Namun dia tak mengeluh. Mulutnya tersenyum. Ketika kakinya terasa tak kuat lagi menahan berat badannya, dia jatuh di atas kedua lututnya.
”Bunuh….bunuhlah saya….” katanya perlahan.
Michiko masih tetap tegak. Menatap padanya dengan pandangan dingin.
”Engkau memang benar-benar hebat Michiko san. Benar-benar pesilat samurai yang paling hebat…ayahmu pasti bangga…” dia masih berusaha berkata.

Darah menyembur dari mulutnya. Jantungnya telah ditembus samurai. Peluit kereta api tiba-tiba memekik. Sayu dan bersipongang. Kereta akan berangkat. Dia menoleh ke kereta yang akan berangkat menuju Payakumbuh itu. Pakaiannya telah ada di atas kereta. Kereta tak mungkin diundurkan keberangkatannya. Saat sakratul maut itu menjemput, peristiwa stasiun Gamagori melintas lagi. Stasiun kecil itu! Bukankah dia membunuh lima orang anggota Kumagaigumi di sana? Ah, stasiun Gamagori, kini dia terkapar di stasiun kecil Bukittinggi! Peluit kereta berbunyi lagi.

Tuit…tuiiiit! pilu dan merawankan hati. Kereta itu akan ke Payakumbuh. Akan mati di sinikah dia? Kereta itu akan ke Payakumbuh. Kenapa dia tak naik saja ke kereta? Tubuhnya akan dibawa kereta ke Payakumbuh. Kalau mayatnya sampai, orang akan membawa mayatnya ke Situjuh Ladang Laweh.
”Sampaikan…pada orang-orang….kampung saya di Situjuh Ladang Laweh… saya. ..ingin berkubur….di sana…di samping pusara ayah, ibu dan…kakak saya…” katanya perlahan.

Dia yakin, suaranya terdengar oleh Michiko. Gadis itu masih tegak diam. Tapi si Bungsu melihat, betapa mata gadis itu basah. Pipinya juga basah. Si Bungsu ingin mati di atas kereta api. Agar mayatnya bisa tiba di Payakumbuh dan dibawa ke Situjuh Ladang Laweh. Tapi karena tak ada yang menolong, dia merangkak menuju kereta api. Dengan sisa tenaga dia coba merangkak naik ke gerbong. Tak mungkin! Tenaganya habis! Tapi dia harus! Bukankah kereta ini menuju ke Payakumbuh? Dia merangkak lagi, berjuang untuk naik. Berhasil, tubuhnya berada sebahagian di atas kereta yang bergerak perlahan itu. Darah dari lukanya terus menetes.

Tapi tubuhnya melosoh lagi. Kereta mulai bergerak cepat. Ada beberapa lelaki tegak jauh dari tempatnya. Menatap dengan diam. Dia menoleh pada mereka. Bibirnya bergerak. Ingin mengucapkan ”Tolonglah saya…naikkanlah saya ke gerbong. Saya ingin mati di kereta. Tolonglah naikkan saya”. Tapi tak ada suaranya yang keluar. Tak ada! Tak ada suaranya! Yang keluar justru air matanya. Air mata sedih. Sedih kalau dia mati seperti maling di stasiun ini. Dia ingin tubuhnya dibaringkan di gerbong. Sekali lagi dia menatap pada para lelaki itu. Dia kumpulkan tenaganya. Akhirnya, terdengar suaranya bermohon.

”Sanak…tolonglah saya. Saya ingin dibaringkan di kereta itu…..Kereta itu akan ke kampung saya…tolonglah….” namun kedua lelaki itu tak bergerak.
”Di kantong saya ada uang. Cukup banyak….ambillah uang itu sebagai upah sanak menaikkan diri saya…Tolonglah saya, sanak…” Kedua lelaki itu benar-benar jahanam. Jahanam benar. Mereka tak bergerak sedikitpun! Akhirnya si Bungsu harus berusaha sendiri. Akan begitukah nasib seorang lelaki yang semasa hidupnya pernah sangat perkasa ini? Dia merangkak. Kereta mulai berjalan perlahan. Dia menggantungkan tangan di bibir pintu gerbong yang memuat pisang. Yang memuat lobak. Yang memuat kayu api. Tubuhnya ikut terseret di sepanjang lantai stasiun! Darahnya menetes.
”Tuhanku, tolonglah aku naik. Tolong hambamu ini, ya Tuhan. Aku hanya ingin mati di atas kereta ini. Agar mayatku sampai ke kampungku. Tolong aku, ya Tuhan….” rintihnya perlahan.

Tapi Tuhanpun seperti tak mendengarkan permohonannya. Tuhanpun tak menolongnya. Tuhanpun tak mendengarkan doa orang yang akan mati itu. Tuhanpun tak kasihan padanya. Tuhanpun seperti belum akan mengakhiri deritanya di situ.
Tangannya lemah berpegang ke bibir pintu gerbong. Dan akhirnya, ketika peluit panjang kembali berbunyi, tangannya tak kuat lagi bergantung. Kereta itu semakin melaju. Lalu lelaki itu, si Bungsu yang pernah hidup malang melintang di Jepang itu, yang banyak menolong manusia itu, di akhir hayatnya tak seorangpun yang mau meolongnya! Tak seorangpun! Ketika pegangannya terlepas tubuhnya jatuh dari gerbong. Terdengar suara berdembam! Kepalanya terhempas ke lantai. Rasa sakit akibat kepalanya terhempas membuat dia tersentak bangun dan terlompat tegak!

Nauzubillah. Ya Rabbi….! Mimpi kiranya” dia mengucap.
Peluh membasahi tubuhnya. Dia menatap keliling, dia masih di biliknya di Hotel Indonesia dekat stasiun. Dia baru saja berimpi yang alangkah dahsyatnya. Tiba-tiba terdengar pekik peluit kereta api dari stasiun yang tak jauh dari hotel dimana dia menginap.~bagian 403

Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian-404
Di sana dia disambut oleh Overste Nurdin dan Salma isterinya. Karena tamu yang datang membawa berita tentang sitikam samurai Bungsu, Salma segera memanggil Michiko yang saat itu tengah bermain dengan Eka, anak mereka, di taman belakang.
”Michiko san, kemarilah…”
Michiko berhenti mengejar-ngejar Eka. Memangku anak itu, kemudian mendekat.
”Ada apa, Salma san?”
”Ada tamu untukmu…”
”Tamu untukku?”
”Ya. Tamu dari Australia!”

Hampir saja anak dalam gendongannya jatuh. Untung dia cepat menguasai diri. Tamu dari Australia! Orang yang kenal dengannya dan kini ada di Australia adalah si Bungsu! Apakah lelaki itu yang datang?
”Tenanglah, bukan si Bungsu. Tetapi temannya. Namun dia datang membawa cerita tentang kekasihmu itu. Ayo kita masuk”

Mereka ke ruang tamu. Donald terkesima melihat kedua perempuan cantik itu. ”Kenalkan, ini Michiko. Teman si Bungsu…”
Nurdin mengenalkan gadis itu pada Donald. Donald berdiri. Mengulurkan tangan dengan sikap kagum dan hormat. Yang disambut dengan dada berdegup oleh Michiko. Yang sangat ingin tahu tentang si Bungsu.
”Nona Michiko…?” ulang Donald perlahan.
”Ya, Michiko. Pernah mendengar namanya?” tanya Nurdin.
Donald kembali duduk. Kemudian menatap pada Michiko.

”Saya sering mendengar nama nona. Saya gembira hari ini dapat bertemu dengan nona. Si Bungsu banyak bercerita tentang nona…”
Michiko merasa jantungnya mengencang. Si Bungsu sering bercerita tentang diriku. Apakah dia masih mengingatku?, pikirnya. Dari Donald mereka semua jadi tahu bahwa si Bungsu telah pulang ke Indonesia, ke kampungnya. Ketika sore hari itu Donald pamitan, ketiga mereka membicarakan soal si Bungsu.
”Saya akan pergi…” kata Michiko perlahan.
”Ke Sumatera Barat?” tanya Nurdin.
”Ya…”

Nurdin menghela nafas. Salma menghela nafas. Kedua mereka menatap gadis itu. Gadis itu menunduk. Seperti telah diceritakan pada bahagian terdahulu, Michiko memang tinggal di gedung konsulat itu bersama Salma. Yaitu sejak peristiwa mereka hampir diperkosa pelaut di hotel dimana Michiko menginap, tatkala Salma datang bertamu ke sana.
Kini, keinginan Michiko untuk ke Sumatera Barat tak mungkin ditahan. Nurdin memberikan peta Sumatera Barat, serta petunjuk dimana letaknya Situjuh Ladang Laweh. Salma memberikan beberapa alamat famili dan kenalannya di kota Bukittinggi untuk dihubungi Michiko bila ada kesulitan. Tatkala Michiko akan naik pesawat, Nurdin berpesan :

Saya berharap akan dapat bertemu dengan kalian berdua, Michiko. Maksud saya engkau dan si Bungsu. Saya tahu, engkau berdendam padanya. Namun, saya benar-benar menginginkan tak satupun di antara kalian yang cedera…”
Michiko hanya tersenyum. Senyumnya kelihatan getir. Sebelumnya Salma juga sempat bicara empat mata dengannya.

”Sebagai perempuan dengan perempuan, Michiko, saya ingin mengatakan padamu. Engkau punya kesempatan untuk bertemu dengannya. Lelaki yang sama-sama kita cintai. Engkau satu-satunya yang memiliki kesempatan untuk mendapatkan dirinya. Jangan biarkan dirimu dikuasai oleh dendam keparat itu. Itu nonsens sama sekali. Berfikirlah dengan akal sehat. Dia takkan mau melawanmu, aku tahu itu bukan sifatnya. Bila dia engkau bunuh Michiko, sama artinya engkau membunuh harapanmu sendiri. Kau akan menyesal seumur hidupmu. Kalian kini sama-sama sebatangkara. Yang kalian butuhkan adalah kasih sayang. Bukan perkelahian dan saling bunuh. Sebagai seorang yang lebih tua darimu, Michiko san, saya ingin engkau bahagia. Saya ingin si Bungsu bahagia. Dan saya yakin, kebahagiaan itu takkan kalian peroleh kalau kalian tidak bersama. Saya ingin mendengar kabar bahwa kalian menikah. Saya akan menanti kalian di sini, datang sebagai suami isteri. Saya selalu berdoa untuk itu, Michiko, adikku!”

Michiko amat terharu dan tak bisa menahan air matanya mendengar ketulusan hati Salma. Dia memeluk Salma. Salma juga balas memeluk dengan mata basah. Dan Michiko pun berangkat. Di pesawat dia duduk dengan diam. Berusaha menyembunyikan rasa sedihnya berpisah dengan Salma. Keluarga itu sudah seperti keluarganya sendiri. Dia menganggap mereka sebagai kakaknya.
Michiko tak tahu, seseorang yang duduk persis di sisinya sejak tadi menatapnya. Seorang Cina gemuk, bermuka tembem dan berambut tegak lurus seperti alang-alang di tengah padang. Berhidung besar dan bermata kuning. Lelaki itu menatapnya dengan bernafsu. Beberapa kali tangannya dia sentuhkan ke tangan Michiko. Gadis itu, yang pikirannya memang tak di situ, tak menyadarinya. Bagi si babah gemuk itu diamnya Michiko dia anggap sebagai ”persetujuan” untuk saling senggol-senggolan.

Cina itu makin kurang ajar. Matanya menatap pada dada Michiko yang membusung ketat. Darahnya menggelegak melihat dada yang ranum itu berombak mengikuti alunan nafas. Michiko baru sadar tatkala tangannya benar-benar dihimpit oleh tangan engkoh gendut itu. Dia menoleh, disambut Cina itu dengan tersenyum. Michiko yang tak punya prasangka apa-apa, sambil menggeser tangannya dari himpitan tangan si gendut juga tersenyum, sekedar basa-basi. Babah itu seperti mendapatkan durian runtuh. Eh, salah. Tidak hanya durian tapi juga pisang, kelapa, rambutan dan jambu monyet yang runtuh sekaligus.
”Akan ke Jakalta?” tanya si gendut dalam bahasa Indonesia dengan aksen Tionghoa yang tak ketulungan.
Michiko mau tak mau mengangguk. Babah itu kembali menggesengkan tangannya yang besar ke tangan Michiko. Michiko mengalihkan tangannya dari tangan kursi. Meletakkannya di pangkuan.
”Sendilian?” lagi-lagi si babah bertanya sambil menjilat bibir.

Michiko mulai tak sedap, tapi dia paksakan juga untuk mengangguk. Melihat anggukan itu, babah itu seperti merasa tercekik. Kerongkongannya terasa kering. Dia ingin segera tiba di Jakarta. Di sana segalanya bisa di atur. Dia menyesal juga kenapa tidak bertemu dengan gadis begini di Singapura. Memang banyak gadis yang bisa segera dibawa ke tempat tidur di kota singa itu. Tapi yang cantik seperti ini tak pernah bersua!

Michiko menoleh ke luar. Memandang ke laut luas yang membentang jauh di bawah sana. Sesekali, kelihatan sebuah titik diikuti garis memanjang seperti segitiga. Sebuah kapal tengah berlayar di Samudera di bawahnya. Garis membentuk segitiga itu adalah ombak yang dibentuk oleh lunas kapal pada permukaan laut. Pada saat itu, babah gemuk itu juga asik memandang pada segitiga di dada Michiko.
Gadis itu memakai baju dengan gunting segitiga runcing pada dadanya. Di ujung segitiga pada bajunya itu terlihat pangkal dadanya yang mengkal.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: