Dalam Kecamuk Perang Saudara-bagian– 400-401


Dalam Kecamuk Perang Saudara-bagian– 400
si bungsu
Jika Bapak ini berbaik hati, kalian akan ditolongnya untuk pulang ke Jawa. Ke rumah nenek kalian di sana…,” dan perempuan itu menoleh pada si Bungsu…”mereka tak punya siapa-siapa, Pak. Barangkali ada tentara APRI yang akan pulang ke Jawa. Tolong Bapak titipkan anak saya ini pada mereka. Di Jawa ada neneknya. Ada kakaknya dua orang….Berikan uang itu pada mereka….” suara perempuan itu sudah terputus-putus….”tapi saya ingin kepastian, suami saya tak pernah mengkhianati PRRI, bukan Pak?”

Si Bungsu menggigit bibirnya kuat-kuat. Dia hanya mampu menggeleng. Menggeleng beberapa kali.
”Syukurlah…..syukurlah. Negeri indah ini telah memberi kami kehidupan selama puluhan tahun. Negeri ini telah membesarkan anak-anak kami. Kami hidup dengan Berlandas kasihan orang disini. Kami tak mau orang Minang menganggap kami tak tahu membalas budi, dengan mengkhianati mereka….syukurlah…”

Si Bungsu tak dapat menahan tangisnya tatkala perempuan itu meninggal. Kedua anak-anaknya terdiam. Tak ada tangis mereka yang terdengar. Mereka sudah terlalu lelah menangis. Mereka hanya menatap pada mayat ibu mereka dengan diam dan tatapan kosong. Ucapan perempuan itu seperti menikam-nikam jantung si Bungsu. Ucapan itu memang bukan untuk menyindir siapa-siapa. Namun, si Bungsu merasa, ucapan perempuan itu menyindir jantung Minangkabau! Siapakah sesungguhnya yang tak tahu membalas budi? Narto dan keluarganyakah, atau anak-anakmu yang merejam mereka ini, Minangkabau, siapa?

Ketika kuburan perempuan itu ditutup oleh beberapa tentara APRI, yang membantu menggali lahat dengan sekop mereka, hujanpun turun. Tentara itu juga yang memimpin doa. Kemudian si Bungsu menancapkan sepohon kemboja yang dia patahkan dari pusara lama. Hujanpun makin lebat. Menyiram dan membasahi bumi Minangkabau yang berlumur darah. Azan Magrib berkumandang, malampun mengirimkan sunyi dan gelapnya ke permukaan bumi.

Esok paginya, setelah menitipkan kedua anak Narto ke komandan peleton yang akan cuti ke Jawa beberapa hari lagi, dan memberi anak-anak itu uang yang masih ada padanya, si Bungsu kembali ke Bukittinggi. Dia kembali menginap di Hotel Indonesia, di depan Stasiun Kereta Api. Dia memilih tempat itu agar lebih dekat ke stasiun, bisa sewaktu-waktu membeli karcis bila akan pulang ke kampungnya, Situjuh Ladang Laweh. Kereta api memang tidak sampai ke sana, hanya hingga Kota Payakumbuh. Tapi menginap dekat stasiun membuat dia bisa dengan mudah bertanya kapan kereta ke Payakumbuh berangkat, dan bisa pula dengan mudah membeli karcis.

Dalam situasi daerah bergolak seperti sekarang, tak setiap hari kereta api bisa berangkat. Baik ke Payakumbuh, Padangpanjang, Solok maupun Padang. Kadang-kadang dalam seminggu baru ada kereta ke salah satu kota itu. Itupun dengan mendapat pengawalan aparat kepolisisan atau tentara. Sabotase, entah dari pihak mana, bisa saja terjadi di suatu tempat. Setelah menanti tiga hari, akhirnya dia mendapat kabar kereta ke Payakumbuh akan berangkat besok dengan pengawalan beberapa polisi.

Besok dia akan pulang ke kampungnya. Ke Situjuh Ladang Laweh. Rasa rindunya terasa menusuk jantung. Dahulu dia sering dibawa ayahnya naik kereta api kalau ke Bukittinggi ini. Ah, melihat sawah dan desa-desa, mencium asap kereta api, merupakan kerinduan tersendiri. Sambil berbaring di tempat tidurnya, di Hotel Indonesia dekat stasiun itu, dia segera ingat peristiwa yang dialaminya saat di Jepang. Peristiwa ketika dia menuju Kyoto dari Tokyo. Di kereta api cepat dia bertemu dengan seorang gadis yang pernah dia tolong di Tokyo. Gadis itu adalah Michiko. Anak Saburo Matsuyama. Gadis yang dia tolong yang kemudian membenci dan memusuhinya setelah kematian Saburo di Kuil Shimogamo. Dia tak bisa melupakan betapa gadis itu pernah melukainya ketika upacara pemakaman ayahnya. Gadis itu bersumpah akan mencari dan membunuhnya.

Michiko ternyata memang mencarinya! Mencarinya sampai ke Bukittinggi! Pagi itu, saat dia akan melangkah menaiki kereta api di stasiun, ketika dia dengar sebuah suara memanggil. Dia tak jadi naik, menoleh ke belakang. Di antara palunan orang ramai, dia melihat seorang gadis tegak dengan sebilah samurai di tangan! Michiko! Dia tertegun. Palunan manusia yang ada di stasiun itu terkuak. Hingga tercipta sebuah lorong yang lapang antara gadis Jepang yang cantik itu dengan dirinya. Orang-orang menatap heran.
”Michiko…?” katanya perlahan menahan kejut.
”Ya. Engkau rupanya belaum lupa pada saya, Bungsu….”
Suara gadis itu terdengar lantang. Seperti bersipongang di peron stasiun itu.

Dalam Kecamuk Perang Saudara-bagian-401

tikam samurai

si bungsu

”Selamat datang..
di kampungku, Michiko san….” ujarnya sambil coba tersenyum. Padahal hatinya mulai tak sedap melihat sikap gadis itu yag tak bersahabat sedikitpun.
”Terimakasih. Saya memang melihat kampungmu indah, Bungsu san. Tapi saya datang bukan untuk menikmati keindahannya. Saya datang dari Jepang mencarimu ke mari untuk menuntut balas. Ingat persoalan yang ada di antara kita?”

Suara gadis itu makin lantang. Orang-orang pada diam tak bergerak. Si Bungsu jadi serba tak sedap. Dia menyesal telah membawa samurainya saat itu. Kenapa tadi tak dia masukkan saja ke dalam buntalan kainnya? Kini samurainya terpegang di tangan kiri. Gadis itu juga memegang samurai di tangan kiri. Dia jadi serba salah. Akankah dia melayani kehendak gadis ini kalau dia menantangnya untuk berkelahi? Akankah dia membunuh gadis itu, atau justru dia yang terbunuh di sini? Ketika dia berfikir demikian, gadis itu memandang ke palunan orang ramai di stasiun. Lalu terdngar suaranya :

”Saya Michiko, anak bekas serdadu Jepang yang pernah membunuh beberapa lelaki dan perempuan di Minangkabau ini. Ayah saya sudah mati. Dibunuh oleh lelaki ini…” dan tangannya menunjuk pada si Bungsu.
”Ketika menjadi tentara ayah saya membunuh ibu, ayah dan kakaknya. Dia lalu datang ke Jepang sana, lalu membunuh ayah saya dengan alasan menuntut balas. Kini dari Jepang saya datang kemari, untuk menuntut balas pula atas kematian ayah saya itu. Bukankah adil, kalau setiap anak menuntut balas kematian ayahnya?”
Orang pada terpana. Si Bungsu merasa dirinya berpeluh.

”Tidak benar demikian, Michiko-san. Ayahmu tidak mati di tangan saya. Saya tak pernah membunuhnya. Ayahmu mati karena harakiri, seppuku!. Dia mati terhormat….” ujar si Bungsu mencoba memberikan pengertian kepada orang ramai, sekaligus melunakkan hati gadis itu.
”Bohong! Tak ada kematian terhormat dalam hal yang terjadi atas ayahku. Dia memang mati harakiri. Tetapi dia harakiri karena malu atas perlakuanmu pada dirinya!”
”Michiko…!?”
”Apakah engkau menjadi pengecut, Bungsu? Engkau telah membunuhi puluhan orang Jepang dalam petualanganmu di negeri saya itu. Dan engkau merasa jadi pahlawan. Kini cabut samuraimu!” gadis itu membentak sambil mendahului mencabut samurainya.

Si Bungsu berharap petugas keamanan atau tentara muncul di sana. Kalau ada petugas keamanan atau tentara, dia yakin mereka bisa bertindak mencegah. Tapi tak seorangpun petugas yang hadir. Tak seorangpun tentara atau polisi yang menampakkan puncak hidungnya. Para petugas itu seperti telah bersekongkol dengan gadis ini untuk memberinya kesempatan membalas dendam. Tiba-tiba bayangan di stasiun kecil Gamagori melintas di kepalanya.

Bukankah dahulu dia juga pernah berkelahi melawan komplotan Kumagaigumi di stasiun kecil di Gamagori? Bandit-bandit Kumaigaigumi itu akan mengganggu Michiko. Namun dia ada disana untuk membelanya. Lima orang anggota Kumagaigumi berhasil dia bunuh. Bergelimpangan di stasiun kecil itu. Kemudian dia naik lagi ke kereta api. Menemui Michiko yang menangis karena menyangka dirinya telah mati. Di kereta api menuju Nagoya itu, dia memeluk bahu Michiko.

Gadis itu menyandarkan kepalanya lalu tertidur di bahunya. Dan sesaat sebelum gadis itu tertidur, dia menyanyi sebuah lagu Jepang. Lagu yang selalu dinyanyikan pelaut-pelaut yang rindu pada kampung halaman. Rindu pada kekasih, anak dan isteri. Dia coba mengingat bait lagu Jepang itu. Namun amat susah. Dia coba memikirkannya. Dalam kalut dia tak ingat bait bahasa Jepang. Yang ingat cuma bait bahasa Indonesianya.

Jangan menangis. Jangan sedih.
Meskipun hujan turun lebat
Saya akan tetap pergi
Selamat tinggal

Lagu itu dia pelajari dari Kenji. Temannya sekapal saat menuju Tokyo dari Singapura. Lamunannya jadi terputus ketika dia dengar suara orang memekik memberi ingat. Sesaat nalurinya bereaksi cepat. Dia menjatuhkan diri ke lantai stasiun. Namun tak urung bahunya disabet oleh ujung samurai Michiko! Memang hanya luka gores. Tapi darah merembes. Dia bergulingan. Kemudian melompat tegak. Michiko tegak dua depa di depannya dengan kaki terpentang dan mata nyalang menatapnya.

”Cabut samuraimu…Bungsu! Jangan kau sangka bahwa dirimu saja yang hebat memainkan samurai….” bentak gadis itu.
Si Bungsu tak melihat jalan lain. Gadis ini memang menghendaki nyawanya.
”Ini kampung saya, Michiko. Saya tak ingin darahmu tertumpah di kampung saya ini…”
”Sombong kau! Tak setetespun darahku akan tertumpah di sini! Kau dengar itu, pembunuh! Tak setetespun! Jika engkau sanggup melukai diriku segores saja, maka aku akan menjilat telapak kakikmu! Percuma aku jadi murid Zato Ichi!”

Si Bungsu kaget, dia ingat Zato Ichi. Gadis ini bukan main jumawanya! Benarkah sudah demikian hebatnya dia memainkan samurai, sehingga dia sanggup berkata setakabur itu pada si Bungsu yang kesohor itu? Atau apakah gadis ini hanya ingin memancing amarah si Bungsu saja? Tak ada yang sempat memikirkan hal itu. Sebab saat berikutnya gadis itu telah menyerang. Si Bungsu mencabut samurai dengan sikap ”apa boleh buat”.

Ya, dia harus mempertahankan dirinya bukan? Orang hanya melihat dua sinar berkelebat. Kemudian bunga api memercik tatkala dua baja tajam itu berbenturan! Terdengar suara gemercing. Si Bungsu tersurut selangkah. Michiko masih tetap tegak di tempatnya. Si Bungsu jadi kaget. Kekuatan gadis itu ternyata luar biasa sekali. Getaran benturan samurai mereka terasa ke tulang tangannya.

Michiko menyerang lagi. Sebuah pancungan ke kepala. Si Bungsu menunduk. Sebuah pancungan ke pinggang. Si Bungsu menangkisnya dengan menegakkan samurainya di sisi badan. Dua baja samurai yang alot itu bertemu lagi. Suara berdentang. Bunga api memercik! Dan si Bungsu dengan kaget tepaksa melompat ke Belandaakang empat langkah! Samurainya hampir saja terpental karena benturan dahsyat itu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: