Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian-398-399


Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian-398
si bungsu
Dia melangkah ke sana. Seorang perempuan tua kelihatan menuggui warung itu. Di dalam seorang lelaki sedang makan. Si Bungsu melihat ada goreng dan gulai ikan. Ada dendeng. Ada sambal lado dengan jengkol muda. Ada rebus daun ubi. Laparnya menggigit melihat lauk pauk itu. Begitu nasi dihidangkan dia santap dengan lahap. Sesekali dia lihat perempuan pemilik kedai itu mencuri pandang padanya.

Dia tahu, kehadiran setiap orang baru di suatu desa, dalam keadaan bagaimanapun, apalagi dalam keadaan perang begini, pasti menimbulkan berbagai dugaan. Setelah kenyang makan dia memesan secangkir kopi panas. Di luar sana, tentara APRI kelihatan tengah menyusun barisan. Lelaki yang tadi tengah makan ketika dia masuk, kini membayar makanannya. Kemudian keluar. Namun si Bungsu sempat menangkap betapa lelaki itu melirik ke arahnya sesaat sebelum dia melangkah ambang pintu menuju keluar. ”Ibu kenal dengan Narto?” tanya si Bungsu dalam nada biasa sambil menghirup kopinya.

Perempuan itu menoleh. Lalu dengan wajah seperti tak ada apa-apa, dia menggeleng.
”Sunarto yang dulu pernah jadi Anggota Mobrig. Kemudian menjadi pasukan PRRI. Kabarnya isteri dan anaknya ada di sini. Apakah ibu kenal?”
Perempuan itu menggeleng lagi. Matanya melirik ke luar. ”Saya datang dengan pasukan itu. Saya harus menemui keluarganya…”
”Bapak… APRI?”
”Tidak. Tapi…”
”Bapak PRRI?”
”Tidak. Saya kebetulan datang dengan APRI. Saya kenal dengan Pak Narto. Saya harus menyampaikan pesan pada anak dan isterinya…”
Pemilik kedai itu menatap si Bungsu tajam sekali.
”Barangkali anak dapat bertanya di bawah sana. Ke sebuah rumah sebelum pendakian…”

Si Bungsu mengucapkan terimakasih sambil membayar makanannya. Dia menuju ke penurunan yang tadi dia lewati bersama konvoi tentara itu. Seorang lelaki bertongkat, rambutnya sudah memutih, semua giginya sudah ompong, menunjuk ke reruntuhan sebuah rumah ketika si Bungsu menanyakan rumah lelaki yang bernama Narto itu. Dia tertegun. Jantungnya seperti berhenti berdetak.
”Kenapa…?” tanyanya perlahan.
Lelaki tua itu berjalan ke sebuah pohon yang nampaknya rubuh kena mortir. Dia duduk di sana. Si Bungsu mengikuti dan tegak di depan orang tua tersebut.
”Rumah itu terletak di pendakian, dari rumah itu orang bisa melihat ke jalan di bawah sana. Semua kendaraan yang datang dari

Bukitinggi segera terlihat dari jendela rumah tersebut….” orang tua itu bercerita, kemudian terbatuk, dan menyambung…”ketika APRI mula pertama menyerang, rumah itu dijadikan pos PRRI. Semacam pos pengintaian. Tapi ketika APRI berhasil menduduki Matur, ganti APRI lah yang mempergunakan rumah itu. Keluarga Narto yang tinggal di rumah itu luar biasa takutnya. Sebab semua orang tahu, dan APRI pasti tahu pula, bahwa Narto adalah pasukan Mobrig batalyon Sadel Bereh di Bukittinggi. Namun barangkali Tuhan masih melindungi sebagian keluarganya. Minah, anak gadisnya yang paling tua menikah dengan salah seorang sersan pasukan BR. Seminggu setelah menikah, suaminya dapat cuti ke Jawa. Dia membawa serta Minah dan seorang adik lelakinya yang masih kecil.

Namun tiga hari setelah itu, PRRI datang menggempur, APRI dipaksa mundur. Dan terjadilah bencana itu. Kabarnya Narto tertangkap di Bukittinggi, dan berkhianat. Pengkhianatan itu tambah diperkuat dengan kawinnya anaknya dengan sersan BR, lalu pulang ke Jawa. Pasukan PRRI membakar rumahnya. Menembak istrinya. Begitu juga dua orang anaknya. Adik Minah, gadis yang baru berusia lima belas tahun, diperkosa bergantian. Tapi isteri Narto tak mati. Kini dia dirawat di rumah itu…,” lelaki tua tersebut menunjuk ke sebuah pondok.
Si Bungsu jadi tegang mendengar kisah itu. Dan tatkala dia masuk ke pondok yang ditunjukkan itu, di balai-balai kelihatan seorang perempuan sepaoh baya terbaring. Di dekatnya ada dua orang kanak-kanak.

Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian-399
Pastilah anak Narto yang tersisa dari elmaut. Si Bungsu benar-benar tak percaya, bahwa hal ini bisa terjadi. Sunarto, seorang anak Jawa, yang bersedia ditembak mati demi menyelamatkan kawan-kawan PRRI-nya, keluarganya justru dibencanai oleh pasukan PRRI sendiri.
”Bagi kami orang Jawa, kepatuhan pada atasan adalah sesuatu yang mulia….karena saya merasa negeri ini adalah negeri saya, maka saya tak mau membuka rahasia. APRI lalu menyiksa saya. Insya Allah, saya masih bisa tutup mulut. Saya tak mau teman-teman yang sedang berjuang tertangkap karena saya terbujuk, atau tak tahan menderita. Saya bersedia mati demi negeri ini, demi teman-teman yang sedang berjuang….”

Bisikkan Narto seperti menggema menghancurkan selaput telinga si Bungsu. Orang Jawa itu bersedia mati demi Minang, yang diakui sebagai negerinya, dan demi teman-temannya yang sedang berjuang, begitu katanya. Begitulah katanya! Oh Tuhan. Kenapa Engkau jadikan manusia seperti Narto. Orang yang bersedia mengorbankan nyawanya untuk orang-orang yang justru menistai keluarganya.
”Bapak pasti membawa pesan dari suami saya, bukan?”
Tiba-tiba isteri Narto berkata tatkala melihat si Bungsu tertegak di pintu. Si Bungsu tak dapat bicara. Ada sesuatu yang terasa menggumpal di tenggorakannya. Di hatinya. Di matanya. Di jantungnya!

”Dimana dia….?” tanya perempuan itu.
”Dia…dia tengah berjuang…,” akhirnya pesan Narto itu dia sampaikan juga. Persis bunyinya. Tapi perempuan itu menggeleng. Matanya basah.
”Saya bertanya, dimana kuburannya. Bukan dimana dia kini. Jangan membohongi saya. Saya sebenarnya sudah lama mati. Tapi saya ingin mendengar kabar dari suami saya, itu sebab saya bertahan hidup. Malam tadi saya bermimpi, akan ada orang yang datang membawa pesan suami saya. Saya memang menanti Bapak. Dimana dia dikuburkan?”

Si Bungsu tak mau menangis. Demi Tuhan, demi para Nabi dan para Rasul. Tidak! Bukankah air matanya telah lama kering. Air matanya telah kering ketika menangisi kematian ayah, ibu dan kakaknya di Situjuh Ladang Laweh dahulu. Tidak, dia kini tak lagi bisa menangis. Namun, ya Tuhan, bagaimana dia takkan menangis melihat tragedi di depan matanya ini? Bagaimana? Beberapa puluh hari yang lalu, seorang lelaki membisikkan padanya, agar dia menemui keluarganya di sini, di Matur ini.

Menyampaikan uang gajinya. Menyampaikan pesan, agar isteri dan anak-anaknya itu pulang ke Jawa. Si Bungsu terduduk lemah. Perempuan itu telah mengetahui segalanya. Seperti membaca isi buku pada lembaran yang terbuka. Akankah dia mampu berbohong? Anak muda yang telah luluh oleh penderitaan itu terduduk di lantai tanah. Jatuh di atas kedua lututnya. Matanya basah, pipinya basah.
”Maafkan saya, Kak. Saya memang berdusta…” katanya perlahan di depan wanita yang dadanya terluka dan tubuhnya yang kurus itu.
”Dimana dia dikuburkan…? ulang wanita itu.
”Maafkan saya, saya tak tahu Kak. Dia sebenarnya berpesan agar saya mengatakan dia masih hidup. Saya telah melanggar janji. Dia ingin Kakak pulang ke Semarang. Dia akan menyusul…”
”Tak perlu lagi….., tak perlu lagi. Dia takkan pernah pulang ke Semarang. Saya juga. Begitu pula dua anak-anak kami yang telah terkubur di belakang pondok ini. Kalau begitu, dia benar-benar telah mati tanpa tahu dimana kuburnya, bukan?”

Si Bungsu mengangguk dan menghapus air matanya. Kemudian tangannya meraih kalung di lehernya. Menanggalkan kalung berliontin timah hitam bundar itu.
”Dia berpesan, agar saya memberikan kalung ini pada Kakak…”.
Lemah dan menggigil tangan perempuan itu menggapai. Menerima kalung berliontin itu. Kemudian membawa ke dadanya.
”Ya, dia telah mati. Liontin ini pemberianku. Dan dia pernah bersumpah, bahwa liontin ini hanya akan dia buka kalau dia telah mati….Terimakasih, Bapak telah bersusah-susah datang kemari, untuk menyampaikan pesan itu….”
Si Bungsu mengambil sesuatu dari kantong celananya. Sebungkus uang.
”Dia menyuruh sampaikan uang ini pada Kakak. Uang gajinya yang tak sempat dia kirimkan….”.
Perempuan itu menoleh pada kedua anak-anaknya yang masih kecil. Memegang kepala mereka.
”Nak, berat ibu akan meninggalkan kalian. Kalian masih kecil. Tapi, ibu tak tahan lebih lama lagi tersiksa.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: