Dalam kecamuk Perang Saudara -bagian-393-394


Dalam kecamuk Perang Saudara -bagian-393
tikam samurai
”Kau hebat. Hebat…
dan sportif. Selamat!”
Ucapnya jujur sambil mengguncang tangan si Bungsu. Beberapa orang tentara maju pula menyalaminya.
Ketiga temannya yang ada dalam sel ternganga ketika dia diantarkan sersan yang siang tadi menangkapnya di rumah Kari Basa.
”Sanak menghajar si kafir itu?” tanya yang berbaju polisi.
”Siapa yang kafir?”
”OPR celaka itu. Dia orang komunis. Dia kafir!”

Jawab si baju polisi penuh semangat dan penuh kebencian. Si Bungsu menatapnya.
”Semua tentara yang menyerang negeri kita ini kafir. Semua komunis” ujar orang itu kembali dengan bersemangat. Si Bungsu menatapnya lagi.
”Dan semua orang yang memberontak di negeri ini adalah Islam?” tanyanya pelan.
”Ya. Kita semua Islam!”
”Termasuk yang merampok dan memperkosa perempuan di desa-desa sana?”

Orang berbaju polisi itu tertegun. Ganti dia menatap si Bungsu.
”Saya tak tahu siapa sanak. Ucapan sanak seperti mata-mata. Apakah sanak juga seorang kafir?”
Tangan si Bungsu melayang. Sebuah tamparan mendarat di pipi lelaki itu. Lelaki itu terjajar. Si Bungsu sudah berniat menghajar PRRI yang seorang ini. Namun tiba-tiba dia merasa kasihan. Kasihan pada kebodohan dan fanatisme irasional orang berbaju polisi itu. Lalu dia berkata perlahan :
”Saya cukup banyak melihat tentara PRRI yang tak pernah sembahyang. Apakah dia juga Islam? Saya cukup banyak mendengar tentara PRRI merampok dan memperkosa perempuan di kampung-kampung. Apakah juga dia orang Islam menurut ukuran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad? Sebaliknya saya cukup banyak melihat tentara APRI yang sembahyang, yang berbuat baik.

Apakah semuanya kafir? Apakah asal dia PRRI adalah Islam dan asal dia APRI adalah kafir?”
Yang ditanya tak menjawab. Dia mengusap pipinya yang tadi kena tampar. Lalu menatap pada temannya yang berpakaian tentara. Lalu menatap pada lelaki yang seorang lagi, yang berpakaian rapi. Dia seperti meminta bantuan untuk menyokong pendiriannya. Untuk memperkuat pendapatnya tadi. Bahwa semua APRI yang menyerang ini adalah tentara kafir. Namun tak seorangpun yang bicara. Justru si Bungsulah yang bicara.

”Harap dibedakan, antara tujuan politik dan agama. Jangan yang satu digunakan untuk menutupi maksud yang lain. Saya tak tahu kenapa saya ditangkap. Tapi yang jelas, saya sudah terlibat demikian jauh dalam urusan yang saya tak tahu ujung pangkalnya. Kalian berperang melawan tentara pusat adalah untuk menuntut pembangunan daerah yang lebih merata. Kenapa tiba-tiba harus dicap pusat adalah kafir?”

Ucapan ini diucapkan si Bungsu perlahan saja. Seperti untuk dirinya sendiri. Karena diserang lelah, dia membaringkan diri di lantai. Dingin lantai itu sesungguhnya, namun dalam keletihan yang sangat, apalah artinya sebuah kedinginan dibanding dengan tubuh yang ingin istirahat. Dia tertidur. Sementara tiga lelaki lainnya dalam tahanan itu masih saling bertukar pandang. Menjelang subuh si Bungsu terbangun. Ada yang menggoyangkan tangannya. Dia membuka mata. Tak seorangpun yang kelihatan dalam kegelapan di kamar tahanan itu. Namun dia yakin, seseorang telah membangunkannya. Lalu terasa lagi, tangan sebelaah kanannya ada yang menggoyang perlahan. Dia menahan nafas. Kemudian kembali terdengar suara bisikkan.

”Sanak…”
Si Bungsu segera tahu, suara itu adalah suara salah seorang teman sekamarnya.
”Sanak…” kembali orang itu berbisik perlahan.
Dari suaranya si Bungsu tahu, orang itu berbaring di sisinya.
”Sanak sudah bangun…?” orang itu menggoyangkan tangannya lagi.
”Ya…” jawab si Bungsu pelan.
”Dengarlah, Sanak. Waktu saya tinggal sedikit…” ujar orang itu dengan suara yang ditekan serendah mungkin. Nampaknya dia khawatir akan didengar oleh orang lain dalam kamar itu.

”Nama saya Sunarto. Saya adalah tahanan yang memakai baju hijau tentara yang sanak lihat siang tadi. Saya dari pasukan Mobrig Batalyon Sadel Bereh. Saya tertangkap ketika saya akan mengambil surat dari seorang kurir di Pintu Kabun. Mereka sudah mengetahui siapa saya. Saya adalah mata-mata. Hukuman bagi orang semacam saya, setelah diperas semua pengakuannya, adalah hukuman tembak. Saya sudah beberapa hari ditahan. Saya rasa, pagi ini saya akan ditembak. Sudah ada gerak begitu di hati saya. Sanak, saya tak tahu siapa Sanak. Tapi hati kecil saya berkata, bahwa Sanak orang yang baik. Sanak orang bersih. Hal itu dapat saya baca sejak pertama Sanak masuk siang tadi. Dan semakin jelas ketika Sanak berbicara soal kafir dan Islam dengan teman saya yang berbaju polisi itu. Saya ingin minta tolong pada Sanak. Saya punya sedikit uang. Saya simpan di suatu tempat. Bukan uang rampasan. Tapi uang gaji saya. Saya tak pernah sempat mengirimkannya untuk keluarga saya….,” orang itu berhenti sebentar.

Dalam kecamuk Perang Saudara -bagian-394
Udara dingin menusuk lewat lantai batu ke tubuh mereka. Kemudian orang itu menyambung lagi.
”Saya ingin Sanak mengambil uang itu. Saya mohon Sanak memberikannya pada keluarga saya. Pada isteri dan enam orang anak-anak saya. Katakan saja bahwa saya tengah berjuang. Minta mereka untuk pulang ke kampung. Nanti saya menyusul….”
Orang itu berhenti lagi. Nafasnya terdengar memburu karena berbisik terlalu lama. Si Bungsu masih tak tahu apa-apa. Dia tak tahu siapa isteri orang ini. Tak tahu di mana tinggalnya. Dia menanti orang itu untuk menyampaikannya. Orang yang bernama Narto itu mulai menceritakan dimana uang itu dia simpan. Di dalam tanah dekat sebuah pohon di sebuah kampung di pinggir kota Bukittinggi.

”Isteri saya kini berada di Matur. Jauh memang. Tapi saya mohon Sanak menyampaikannya. Suruh mereka pulang…”
”Pulang kemana?” tanya si Bungsu.
”Ke kampung…”
”Ke kampung mana?”
”Ke Semarang, di Jawa…”
”Semarang?”
”Ya..”
”Isteri saudara orang Jawa?”
”Ya. Saya juga. Ayah saya orang Semarang. Ibu saya orang Matur. Dahulu ayah saya datang kemari di zaman penjajah Belanda. Kawin dan punya anak. Isteri saya itu saya kawini ketika kami pulang ke Semarang…”

Ada sesuatu yang terhunjam rasanya di jantung si Bungsu tatkala mendapati kenyataan bahwa mata-mata PRRI ini ayahnya adalah ”orang Jawa” sementara ibunya ”orang Matur”.
”Mereka tahu bapak orang Jawa?”
”Maksud sanak APRI?”
”Ya”
”Mereka tahu semuanya. Darimana saya mereka sudah tahu. Karena itu mereka lalu membujuk agar saya membocorkan rahasia yang saya ketahui. Tapi bagi saya kepatuhan pada atasan adalah sesuatu yang mulia. Begitu umumnya bagi kami orang Jawa. Sungguh mati, saya tak lagi merasa sebagai orang seberang. Saya merasa negeri inilah kampung halaman saya…”,
Lelaki itu berhenti lagi. Namun si Bungsu merasa hatinya diiris. Dan lelaki itu bicara lagi.

”Karena saya merasa negeri ini adalah negeri saya, maka saya tak mau membuka rahasia. Mereka lalu menyiksa saya. Insya Allah, saya masih kuat menutup mulut. Saya yakin, mereka tak mau mengulur waktu. Saya akan mereka bunuh. Tak apa. Saya tak mau teman-teman ditangkapi kalau saya membocorkan rahasia. Nah, Sanak, itulah permohonan saya…”
”Bagaimana kalau uang itu justru saya pakai. Saya bisa saja tak menyampaikannya…” ujar si Bungsu.
”Tadi saya telah katakan. Saya tahu Sanak orang yang baik. Sanak orang bersih. Kalaupun uang itu akhirnya Sanak yang memakai, saya tetap bahagia. Hanya tolong sampaikan pada anak dan istreri saya, bahwa saya masih bertugas. Sanak, ini tanda pengenal saya. Sebuah kalung kecil dengan bundaran timah sebesar ujung kelingking. Ambillah, tolong berikan pada isteri saya….”

Orang itu baru saja menyodorkan benda yang dia maksud ketika tiba-tiba pintu terbuka. Cahaya senter menerobos masuk.
”Tetaplah pura-pura tidur…” bisik lelaki bernama Sunarto itu setelah tanda pengenalnya berpindah ke tangan si Bungsu. Terdengar suara derap sepatu memasuki kamar.
”Ini regu yang akan menjemput saya. Selamat tinggal….sanak…”
Terdengar suara diikuti tendangan kaki bersepatu ke paha Sunarto.
”Hei, Narto. Berdiri! Komandan ingin bertemu denganmu…”
Lelaki itu seperti terkejut. Pura-pura ketakutan.
”Ayo cepat!”
Lelaki itu bangkit. Sesaat, lewat matanya yang tak terpejam, si Bungsu melihat lelaki itu menoleh padanya. Lelaki dari Jawa yang berjuang untuk tanah Minang. Sesaat mata mereka seperti bertatapan di bawah cahaya senter. Kemudian gelap. Yang terdengar kemudian adalah derap sepatu menjauh. Dan lelaki itu memang tak pernah lagi kembali ke tahanannya. Dari para penjaga dia mendapat keterangan bahwa Narto dipindahkan ke Padang. Namun si Bungsu teringat bisikan lelaki itu;

”Tawanan seperti saya, Sanak, jika nanti Sanak dengar tak kembali kemari, lalu ada orang yang mengatakan bahwa saya sudah dipindahkan ke penjara lain, maka itu berarti saya sudah ditembak mati. Mungkin di Ngarai di hutan Gadut. Mungkin di Tambuo. Mungkin di Ngarai di belakang Rumah Sakit. Mungkin di Ngarai di belakang Bukit Cangang. Di sanalah saya akan dihabisi.
Bukan hanya saya, sudah puluhan jumlahnya para tawanan yang lenyap tak tentu rimbanya dengan alasan pindah tahanan. Saya tahu dengan pasti Sanak, sebab saya adalah perwira intelijen di pasukan saya…”
Hari-hari setelah itu, suara bisikan lelaki yang ayahnya dari Jawa dan ibunya dari Matur itu seperti mengiang kembali. Tapi di suatu malam, tiba giliran si Bungsu yang dibangunkan. Persis seperti dulu Narto dipanggil. Komandan ingin bertemu, itu alasannya. Dia diangkut dengan sebuah jip.

Meluncur arah keluar kota. Dinginnya udara malam terasa mencucuk sumsum.
Tangannya diborgol ke belakang. Matanya ditutup dengan sebuah benda yang mirip karung. Dia tak tahu kemana dibawa. Sesudah berapa lama, mobil itu terasa berhenti. Si Bungsu tak bisa berbuat apa-apa. Ya, apa yang harus dia perbuat? Dimana dia kini? Di salah satu Ngarai yang pernah disebutkan oleh Narto itukah? Di sinikah dia akan dihabisi?
Dia teringat ketika berada di Jepang, di Singapura, di Australia. Di sana dia telah bertarung menghadapi peluru dan maut. Tapi masih hidup. Siapa sangka, malam ini dia mati justru di tangan bangsanya sendiri. Tapi, bukankah dia telah menjelaskan semuanya pada Komandan RTP II tentang siapa dirinya? Dia teringat, Komandan RTP II yang menanyainya itu adalah seorang Overste bernama Sabirin. Induk pasukannya adalah Brawijaya. Perwira itu mendengarkan ceritanya dengan seksama. Perwira itu tegas tetapi ramah dan simpatik.

Si Bungsu hanya menceritakan tentang kenapa dia membunuh OPR itu di Aur Kuning. Samasekali dia tak menceritakan bahwa dulu dia pernah berjasa membunuh puluhan tentara Jepang. Membunuh puluhan tentara Belanda dalam Agresi di Pekanbaru. Tidak, dia tak ingin mencari selamat dengan menceritakan sesuatu yang dia perbuat di masa lalu.
”Saya yakin, apa yang Saudara katakan adalah benar. Besok Saudara sudah bisa bebas…” ujar overste itu.
Tapi belum enam jam perwira itu bicara, kini dia diangkut dengan sebuah jip entah kemana dengan mata tertutup. Apakah ucapan perwira APRI itu sebuah kebohongan belaka, untuk menutupi hukuman tembak yang akan dia hadapi? Ah, rasanya seorang overste tak perlu berbohong begitu. Tak ada gunanya. Lamunannya terputus ketika jip berhenti dan dirinya dipapah turun.

Dibawa ke dalam sebuah rumah. Lalu tutup matanya dibuka. Dia jadi silau. Dia kini berada di suatu ruangan. Dalam ruangan itu ada beberapa tentara berbaret merah berbaju loreng, RPKAD! Dia kenal seragam mereka dengan segera. Inilah pasukan kebanggaan tentara Indonesia itu. Inilah pasukan yang ditakuti lawan dan kawan itu.
Mereka kini menatap padanya. Hm, siapa sangka, malam ini ternyata yang menembakku bukan sembarang tentara, melainkan RPKAD, bisik hati si Bungsu. Seseorang memberi isyarat. Borgol tangannya dibuka. Seorang letnan maju. Tegak di depan si Bungsu. Letnan itu tak begitu besar tubuhnya. Namun si Bungsu segera tahu, bahwa orang ini tangguhnya luar biasa. Letnan itu memperkenalkan namanya tanpa bersalaman.
”Saya dengar tentang kehebatanmu, kawan. Dari orang itu…”

Kata tentara itu sambil menunjuk ke sudut. Si Bungsu segera melihat Nuad, OPR yang dia hajar itu tegak di sana.
”Kabarnya engkau hebat karate dan judo. Semua orang di markas mengetahui dan menyaksikan. Saya juga penggemar olahraga itu. Saya pernah belajar di Amerika. Latihan pasukan khusus. Untuk diketahui, tak ada yang bisa menandingi saya dalam pasukan, kecuali komandan saya, Overste Kaharuddin Nasution. Nah, kini saya ingin menguji kemahiran saya itu dengan kehebatan Saudara…”
Si Bungsu masih Belum mengerti apa yang dimaksud letnan ini, namun tentara itu mulai membuka baret merahnya. Kenudian membuka kopelriem. Membuka sepatu dinas. Membuka pistol yang menggantung di pinggangnya.
”Tak usah takut. Kami dari RPKAD tak pernah berlaku curang. Saya hanya menantangmu berkelahi. Jika engkau kalah, maka engkau akan kami kembalikan ke tahananmu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: