Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian-388-389


Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian-388

Jika sudah bertemu dengan keluarganya, dengan anak-anaknya yang kecil-kecil, dia berniat mundur bersama pasukan Sadel Bereh yang memang masuk dari arah Gadut lewat Tembok. Tapi ternyata ketika dia sampai, pasukan Mobrig di bawah pimpinan Sadel Bereh telah mundur. Dia terkepung oleh pasukan APRI. Ingin melawan. Disuruh menyerah, tapi dia menembak. Sampai akhirnya dia tertembak mati. Begitu cerita yang saya dengar…”
”Bapak melihat mayatnya?”
”Tidak, tapi dua lelaki yang kemaren di kedai itu melihatnya. Mereka PRRI. Saya sudah mencoba melihat mayatnya di rumah sakit. Tapi tak bertemu. Terlalu banyak mayat. Bertimbun, bergelimpangan”.
Sepi sesaat.

”Nah Bungsu. Engkau telah mendengar bagaimana duduk perkaranya. Terserah padamu untuk menentukan langkah selanjutnya…”
Sepi lagi. Kari Basa bangkit. Karena di rumah itu tak ada orang lain, dia lalu pergi ke dapur, memasak air dan membuat kopi. Sambil minum kopi mereka bercerita tentang pengalaman masa lalu. Kari Basa menanyakan pengalaman si Bungsu di Jepang. Menanyai perkelahiannya dengan Saburo Matsuyama. Si Bungsu menceritakan seadanya. Pagi itu, atas saran Kari Basa, si Bungsu menukar pakaiannya. Pakaian gunting cina itu sudah dikenal oleh OPR sebagai yang membunuh teman mereka di Simpang Aur. Kari Basa membelikan dua stel pakaian di pasar atas. Membelikan perban untuk luka di kepalanya. Ketika Kari Basa pulang dari pasar dia membawa cerita tentang korban-korban yang berjatuhan malam tadi.

”Mereka dikuburkan di suatu tempat secara massal…”
”Satu kuburan bersama?”
”Ada dua atau tiga kuburan panjang. Di dalamnya berisi empat atau lima puluh mayat…”.
”Tak ada mayat yang disembahyangkan, dikafani atau dimandikan?”
”Dalam perang hal-hal begitu tak sempat difikirkan orang, Bungsu. Masih untung mayat itu dikebumikan. Kalau dilempar saja di Ngarai misalnya, siapa yang akan menuntut?”

Si Bungsu menarik nafas. Ada sesuatu yang terasa runtuh di relung hatinya. Alangkah ganasnya peperangan.
”Ya, perang ini memang ganas, Nak”
Ujar Kari Basa seperti bisa menerka jalan fikiran si Bungsu, dan tak ada seorangpun diantara kita yang mampu meramalkan, bila perang ini akan berakhir…”
”Tapi, saya dengar di Pekanbaru tak ada lagi peperangan…”
”Di kota itu memang tidak. Operasi di sana dilaksanakan pada tanggal 12 Maret yang lalu. Dipimpin oleh Letkol Kaharuddin Nasution dan Letkol Udara Wiriadinata dengan mengerahkan pasukan RPKAD. Pekanbaru perlu mereka rebut dahulu, sebab di sana ada kilang minyak Caltex. Pemerintah tak mau kilang minyak itu menjadi sebab ikut campur tangannya pemerintah asing dalam urusan Indonesia. Lagipula dari seluruh daerah yang memberontak, maka di Sumatera Barat inilah yang berat. Pemerintah Pusat mengakui hal itu. Sebab di daerah ini berhimpun tokoh-tokoh militer dan tokoh politik yang tak dapat dianggap enteng. Baik di tingkat nasional maupun di tingkat internasional. Perang ini lambat laun memang akan berakhir, tapi korban akan jatuh sangat banyak sebelum tiba saatnya peluru terakhir ditembakkan…”

”Menurut bapak, adakah kemungkinan bagi PRRI untuk memenangkan peperangan ini?”
”Saya tak berani meramalkan. Tapi ada beberapa indikasi yang barangkali bisa diungkapkan. Pertama, dua daerah yang diharapkan menjadi daerah pendukung utama, yaitu Riau dan Tapanuli, kini telah dikuasai sepenuhnya oleh APRI. Artinya, Sumatera Barat kini berdiri sendiri, terkepung di tengah. Barangkali saja ada harapan untuk mendapatkan bantuan senjata dari Armada VII Amerika Serikat lewat Lautan Hindia. Tapi Lautan Hindia dan seluruh pantai barat kini sudah dikuasai APRI di bawah komando Ahmad Yani. Memang ada droping senjata, peralatan dan lain-lain dari Amerika lewat udara. Tapi banyak yang jatuh ke rimba belantara atau jatuh ke tangan APRI. Maka andalan utama PRRI kini adalah rakyat di desa-desa. Rakyat sebahagian besar memang simpati pada mereka.

Membantu mereka membelikan obat-obatan di kota. Membantu mereka dengan makanan. Rakyatlah tulang punggung mereka. Hanya sayangnya, di beberapa kampung sudah terdengar mereka menganiaya rakyat. Merampok, memperkosa, membakar rumah. Saya yakin perbuatan itu dilakukan bukan oleh tentara PRRI. Melainkan oleh segolongan orang yang katanya menggabung pada PRRI, tetapi justru mempergunakan kesempatan untuk melampiaskan dendam dan nafsunya saja. Banyak di antara mereka ini yang berasal bukan dari tentara. Misalnya dari preman, tukang angkat, tentara pelajar dan lain-lain. Memang tak semua mereka yang melakukan. Hanya beberapa pasukan kecil yang tak terkontrol. Namun bukankah orang-orang tua telah menyediakan pepatah ”karena nila setitik, rusak susu sebelanga”? Jika hal ini tak cepat disadari pimpinan-pimpinan PRRI, maka pelindung utama mereka, yaitu rakyat, justru akan marah pada mereka…”
Sepi lagi sesaat.

”Hari ini, kau pergilah kemana saja dalam kota ini, Bungsu. Maka kau akan mendengar isak tangis yang menyayat. Tangis dari isteri yang kehilangan suami. Tangis dari kanak-kanak yang kehilangan ayah. Tangis dari ibu-ibu yang kematian anak lelakinya dalam usia remaja. Yang mati dalam peperangan kemaren…”
”Tidak. Saya takkan kemana-mana…”
”Ya, sebaiknya engkau tak usah kemana-mana, anak muda. Saya khawatir pada keselamatanmu. Bukannya karena mencemaskan engkau ditangkap APRI, tapi saya cemas engkau tak tahan mendengar isak tangis orang-orang yang kehilangan itu…”

Dan sehari itu, si Bungsu memang tak keluar rumah. Dia duduk diam-diam di ruang tamu. Mendengarkan siaran radio PRRI yang menyiarkan bahwa malam kemaren mereka mendapat kemenangan besar ketika menyerang Bukittinggi. Banyak tentara APRI yang berhasil ditembak mati. Banyak senjata yang direbut. Pasukan PRRI baru meniggalkan kota setelah mereka berhasil mengumpulkan banyak bedil dan perlengkapan lainnya. Mereka meninggalkan kota tanpa ada perlawanan yang berarti. Sebaliknya, radio Pemerintah Pusat juga menyiarkan berita penyerangan malam tersebut. Disiarkan bahwa PRRI berusaha menyerang kota. Tapi berhasil dipukul. Malah ratusan anggotanya mati tertembak.
Puluhan dapat ditangkap dan ditawan. Banyak senjata PRRI yang ditinggalkan begitu saja tergeletak bersama ratusan mayat pemberontak. Si Bungsu hanya menarik nafas panjang mendengar siaran radio yang saling bertolak belakang itu. Padahal di kota, yang tersisa adalah isak tangis dan luka yang amat dalam di jantung sejarah.

Hari ke tiga si Bungsu di rumah Kari Basa tiba-tiba pintu diketuk. Ketika dibuka, tak ada kesempatan berbuat apa-apa. Empat orang tentara kelihatan tegak dalam pakaian loreng-loreng.
”Maaf, kami hanya melakukan pemeriksaan. Pagi tadi ada tentara terbunuh di pasar. Ditikam oleh seorang lelaki tak dikenal dengan pisau. Berapa orang yang tinggal di rumah ini?”
”Dua orang…”, jawab Kari Basa.
Tentara itu menatap tajam. Pangkatnya Sersan Kepala.
”Ini rumah pak Kari Basa bukan?”
”Ya. Sayalah Kari Basa…”
Tentara itu memberi hormat dengan sikap sempurna. ”Kami sudah diberi tahu tentang siapa bapak. Tapi maafkan, kami harus memeriksa kartu penduduk…”
Kari Basa mengeluarkan kartu penduduknya, kemudian memberikannya pada sersan itu. Si sersan mengamatinya. Kemudian mengembalikan kartu itu. Lalu matanya menatap pada si Bungsu yang tegak tak jauh dari ruangan tamu itu juga.

Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian-389

”Dia keluarga bapak?”…
”Ya, ponakan saya…”
Kari Basa sebenarnya ingin melindungi si Bungsu. Tapi jawabannya sebentar ini justru membuat perangkap pada anak muda itu. Sesuatu yang memang tak bisa diduga sebelumnya. Bahkan oleh Kari Basa sendiripun, meski dia adalah bekas perwira intelijen lan di zaman penjajahan Belanda dan zaman Jepang. Perangkap itu segera kelihatan ketika seersan itu minta izin melihat kartu penduduk si Bungsu. Si Bungsu memberikannya. Sersan itu meneliti. Kemudian tatapan matanya bergantian memandang si Bungsu dan Kari Basa. Kari Basa segera menyadari kekeliruannya.

”Maafkan saya, Pak Kari. Menurut data yang ada pada kami, Bapak tak punya ponakan. Bapak punya seorang anak gadis. Bernama Salma dan kini jadi isteri Overste Nurdin. Atase militer Malaya di Kota Singapura. Begitu bukan?”
Kari Basa tak bisa menjawab.
”Maaf, kami ingin membawa Saudara ini…”
”Tapi, bukankah dia punya kartu?”
”Ya, kartu Padang. Dia tak pernah melapor bila dia datang dan berapa lama ingin tinggal di kota ini…”.
”Tapi tak ada kewajiban begitu…”, ujar Kari Basa memprotes.
”Dalam suasana begini, kewajiban apapun bisa saja diadakan, Pak Kari…”
”Baiklah. Tapi saya akan ikut serta. Saya ingin bertemu dengan komandan saudara..”
”Siap, silakan Pak…”

Si Bungsu memang tak bisa berbuat lain di bawah ancaman ujung bedil itu. Dia mengikut saja ketika dibawa ke markas tentara. Kari Basa dibawa bertemu dengan Komandan RTP yang berkedudukan di kota itu. Tapi sang komandan sedang operasi keluar kota. Itulah malangnya bagi Bungsu. Dia harus tinggal di sel tahanan.
”Besok saya akan kemari. Saya harap engkau menjaga diri baik-baik…” ujar Kari Basa saat pamitan, ketika segala usaha tak bisa dia lakukan untuk membawa si Bungsu pulang.
”Engkau memerlukan senjata?” bisik Kari Basa cepat ketika pengawal lengah.Si Bungsu menggeleng.
”Tapi…”
”Saya benar-benar merasa aman di sini, Pak. Saya harap Bapak tak usah khawatir…”
”Tapi samuraimu tinggal di rumah….”
”Itulah justru yang menyebabkan perasaan saya benar-benar aman…”

Sudah agak malam barulah Kari Basa pulang ke rumahnya. Si Bungsu dimasukkan ke sebuah sel. Sel itu sebuah ruangan cukup lebar. Di dalamnya ada tiga lelaki. Yang seorang masih bisa dikenal. Rapi tapi pucat. Yang dua lagi sudah tak menentu. Darah kental kelihatan mengalir di sela bibirnya yang bengkak. Pipinya benjol-benjol. Rambutnya kusut masai. Yang seorang berpakaian kuning seperti polisi. Yang satu lagi berbaju hijau seperti tentara. Ketiga lelaki itu menatap padanya begitu dia masuk. Tak ada balai-balai. Yang ada hanya lantai yang dingin. Si Bungsu tertegun melihat ketiga orang itu.
”Assalamualaikum…” katanya perlahan.

Tak ada yang menjawab. Yang berpakaian masih agak rapi itu mencoba tersenyum. Namun senyumnya cepat berobah jadi mimik agak takut. Lalu menoleh ke arah lain. Sedangkan yang seorang lagi, yang bibirnya berdarah dan berbaju seperti polisi, tetap diam membisu. Yang berbaju tentara dan bibirnya juga berdarah, bengkak di sana-sini, hanya sekejap memandang. Lalu menoleh ke tempat lain. Ketiga mereka duduk di lantai, bersandar ke dinding. Yang berdarah dan bengkak-bengkak itu duduk di dinding yang menghadap ke pintu. Yang rapi di dinding sebelah kanan. Tempat yang masih kosong adalah dinding sebelah kiri pintu. Si Bungsu menuju dinding itu. Lalu duduk di lantai dan bersandar.

Kini dalam sel itu ada empat orang. Tiga orang bersandar di tiga sisi dinding. Sebuah dinding disandari oleh dua orang, yaitu yang bibirnya berdarah dan mukanya bengkak-bengkak. Yang memakai baju kuning seperti polisi dan baju hijau seperti tentara. Sisi lain disandari oleh yang rapi tapi berwajah pucat. Sisi satu lagi disandari si Bungsu. Dinding yang tidak disandari adalah sisi dimana terletak pintu masuk. Mereka yang ada dalam sel tahanan itu semua pada terdiam. Sama-sama membisu. Hari belum terlalu larut, tapi udara dingin sudah menusuk-nusuk. Tiba-tiba pintu terbuka. Seorang CPM berpangkat kopral masuk. Tegak di sisi pintu, memberi hormat dan kemudian masuk seorang Kapten CPM beserta seorang stafnya berpangkat sersan mayor. Keempat orang yang ada dalam tahanan menatap pada mereka.
”Berdiri!” perintah kopral itu.

Keempatnya berdiri. Si sersan membuka map di tangannya. Lalu menjelaskan pada si Kapten.
”Yang berbaju kuning bernama M. Bintara, penghubung pada pasukan Dahlan Jambek. Yang berbaju hijau bernama D, Inspektur polisi pada Batalyon Sadel Bereh. Ini yang berbaju lengan panjang adalah pedagang yang diduga mata-mata PRRI. Yang satu ini baru saja ditangkap siang tadi di rumah pak Kari Basa, di daerah Panorama. Punya kartu penduduk Padang, tapi mata-mata kita tak pernah melihat orang ini sebelumnya di kota….”
”Besok pagi suruh semuanya menghadap saya sebalum bertemu dengan komandan RTP.”
”Siap!”

Kemudian Kapten itu pergi. Kopral CPM tadi menutup pintu. Suasana di ruangan itu kembali sepi. Namun kini sekurang-kurangnya mereka sudah saling mengetahui orang-orang yang ada dalam ruangan tersebut. Kedua orang yang bengkak-bengkak itu sejenak menatap pada si Bungsu. Si Bungsu diam saja. Lelaki yang disebut sebagai pedagang merangkap mata-mata, yang masih rapi itu, tiba-tiba merogoh kantong. Mengeluarkan sebungkus rokok Double As. Dia bangkit, menuju pada dua orang yang bengkak-bengkak itu.
”Silahkan…,” katanya menawarkan rokok.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: