Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian-384-385


Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian-384.Dekat pendakian Jam Gadang
Bagi anak muda ini,soal obat-obatan bukan hal yang aneh.Dia belajar meramu obat-obatan dari daun,getah,kulit kayu dan rumput saat mengasingkan diri di Gunung Sago dahulu.
Pasukan APRI yang memburunya sudah dari tadi lenyap.Beberapa saat dia masih duduk di belukar itu.baru kemudian bangkit perlahan.Meruni tebing yang air mengalir dibawah.Dia buka baju guntingcina nya yang berlumuran darah,begitu juga dengan celana pantolan hitamnya.Dia cuci di sungai yang dingin dan alangkah sejuknya itu.Kemudian dia jemur dibatu.Sinar matahari yang terik akan mengeringkannya.Hanya dengan menggunakan celana pendek dia membaringkan dirinya di rerimbunan hutan bambu.Kemudian menjelang sore,anak muda ini kembali kedalam kota,alangkah nekatnya!

Dalam situasi begitu orang lain pasti sudah menyingkir jauh-jauh.Tapi bagi si Bungsu tak ada alasan untuk menyingkir.Dia benar-benar buta politik.Menurut anggapanya,peristiwa di Tambuo itu bisa selesai dengan sendirinya.Tak diketahuinya,peristiwa tersebut menjalar dengan cepat ditubuh pasukan APRI yang berada di kota.Banyak mata OPR dan tentara yang menyaksikan betapa dia membantai OPR yang bernama Kudun itu dengan samurainya.

Cerita itu menjalar seperti api dalam sekam.Mata-mata pun disebar untuk mengetahui serta mencari dimana lelaki itu berada.Dalam saat yang demikianlah dia memasuki kota.Menjelang sore kota memang sudah agak ramai.Artinya meski dalam keadaan takut-takut,namun penduduk sudah berani keluar rumah.Ada yang belanja ke pasar.Toko dua tiga sudah ada yang buka sejak siang tadi.
APRI yang menjaga disetiap sudut kota mengawasi setiap orang yang lalu lalang dengan teliti.Namun tak ada tindaakan kekerasan yang dilakukan.Bagi penduduk kota sebenarnya kehadiran APRI membuat mereka merasa aman.Mereka bisa keluar rumah,kepasar,kanak-kanak sekolah atau melakukan kegiatan sehari-hari dengan tentram.Ketakutan justru muncul ketika terjadi pertempuran,sebagaimana yang baru saja terjadi tadi malam.Biasa nya dalam keadaan seperti itu kedua pihak,PRRI maupun APRI tidak akan pandang bulu.

Si BUngsu menuju Pasar Atas.Dekat pendakian Jam Gadang tiba-tiba dia dicegat tentara berpakaian loreng,si Bungsu tertegun,namun dia berusaha untuk kelihatan tenang,tentara itu berpangkat Sersan Mayor.
“Maaf,ada korek api,pak?”tanya tentara itu setelah dekat.
Si Bungsu menarik nafas,dimerogoh kantong,namun segera sadar bahwa dia tak pernah membawanya karena dia tak merokok.
“Ah,maaf.Saya tak membawanya…”ujarnya.
“Bapak akan kepasar?”tanya tentara itu dengan ramah.
“Ya…”
“Ada membawa kartu penduduk?”
“Ada..”si Bungu merogoh kantongnya berniat mengambil KTP yang memang telah dia siapkan,tapi sersan itu menggoyangkan tangannya.
“Tidak.tak perlu bapak lihatkan.Yang penting bapak hati-hati saja.Kalau ada tanda bahaya cepat sembunyi cari perlindungan…”
“Akan ada serangan lagi?”
“Saya rasa tidak.Tapi siapa tahu bukan ?rasanya gegabah kalau PRRI masih akan menyerang kota lagi.Peperangan seharusnya tak dilakukan dikota.Karena yang paling kena getahnya adalah penduduk.Bapak lihat banyak yang mati tadi?”
“Tak semua.Apakah semua yang mati adalah penduduk?”
“Tidak.Banyak anggota PRRI.Tapi,saya rasa peluru tak bisa membedakan mana yang penduduk atau bukan.Malam tadi PRRI menyerang secara besar-besaran. Kabarnya penyerangan itu dipimpin langsung oleh Kolonel Dahlan Djambek..”

Pembicaraan mereka terputus ada suara peluit panjang.Tentara itu tak sempat pamitan,dia berlari kearah suara peluit itu.Si Bungsu meneruskan langkahnya, tapi firasatnya mengatakan akan ada terjadi sesuatu pada dirinya.Cara sersan tadi memandangnya agak ganjil.Memang tak begitu mencurigakan.Tapi ada dua kali dia mencuri pandang melihat luka dikepalanya.Apakah cerita tentang dirinya di Simpang Aurkuning pagi tadi sudah disebarluaskan?cepat-cepat dia menyelinap ke dalam pasar.
Benar saja,dalam waktu singkat tiba-tiba pasar segera digeledah.Sersan tadi memang memperhatikan luka dikeningnya.Tapi tak ada membawa tongkat.sersan tadi memang pura-pura menayakan korek api.Padahal dia ingin memastikan apakah orang ini yang sedang dicari,yang telah membunuh seorang OPR tadi pagi.

Dia masih ragu,walau ada luka yang sudah dikasih perban di keningnya.Dia ingin memastikan apakah lelaki itu menyimpan samurai dibalik bajunya.Namun dia tak lihat.Suara peluit memutus penyelidikannya.Dia datang kepada komandannya yang berdiri tak jauh dari Jam Gadang.Ketika dia menjelaskan ciri lelaki yang baru ditemui dia barusan tadi,maka Nuad sutan Kalek,si OPR mata-mata yang kebetulan ada disana,meyakinkan bahwa itulah orang yang mereka cari.

Ada sekitar tiga puluh tentara yang berlari menyusul si Bungsu.Untunglah firasat anak muda itu memberitahu akan bahaya yang bakal menimpanya.Dia lebih dulu menghindar.Dalam pasar yang bangunanya begitu rapat,dengan mudah dia menyelinap menghilangkan jejak.Dalam langkah cepat dia sampai di Mesjid Pasar Atas.
Kemudian turun lewat samping menuju kampung Cina.Dari sana dia bergegas kearah Benteng dan turun di AtasNgarai.Di atasngarai dia masuk kesebuah kedai kopi.Ada dua atau tiga lelaki yang sedang mengopi dikedai tersebut.Dia duduk dan mengambil tempat disudut.
“Teh manis ..”katanya.

Tak ada yang mengacuhkannya.Diluar terdengar derap kaki tentara menuju Panorama.Dua lelaki nampaknya selesai minum,lalu membayar dan pergi.Tinggal dikedai itu dia dan seorang lelaki lain.Lelaki itu jugfa selasai minumnya dan membayarnya.Ketika menunggu kembalian uangnya tanpa sengaja dia menoleh kearah si Bungsu.Kebetulan si Bungsu juga tengah memperhatikan lelaki itu.Mata lelaki itu terbelalak dan mulutnya ternganga.

“Ya Tuhan,apakah saya tak salah lihat?si Bungsu bukan?”tanya lelaki itu hampir tak percaya.Kini si Bungsu pula yang kaget setelah mengenal lelaki itu setelah dia bicara.
“Ya Tuhan,Pak Kari….!”katanya sambil bangkit.
Kedua lelaki itu berpelukan didalam kedai kecil itu.Pemilik kedai hanya menatap dengan diam.
“Hei,Rabain.Kau ingat orang ini?si Bungsu yang menghajar Jepang dahulu…?”

Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian-385

Kari Basa memperkenalkan si Bungsu pada pemilik kedai tersebut. Pemilik kedai yang bernama Rabain itu hanya melongo. Kemudian menyalami si Bungsu.
”Namamu sejak dahulu kudengar, anak muda. Sebentar ini juga. Apakah benar dia yang membuat peristiwa di Tarok itu?”
Kari Basa menatap pada si Bungsu setelah pemilik kedai itu bertanya. Setelah menatap sejenak keluar, memastikan tak ada tentara atau orang lain, Kari Basa ikut bertanya.
”Kami mendapat kabar, pagi tadi di Aur Kuning ada OPR yang dibantai orang dengan samurai. Menurut sebagian orang, OPR itu dicido dari belakang. Tapi ada yang berkata, bahwa OPR itu akan menembak dan lelaki itu tiba-tiba menggerakkan tangan. Dan tiba-tiba saja dada OPR itu belah oleh samurai. Saya mendengar cerita itu, dan setahu saya hanya seorang yang mampu melakukan hal itu, yaitu engkau. Sebentar ini, dua lelaki yang keluar tadi, adalah orang-orang PRRI. Mereka juga mendengar cerita itu. Kini engkau muncul tiba-tiba. Jangan mungkiri bahwa memang engkaulah yang telah membantai OPR itu. Benar bukan?”

Si Bungsu hanya menatap pada orang tua itu. Kari Basa, ayah Salma. Alangkah lamanya mereka tak berjumpa.
”Benar cerita itukan, Bungsu?”
”Ya….” jawabnya perlahan.
”Hei, kita ke rumah. Tentara kini berkeliaran mencarimu. Tapi tak apa, itu hanya sebentar. Banyak tugas mereka yang lebih penting daripada hanya mencari engkau. Sepuluh dua puluh OPR mati, biasa. Mari, kita ke rumah. Rabain, kami pergi….”
Si Bungsu mereguk minumannya. Kemudian akan membayar. Tetapi pemilik kedai itu menolak. Mereka berjalan kaki menuju arah Panorama. Ada dua tiga truk penuh tentara melewati mereka menuju ke rumah sakit. Tapi karena Kari Basa demikian tenang, si Bungsu juga menjadi tenang. Dan tiba-tiba saja, mereka tegak di depan sebuah rumah.
”Kau masih ingat rumah ini?”

Kari Basa bertanya perlahan sambil merogoh kantong. Mengeluarkan sebuah kunci dan menaiki tangga batu. Si Bungsu masih tertegak beberapa saat. Betapa dia takkan ingat? Di rumah inilah dahulu dia di rawat oleh Salma selama beberapa puluh hari, setelah tubuhnya dicencang oleh Kempetai dalam terowongan di bawah kota ini. Di rumah inilah dia berlatih kembali mempergunakan samurainya, setelah sekian lama tak menyentuh senjata itu. Akhirnya dia melangkah naik.
”Ini kamarmu, ingat?”
Si Bungsu tersenyum.
”Saya beberapa kali menerima surat dari Salma, yang mengatakan bahwa kalian bertemu di Singapura. Dia menceritakan semua yang terjadi di sana.”

Si Bungsu tak menjawab. Tapi sambil mendengarkan dia memperhatikan kuku kaki dan kuku jari tangan Kari Basa. Ternyata semuanya utuh. Tahu bahwa anak muda itu memperhatikan tangan dan kakinya, yang dahulu semasa sama-sama ditahan di lobang Jepang, kukunya dicabuti semua oleh Jepang, Kari Basa berkata :
”Sudah tumbuh semuanya…”
”Bapak berada dalam kota, apakah berpihak pada APRI?” ujar si Bungsu.
Lelaki tua itu tertegun. Kemudian menoleh keluar.
”Panjang ceritanya, Bungsu. Tapi saya akan solat Asyar dulu. Nanti kita cerita…”
”Ya, saya juga akan solat…”

Malam harinya, Kari Basa bercerita. Dia tak ikut berperang. Memang teman-temannya membawanya serta.
”Saya memang tak setuju dengan kebijaksanaan pusat. Tapi memberontak menurut saya taktik yang salah. Sekurang-kurangnya saya tak sepaham. Maka saya tetap tinggal di kota.”
”Bapak berpihak pada APRI?”
”Terserah bagaimana penilaian oranglah. Tapi yang jelas saya tak ikut ke hutan…”
”Bapak menjadi informan PRRI?”
Kembali Kari Basa menggelengkan kepala.
”Kalau begitu bapak informan APRI?”
”Juga tidak Bungsu. Teman-teman memang membawa saya untuk aktif lagi dalam APRI. Namun betapupun jua, Minangkabau ini adalah kampung saya. Barangkali sikap saya adalah sikap yang buruk. Tak bisa berpihak. Tapi saya memang berada dalam posisi yang serba sulit.

Di satu pihak, saya memang tak suka akan kekacauan politik yang terjadi dalam kabinet sekarang. Saya juga tak suka pada cara Presiden Soekarno yang amat berpihak pada komunis. Tapi saya juga tak mau memberontak. Saya lebih-lebih tak suka lagi, kalau saya harus memanggul senapan dan memburu PRRI. Mereka adalah orang kampung saya semua, teman, anak dan kemenakan. Teman-teman dari PRRI dan juga dari APRI meminta saya untuk menjadi informan mereka. Tapi saya menolak. Nah, sejak tadi kau menanyai saya, Bungsu. Seolah-olah engkau seorang intelijen. Apakah engkau salah seorang dari PRRI itu?”
Si Bungsu tak segera menjawab. Dia melemparkan pandangannya ke luar jendela. Di luar sana, beberapa anggota APRI kelihatan mondar mandir di jalan raya.

”Saya baru datang, Pak. Saya bertanya pada Bapak, karena saya tak tahu tentang apa yang telah terjadi di kampung kita ini. Kenapa negeri yang dahulu Bapak dan teman-teman Bapak pertahankan dengan mengorbankan nyawa ini tiba-tiba diamuk perang saudara. Saya dengar Pak Dakhlan Jambek kini berada di Tilatang Kamang. Apa sebenarnya yang telah terjadi, Pak Kari? Apa sebabnya kita memberontak. Apa sebabnya APRI yang juga orang Indonesia itu, malah di antaranya juga terdapat orang-orang Minang, hari ini justru datang kemari untuk saling berbunuhan dengan saudara-saudara sebangsanya? Tolong Bapak ceritakan, saya ingin mendengarkannya.


3 responses to “Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian-384-385

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: