Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian – 380-381


Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian – 380

jam gadang

jam gadang on novel tikam samurai

Mereka berjualan kain panjang dan selimut tebal. Selain itu, masih banyak kelebihan uang dan mereka membeli sebuah rumah cukup besar di Jangkak, Mandiangin. Malam itu, selesai Magrib dan makan malam mereka duduk di ruang tengah.

”Reno, Sutan Pilihan, besok saya akan ke pergi. Mungkin ke Payakumbuh. Tapi perjalanan hidup tak bisa kita terka. Yang jelas besok saya akan pergi. Sutan sudah tahu apa hubungan saya dengan isteri Sutan di masa lalu. Saya yakin Sutan akan menjaga Reno baik-baik. Reno, nasib ditentukan oleh Tuhan. Nasiblah yang membuat kita tercerai berai. Kini sayangi dan jaga anak dan suamimu. Aku menyayangimu sebagai adikku, kenanglah aku sebagai mengenang saudara lelakimu. Aku akan bahagia bila mendengar kabar kalian hidup bahagia…”
Reno tenggelam dalam tangis terisak-isak. Sutan Pilihan tak mampu membendung air matanya.

”Demi Allah, Uda Bungsu, saya akan menjaga Reno sebagaimana Uda pesankan. Dia ibu dari anak saya, dan saya mencintainya. Saya tak tahu bagaimana harus mengucapkan terimakasih atas semua bantuan Uda pada kami, hanya Tuhan yang akan membalasnya….” ujar Sutan Pilihan perlahan.
Besoknya, ketika si Bungsu akan keluar rumah, Reno tak dapat menahan rasa kehilangannya. Dia peluk lelaki itu di depan suaminya. Sutan Pilihan menjadi sangat terharu.
”Jangan lupakan kami Uda. Jangan lupakan kami..” ujar perempuan itu dalam rasa hibanya yang sangat. Si Bungsu balas memeluknya.
”Reno Adikku, jaga suamimu, jaga anakmu..”
”Jaga juga diri Uda baik-baik…” ujar Reno diantara isaknya.

Itulah puncak pertemuan mereka beberapa bulan yang lalu, perpisahan! Semasa bertunangan mereka tak pernah berpelukan. Jangankan berpeluk, berpegangan tangan saja tak pernah. Kini, setelah zaman berlalu, saat Reno menjadi isteri lelaki lain dan si Bungsu menjadi pengembara yang tak tahu dimana akan mengakhiri pengembaraannya, mereka berpelukan sebagai dua orang adik beradik di depan suami Reno. Sutan Pilihan, suami Reno, menatap perpisahan itu dengan hati yang amat hiba. Dia ingin si Bungsu tetap berada di antara mereka. Budi dan keihlasan anak muda itu amat mengikat hatinya.
—o0o—

Saat itu pergolakan sedang berada di puncaknya. Pagi itu Jam Gadang di pusat kota berdentang lemah delapan kali. Matahari sudah sejak tadi terbit. Namun meski telah sesiang itu, tak seorangpun penduduk yang kelihatan berada di luar rumah. Kota itu seperti kota mati. Beberapa belas mayat berlumur darah kelihatan tergeletak di depan Jam Gadang. Jam itu seperti saksi bisu, menatap mayat-mayat di bawahnya.
Malam tadi PRRI menyerang APRI yang berkedudukan di kota. Kontak senjata tak terhindarkan. Sebagaimana jamaknya perang kota di mana-mana, dibahagian manapun di dunia ini, yang paling menderita bukanlah pihak yang berperang. Melainkan penduduk!
Itulah yang terjadi atas penduduk kota Bukittinggi. Rentetan tembakan yang terdengar malam tadi, masih bersambung sampai pagi. Hari itu adalah hari yang paling hitam dan paling berlumur darah bagi kota yang indah dan sejuk itu. Bahkan di zaman penjajahan Belanda dan di zaman fasis Jepangpun, maut tak pernah menyebar bencana sedahsyat seperti yang terjadi hari itu. Kota itu benar-benar sunyi. Bahkan suara burung-burungpun, yang biasanya terdengar riuh seperti nyanyian kanak-kanak yang gembira, pagi itu sepi.
Bau mesiu dan seringai maut, berbaur dengan anyirnya darah. Tercium di setiap pelosok kota. Sesekali masih terdengar suara tembakan. Sesekali kebisuan yang mencekam itu dirobek oleh derap sepatu berlarian, atau suara truk reot yang mengangkut mayat-mayat. Rumah Sakit makin siang makin dipenuhi oleh mayat yang berdatangan. Dari Tarok, dari Jalan Melati. Dari Simpang Aurkuning, dari Birugo, dari Mandiangin, dari Lambau, dari Atas ngarai.

Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian -381

Menjelang tengah hari, jumlah mayat tak lagi bisa dihitung, melebihi angka seratus. Menurut kalangan resmi, mayat-mayat itu adalah mayat anggota PRRI. Tapi banyak yang mengenali bahwa sebahagian besar dari mayat itu adalah mayat penduduk kota yang mungkin tak ada sangkut pautnya dengan pasukan PRRI yang menyerang malam tadi.
Di Simpang Aurkuning, di bahagian Timur kota, sepasukan OPR yang tengah berjaga tiba-tiba melihat seseorang berjalan dari arah Tigobaleh.
”Mata-mata…” bisik salah seorang.
”Kita tembak saja…” kata yang lain.
”Jangan, hari sudah siang…”
”Apa peduli kita. Siang atau tak siang…”
”Jangan. Penduduk pasti mengintai dari balik dinding rumah mereka..”
Suara berbisik mereka terhenti, ketika lelaki yang mereka lihat itu tiba-tiba berhenti dekat tiga atau empat mayat yang tengah menanti truk untuk diangkut. Lelaki itu berhenti karena dia dengar rintihan lemah. Ketika dia menoleh, salah satu di antara sosok tubuh yang dianggap telah jadi mayat itu kelihatan bergerak.
”Tolong saya, saya bukan PRRI…,” rintih orang yang berlumur darah itu lemah.
”Hei, kau kemari!” bentak OPR itu sambil mengokang bedil. Tapi lelaki itu tetap menunduk mengamati lelaki yang merintih tadi. Kemudian berkata.
”Orang ini masih hidup, Pak. Dia bukan PRRI…”

Kemudian dia mengulurkan tangan. Orang yang luka itu berusaha bangkit. Ketika tangan mereka hampir berpegangan, suara letusan bergema. Lelaki yang luka itu tercampak. Kepalanya pecah, mati! Orang yang menolong itu tertegun. Matanya menatap mayat yang sebentar ini masih bergerak. Terdengar suara OPR itu menghardik.
”Kemari kau, gerombolan!”
Perlahan lelaki itu menoleh.
”Orang ini bukan PRRI…” katanya lambat.
”Bicara kau sekali lagi, kutembak kepalamu!” bentak OPR itu garang.
Kemudian separuh berlari dia mendekati lelaki asing yang tak di kenal itu. Tapi langkah OPR itu tiba-tiba seperti terhenti. Lelaki asing itu menatapnya. Yang membuat OPR itu terhenti adalah tatapan mata lelaki tersebut. Tatapan matanya setajam pisau cukur. OPR itu jadi ragu-ragu. Bedilnya yang dikokang masih di tangannya. Dia menatap lelaki asing itu. Berbaju gunting cina berwarna putih. Bercelana pantolan dan sebuah tongkat kayu di tangan kirinya. Rambutnya agak panjang, tapi rapi. Usianya paling lewat sedikit dari tiga puluh. Seorang lelaki yang gagah tapi berwajah murung. Namun tatapan mata lelaki itu membuat jantung si OPR seperti berhenti berdetak. Tiba-tiba tedengar suara temannya berseru dari belakang.
”Hei, Kudun! Bawa orang itu kemari!”

Seruan itu mendatangkan semangat bagi si OPR. Dia maju beberapa langkah lagi. Di belakangnya dia dengar langkah dua tiga temannya mendekat.
”Kau anjing! Banyak bicara! Gerombolan busuk!” bentaknya sambil menghantamkan ujung bedilnya pada lelaki asing itu.
Aneh, lelaki itu sama sekali tak berusaha untuk mengelak. Dia tetap tegak dan menerima pukulan itu dengan diam. Suara berderak terdengar ketika ujung bedil dari besi padu itu menerpa keningnya. Keningnya robek. Darah mengalir membasahi mukanya. Membasahi baju gunting cinanya. Membasahi tongkat kayu di tangan kirinya!
“Ayo ikut kami!!” bentak OPR itu.
”Orang itu bukan PRRI…” lelaki itu masih bicara perlahan.
”Jangan kau coba membelanya. Dia kami tembak ketika berusaha melarikan diri pagi tadi. Dia membawa bedil!” suara OPR itu terdengar keras menjelaskan.
”Dia takkan pernah ikut berperang…” ujar lelaki itu perlahan.
Matanya menatap pada mayat yang tadi akan dia tolong, yang ditembak saat tangannya tengah menggapai. OPR yang tiga orang itu juga menatap pada mayat yang pecah kepalanya itu. Tiba-tiba mereka melihat sesuatu. Sesuatu yang memberikan alasan bagi lelaki asing itu untuk mengatakan bahwa yang baru mati itu bukan PRRI. Mayat itu ternyata buntung kaki kirinya.
Itu jelas terlihat dari kaki celananya yang diikat sampai di atas lutut! Lelaki itu cacat! Bagaimana mungkin seorang yang kakinya hanya sebalah bisa ikut menyerbu kota. Bisa melarikan diri dengan teman-temannya seperti yang dituduhkan OPR sebantar ini?
Ketika mereka menatap lelaki asing itu, jantung mereka merasa bergetar. Tatapan matanya yang tajam itu seperti akan menikam mereka. Namun ini adalah perang. Lelaki asing itu tak membawa bedil. Sementara mereka membawa bedil. Dan bedil membuat orang jadi berani. Bedil di tangan orang zalim pasti mendatangkan bencana. OPR yang tadi menembaki lelaki buntung itu mengokang bedilnya. Dialah yang tadi mengusulkan agar lelaki yang baru muncul itu ditembak saja. Kini dia berniat melaksanakan niatnya itu. Niat pertamanya menghantam kepala lelaki itu hingga berdarah sudah kesampaian. Kini niat berikutnya, menembaknya sampai mampus!

Dalam negara SOB begini, takkan ada yang bakal berani menuntut! Apalagi mereka OPR, sayap resmi tentara Pusat! Begitu bedil dia kokang, begitu loopnya dia arahkan ke dada lelaki itu. Namun entah setan darimana yang menyambar, sebelum pelatuk bedil panjang itu sempat dia tarik, OPR itu melihat tangan lelaki itu bergerak. Lalu pukulannya yang telak sekali menghajar wajahnya! Terdengar suara berderak. Gigi OPR itu rontok tiga buah! Dia tersurut. Teman-temannya yang lain ternganga kaget. Kejadian itu begitu cepatnya. Kembali lelaki asing itu bergerak. Kali ini kakinya. OPR yang menembak orang cacat itu merasa perutnya diseruduk kerbau. Tubuhnya terlipat dan tercampak sedepa ke belakang!

Kedua temannya masih menatap kaget. Belum pernah ada orang yang demikian berani mampus melawan OPR. Lelaki itu masih tegak. Kepalanya berlumur darah. Tangannya memegang tongkat. Matanya masih menatap tajam! Setelah hampir muntah, OPR yang tercampak kena tendang itu bangkit. Merasa malu dihajar di depan temannya, dia lalu kembali mengacungkan bedil. Saat itulah tongkat lelaki itu bergerak. Selarik sinar putih, yang alangkah cepatnya, kelihatan muncul membentuk setengah lingkaran. OPR itu tak sempat memekik. Dadanya belah dan dia rubuh dengan mata terheran-heran atas kejadian yang tak dia mengerti.
Darah menyembur-nyembur dari dadanya yang menganga. Teman-temannya yang tegak di dekatnya, tersembur oleh darah yang muncrat itu. OPR itu menggelepar seperti ayam disembelih.

Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian-382-383 klik disini


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: