Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian-375-376-377


Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian-375

basalauang

dendang perantauan

Pada lelaki tua…. peniup saluang dan pada tukang rebab. Akhirnya dia jadi tahu, orang-orang itu merasa kaget atas jumlah uang yang barusan dia letakkan ke depan perempuan itu. Dia juga menatap pada uang yang dia letakkan tadi.

Ya, uang itu ternyata terlalu banyak bagi ukuran orang-orang yang kini tengah mengelilingi tukang saluang itu. Uang rupiah yang masih baru benar. Jumlahnya itu yang membuat mereka kaget. Dengan uang itu ketiga tukang saluang itu, berempat bersama anak perempuan kecil itu, bisa hidup senang-senang selama satu bulan! Tiba-tiba pula, kini si Bungsu yang dibuat kaget tatkala menatap wajah perempuan tukang dendang itu. Perempuan itu kelihatan kurus. Namun siapapun yang melihatnya, pasti mengatakan perempuan itu cantik!

Tapi perempuan itu sendiri nampaknya tak mengenal lelaki yang memberi uang itu. Ada beberapa saat dipergunakan oleh si Bungsu untuk memastikan apakah perempuan itu memang perempuan yang dahulu dia kenal. Tatkala kepastian telah dia peroleh, masih dia perlukan beberapa saat lagi untuk menentramkan hatinya. Kemudian baru berkata perlahan.

”Nyanyikan dendang parantauan…”
Perempuan itu masih diam. Tukang saluang itu masih diam. Tukang rebab itu masih diam. Yang tak diam adalah pengunjung yang makin lama makin ramai. Mereka pada berbisik dan berdengung seperti lebah.
”Dendangkanlah…” kata si Bungsu perlahan.

Hatinya mulai tak sedap melihat situasi yang mencekam ini. Lelaki peniup saluang itu meletakkan bambu ujung saluang ke bibirnya. Kemudian terdengar suara saluangnya. Mula-mula agak sumbang. Lalu lancar. Lelaki penggesek rebab itu menegakkan rebab kecilnya. Lalu menggesek rebab mengikuti bunyi salung. Tak lama setelah itu, terdengar dendang si perempuan. Mendendangkan lagu tentang seorang yang menderita di kampung halamannya karena hidupnya yang melarat, tanpa harta, tanpa sanak famili yang mengacuhkan.

Kemudian dia pergi merantau. Di rantau, nasib malang ternyata masih mengikutinya. Terlunta-lunta, sampai akhirnya dengan perjuangan keras dia jadi orang kaya. Lalu pulang ke kampung. Di kampung, dimana berita tentang kesuksesannya telah tersebar, kepulangannya di sambut dengan meriah. Sanak familinya tiba-tiba saja jadi banyak. Bahkan dia tak mengenal beberapa orang yang hari itu mengaku jadi familinya. Namun karena dia baru pulang, dan membawa sedikit harta, maka dia menerima kunjungan sanak familinya dengan hati senang.

Dia memberi mereka oleh-oleh. Tak lama, hasil pencahariannya di rantau pun habis. Ketika tiba-tiba dia jatuh sakit, tak seorangpun diantara sanak familinya atau yang kemarin mengaku sebagai sanak familinya yang datang menjenguk. Dan akhirnya, dengan kekerasan hatinya saja, meski dalam keadaan sakit, dia kembali pergi merantau. Tuhan juga yang mentakdirkan dia kembali sukses di rantau. Namun dia telah bersumpah untuk tak kembali lagi ke kampung halamannya.

Syair lagu ”Dendang Parantauan” ini terdengar terlalu mengada-ada. Bombastic dan klise. Sesuatu yang banyak terdapat dalam film India. Tujuannya hanya satu, menguras air mata pendengar. Terutama kaum ibu. Namun demikian, lagu itu tetap populer. Biasanya para pengunjung yang datang mendengarkan lagu saluang itu juga ikut terharu. Dan tanpa setahu mereka yang tengah hanyut dalam emosi bersama dendang perantauan itu, ketika lagu itu berakhir, mereka tiba-tiba tak lagi melihat orang yang tadi meminta lagu itu. Peniup saluang itu berhenti. Demikian pula penggesek rebab.

Mereka mencari di antara orang-orang yang duduk bersila di depan mereka. Di antara orang-orang yang tegak berkerumun. Tapi lelaki muda yang tadi memberikan uang kertas baru itu tak kelihatan. Dia telah pergi entah kemana. Orang-orang lainpun tiba-tiba teringat lagi pada lelaki itu. Mereka saling pandang sesamanya. Berharap melihat lelaki itu di antara mereka. Namun si Bungsu memang telah pergi. Dia tak pergi jauh.

Tadi, ketika Dendang Perantauan itu tengah mendayu-dayu, di antara orang yang makin mendesak ke depan untuk mendengarkan dan melihat perempuan cantik tukang dendang itu, si Bungsu perlahan menggeser tegak ke belakang. Kini anak muda itu sebenarnya berada tak jauh dari tempat tukang saluang itu. Dia tegak di tempat yang samar-samar. Menjelang malam turun mereka usai. Orang-orang yang mendengarkan sudah pulang. Hanya tinggal dua tiga orang saja.

”Magrib akan turun, kita pulang…” kata lelaki yang menggesek rebab.
”Ya, sebaiknya kita cepat pulang…” ujar yang perempuan sambil membetulkan selimut anaknya.
Lelaki tua peniup saluang membungkus saluangnya dengan kain. Penggesek rebab itu juga membungkus rebabnya dengan kain baik-baik. Yang perempuan mengumpulkan uang yang di depannya. Tangannya terhenti lagi ketika memegang uang baru yang tadi diletakkan lelaki aneh yang meminta lagu ”Dendang Parantauan” itu. Tangannya terhenti tatkala mendengar sebuah suara menggeram.
”Uang itu uang palsu….”

Perempuan itu, suaminya yang menggesek rebab, dan lelaki tua peniup saluang tadi kaget dan menatap pada orang yang berkata tersebut. Yang berkata ternyata seorang lelaki bertubuh besar yang sejak tadi duduk di baris depan ketika melihat mereka bersalung.
”Ya. Uang itu palsu. Berikan pada saya…” katanya mengulurkan tangan.
Namun perempuan itu memegang uang tersebut erat-erat.
”Meskipun uang itu uang palsu, kami akan menyimpannya. Karena uang itu pemberian orang pada kami…” suami perempuan itu menjawab.

Terdengar tawa bernada tak sedap dari mulut lelaki besar itu. Dua temannya yang duduk di kiri kanannya juga tertawa bergumam.
”Engkau akan ditangkap dan dihukum masuk bui, buyung. Bukankah pada lembaran uang dituliskan, barangsiapa meniru, mengedarkan atau menyimpan uang palsu akan ditangkap dan dihukum? Nah, berikan saja uang itu pada saya. Saya intelijen…”

Lelaki besar itu tegak sehabis berkata demikian. Kedua temannya juga ikut tegak dan memang kiri kanan dengan tangan meraba pinggang. Ada tiga atau empat lelaki lagi di sana. Tadi mereka juga ikut tertarik mendengar uang itu uang palsu. Ada yang makin mendekatkan tegaknya. Namun begitu mendengar kata-kata ”tangkap” dan ”intelijen” dari mulut lelaki besar itu, mereka segera menjauh. Berlalu dari Los Galuang itu cepat-cepat. Seperti takut akan terbawa-bawa dan ditangkap.
Perempuan tukang dendang itu pucat. Dalam suasana bergolak sekarang ”intelijen” dan ”tangkap” merupakan dua kalimat yang teramat ditakuti. Namun lelaki tua peniup saluang itu tak yakin bahwa lelaki besar itu adalah benar-benar intelijen.

Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian-376
Dari tampangnya dan tampang kedua temannya yang tegak itu, tak sedikitpun menggambarkan mereka adalah alat negara. Paling-paling mereka hanya tukang peras. Mencatut nama intelijen untuk memeras orang lain.
”Saya harap sanak tak mengganggu kami. Kami akan pulang…” ujar lelaki itu perlahan.
Si perempuan memangku anaknya. Memasukkan uang ke sela kutangnya. Mereka lalu tegak. Bersiap untuk segera meninggalkan tempat itu,”Serahkan uang itu pada saya!!” lelaki besar itu membentak.

Namun ketiga orang tukang saluang itu tak mau melayani ucapannya. Mereka berjalan menyamping. Pergi ke arah lain. Kedua orang teman si tinggi besar mencegat mereka. Di tangan mereka tergenggam pisau belati. Namun kedua lelaki pemain saluang itu bukan pula lelaki yang tak berisi. Mereka segera mempertahankan diri. Yang muda menghantam pergelangan tangan lelaki yang di dekatnya dengan sebuah tendangan. Tangan lelaki itu berhasil dia tendang dengan cueknya. Namun tendangannya tak cukup kuat untuk melemparkan pisau lelaki itu dari pegangan lelaki tersebut.

Mereka berdua terlibat dalam perkelahian terbuka. Peniup saluang yang tua itu juga mempertahankan diri dengan menendang ke arah kerampang orang yang mengancamnya dengan pisau. Lelaki berpisau itu terpekik dan mundur. Namun dia maju lagi. Saat itu tiba-tiba lampu togok yang masih menyala dan terletak di lantai padam ditiup orang. Cahaya matahari senja tak cukup masuk menerobos ke dalam los itu. Menyebabkan los itu mulai agak gelap. Hanya beberapa saat setelah lampu itu padam, perempuan pedendang itu terdengar memekik. Terdengar suara seperti orang bergumul.

Suaminya terdengar memanggil-manggil. Perempuan itu seperti disekap mulutnya. Kemudian terdengar suara ada yang jatuh. Lalu suara anak menangis. Perempuan itu memburu anaknya yang jatuh dan menangis. Lelaki tua peniup saluang kelihatan tersandar dengan bahu luka. Sementara lelaki penggesek rebab tertegak diam. Lelaki bertubuh besar itu juga tertegak. Mereka semua menatap ke arah pelita. Dekat pelita itu jongkok seorang lelaki. Kelompok saluang itu segera mengenali lelaki itu sebagai orang yang tadi memberikan uang yang kini jadi rebutan itu. Lelaki itu bangkit dan menatap pada lelaki tinggi besar itu.

”Kenapa engkau mengganggu mereka?” suaranya terdengar perlahan.
Lelaki besar itu tersenyum. Senyumnya lebih tepat disebut seringai.
”Engkau mengedarkan uang palsu, buyung. Saya akan menangkapmu…” katanya menggertak.
”Tuan dari instansi mana…”
”Saya intelijen…”
”Intelijen darimana…”
”Jangan banyak tanya kau! Di sini orang banyak yang tanya banyak pula celakanya.”
”Intelijen tak biasanya menyombongkan diri. Tak pula mau menganiaya rakyat kecil. Kalau tuan benar seorang intelijen, maka tuan adalah intelijen keparat…”

”Ee..bacirik muncuang ang mah! Iko nan kalamak dek waaang!” ujar si tinggi besar menggeram, seraya menendang menggebu-gebu.
Lelaki itu, yang tak lain dari si Bungsu, tak berniat melayani orang ini. Dia baru tiba di kampungnya. Tidak pada tempatnya harus berkelahi di hari pertama dia menjejakkan kakinya di kampungnya ini. Dia hanya mengelak.
”Kalau tuan bisa memperlihatkan tanda pengenal bahwa tuan memang seorang intelijen, dan kalau benar uang itu palsu, saya akan serahkan uang itu beberapa lembar lagi,….” ujar si Bungsu sambil tegak beberapa depa dari lelaki yang mengaku intelijen itu.

”Saya akan memperlihatkan padamu tanda pengenal yang asli, buyung…”
Sehabis berkata, dia memberi isyarat pada kedua temannya. Kedua temannya yang masih memegang pisau segera mengepung si Bungsu. Lelaki tinggi besar itu sendiri mencabut pula pisau dari pinggangnya. Mereka mengepung makin ketat. Si Bungsu mundur. Sampai akhirnya punggungnya tersandar ke dinding Los Galuang itu.

”Nah, serahkan semua uangmu, buyung. Atau kau tak sempat lagi bernafas…” ujar lelaki besar itu mengancam, sambil memainkan pisaunya di hadapan hidung si Bungsu.
”Intelijen biasanya memakai pistol. Tak memakai pisau belati seperti tuan. Yang memakai belati hanya tukang bantai atau kaum penyamun…” ujar si Bungsu tenang.
Muka ketiga orang itu jadi merah padam kena sindir.

Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian-377

“Tak peduli apa pekerjaan kami.Yang jelas serahkan uangmu..!”
“Hm,akhirnya terbukti bahwa kalian hanya igin merampok,bukan?”
Lelaki besar itu jadi berang.Dia memberi isyarat dan kedua anak buahnya segera maju.Namun kaki si Bungsu bergerak cepat sekali.Lelaki didepannya menyangka bahwa si Bungsu akan menendang tangannya,maka dia menghadapkan mata pisaunya kebawah.Berharap kaki si Bungsu akan menendag ujung pisau yang runcing itu.

Namun dia salah kira,si Bungsu ternyata menendang tempurung lututnya.Demikian dan telaknya tendangan itu,kaki lelaki itu lemas dan tempurungnya bergeser!tegaknya jadi goyah.Tapi dia coba untuk melangkah,namun kakinya terlalu sakit.
Dia jatuh berlutut dengan mengeluh,jatuhnya kedepan.Hingga kepalanya sangat dekat dengan kaki si Bungsu.Kalau saja si Bungsu mau,dengan mudah dia bisa menendang pelipis lelaki itu.

Namun dia tak berniat menjatuhkan tangan jahat.Lelaki yang satu lagi,yang menyerang dia dari sebelah kanannya segera dinanti dengan sebuah tinju.Tinju itu mendarat di hidungnya,lelaki itu terdongak.Untuk sesaat seperti ada sejuta kunang-kunang dimatanya.Sebelum dia sadar sepenuhnya apa yang terjadi,sebuah tendangan mendarat diperutnya.Tubuhnya berlipat dan jatuh menerpa lelaki besar yang tadi memberikan komando!Dalam gebrakan yang pendek kedua lelaki itu dilumpuhkan.

“Oooo..pandeka waang rupanya,ya?Hmm..Boleh,boleh!Mari saya beri waang pelajaran.Waang akan selalu ingat pelajaran dari Datuak Hitam….”
Tangan kirinya mencabut sebuah belati yang sebuah lagi.Kini tangan kiri dan kanan Datuk Hitam memegang belati berkilat.Lelaki tua peniup saluang dan suami pedendang itu jadi kaget mendengar lelaki besar itu menyebut namanya,Datuak Hitam!Siapa yang tak kenal dengan nama itu?seorang begal berhati kejam.Seorang kepala rampok dan kepala copet yang baru pulang dari Betawi.Kini di Minangkabau dia mengepalai puluhan pencopet dan perampok. Markasnya tak diketahui dengan pasti.Entah di Padang atau Bukititnggi,entah diPadang Panjang.Namun dalam aksi-aksi pencopetan.perampokan,baik ditoko atau rumah penduduk bahkan pembunuhan,selalu dikaitkan dengan namanya!

Dia memang terkenal amat Bagak,amat kejam dan amat pendekar.Kabarnya dia di Betawi membuka sasaran silat.Di Betawi sana dia juga mengepalai puluhan garong,Datuk Hitam siapa yang tak kenal namanya?Mendengar namanya saja sudah bisa membuat orang terkencing-kencing.

Kini,datuk yang terkenal itu berdiri dihadapan si Bungsu memegang dua bilah belati.Sebuah serangan dilakukannya dan si Bungsu menunduk,namaun Datu itu seperti bisa membaca gerakannya.Begitu menunduk sebuah tendangan menanti.Hampir saja dagu si Bungsu hancur kena tendangan kakinya yang besar.
Masih untung anak muda itu bisa mengelak cepat dengan menjatuhkan dirinya ke kanan.Dia berguling dilantai los galuang itu.Namun Datuk itu memburunya dengan injakan-injakan yang kuat,membuat si Bungsu menggelindingkan badannya jauh-jauh.
“Hm..Boleh juga…”ujar si datuk memuji.

Anak muda itu bergulingan dilantai dengan cepat.itu membuat nya kagum.Kini mereka telah regak berhadapan lagi.Si datuk menyerang dengan ayunan tangan kanan nya.Si Bungsu mundur,si datuk menyepak,si bungsu mundur lagi,dan akhirnya dia terpepet kedinding.
“Nah,bergerak kemana lagi kau buyung,serahkan saja uang mu.he..he…”ujar datuk itu.

Si Bungsu tersenyum melihat si datuk memainkan belatinya dengan bersilang di depannya.Bagaimana dia harus menghajar lelaki ini?Dia tak ingin membunuh.Bukankah dia telah kembali berada di Minangkabau.Kenapa dia harus membunuh orang kampungnya sendiri?Terasa tak sedap dihati,namun si datuk itu makin mendesaknya.
“Hmm,tak mau?Baiklah.Saya akan ambil uangmu setalah perutmu terbusai…”

Sehabis berkata begitu kedua pisaunya secapat kilat menghujam.Si Bungsu menjatuhkan dirinya selurus dinding.Begitu kakinya mencecah lantai,kaki kananya terangkat.Menghantam kerampang datuk itu dengan telak.Tubuh datuk itu terangkat dari lantai sejari.kemudian dengan mata mendelik jatuh terlutut kelantai.

Onde,maaak.onde-onde den waang gili.eh waang sipak.Aduh maak...!”
Datuk itu merintih-rintih,kedua pisaunya lepas,kini tangan nya memegang onde-onde yang dia sebutkan itu.Yang sakitnya bukan main,yang mencucuk ke ulu hati.Menghentak ke benak kecil.Dalam keadaan begitulah dia ditinggalkan oleh si Bungsu dan rombongan tukang saluang.Luka peniup salung itu tak begitu parah.

Mereka menuruni janjang ampek puluah,tak jauh dari los galuang itu.Tak jauh dari janjang ampek puluah itu mereka memasuki rumah yang berdinding tadia,dinding bambu yang dianyam.Dan beratap seng yang sudah merah dimakan usia.
“Masuklah,disinilah kami menompang tinggal…”ujar lelaki penggesek rebab itu.

Perempuan tukang dendang itu bergegas masuk,menyiapkan air hangat dan kopi.Kemudian mereka duduk minum kopi.Perempuan itu juga menyertai ketiga lelaki itu minum kopi.Dua orang anak-anak tidur beralaskan tikar pandan kasar berselimut selimut lusuh.

“Itu anak kami..”ujar si penggesek rebab.
Beberapa kali dia melirik istri penggesek rebab itu.
“Maafkan saya.Saya rasanya kenal dengan istri sanak…”ujarnya sambil menatap pada istri tukang rebab itu.
Perempuan yang ditatap itu heran.Dia mengangkat kepala.Menatap pada lelaki yang didepannya itu.Menatap lama-lama,tapi dia tetap tak mengenalnya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: