Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian – 373


Dalam Kecamuk Perang Saudara -bagian – 373

Sebab meskipun…… ke masjid ini yang datang bersembahyang adalah pedagang dan musafir yang singgah, tapi gadis itu mengenal mereka. Dia tahu cara dan lagaknya. Beberapa kali gadis itu menoleh. Murid-muridnya pada berbisik melihat ibu guru mereka beberapa kali mencuri pandang pada lelaki yang bersandar itu. Si Bungsu sama sekali tak mengetahui, bahwa ada murid mengaji yang mencuri pandang dan berbisik tentang dirinya. Si Bungsu juga tak tahu, bahwa guru mengaji anak-anak itu juga mencuri pandang padanya.

Dia tak mengetahui semuanya itu, sebab yang ada di masjid itu hanyalah tubuhnya. Sementara fikirannya tengah menikam jejak masa lalunya di kampung sana. Dia seperti melihat dirinya hadir dalam kelompok anak-anak mengaji itu. Ketika kanak-kanak itu pulang, beberapa lelaki masuk ke masjid tersebut. Guru mengaji itu masih duduk di tempatnya tadi. Hanya kini ada tiga orang wanita tua di dekatnya. Guru mengaji itu melirik ke arahnya persis di saat dia juga memandang pada gadis itu. Gadis itu menunduk dengan wajah bersemu merah.

Beberapa orang gadis kelihatan membuka Alquran. Mereka mengaji. Si Bungsu masih tetap duduk dan kembali bersandar ke dinding. Dulu dia juga pernah mengaji Alquran. Hanya tak sampai khatam. Tak pernah sampai tamat. Ketika rombongan sesama mengajinya berbaris berarak diiringi gendang dan rebana, berpakaian indah-indah keliling kampung dalam acara Khatam Quran, dia berada di bekas surau tempat masa kanak-kanaknya mengaji dulu. Surau itu telah ditinggal. Majid sudah pindah ke tengah kampung, di sanalah dia selalu berjudi.

Ya, ketika teman-temannya Khatam Quran, dia berjudi. Kadang-kadang siang, kadang-kadang malam. Dan selalu menang. Dia termenung dalam mesjid itu. Dia tak tahu bahwa gadis yang guru mengaji tadi, beberapa kali melirik padanya. Dia juga tak tahu, bahwa beberapa di antara gadis-gadis yang mengaji itu ikut melirik.
”Nampaknya dia orang baru…”
Salah seorang guru mengaji itu berbisik pada teman di sebelahnya.
”Baru darimana?” bisik temannya yang lain.
”Entahlah. Tapi yang jelas dia orang baru datang…”
”Tadi katamu dia sudah lama duduk di sana. Sudah sejak engkau mengajar surat Ama…”
”Ya, tadi dia duduk dekat tiang itu…”
Bisik-bisik mereka terputus ketika guru mengaji melecutkan rotan sebesar ibu jari dan panjangnya setengah meter, ke lantai.
”Simakkan kaji…! Simakkan kaji! Jangan bergunjing ketika temanmu membaca kaji!!” suara rotannya menimbulkan suara yang pedih menerpa lantai.

Kedua gadis yang berbisik-bisik itu cepat menunjuk ke Alquran. Seperti menyimak kaji yang tengah dibaca salah seorang teman mereka.
”Halaman berapa kini Emy?” guru mengaji itu bertanya.
”Halaman seratus dua belas, Engku…” ujar gadis cantik yang guru mengaji yang ditanya itu.
”Halaman berapa kini Siti?”
”Halaman seratus dua belas, Engku…” jawab temannya yang tadi berbisik dengannya.
”Hmm… Besok kalian harus menyalin seluruh ayat di halaman seratus dua belas itu seluruhnya. Bawa ketika mengaji besok. Halaman berapa yang tengah kau baca itu Rohani?”
”Halaman seratus dua puluh, Engku…” jawab gadis yang tengah membaca Alquran itu.
”Nah, kau dengar Emy, Siti? Sudah halaman seratus dua puluh…”

Muka kedua gadis itu merah seperti udang dibakar. Untung hari malam. Sehingga merah muka mereka tak kentara. Mereka menunduk dalam-dalam. Kemudian membalik halaman Alquran di hadapan mereka beberapa lembar. Sehingga akhirnya bertemu halaman yang tengah dibaca oleh teman mereka itu. Gadis cantik guru mengaji anak-anak itu, bersama teman-temannya yang lain, sudah beberapa kali Khatam Quran.

Artinya, mereka telah lebih dari dua atau tiga kali menamatkan Quran. Mereka masih tetap datang mengaji kemari karena demikianlah tradisi di kampung mereka ini. Khatam yang pertama biasanya ketika usia masih muda, hanya sekedar menghafal saja. Makin dewasa, pengajian dilanjutkan dengan mempelajari makna serta tajuid atau yang lainnya. Tiba-tiba temannya memberi isyarat. Gadis cantik guru mengaji kanak-kanak itu tak berani mengangkat kepala. Dia malu kalau dimarahi lagi oleh gurunya.
”Dia telah pergi….” bisik temannya yang memberi isyarat itu.

Mendengar itu barulah gadis itu mengangkat kepala. Menoleh ke anak muda yang sejak tadi duduk bersandar itu. Anak muda itu telah lenyap dari sana. Dia menunduk lagi. Tapi hatinya entah kenapa tiba-tiba saja jadi resah. Lelaki itu telah pergi. Aneh, dia tak penah mengenal lelaki itu. Bahkan baru kali ini dia melihat wajahnya. Tapi karena wajahnya yang murung dan matanya yang sayu amat meninggalkan kesan di hatinya.

Ketika pulang dari mesjid, dia coba melirik ke kiri dan ke kanan. Berharap anak muda itu ada di pinggir jalan yang dilalui. Namun si Bungsu memang tak terlihat puncak hidungnya. Gadis itu pulang ke rumahnya, di sebuah toko bertingkat dua di daerah pasar atas itu. Di bahagian bawah tempat ibu dan ayahnya berdagang emas. Di bahagian atas adalah rumah tempat tinggal mereka.
Sekeluarnya dari masjid itu si Bungsu menuju ke pasar. Dia menuju Los Galuang, sebuah bangunan beratap setengah bundar, disana biasanya tempat orang berjualan tembakau atau selimut.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: