tikam samurai – bagian -76-77


Bungsu . . .”
Datuk Penghululah yang berteriak itu. Datuk itu sendiri merasa ngeri dan merasa bahwa perbuatan si Bungsu itu sudah melampaui batas. Si Bungsu tertegak diam. Dia segera menyadari kebuasannya sebentar ini. cepat sekali samurainya sudah masuk ke sarungnya. Dia menatap pada belasan Serdadu Jepang yang tegak terpaku dekat truk. Dan semua mereka pada merinding ketakutan ditatap anak muda itu. Kemudian dia berbalik menatap pada mayor tadi. Mayor itu tersurut. Dia seperti melihat malaikat maut. Kecepatan dan kehebatan anak muda itu mempergunakan samurainya hampir-hampir tak masuk akalnya.
“Nah, sekarang terserah pada Datuk apa langkah selanjutnya. . .”
Akhirnya si Bungsu berkata pada Datuk Penghulu. Datuk itu menatap pada teman-temannya. Nampaknya mereka sudah punya rencana. Semua tentara Jepang itu mereka giring ke sebuah tebat. Dan setelah disuruh telanjang bulat, mereka disuruh masuk ke dalam tebat yang banyak taik itu.
“Tetap saja berendam di dalam tabek itu, mayor. Jika ada yang keluar, akan kami bunuh….” kata Datuk Penghulu.
Dan mayor itu bersama belasan anak buahnya terpaksa tegak diam dalam tebat tersebut. Berendam dalam air setinggi leher dalam keadaan bugil. oo, tak pernah mereka dipermalukan begini. Tidak pernah, seumur hidup mereka Dengan cepat Datuk Penghulu dan teman-temannya mengumpulkan semua senjata. Melemparkannya ke atas jip milik Kempetai yang sudah mereka rampas.
Kemudian mereka naik. Sebelum berangkat mereka terlebih dahulu merusak truk di dekat itu agar tak bisa digunakan memburu mereka. Lalu Datuk Putih Nan Sati menjalankan jip itu kearah Padang Luar melarikan diri. Tak seorang pun yang tahu ke mana arah mereka. Begitu terdengar mesin jip dihidupkan, mayor tadi melompat naik ke atas. Tapi ketika lanciriknya yang tak bertutup itu sudah ada di tebing tebat, sementara betis ke bawah masih di dalam air, seorang anak buahnya yang masih di tebat berkata:
“Awas, Yor. Anak muda bersamurai itu mungkin masih ada di atas”
Mayor itu tertegun. Kemudian cepat tubuhnya meluncur kembali ke dalam tebat. Ya, kalau kepadanya diingatkan bahwa yang masih ada di sekitar tebat itu awas, beberapa orang berbedil masih mengawasi, barangkali mayor itu takkan merasa gentar. Ia akan tetap naik, berpakaian dan kembali kemaerkas untuk menyusun pembalasan. Tapi karena peringatan itu berbunyi anak muda bersamurai itu mungkin masih ada di atas, maka gacarnya timbul. Saking gacarnya, dia tak dapat menahan kentutnya. Berantai dan kuat seperti bunyi mercon pula tu. Prep..prep..thoot…Thootthoot..pohh..pooh..!!
Dua bunyi poh.. yang terakhir terpancar ketika pantatnya sudah masuk ke air tebat. Hal itu menyebabkan air tebat tentang pantatnya seperti menggelegak sesaat, karena ada beberapa gelembung udara memecah ke atas. Belasan anak buahnya yang masih kedinginan dalam tebat busuk itu tiba-tiba terbagi menjadi tiga kelompok. sebagian tetap diam karena amat kedinginan- Sebagian juga kedinginan, tapi tak berani tertawa. Mereka hanya nyengir. Tapi sebagian lagi, kendati tebat itu dingin dan busu, tak dapat menahan rasa gelinya. Suara kentut si mayor akibat ketakutan itu benar-benar menjadi hiburan langka, karenanya merekapun tertawa “Huhu.. hihi..hehe..”
Mayor ini benar-benar merasa gacar. Dan tak seorang pun diantara mereka yang berani cepat-cepat naik ke darat. Seperti terbayang di mata, betapa kalau mereka naik, tiba-tiba saja anak muda bersamurai itu muncul. Lalu menebas batang leher mereka seperti menebas leher Atto tadi.
Hiii…!
Tapi setelah hari agak senja, karena tak tahan dingin akhirnya mayor itu merangkak juga ke atas. Apalagi bau tebat yang busuk karena tai manusia itu membuat beberapa dari mereka sudah mutah kayak. Bahagian bawah tubuh mereka juga jadi geli karena disundul-sundul ikan emas.
Setelah merangkak ke atas si mayor bergegas berpakaian dan berteriak memanggil prajuritnya yang masih di dalam tebat untuk naik semua. Tatkala semua sudah naik dan berbaris mengikuti perintahnya, yang tadi berteriak menakut-nakutinya dengan mengatakan mungkin si Bungsu masih ada, yang menyebabkan kentutnya terpancar saat dia kembali melosoh ke dalam tebat, dia perintahkan tegak ke depan. Lalu dengan sepenuh berang dia tampar prajurit bego itu.
“Bagerooo Waang takut-takuti saya yaa”
Puak. . . .puak. . . .plak. . plak.!
Muka prajurit itu lapuak-lapuak di lampang si mayor yang mukanya sudah membiru kedinginan itu. Tidak hanya yang satu itu, semua dapat bagian tempelengnya, sebab hampir semua tertawa ketika kentutnya tabosek tadi. Si prajurit hanya tegak dengan sikap sempurna.
Untunglah tak lama setelah mereka kena tempeleng, sebuah jeep dan sebuah truk datang. Seorang Tai-I (Kapten) turun. Dia memberi hormat. Namun segera terheran-heran melihat pasukan yang ada di depannya basah kuyup,
“Jangan melongo” saja Mayor itu membentak. Si Kapten segera sadar.
“Saya diperintahkan untuk mencari pak Mayor. Sejak siang tadi dinanti di markas besar. Kami kira mendapat kesulitan. . .”
“Tak ada kira-kira. Kau pikir kami sedang lomba renang di sini?” Mayor itu membentak lagi sambil bergegas naik ke atas jeep. Pasukan yang lain melompat keatas truk. Dan kendaraan itu bergerak menuju ke Panorama. Malam itu juga dikerahkan tak benar dua kurang dari seratus tentara Jepang untuk mencari jejak pejuang-pejuang tersebut. Dan benar juga dugaan penduduk Birugo Puhun. Semua rumah digeledah sepanjang malam itu. Hampir seribu penduduk diinterogasi.
Tikam Samurai (Bagian 77)
Beberapa orang ditangkap. Jepang tak peduli, bahwa rumah yang dipergunakan untuk rapat itu sebenarnya rumah yang sudah lama tak berpenghuni. Pemiliknya sudah pindah ke Bandung sejak lima tahun yang lalu. Jepang tak perduli itu. Yang jelas perusuh-perusuh itu rapat di wilayah Birugo Puhun. Tentu penduduk kampung itu merestui pertemuan itu. Maka penghuni lima buah rumah yang berdekatan dengan rumah tempat rapat itu ditangkap.
Diinterogasi di markas besar. Begitu selalu nasib penduduk sipil. Namun bagi penduduk. nasib demikian nampaknya sudah mereka terima dengan tabah. Keganasan suatu rezim justru menimbulkan kebencian pada rezim itu. Tak ada yang bisa dicapai dengan kekerasan. Penduduk justru makin mengharapkan agar pejuang-pejuang itu makin kuat.
Meski dari luar mereka terlihat pasrah menerima nasib atas perlakuan rezim yang menjajah negeri mereka. Sebab, apakah lagi yang bisa mereka perbuat, jika kepada mereka yamg lemah ditodongkan ujung sangkur dan moncong bedil. Apalagi bisa diperbuat selain dari pasrah. Namun, dari dalam tahanan para penduduk tetap berdoa semoga perang segera meletus. Mereka berdoa dan berharap. agar kemerdekaan segera tercipta bagi negara mereka.
Siang itu si Bungsu sedang berada di rumah seorang tabib, untuk mengobati luka di bahunya akibat perkelahian dengan Syo-I Atto di Birugo tempo hari. Saat menunggu tabib meramu obat itulah tiba-tiba saja rumah itu telah dikepung oleh dua puluh tentara Jepang. Dia sudah dianggap demikian berbahayanya. Sehingga Jepang mengerahkan hampir seluruh intelejennya yang ada di Sumatera Barat untuk mencium jejak pelariannya.
Tiga hari sebelumnya, mata-mata mereka mengetahui bahwa si Bungsu bersembunyi di sebuah rumah di kaki gunung Merapi. Diketahui pula bahwa lukanya akan diobati di rumah seorang tabib obat di Koto Baru. Begitulah, saat dia tengah menanti obat diramu, satuan-satuan tentara Jepang yang telah disiapkan segera mengepung tempat tersebut. Dan yang memimpin penangkapan itu tak lain adalah Mayor yang dia suruh berendam ke dalam tebat dalam keadaan telanjang di Birugo dulu. Si Mayor yang telah tegak di depan rumah tabib tersebut terdengar berseru:
“Bungsu, keluarlah. Rumah ini telah dikepung. Kalau kalian tak keluar dalam lima hitungan, rumah ini akan saya ledakkan dengan dinamit”
Dia seperti mengulangi lagi kalimat berbentuk ancaman yang dia ucapkan saat dia dan pasukannya mengepung rumah tempat para pejuang rapat di Birugo Puhun, sepekan yang lalu. Kali ini kemujuran serta nasib baik nampaknya tidak berpihak pada si Bungsu. Luka di dadanya mengalami infeksi. Ramuan obat yang dia ramu saat di Gunung Sago dan selalu dia bawa kemanapun pergi, telah habis.
Ketika dia ingin kembali meramu obat-obatan itu, dia terbentur pada ketiadaan beberapa jenis tumbuhan untuk bahan pembuatnya. Ada empat macam jenis akar, kulit, daun dan bunga kayu yang mengandung bisa dan tiga jenis rerumputan menjalar yang bergetah yang dia pakai sebagai ramuan. Di kaki gunung Merapi, dimana dia bersembunyi, tak semua jenis kayu dan rerumputan itu dia peroleh. Kendati sudah empat lima orang mencarinya selama beberapa hari. Karena lukanya semakin berinfeksi, akhirnya dia menurut ketika disarankan berobat ke seorang tabib di Koto Baru.
Mereka sebelumnya memang telah khawatir bahwa akan diketahui intelijen Jepang. Kini kekhawatiran itu terbukti. Datuk Penghulu yang selalui berada bersama si Bungsu tertegun. Dia menatap pada si tabib. Si Bungsu perlahan duduk dari pembaringannya. Tubuhnya amat lemah, wajahnya pucat karen sudah dua hari demam dengan panas amat tinggi. Di luar sana terdengan suara si mayor mulai menghitung. Tabib yang ditatap Datuk Penghulu itu sendiri jadi pucat.
“Saya tidak mengkhianati tuan-tuan. Demi Allah, saya tidak mengkhianati tuan-tuan” ujar tabib itu. Datuk Penghulu masih menatapnya. Demikian pula si Bungsu.
“Tidak. Kami tahu bapak tidak mengkhianati kami. Mereka memang telah menyebar ratusan intelejen. . .jangan takut ….” si Bungsu berkata sambil melangkah turun.
Bersama Datuk Penghulu dia membuka pintu tatkala hitungan mencapai empat. Semua tentara Jepang yang mengepung rumah itu mengacungkan bedil mereka. Mayor itu sendiri tegak dengan pistol di tangan. Nampaknya dia tak mau menanggung resiko. Pengalaman di Birugo Puhun dulu menyebabkan dia amat berhati-hati.
“Lemparkan samuraimu Bungsu. Lemparkan ke tanah. Kemudian kalian berdua berjalan kemari dengan tangan ke atas dan bergerak mundur. cepat. . . .”
bersambung,Tikam Samurai (Bagian 78)…..!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: