tikam samurai – bagian-62-63


Ketika balatentara Jepang memeriksa seluruh isi kota, kedua orang itu naik ke loteng surau itu. Di atas loteng itu pula Mei-Mei terbaring. Loteng surau itu cukup lebar untuk menampung enam orang dewasa. Jalan naik dan turunnya dari belakang. Yaitu dari arah kuburan. Di balik tanah perkuburan kecil itu terdapat hutan bambu. Dan di hutan bambu itu sejak tadi puluhan tentara Jepang telah mondar-mandir bersama anjing pelacaknya.
Kedua mereka mendengarkan pencarian itu dengan tegang dari atas pagu di surau itu. Si Bungsu tiba-tiba mendengar suara Mei-mei memanggil. Gadis itu dibaringkan di atas sehelai tikar dan diselimuti dengan kain panjang. Dia telah diberi obat-obatan yang dibuat oleh si Bungsu.
“Uda. . . .”
“Mei-mei. . . ,” si Bungsu mendekat dan memegang tangan gadis itu dengan lembut.
“Uda. . .”
“Ya sayang. . .”
“Mana Bapak. . .?”
Si Bungsu menoleh pada Datuk Penghulu, kemudian mengangguk perlahan. Datuk itu mendekati mereka.
“Saya disini nak. . .”
“Pak, . . . maafkan saya. Saya tidak bisa membantu ibu dan Upik. . .”
“Tenanglah nak. Jangan menyesali dirimu. Memang janjian mereka sudah begitu…”
“Tapi. . . harusnya saya bisa membantu mereka.”
“Jangan dipikirkan juga nak. . .”,
Mei-mei menangis.
“Terima kasih atas budi bapak selama ini. Menompangkan diri saya, mengajarkan saya silat. Memberikan saya kasih sayang, seperti bapak menyayangi si Upik. Kasih sayang yang tak pernah saya terima dari ibu bapak saya. . .”
“Tenanglah nak. . .jangan itu dipikirkan . .”
“Saya memikirkannya karena saya orang cina. Selama ini orang cina selalu disisihkan oleh orang Melayu.”
“Mei-mei, jangan begitu sayang. . .” si Bungsu berkata perlahan.
Mei-mei memegang tangan si Bungsu.
“Uda. . . benarkah uda mencintai saya. . . .?”
“Kenapa tidak. Saya seorang lelaki, dan saya tak pernah berbohong dengan ucapan saya.”
“Uda, tidak menyesal dengan keputusan uda ?”
“Uda, saya tak kuat lagi. Maut sudah menjangkaukan tangannya pada saya. . .”
“Mei-mei, tenanglah…” tapi meskipun dia berkata begitu, si Bungsu merasakan bulu tengkuknya tetap saja merinding mendengar kata-kata gadis itu.
“Dengarlah uda. Dengarlah. . .jangan dipotong dulu bicara saya.” Gadis itu berhenti. Nampaknya seperti mengumpulkan sisa tenaganya.
Si Bungsu jadi gugup, Dia menoleh pada Datuk Penghulu, kemudian berbisik. Datuk Penghulu bergegas turun dari loteng surau itu. Kini mereka tinggal berdua.
“Uda. . . masih ingat Kempetai Atto, yang menistai diriku. . . ?”
“Saya akan selalu mengingatnya Mei-mei Saya akan mencarinya. Akan saya cencang tubuhnya. . . akan saya . . . ,”
Mei-mei menggeleng. Ia memegang tangan si Bungsu.
Menariknya. si Bungsu menunduk. Mendekatkan wajahnya pada wajah Mei-mei.
“Tidak Uda, tidak Itulah yang sangat saya takutkan. Jika engkau mencarinya, berarti engkau mencari bahaya. Seperti hari ini. Kalian diancam bahaya. Lupakanlah dendammu itu. Lupakanlah apa yang dia perbuat pada diriku. Saya tak ingin Uda terancam bahaya. Apa yang telah terjadi pada diriku tak lagi bisa diperbaiki. saya tak ing in Uda terancam bahaya.
Kematian Atto takkan mencuci noda yang kuterima. Jangan engkau cari dia Uda. Jangan engkau libatkan dirimu dalam bahaya. . .jangan . . saya tak mau Uda binasa. . ., U.. uda. . .”
“Mei-mei . . .”
Tikam Samurai (Bagian 63)
Saat itu Datuk Penghulu naik lagi dia bersama dengan seorang imam yang ditemuinya surau ketika akan sembahyang Ashar. Mereka mendekat kepada kedua anak muda itu. Mata Mei-mei terpejam.
“Mei-mei. …. .dengarlah. Ini pak Imam. Kita akan menikah disini. . .”
Si Bungsu berkata perlahan ke telinga gadis itu. Mei-mei tersenyum sebelum matanya terbuka. Senyumnya senyum lelah. Senyumnya senyum yang amat letih dan kalah. Dimatanya tergenang manik-manik air yang lambat-lambat meleleh turun.
“Benarkah . . .benarkah Uda mau mengambil saya jadi istri? Setulus hati menikahi anak cina yang sepanjang hidupnya dilumuri dosa ini? Benarkah uda. . . .?”
“Demi Allah yang kusembah, aku mencintaimu sayang. . . .”
“Uda . .. saya bahagia. . .engkau menjadi suamiku. Aku mengabdikan diriku menjadi istrimu. . .”
Mata gadis itu terpejam. Si Bungsu menoleh pada Imam dan Datuk Penghulu, kemudian mengangguk. Imam itu mengingsutkan duduknya.
“Jawab pertanyaan saya ini anak muda. Apakah engkau bersedia menerima Mei-mei menjadi istrimu, menjaga dan membelanya dalam sakit dan senang. Akan membahagiakannya dan tidak akan berbuat aniaya padanya. . . .?”
“Saya menerimanya dengan setulus hati saya.” Jawab si Bungsu.
Imam itu menoleh Mei-mei. Kemudian berkata :
“Apakah engkau bersedia menerima pemuda ini menjadi suamimu dan berjanji akan mengabdikan dirimu padanya, dalam sakit dan senang dan akan tabah menerima setiap cobaan?” Gadis itu tak menjawab. Matanya masih terpejam. Si Bungsu mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu.
“Jawablah sayang..” Mei-mei tak menjawab.
“Jawablah dengan mengangguk kalau engkau setuju, atau menggeleng kalau engkau tak setuju..”
Imam itu berkata perlahan. Namun Mei-mei tak menjawab. Tak menggeleng. Tak pula mengangguk. Datuk Penghulu berdetak hatinya. Dia mengulurkan tangan. Meraba leher Mei-mei. Meraba nadi tangannya.
“Innalillahi wa Inalillahi rojiun”, desisnya perlahan.
Si Bungsu terpana. Terpaku. Kemudian suaranya seperti berbisik-bisik memanggil nama Mei-mei.
“Mei-mei….. Mei-mei…”
Tapi gadis itu memang sudah berpulang ke Khaliknya. Seulas senyum masih membayang di bibirnya. Datuk Penghulu menghapus air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Betapapun jua, dia sangat menyayangi gadis ini. Gadis yang telah dianggap sebagai anak kandungnya. Yang sepermainan dan sayang menyayangi dengan si Upik anaknya.
Malam tadi si Upik meninggal. Dia berharap Mei-mei lah tempat dia mencurahkan sayang, pengganti anaknya. Ada sedikit hartanya, dan itu semua akan dia serahkan pada Mei-mei. Dia akan mengangkat gadis ini sebagai anaknya. Tapi kini, Tuhan ternyata menentukan lain dari rencana yang dia buat. Air mata mengalir di pipinya yang tua. Si Bungsu masih termenung. Menatap wajah gadis itu. seperti masih terngiang di telinganya ucapan Mei-mei yang terakhir :
“Uda saya… bahagia engkau suamiku.. dan aku mengabdikan diriku menjadi istrimu,”
Rupanya gadis itu telah melafazkan akad nikahnya sebelum Imam datang. Dia sadar Tuhan akan memanggilnya. Kiranya Tuhan pula yang menyuruhnya untuk melafazkan ucapannya yang terakhir itu. Tiba-tiba si Bungsu berdiri.
“Jepang jahanam. Kubunuh kalian. Demi Allah, saya akan membunuh kalian sebanyak yang bisa saya lakukan”
Habis berkata dia menyambar samurainya yang terletak di lantai. Kemudian bergegas turun. Namun Datuk Penghulu mencegahnya.
“Jangan memperlihatkan diri saat ini Buyung.
Dijalanan berkeliaran ratusan serdadu Jepang..”
“Persetan . .saya akan membunuh mereka…”
Dia berbalik untuk turun. Tapi saat itu pula tangan Datuk Penghulu menghantam tengkuknya. Anak muda itu terkulai, dia berusaha memutar wajah menatap Datuk Penghulu, sinar matanya memancarkan rasa sakit dan heran, kenapa Datuk itu sampai berbuat demikian. Kemudian dia jatuh pingsan. Imam yang ada di sana itu juga menatap heran bercampur terkejut atas sikap Datuk Penghulu.
“Kenapa Datuk pukul dia?”
Datuk Penghulu menarik nafas panjang sebelum menjawab.
“Sudah terlalu banyak saya kehilangan Pak Imam. Malam tadi anak dan istri saya. Sebentar ini gadis ini pula. Gadis yang telah saya anggap sebagai anak saya sendiri. Kini, kalau saya biarkan dia mengamuk diluar sana, mungkin dia akan bisa membunuh sepuluh atau dua puluh Jepang dengan kemahirannya mempergunakan samurai. Tapi setelah itu, betapapun jua peluru jauh lebih unggul dan lebih ampuh dari samurai di tangannnya. Bagaimana hebatnya sekalipun, Saya tak mau kehilangan dirinya. Dia sudah banyak berjasa pada bangsanya. Telah banyak membunuh Jepang yang merampok dan memperkosa rakyat. Meskipun dia tak menyadari jasanya itu, karena dia berbuat itu hanya untuk membela diri dan membalaskan dendam keluarganya. Tapi Indonesia banyak berhutang padanya. Saya tak mau dia mati terlalu cepat. Masih banyak hal-hal besar yang bisa dia lakukan daripada harus mati cepat-cepat dia pelindung orang yang lemah…”bersambung,tikam samurai bagian 64


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: